Gotrade News - IHSG anjlok 4,22% atau 283,558 poin ke level 6.439,761 pada pukul 09:57 WIB, Senin (18/5/2026). Indeks bahkan sempat menyentuh intraday low di 6.433,532 setelah dibuka pada 6.628,976.
Tekanan jual datang seiring keputusan MSCI dan FTSE Russell mencoret sejumlah saham Indonesia dari indeks global. Aksi ini memicu arus keluar dana asing dan menjadikan IHSG bursa terlemah di Asia pagi ini.
Key Takeaways
- IHSG anjlok 4,22% ke 6.439 dengan 663 saham melemah dan nilai transaksi Rp 6,72 triliun.
- MSCI mencoret 6 saham termasuk AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT efektif 29 Mei 2026.
- Investor mencari paparan via ETF Indonesia di pasar AS seperti EIDO atau aset safe haven.
Sebanyak 663 saham mengalami koreksi sementara hanya 76 saham yang menguat sepanjang sesi pagi. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 6,722 triliun, mencerminkan tekanan jual yang masif dari pelaku pasar.
Menurut Bloomberg Technoz, IHSG menjadi bursa terlemah di antara seluruh indeks utama Asia pada perdagangan pagi. Pelemahan ini kontras dengan beberapa bursa regional yang justru bergerak relatif stabil.
Pencoretan Indeks Global Picu Outflow
Dilansir Kompas, MSCI Global Standard Indexes mencoret enam saham yaitu AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Keputusan ini efektif 29 Mei 2026 dengan implementasi penuh pada 1 Juni 2026.
Pada indeks MSCI Small Cap, sebanyak 13 saham juga dicoret, termasuk ANTM, AALI, BSDE, dan SIDO. FTSE Russell turut mencoret saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, berlaku efektif 22 Juni 2026.
Pelaksana tugas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa pasar memang sedang menanti keputusan tersebut. Pencoretan ini menjadi momentum bagi otoritas untuk berbenah meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia.
Arus keluar dana asing langsung tercermin pada pergerakan rupiah yang ikut tertekan signifikan. Investor global cenderung melakukan rebalancing portofolio menjelang efektifnya perubahan komposisi indeks.
Faktor Geopolitik Memperburuk Tekanan
Melansir Kompas, analis Ibrahim Assuaibi menilai isu geopolitik Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Ketegangan di Selat Hormuz dan friksi Iran-China menjadi katalis tambahan bagi aksi risk-off.
Kombinasi faktor eksternal ini mendorong investor global beralih ke aset safe haven. Tekanan terhadap mata uang dan ekuitas negara berkembang menjadi pola yang konsisten dalam fase risk-off seperti saat ini.
Bagi investor Indonesia, pelemahan IHSG membuka opsi diversifikasi melalui pasar AS. Salah satu instrumen yang relevan adalah iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang menjadi proxy langsung pergerakan saham RI di bursa New York.
Alternatif lain adalah Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) untuk paparan yang lebih luas ke pasar berkembang. Diversifikasi geografis dapat membantu mengurangi konsentrasi risiko pada satu pasar tertentu.
Untuk mitigasi terhadap pelemahan rupiah, investor dapat melirik Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP). Instrumen ini memberikan paparan terhadap penguatan dolar AS yang biasanya terjadi saat aliran modal keluar dari pasar berkembang.
Pelaku pasar kini menanti rilis data ekonomi domestik dan respons kebijakan dari otoritas untuk menstabilkan sentimen. Volatilitas diperkirakan masih tinggi hingga implementasi penuh pencoretan indeks tuntas pada akhir Juni 2026.












