Gotrade News - Harga emas spot melemah ke level USD 4.658,65 per troy ounce pada Senin pagi (13/04/2026), turun sekitar 1,9% dari penutupan akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi setelah negosiasi 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan, memicu ketidakpastian baru di pasar komoditas.
Meski terkoreksi di awal pekan, emas masih mencatat kenaikan sekitar 2,17% secara poin ke poin dalam sepekan terakhir. Ini merupakan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut yang mencerminkan kuatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah gejolak geopolitik global.
Key Takeaways:
- Harga emas spot tercatat USD 4.658,65 per troy ounce pada Senin pagi, turun 1,9% akibat gagalnya negosiasi AS-Iran
- Emas Antam 1 gram di Pegadaian dijual Rp 2.975.000 per gram per 13 April 2026
- Analis terbagi: 50% bearish jangka pendek, 63% investor ritel optimistis harga naik pekan ini
Kegagalan diplomasi AS-Iran menjadi faktor utama yang menekan harga emas di awal pekan ini. Laporan IDX Channel menyebutkan bahwa Donald Trump memerintahkan pemblokiran total Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan energi global.
Tekanan di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak mentah naik signifikan dan memicu risiko inflasi lebih lanjut. Kondisi ini justru bisa menjadi pedang bermata dua bagi emas, karena inflasi tinggi biasanya membuat bank sentral enggan memangkas suku bunga.
Untuk harga emas fisik di dalam negeri, Bloomberg Technoz melaporkan harga emas Antam 1 gram dijual Rp 2.975.000 di Pegadaian per Senin 13 April 2026. Varian lain seperti UBS 1 gram berada di Rp 2.890.000, sementara Galeri 24 1 gram tercatat Rp 2.876.000.
Perbedaan harga antar produk ini mencerminkan perbedaan premi dan reputasi masing-masing merek logam mulia. Bagi investor yang mempertimbangkan risiko investasi di aset fisik, memilih produk bersertifikat seperti Antam tetap menjadi pilihan yang lebih aman.
Apa Kata Analis Pekan Ini?
Sentimen pasar saat ini terbilang terbelah, menurut survei yang dilaporkan Liputan6 dari berbagai analis Wall Street dan pasar ritel global. Sebanyak 50% analis Wall Street memproyeksikan harga emas akan naik dalam jangka pendek, sementara 63% investor ritel menyatakan optimistis pekan ini.
Adrian Day dari Adrian Day Asset Management menyatakan bahwa emas perlahan terus menguat meski pergerakannya tidak merata. Ia menilai titik terendah pasca konflik Iran sudah terlewati, namun arah selanjutnya bergantung pada perkembangan gencatan senjata.
Rich Checkan dari Asset Strategies International memiliki pandangan yang lebih optimistis, dengan target harga USD 5.000 per troy ounce bahkan lebih. Namun ia mengingatkan bahwa eskalasi baru dalam ketegangan AS-Iran bisa memberikan tekanan jangka pendek yang signifikan.
Sementara itu, Colin Cieszynski dari SIA Wealth Management memetakan rentang perdagangan emas saat ini antara USD 4.400 hingga USD 5.200 per troy ounce. Ia menilai pergerakan harga sangat sulit diprediksi karena dinamika geopolitik yang berubah cepat, sehingga investor perlu memahami strategi hedging yang tepat sebelum mengambil posisi.
Di sisi lain, Darin Newsom dari Barchart.com memiliki pandangan yang lebih hati-hati dalam jangka pendek. Ia melihat kontrak berjangka Juni sudah mendekati puncaknya dengan potensi momentum turun, meski faktor fundamental seperti pembelian emas bank sentral tetap mendukung tren jangka panjang.
Saham Terkait Emas yang Patut Dipantau
Bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur ke emas tanpa membeli fisik, pasar saham AS menawarkan beberapa pilihan menarik. Saham saham Newmont (NEM) dan ETF tambang emas GDX keduanya bergerak mengikuti harga emas global dan bisa menjadi alternatif yang lebih likuid.
GDX sendiri adalah ETF yang menampung portofolio saham perusahaan tambang emas terbesar dunia, termasuk Newmont, Barrick Gold, dan Agnico Eagle. Ketika harga emas naik, saham-saham tambang biasanya bergerak lebih agresif karena efek leverage terhadap margin keuntungan produsen.
Pendekatan ini dikenal sebagai macro trading, yaitu memanfaatkan tren makro ekonomi global seperti konflik geopolitik dan kebijakan suku bunga untuk menentukan posisi investasi. Investor yang memahami dinamika AS-Iran dan arah Fed bisa memanfaatkan volatilitas ini sebagai peluang, bukan sekadar risiko.
Pekan ini, data Producer Price Index (PPI) AS dan pernyataan pejabat Federal Reserve akan menjadi katalis penting yang perlu dicermati investor. Dua faktor ini, bersama perkembangan negosiasi AS-Iran, akan menentukan apakah harga emas mampu bertahan di atas USD 4.600 atau kembali tertekan.
Sumber: Bloomberg Technoz, IDX Channel, Liputan6












