IHSG Tertekan 27 Oktober: Rupiah Melemah dan Net Sell Asing

Setya MahardikaSetya MahardikaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra
AI-powered contentSome parts of this article are powered by AI.

Bagikan artikel

IHSG Tertekan 27 Oktober: Rupiah Melemah dan Net Sell Asing

Ringkasan

  • IHSG ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13 pada Selasa (27/10/2026), penurunan hari kedua beruntun menurut Vibiznews.
  • Investor asing mencatat jual bersih Rp708,88 miliar di pasar reguler dengan BMRI paling banyak dilepas, sementara rupiah melemah ke Rp18.156 per dolar AS.
  • Bank besar yang dilepas asing termasuk konstituen berbobot besar indeks acuan iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO), di tengah antisipasi rebalancing MSCI pada November.

Gotrade News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,99% atau 106,96 poin ke level 5.266,13 pada perdagangan Selasa (27/10/2026), menurut Vibiznews. Ini penurunan hari kedua beruntun, di tengah rupiah yang melemah ke Rp18.156 per dolar AS, jual bersih investor asing, dan antisipasi rebalancing indeks MSCI pada November.

Saham bank besar ikut menjadi sasaran jual asing: Bank Mandiri (BMRI), BNI (BBNI) dan BCA (BBCA) masuk daftar sepuluh saham dengan jual bersih asing terbesar, menurut Bloomberg Technoz. Ketiganya juga termasuk konstituen berbobot besar dalam indeks MSCI Indonesia IMI 25/50, acuan iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang diperdagangkan di pasar saham AS.

Data Pasar EIDO, UUP dan USO

Kode

Harga penutupan

Perubahan harian

EIDO

$10,34

-1,71%

UUP

$29,12

+0,38%

USO

$163,88

-1,41%

Data penutupan sesi reguler 27 Oktober 2026 waktu New York. Harga dan perubahan: Yahoo Finance, dicek silang dengan harga penutupan di Nasdaq.com.

Baca juga: Baker Hughes Rilis Laba Kuartal III 2026, Pendapatan $8,0 Miliar

IHSG Turun Dua Hari Beruntun, Hanya Sektor Industri Menguat

Menurut Infobanknews, IHSG berakhir di 5.266,13 dari penutupan sebelumnya 5.373,09, dengan volume 36,43 miliar saham dan nilai transaksi Rp17,94 triliun. Data RTI Business yang dikutip media tersebut mencatat 611 saham melemah, 100 menguat dan 82 stagnan.

Sektor energi turun paling dalam sebesar 3,33%, disusul bahan baku 3,32% dan teknologi 3,16%. Sektor keuangan melemah 1,11%, sementara sektor industri menjadi satu-satunya yang menguat dengan kenaikan 1,43%.

Vibiznews mencatat IHSG sudah turun 39,10% sejak awal tahun.

Baca juga: FirstEnergy Rilis Laba Kuartal III 2026, Core EPS $0,98

Asing Net Sell Rp708,88 Miliar, BMRI Paling Banyak Dilepas

Melansir Bloomberg Technoz, investor asing mencatat jual bersih Rp708,88 miliar di pasar reguler pada Selasa, atau Rp668,26 miliar di seluruh pasar. Berikut lima saham dengan jual bersih asing terbesar di pasar reguler menurut data Bloomberg Technoz.

Saham

Jual bersih asing, pasar reguler (27/10/2026)

Bank Mandiri (BMRI)

Rp266,3 miliar

Telkom Indonesia (TLKM)

Rp234,45 miliar

Bank Negara Indonesia (BBNI)

Rp119,57 miliar

Bank Syariah Indonesia (BRIS)

Rp80,97 miliar

Bank Central Asia (BBCA)

Rp59,74 miliar

Menurut sumber yang sama, saham BMRI turun 1,02% ke Rp3.870. Di sisi lain, beli bersih asing terbesar tercatat pada Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) senilai Rp60,65 miliar, dengan harga sahamnya naik 2,58% ke Rp2.780.

Kenapa Rupiah dan IHSG Tertekan?

Menurut Vibiznews, rupiah dan IHSG tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah, ketegangan di Timur Tengah, jual bersih asing, serta penguatan indeks dolar AS menjelang rapat FOMC. Rupiah ditutup di Rp18.156 per dolar AS, melemah 21 poin atau 0,12% dari Rp18.135, mendekati level terlemahnya sejak awal Juni 2026. Nilai dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia itu dilacak antara lain oleh Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP).

Infobanknews menambahkan sentimen negatif dari harga minyak yang tinggi, potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, dan naiknya credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun. Pergerakan harian harga minyak mentah WTI dilacak oleh United States Oil Fund (USO).

Mirae Asset: Penurunan LDR Bank Hanya Kelonggaran Sementara

Di sektor perbankan, riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang dikutip BeritaSatu mencatat pertumbuhan kredit melambat ke 12,7% yoy pada September 2026 dari 13,3% pada Agustus. Perlambatan terutama datang dari kredit investasi yang terkontraksi 0,2% mom, sebagian karena tekanan di sektor konstruksi.

Dana pihak ketiga tumbuh 8,2% yoy menjadi Rp9.896 triliun, rasio CASA naik ke 64,9%, dan loan to deposit ratio (LDR) turun ke 91,7% dari 92,7%. Namun, suku bunga deposito naik ke 5,3% untuk tenor satu bulan dan 5,9% untuk tiga bulan, yang menurut Mirae menambah biaya dana dan dapat menekan margin bunga bersih (NIM) bank.

"Kami melihat penurunan LDR ini sebagai kelonggaran sementara, bukan perbaikan likuiditas yang struktural." (Muhammad Nurkholis Syafruddin, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dikutip BeritaSatu)

Menurut BeritaSatu, aksi beli investor domestik sejauh ini menyerap arus keluar dana asing, meski keberlanjutan topangan tersebut masih dipertanyakan. Mirae menilai arus dana asing, stabilitas rupiah, serta kemampuan bank mengelola likuiditas dan biaya dana menjadi faktor yang perlu dicermati.

Yang Dinanti Pasar: Keputusan The Fed dan Rebalancing MSCI

"Arus dana asing dan stabilitas rupiah akan semakin menentukan kemampuan IHSG mempertahankan pemulihannya." (Rully Arya Wisnubroto, Kepala Riset dan Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dikutip BeritaSatu)

Vibiz Research Center menilai pelaku pasar kini menanti keputusan The Fed dan rebalancing MSCI, dengan perdagangan yang diperkirakan masih volatil serta rentan terhadap sentimen global dan arus dana asing.

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan nasihat investasi. Keputusan investasi ada di tangan kamu setelah melakukan riset mandiri.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.

Sumber

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.


Setya Mahardika
Ditulis oleh
Setya Mahardika
Setya Mahardika memimpin editorial untuk konten pasar AS dan berita Gotrade. Dengan pengalaman 4+ tahun di fintech dan industri terkait lainnya, ia memverifikasi setiap artikel terhadap sumber primer, laporan keuangan perusahaan, data bursa, dan rilis resmi sebelum tayang. Fokusnya adalah akurasi dan kejelasan sumber, agar investor Indonesia dapat mempercayai apa yang mereka baca sebelum berinvestasi.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1 juta+

Gotraders 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
Traders League IV

Total hadiah
lebih dari $4000

termasuk langganan
TradingView untuk
semua pemenang

Daftar sekarang

*Syarat dan ketentuan berlaku