Gotrade News - Inflasi Indonesia pada April 2026 turun ke level 2,42% secara tahunan dari posisi tinggi bulan sebelumnya. Pelonggaran tekanan harga ini memberi sinyal bahwa daya beli rumah tangga masih dapat dijaga di tengah harga minyak global yang fluktuatif.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan inflasi kembali terkendali setelah dampak penyesuaian subsidi tarif listrik mulai hilang. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada media di Kementerian Keuangan pada Senin (4/5).
Key Takeaways
- Inflasi tahunan turun ke 2,42% setelah dampak subsidi tarif listrik mereda.
- Transportasi menyumbang inflasi bulanan terbesar dengan andil 0,12%.
- Pemerintah masih menahan harga BBM untuk meredam tekanan minyak global.
Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Harga Konsumen naik dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026. Secara bulanan, inflasi April hanya 0,13% dengan IHK bergerak tipis dari level 110,95 di Maret.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama dengan inflasi tahunan 3,06% dan andil 0,90%. Komoditas yang paling berpengaruh meliputi ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, dan telur ayam ras.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar. Kelompok ini mencatat inflasi 0,99% dengan andil 0,12% terhadap inflasi bulanan April 2026.
Tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga di sektor transportasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tahunan tinggi 11,43% dengan andil 0,77%.
Purbaya menjelaskan tekanan inflasi yang sebelumnya tinggi mereda seiring normalisasi kebijakan subsidi. Ia menyebut pemerintah ikut menyerap kenaikan harga minyak dunia agar tidak diteruskan langsung ke konsumen.
Bendahara Negara itu menegaskan kebijakan transportasi turut membantu menahan tekanan harga di tingkat ritel. Tanpa intervensi tersebut, kata dia, inflasi berisiko melonjak jika harga BBM dilepas mengikuti pasar global.
Bloomberg Technoz mencatat momentum konsumsi di sebagian daerah masih lesu meski inflasi melandai. Disparitas akses pendidikan antarwilayah juga muncul sebagai faktor struktural yang membatasi kenaikan harga di kelompok jasa tertentu.
Bagi kamu yang memantau pergerakan ekonomi domestik, angka 2,42% memberi ruang lebih untuk Bank Indonesia menimbang arah suku bunga acuan. Stabilitas harga umumnya memberi waktu bagi otoritas moneter untuk menyesuaikan kebijakan tanpa terburu-buru.
Inflasi yang terjaga juga menjadi fondasi penting bagi pasar saham domestik dan obligasi pemerintah. Investor cenderung melihat data ini sebagai indikator awal untuk menilai daya tahan konsumsi rumah tangga di kuartal kedua.
Faktor penentu berikutnya adalah pergerakan harga minyak dunia dan konsistensi kebijakan subsidi pemerintah. Jika harga BBM tetap ditahan, tekanan dari sisi energi dapat dijaga sampai akhir kuartal kedua.
Tekanan harga pangan tetap perlu dipantau menjelang periode panen dan distribusi musiman. Komoditas seperti beras dan minyak goreng masih menjadi penentu arah inflasi pada bulan-bulan berikutnya.
Bagi investor ritel, data ini memperjelas konteks daya beli yang menjadi sandaran sektor konsumsi domestik. Arah inflasi pada Mei akan menentukan apakah momentum pelonggaran ini berlanjut atau hanya bersifat sementara.












