Apa Itu Emerging Market? Investasi, Daftar Negara, dan Ciri-Cirinya

Ringkasan Gotrade
- Emerging market adalah pasar yang sudah cukup berkembang dan dapat diakses oleh investor global, tetapi karakteristiknya berbeda dengan developed market.
- Tidak ada daftar emerging market yang berlaku secara universal. Organisasi seperti MSCI, FTSE Russell, dan lainnya dapat menggunakan klasifikasi yang berbeda.
- Sebanyak 24 negara saat ini dikategorikan sebagai Emerging Markets oleh MSCI, dan Indonesia salah satunya.
- Investor dapat memperoleh eksposur ke pasar tersebut melalui saham, fund, atau ETF yang berinvestasi di berbagai negara emerging market.
Indonesia, India, China, Brasil, dan Taiwan sering disebut sebagai emerging market. Sekilas, istilah ini terdengar seperti nama lain untuk negara berkembang. Namun, dalam investasi, artinya lebih khusus.
Investor dan penyedia indeks menggunakan kategori emerging market untuk melihat perkembangan, ukuran, likuiditas, dan seberapa mudah pasar tersebut diakses oleh investor dari seluruh dunia. Negara bahkan bisa menerima klasifikasi yang berbeda menurut penyedia indeks karena kriterianya berbeda-beda.
Jadi, apa itu emerging market, negara mana yang termasuk di dalamnya, dan bagaimana investor dapat mengaksesnya? Mari kita bahas satu per satu.
Apa Itu Emerging Market?

Secara sederhana, emerging market adalah pasar suatu negara yang berada di antara frontier market dan developed market dalam perkembangan pasar modalnya.
Tidak semua lembaga menggunakan definisi resmi yang sama untuk istilah ini. Misalnya, International Monetary Fund menyatakan bahwa tidak ada definisi universal untuk emerging market. Negara-negara dalam kategori ini juga memiliki kondisi ekonomi yang sangat beragam.
Akibatnya, ketika berbicara tentang investasi, investor biasanya merujuk pada klasifikasi penyedia indeks seperti MSCI atau FTSE Russell.
MSCI mengevaluasi pasar berdasarkan sejumlah metrik, seperti likuiditas, ukuran, dan seberapa mudah pasar dapat diakses oleh investor internasional. Kerangka MSCI juga membahas perkembangan ekonomi, meskipun kriteria ini secara khusus digunakan untuk menentukan apakah suatu pasar termasuk dalam kategori developed market.
Dalam menilai akses pasar, MSCI mempertimbangkan hal-hal berikut:
keterbukaan kepemilikan untuk investor asing;
kemudahan masuk dan keluar modal;
efektivitas proses operasional dan perdagangan;
ketersediaan sarana investasi;
stabilitas sistem hukum dan institusi.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi yang cepat saja tidak membuat sebuah negara otomatis menjadi emerging market.
Ciri-Ciri Negara Emerging Market
Tidak semua negara yang termasuk dalam kategori ini memiliki kondisi yang sama. Namun, beberapa ciri-ciri negara emerging market berikut umum ditemukan.
1. Pasar modal telah cukup berkembang
Sebagian besar negara sudah memiliki infrastruktur perdagangan, perusahaan publik, investor institusi, dan bursa saham yang cukup berkembang.
Meskipun pasarnya mungkin tidak semudah pasar seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Inggris, investor internasional sudah dapat mengaksesnya.
2. Pasar memiliki likuiditas yang cukup
Biasanya, ada cukup banyak aktivitas transaksi pada saham-saham utama.
Meskipun demikian, likuiditas mungkin lebih terkonsentrasi pada perusahaan tertentu. Di pasar ini, volume perdagangan saham dengan kapitalisasi kecil juga dapat lebih rendah.
3. Investor asing memiliki akses untuk berinvestasi

Akses investor internasional merupakan komponen penting.
Namun, beberapa negara masih memiliki batas kepemilikan asing, proses registrasi, aturan arus modal, dan ketentuan lainnya yang lebih kompleks dibandingkan dengan developed market.
4. Perubahan struktural masih terjadi pada ekonomi
Industrialisasi, urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah, pembangunan infrastruktur, dan konsumsi domestik dapat berubah lebih cepat dibandingkan dengan negara yang ekonominya sudah matang.
Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti return saham yang tinggi.
5. Volatilitas dapat lebih tinggi
Harga saham, nilai tukar, inflasi, dan arus modal asing dapat berubah dengan cepat.
Akibatnya, investor tidak hanya menghadapi risiko perusahaan, tetapi juga risiko nilai tukar dan makroekonomi.
6. Regulasi dan institusi masih berkembang
Tata kelola, transparansi bisnis, regulasi pasar modal, dan perlindungan investor dapat berbeda di antara negara-negara.
Persepsi investor global terhadap suatu pasar juga dapat dipengaruhi oleh perubahan regulasi.
Emerging Market vs Developed Market vs Frontier Market
Emerging market dapat dibandingkan dengan developed market dan frontier market untuk memahami posisinya.
Aspek | Developed Market | Emerging Market | Frontier Market |
Kematangan pasar | Tinggi | Menengah | Masih berkembang |
Likuiditas | Umumnya tinggi | Cukup tinggi, tetapi bervariasi | Umumnya lebih rendah |
Akses investor asing | Sangat terbuka | Relatif terbuka | Bisa lebih terbatas |
Infrastruktur pasar | Sangat matang | Sudah berkembang | Masih berkembang |
Regulasi | Relatif stabil | Terus berkembang | Dapat lebih terbatas |
Volatilitas | Relatif lebih rendah | Cenderung lebih tinggi | Dapat lebih tinggi |
Perbandingan ini tidak berarti bahwa developed market selalu aman atau emerging market selalu lebih berisiko.
Setiap perusahaan dan negara tetap perlu dianalisis secara khusus.
Daftar Negara Emerging Market
Tidak semua lembaga memiliki daftar negara emerging market yang sama. Karena itu, sumber klasifikasinya perlu disebutkan.
Saat ini, kelompok Emerging Markets terdiri dari 24 negara, menurut MSCI.
Asia
China
India
Indonesia
Korea Selatan
Malaysia
Filipina
Taiwan
Thailand
Amerika
Brasil
Chile
Kolombia
Meksiko
Peru
Afrika, Timur Tengah, dan Eropa
Republik Ceko
Mesir
Yunani
Hungaria
Kuwait
Polandia
Qatar
Arab Saudi
Afrika Selatan
Turki
Uni Emirat Arab
Daftar tersebut menjelaskan mengapa istilah emerging market tidak dapat digunakan hanya untuk mengacu pada negara-negara yang kurang makmur atau yang baru mengembangkan ekonominya.
Misalnya, Taiwan dan Korea Selatan memiliki perusahaan teknologi global dengan kapitalisasi pasar yang besar, tetapi masih termasuk dalam kelompok Emerging Markets MSCI.
Selain itu, klasifikasi ini dapat berubah. Pada Maret 2026, MSCI memutuskan untuk memindahkan Yunani dari Emerging Market ke Developed Market. Yunani tetap termasuk Emerging Market saat ini karena perubahan tersebut baru akan diterapkan pada May 2027 Index Review.
Mengapa Daftar Emerging Market Bisa Berbeda?
Saat membahas emerging market, satu hal yang sering terlupakan adalah siapa yang membuat klasifikasi tersebut.
Misalnya, FTSE Russell dan MSCI memiliki metodologi masing-masing. Akibatnya, indeks emerging market dari kedua penyedia tidak selalu memiliki komposisi yang sama.
Indonesia adalah salah satu contohnya.
Indonesia dikategorikan sebagai Emerging Market oleh MSCI. Sementara itu, FTSE Russell menggunakan kategori yang lebih spesifik dan menempatkan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market.
Bagi investor ETF, perbedaan ini penting.
ETF yang mengikuti indeks MSCI tidak otomatis memiliki negara dan bobot yang sama dengan ETF yang mengikuti indeks FTSE Russell.
Oleh karena itu, ketika melihat istilah emerging market ETF, jangan hanya melihat nama produknya. Perhatikan juga indeks yang menjadi acuannya.
Mengapa Investor Memperhatikan Emerging Market?
Ada sejumlah alasan mengapa pasar ini sering dikaitkan dengan diskusi tentang alokasi aset global.
Diversifikasi geografis
Berinvestasi di satu negara membuat portofolio lebih bergantung pada kondisi ekonomi dan pasar negara tersebut.
Diversifikasi geografis dapat ditingkatkan dengan mendapatkan eksposur ke berbagai emerging market, tetapi diversifikasi tidak menghilangkan risiko kerugian.
Struktur ekonomi yang bervariasi
Setiap negara memiliki industri unggulan yang berbeda.
Pasar tertentu lebih bergantung pada perbankan, komoditas, manufaktur, atau konsumsi domestik, sementara pasar lain lebih terfokus pada teknologi dan semikonduktor.
Akibatnya, pergerakan emerging market tidak selalu identik dengan pergerakan pasar saham Amerika Serikat.
Perbedaan valuasi
Valuasi pasar dapat berbeda di setiap negara.
Sebelum memutuskan alokasi, investor global sering memeriksa rasio seperti P/E, P/B, pertumbuhan laba, dan kondisi ekonomi.
Valuasi murah sendiri tidak menjamin harga akan meningkat.
Perubahan ekonomi dalam jangka panjang
Urbanisasi, peningkatan konsumsi, pembangunan infrastruktur, dan perkembangan industri dapat membantu pertumbuhan bisnis lokal.
Namun, investor perlu membedakan antara return investasi dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan GDP yang cepat tidak otomatis membuat harga saham menghasilkan return yang lebih tinggi.
Studi Hsu, Ritter, Wool, dan Zhao (2022) di The Journal of Portfolio Management menemukan bahwa di 15 emerging market, korelasi antara pertumbuhan GDP riil per kapita dan return saham hanya 0,17 dan tidak signifikan secara statistik, memperbarui temuan klasik Ritter (2005) yang lebih dulu menunjukkan tidak adanya hubungan positif antara pertumbuhan ekonomi dan return saham antarnegara.
Risiko Investasi di Emerging Market
Potensi pertumbuhan harus selalu dibaca bersama risikonya. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Risiko nilai tukar
Investor global biasanya menghitung return dalam mata uang mereka sendiri.
Misalnya, harga saham meningkat dalam mata uang lokal. Return investor dalam dolar dapat menjadi lebih rendah jika mata uang negara tersebut melemah terhadap dolar AS pada saat yang sama.
2. Risiko politik dan regulasi
Perusahaan dan investor dapat terkena dampak perubahan kebijakan pemerintah, kebijakan pajak, pembatasan investasi asing, atau aturan pasar modal.
3. Risiko likuiditas
Di emerging market, tidak semua saham diperdagangkan dengan volume yang besar.
Likuiditas yang rendah dapat membuat selisih harga jual dan beli lebih lebar serta menyulitkan transaksi dalam jumlah besar.
4. Risiko tata kelola perusahaan
Tergantung pada negaranya, standar transparansi, perlindungan pemegang saham minoritas, dan keterbukaan laporan perusahaan dapat berbeda.
5. Risiko ekonomi
Pasar secara keseluruhan dapat terpengaruh oleh inflasi tinggi, utang pemerintah, perlambatan pertumbuhan, atau perubahan harga komoditas.
6. Risiko arus modal asing
Investasi dari institusi global sering masuk ke pasar negara berkembang.
Dana tersebut juga dapat bergerak dengan cepat sesuai dengan kondisi keuangan global. Misalnya, perubahan suku bunga AS dan penguatan dolar dapat berdampak pada aliran modal antarnegara.
Studi Hu dan Yuan (2025) di PLOS ONE, yang menganalisis 33 emerging economies selama 2006 sampai 2021, menemukan bahwa penguatan dolar AS menekan arus masuk modal lintas negara dan meningkatkan risiko ekor (tail risk), sehingga guncangan penguatan dolar dapat menjadi indikator arah aliran modal ke pasar negara berkembang.
Baca juga: Risiko Investasi: Jenis, Cara Mengukur, dan Strategi Mengelolanya
Cara Investasi di Emerging Market
Cara investasi di emerging market dapat disesuaikan dengan jenis eksposur yang ingin Anda miliki setelah memahami karakteristik dan risikonya.
1. Tentukan eksposur yang diinginkan
Pertama-tama, tentukan apakah Anda ingin berinvestasi pada:
satu negara;
sejumlah negara sekaligus;
sektor tertentu;
atau seluruh kelompok emerging market.
Pilihan ini akan menentukan instrumen yang digunakan.
2. Membeli saham secara langsung
Investor dapat melakukan investasi saham luar negeri dengan membeli perusahaan yang terdaftar di bursa masing-masing negara jika memiliki akses ke pasar tersebut.
Cara ini memberikan kontrol lebih besar dalam memilih perusahaan. Namun, investor juga perlu memahami perusahaan, regulasi, mata uang, dan kondisi ekonomi masing-masing negara.
3. Menggunakan ETF
Cara lain adalah melalui ETF yang memberikan eksposur ke berbagai perusahaan sekaligus.
Sebagai contoh, Vanguard FTSE Emerging Markets ETF (VWO) mengikuti FTSE Emerging Markets All Cap China A Inclusion Index.
Sementara itu, iShares MSCI Emerging Markets ETF (EEM) mengikuti MSCI Emerging Markets Index.
Walaupun keduanya disebut sebagai ETF emerging market, indeks acuannya berbeda. Oleh karena itu, negara, perusahaan, dan bobot portofolionya juga dapat berbeda.
4. Lihat konsentrasi negara
Tidak semua ETF yang berisi banyak negara memiliki pembobotan yang sama.
Misalnya, Taiwan, China, Korea Selatan, dan India termasuk pasar dengan bobot besar dalam MSCI Emerging Markets Index.
Artinya, pergerakan negara-negara dengan bobot lebih besar dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap indeks dibandingkan negara dengan bobot lebih kecil.
5. Periksa biaya dan likuiditas ETF
Sebelum memilih ETF, pertimbangkan hal-hal berikut:
expense ratio;
volume transaksi;
bid-ask spread;
aset kelolaan;
indeks acuan;
jumlah perusahaan;
komposisi sektor dan negara.
Jangan memilih ETF hanya berdasarkan nama atau return historisnya.
6. Sesuaikan dengan portofolio
Tidak ada porsi emerging market yang cocok untuk setiap investor.
Jumlah yang dialokasikan harus disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, toleransi risiko, dan jenis aset yang sudah dimiliki.
Apakah Indonesia Termasuk Emerging Market?
Ya. MSCI masih mengklasifikasikan Indonesia sebagai Emerging Market. Dalam 2026 Market Classification Review, MSCI juga tidak membuka konsultasi untuk menurunkan Indonesia menjadi Frontier Market.
FTSE Russell memasukkan Indonesia ke dalam kategori Secondary Emerging Market.
Indonesia memiliki posisi penting sebagai salah satu emerging market utama di Asia. Beberapa kekuatan Indonesia yang menarik perhatian investor global antara lain:
Populasi dan konsumsi domestik. Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan pasar domestik yang besar, konsumsi menjadi salah satu penggerak penting perekonomian Indonesia.
Kekayaan sumber daya alam. Indonesia merupakan produsen berbagai komoditas global seperti nikel, batu bara, dan minyak sawit sehingga memiliki peran strategis dalam rantai pasok global.
Pasar keuangan yang terus berkembang. Perkembangan pasar keuangan Indonesia menjadi perhatian investor global, termasuk melalui keberadaannya dalam indeks seperti MSCI Emerging Markets Index.
Faktor-faktor tersebut ikut memengaruhi bagaimana investor global memandang Indonesia. Perubahan klasifikasi atau bobot Indonesia dalam indeks global seperti MSCI juga dapat memengaruhi keputusan alokasi fund yang mengikuti indeks tersebut dan pada akhirnya berdampak pada arus modal asing.
Meski demikian, status emerging market bukan penilaian bahwa suatu pasar "bagus" atau "buruk". Klasifikasi ini lebih menggambarkan karakteristik, perkembangan, dan tingkat aksesibilitas pasar bagi investor global.
Apa yang Memengaruhi Pergerakan Emerging Market?
Seluruh emerging market tidak ditentukan oleh satu faktor. Namun, investor sering memperhatikan beberapa indikator domestik dan global, seperti:
suku bunga AS;
kekuatan dolar AS;
tingkat inflasi;
pertumbuhan ekonomi global;
harga komoditas;
kondisi ekonomi China;
kebijakan pemerintah;
risiko geopolitik;
arus modal internasional.
Dampaknya tidak sama untuk setiap negara.
Misalnya, negara yang banyak mengimpor komoditas dapat bereaksi berbeda terhadap perubahan harga komoditas dibandingkan dengan negara eksportir komoditas.
Karena itu, jangan menganggap emerging market sebagai satu kelompok yang semua anggotanya selalu bergerak bersama.
Cara Investor Memahami Emerging Market
Coba pelajari lebih jauh mekanisme di balik pergerakan indeks emerging market, bukan hanya melihat apakah indeks tersebut naik atau turun.
Perhatikan:
negara mana yang memiliki bobot terbesar;
negara mana yang berkontribusi pada kenaikan atau penurunan indeks;
sektor terbesar dalam indeks;
kondisi nilai tukar;
tren suku bunga dan inflasi;
valuasi saham;
serta indeks yang digunakan oleh ETF.
Metode ini membantu Anda memahami sumber performa investasi.
Karena mengikuti metodologi dan indeks yang berbeda, dua ETF dengan label emerging market juga dapat memberikan eksposur yang berbeda.
Kesimpulan
Memahami apa itu emerging market berarti mengetahui bahwa istilah ini tidak hanya mengacu pada negara berkembang.
Dalam investasi, emerging market adalah klasifikasi pasar yang mempertimbangkan ukuran, likuiditas, dan seberapa mudah investor dapat mengaksesnya. Daftarnya juga dapat berubah tergantung pada penyedia indeks yang digunakan.
Saat ini, Indonesia tetap termasuk Emerging Market MSCI. Investor yang ingin memperoleh eksposur lebih luas juga dapat mempelajari ETF seperti VWO, yang berinvestasi pada perusahaan di berbagai negara emerging market.
VWO dapat diperdagangkan dan dipantau melalui Gotrade. Periksa indeks acuan, komposisi negara, biaya, dan kesesuaian instrumen dengan portofolio Anda sebelum memilihnya.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














