IHSG Turun 7,03% Sepekan, Asing Net Sell Rp4,1 Triliun

Ringkasan
- Investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp4,1 triliun pada 26-30 Oktober 2026, saat IHSG turun 7,03% ke 5.057,05, menurut Beritasatu.
- TLKM dan BMRI paling banyak dijual asing, masing-masing Rp1,19 triliun dan Rp1,12 triliun, sementara BBCA paling banyak dibeli senilai Rp370 miliar.
- Analis Indo Premier Sekuritas menilai pelemahan Wall Street, rupiah, dan risiko klasifikasi MSCI menekan pasar, isu yang juga menyangkut indeks acuan iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO).
Gotrade News - Investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp4,1 triliun di bursa Indonesia pada 26-30 Oktober 2026, saat IHSG turun 7,03% sepekan ke 5.057,05, menurut Beritasatu. Analis menilai pelemahan Wall Street, rupiah, dan risiko klasifikasi MSCI menekan pasar. Risiko MSCI turut menyangkut indeks acuan iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di bursa AS.
Data Pasar EIDO, SPY dan DIA
Data penutupan sesi reguler 30 Oktober 2026 waktu New York. Harga dan perubahan: Yahoo Finance, dicek silang dengan harga penutupan di Nasdaq.com.
IHSG Turun 7,03%, Transaksi Harian Susut 29,49%
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari, seperti dikutip Beritasatu, IHSG bergerak di rentang 4.979-5.453 sepanjang 26-30 Oktober 2026 dan ditutup di 5.057,05, dari 5.439,25 pada pekan sebelumnya. Pada Jumat (30/10/2026), indeks melemah 0,80% setelah sempat turun di bawah level psikologis 5.000 dan menyentuh 4.979 secara intraday.
Aktivitas perdagangan ikut menyusut. Rata-rata nilai transaksi harian turun 29,49% menjadi Rp14,34 triliun dari Rp20,34 triliun, sementara rata-rata frekuensi transaksi harian turun 20,99% menjadi 1,54 juta kali dari 1,95 juta kali pada pekan sebelumnya.
Saham Paling Banyak Dibeli dan Dijual Asing: BBCA dan TLKM
Di tengah jual bersih tersebut, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dibeli investor asing, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) paling banyak dilepas. Rinciannya, menurut data dalam riset Brigita yang dilaporkan Beritasatu, sebagai berikut:
| Posisi asing | Saham | Kode | Nilai bersih (26-30 Oktober 2026) |
|---|---|---|---|
| Beli bersih | Bank Central Asia | BBCA | Rp370 miliar |
| Beli bersih | Astra International | ASII | Rp133,7 miliar |
| Beli bersih | Bumi Resources | BUMI | Rp97 miliar |
| Jual bersih | Telkom Indonesia | TLKM | Rp1,19 triliun |
| Jual bersih | Bank Mandiri | BMRI | Rp1,12 triliun |
| Jual bersih | Bank Rakyat Indonesia | BBRI | Rp504,9 miliar |
Data trade flow smart money selama lima hari perdagangan menunjukkan gambaran berbeda. Menurut laporan yang sama, BBRI, BMRI, dan ASII justru mencatat akumulasi terbesar dalam data tersebut, kondisi yang menurut laporan itu mengindikasikan masih adanya minat beli pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di tengah koreksi pasar.
Wall Street Melemah, S&P 500 Turun 1,82%
Brigita menyebut tekanan pasar datang dari kombinasi sentimen global dan domestik. Pada Jumat (30/10/2026), indeks Dow Jones, acuan SPDR Dow Jones Industrial Average ETF Trust (DIA), turun 1,09% ke 51.770,31, sementara S&P 500, acuan SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY), melemah 1,82% ke 7.580,07 dan Nasdaq terkoreksi 2,86%, menurut Beritasatu.
Menurut Brigita, tekanan terutama datang dari sektor teknologi akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi saham serta besarnya belanja investasi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Dari sisi makro, ekonomi AS tumbuh 3,4% pada kuartal III 2026, di atas 2,2% pada kuartal sebelumnya dan ekspektasi pasar 3,2%. Namun, inflasi personal consumption expenditures (PCE) September naik menjadi 3,6% secara tahunan, dengan PCE inti mencapai 3,1%.
Brigita mencatat The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75% hingga 4,00%, BOJ menahan suku bunga di 1,25%, dan ECB di 2,65%. Menurutnya, kondisi ini membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter global dan membuat pasar keuangan tetap sensitif terhadap perkembangan inflasi serta arah kebijakan bank sentral.
Rupiah Rp18.147 per Dolar AS, Yield SBN 10 Tahun 7,66%
Di dalam negeri, tekanan terlihat dari pelemahan rupiah 0,06% ke Rp18.147 per dolar AS pada penutupan Jumat. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga sempat menyentuh kisaran 7,66%, tertinggi sejak November 2022, menurut Beritasatu.
Usulan MSCI: Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market
Pasar juga mencermati risiko perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market dalam evaluasi MSCI. Menurut pengumuman resmi MSCI dari New York pada 15 Oktober 2026, seperti dilaporkan KabarBursa, MSCI menilai kelanjutan klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi tepat dan membuka konsultasi untuk mereklasifikasinya sebagai Standalone Market.
MSCI menyebut pelaku pasar masih menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan kurangnya bukti penegakan hukum yang bermakna. Masukan dibuka hingga 30 April 2027, dan keputusan resmi akan diumumkan pada atau sebelum 30 Juni 2027. MSCI menyatakan akan melanjutkan reklasifikasi kecuali ditemukan bukti perbaikan material pada tata kelola dan fungsi pasar.
Selama konsultasi, MSCI mempertahankan pembekuan perubahan indeks untuk sekuritas Indonesia, termasuk tidak menambah konstituen baru ke MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI), menurut KabarBursa. EIDO, ETF saham Indonesia yang diperdagangkan dalam dolar AS di bursa Amerika Serikat, mengikuti MSCI Indonesia IMI 25/50, versi indeks tersebut dengan batas konsentrasi bobot 25/50.
Apa yang Dicermati Pasar Setelah Net Sell Rp4,1 Triliun?
Menurut Brigita, pemulihan sentimen pasar bergantung pada stabilitas rupiah, konsistensi kebijakan fiskal, serta perbaikan transparansi dan tata kelola pasar modal. Ia juga mencatat sentimen penyeimbang: FTSE Russell masih mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai secondary emerging market, sementara Fitch Ratings menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia menjadi 4,9% untuk periode 2027-2028 dari sebelumnya 4,7%.
"Di tengah tekanan pada pasar saham, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih obligasi pemerintah sebesar US$509 juta sepanjang Oktober. Secara keseluruhan, kebijakan stimulus dan reformasi pasar berpotensi menjadi penyangga sentimen domestik," kata Brigita, seperti dikutip Beritasatu.
Bagaimana Daftar Ini Disusun?
Daftar saham di atas mencatat nilai beli dan jual bersih investor asing sepanjang 26-30 Oktober 2026, sebagaimana dipaparkan Brigita Kinari dari PT Indo Premier Sekuritas dan dilaporkan Beritasatu. Data ini merupakan catatan transaksi pada periode tersebut, bukan peringkat kinerja dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu.
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan nasihat investasi. Keputusan investasi ada di tangan kamu setelah melakukan riset mandiri.
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan diperiksa oleh tim Gotrade sebelum terbit.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












