Dolar AS menguat 0,2% terhadap mata uang utama dunia pada sesi yang sama. Penguatan ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun juga naik, mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Kombinasi kedua faktor ini mendorong penurunan harga emas dalam dua sesi berturut-turut.
Pada perdagangan Rabu (22/04), harga emas spot berada di USD4.777,77 per ounce pukul 12.53 GMT. Analis MarketPulse memproyeksikan kisaran perdagangan antara USD4.750 hingga USD4.850.
Ketidakpastian negosiasi perdamaian AS-Iran turut membebani sentimen pasar komoditas. Presiden Trump menyatakan akan menahan serangan terhadap Iran selama Tehran mengajukan proposal perdamaian baru.
Namun Selat Hormuz tetap ditutup karena Iran mempertahankan blokade hingga AS mencabut pembatasan angkatan laut. Penyitaan kapal kargo Iran oleh AS memperburuk ketegangan dan menambah volatilitas di pasar komoditas.
Kenaikan harga minyak sekitar 5% akibat gangguan pasokan memicu kekhawatiran inflasi. Suku bunga yang berpotensi tetap tinggi lebih lama menjadi faktor negatif tambahan bagi harga emas.
Investor menantikan perkembangan negosiasi AS-Iran di Pakistan dan dengar pendapat konfirmasi calon Ketua The Fed Kevin Warsh. Kedua peristiwa ini berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan yield obligasi dalam jangka pendek.
Sumber: IDX Channel, Bloomberg Technoz, Liputan6












