Gotrade News - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang Indonesia kembali surplus pada Maret 2026 sebesar USD 3,32 miliar. Surplus ini memperpanjang rekor 71 bulan beruntun sejak Mei 2020, namun lonjakan impor mulai mempersempit ruang gerak.
Secara kumulatif Januari-Maret 2026, neraca dagang masih mencatat surplus USD 5,55 miliar menurut data BPS. Komposisinya menunjukkan ketergantungan struktural yang patut kamu cermati sebagai investor.
Key Takeaways
- Surplus Maret 2026 USD 3,32 miliar, ditopang komoditas non-migas senilai USD 10,63 miliar.
- Impor Q1 2026 tumbuh 10,05% YoY ke USD 61,30 miliar, jauh melampaui ekspor yang naik tipis 0,34%.
- Defisit dagang ke China melebar menjadi USD 5,52 miliar pada Q1, didorong mesin dan barang elektrik.
Ekspor sepanjang Q1 2026 tercatat USD 66,85 miliar, hanya tumbuh 0,34% secara tahunan. BPS menyebut industri pengolahan menjadi penopang utama dengan ekspansi 3,96%.
Di sisi lain, impor melonjak 10,05% YoY ke USD 61,30 miliar pada periode yang sama. Impor non-migas sendiri naik 12,16% ke USD 52,97 miliar menurut Deputi BPS Ateng Hartono.
Lonjakan paling tajam datang dari kelompok barang modal yang tumbuh 24,02% ke USD 12,98 miliar. Angka ini mengindikasikan aktivitas investasi domestik yang sedang menguat di awal tahun.
Sektor migas tetap menanggung beban defisit USD 5,08 miliar sepanjang Q1 2026. Kondisi ini menahan agar surplus non-migas yang USD 10,63 miliar tidak sepenuhnya mengalir ke kas devisa.
Impor dari China Mendominasi Struktur Dagang
China masih menjadi pemasok utama Indonesia dengan nilai impor USD 22,02 miliar pada Q1 2026. Pangsa ini setara 41,56% dari total impor non-migas yang masuk ke dalam negeri.
Bersama Australia dan Jepang, ketiga negara ini menguasai 52,97% impor non-migas Indonesia. Komposisi tersebut menegaskan ketergantungan industri domestik pada pemasok Asia-Pasifik.
Tiga kelompok komoditas terbesar dari China adalah mesin mekanik (23,18%), mesin elektrik (22,20%), serta kendaraan dan suku cadang (5,49%). Pola ini menunjukkan industri manufaktur RI masih menggantungkan barang modal dari Tiongkok.
Akibatnya, defisit dagang Indonesia ke China melebar menjadi USD 5,52 miliar pada Q1 2026. Posisi ini lebih lebar dibandingkan defisit USD 5,23 miliar pada Januari-Februari 2026.
Plastik Jadi Sorotan, China Pasok 34,79%
Salah satu komoditas yang menonjol adalah plastik dan barang dari plastik. Nilai impornya mencapai USD 2,55 miliar atau sekitar Rp 44,11 triliun sepanjang Q1 2026.
Volume impor plastik tercatat 1,65 juta ton, tumbuh 7,42% secara tahunan menurut data BPS. Khusus Maret 2026, nilainya turun 14,96% bulanan ke USD 338,1 juta.
China memasok 34,79% kebutuhan plastik Indonesia, diikuti Singapura 12,35% dan Thailand 11,65%. Tekanan harga plastik global ikut terdorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Bagi kamu yang memantau pasar saham, data ini relevan untuk emiten manufaktur, kemasan, dan otomotif domestik. Ketergantungan bahan baku impor membuat margin sektor terkait sensitif pada kurs rupiah dan harga komoditas global.












