Harga Minyak Turun: Iran, Pemilu Israel, dan Upaya Damai Timur Tengah

Ringkasan
- WTI bertahan di kisaran US$100 per barel setelah turun lebih dari 3% dalam dua sesi, sementara Brent ditutup di bawah US$114, menurut Bloomberg Technoz.
- Pelemahan terjadi saat pembicaraan di Timur Tengah meredakan kekhawatiran pasokan dan exit poll pemilu Israel menunjukkan Eisenkot unggul tipis tanpa mayoritas.
- Pada Rabu pagi Brent naik 1,3% ke US$115,36 setelah Houthi mengklaim serangan rudal ke kilang terbesar Arab Saudi, menurut Reuters.
Gotrade News - Harga minyak dunia bertahan di level rendah setelah turun dua sesi berturut-turut, sementara pasar memantau hasil pemilu Israel yang berlangsung ketat. Dilansir Bloomberg Technoz yang mengutip Bloomberg News, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$100 per barel setelah turun lebih dari 3% dalam dua sesi terakhir, sedangkan Brent ditutup di bawah US$114 per barel.
Menurut laporan yang sama, hasil pemilu Israel akan turut menentukan arah perang Amerika Serikat dengan Iran. Konflik tersebut dimulai pada Februari, ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bergabung dengan Presiden AS Donald Trump menyerang Teheran. Gangguan arus pasokan energi akibat konflik itu membuat Brent melonjak lebih dari 85% sepanjang tahun ini.
Exit Poll Israel: Blok Eisenkot 52 Kursi, Netanyahu 50
Pemimpin oposisi Gadi Eisenkot unggul tipis atas Netanyahu dalam hasil exit poll, tetapi kedua blok belum meraih mayoritas dan penghitungan suara masih berlangsung, menurut Bloomberg Technoz. Melansir NBC News, tiga jaringan televisi utama Israel, yaitu Channel 12, Kan 11 dan Reshet 13, sama-sama memproyeksikan blok Eisenkot meraih 52 kursi dan blok Netanyahu 50 kursi. Sebanyak 18 kursi sisanya diproyeksikan untuk partai-partai Arab yang tidak bergabung dengan kedua blok.
| Exit poll (27 Oktober 2026) | Blok Netanyahu | Blok Eisenkot |
|---|---|---|
| Channel 12, Kan 11, Reshet 13 | 50 kursi | 52 kursi |
| Channel 14 | 60 kursi | 43 kursi |
Knesset memiliki 120 kursi, dan koalisi membutuhkan sedikitnya 61 kursi untuk membentuk pemerintahan. NBC News mencatat Channel 14, yang dikenal pro-Netanyahu, memberi proyeksi berbeda dengan 60 kursi untuk koalisi Netanyahu dan 43 kursi untuk blok Eisenkot. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,7%, tertinggi sejak 1999, dan hasil resmi dijadwalkan keluar paling lambat 4 November.
Eisenkot menilai hasil exit poll awal menunjukkan ketidakpercayaan penuh terhadap Netanyahu, meski ia hampir menutup kemungkinan memerintah bersama partai-partai Arab, menurut NBC News. Laporan yang sama menyebut para pendukung Netanyahu menginginkan perang di Iran terus berlanjut.
Diplomasi Saudi, Pakistan dan Turki di Teheran
Di jalur diplomasi, pejabat dari Arab Saudi, Pakistan dan Turki melakukan perjalanan ke Teheran untuk menggelar pembicaraan pada Senin, menurut Bloomberg Technoz. Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kembali menegaskan persyaratan yang sebelumnya telah ditetapkan negaranya untuk mengakhiri perang. Dilansir Reuters, harga minyak turun hampir US$2 pada Selasa karena pembicaraan di Timur Tengah membantu meredakan kekhawatiran pasokan.
Klaim Serangan Houthi ke Kilang Saudi Angkat Harga Rabu Pagi
Harga minyak kemudian berbalik naik pada awal perdagangan Asia, Rabu (28/10). Menurut Reuters, hingga pukul 01.40 GMT atau 08.40 WIB, Brent naik US$1,48 atau 1,3% ke US$115,36 per barel, sementara WTI naik US$1,22 atau 1,22% ke US$101,12 per barel.
| Acuan | Harga (08.40 WIB, 28/10) | Perubahan |
|---|---|---|
| Brent | US$115,36 per barel | +US$1,48 (+1,3%) |
| WTI | US$101,12 per barel | +US$1,22 (+1,22%) |
Kenaikan itu terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman, yang berafiliasi dengan Iran, mengklaim pada Selasa telah menghantam kilang minyak terbesar Arab Saudi dengan rudal. Kilang tersebut berkapasitas 550.000 barel per hari, dan otoritas Saudi belum langsung mengonfirmasi serangan itu, menurut Reuters.
Bagi pasar saham AS, harga minyak mentah termasuk faktor yang memengaruhi harga saham produsen minyak seperti Exxon Mobil (XOM), Chevron (CVX) dan ConocoPhillips (COP), karena pendapatan mereka berkaitan dengan harga jual minyak.
OPEC+ dan Pemilu Sela AS Pekan Depan
Tiga sumber yang mengetahui hal tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi Desember dalam pertemuan pada Minggu. Sementara itu, pemilih AS akan memberikan suara dalam pemilu sela pekan depan, yang menurut Bloomberg Technoz berpotensi mengungkap penurunan dukungan terhadap pemerintahan Trump.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












