Pendapatan Tarif AS Turun, Sinyal Bahaya Perdagangan?
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Jakarta, Gotrade News - Pendapatan tarif Amerika Serikat mencatat penurunan bulanan kedua berturut-turut pada Desember 2025. Tren ini menunjukkan dampak kebijakan perdagangan yang mulai menekan volume impor secara signifikan.
Key Takeaways:
Penerimaan tarif AS turun 10 persen dari puncak tertingginya pada Oktober.
Laporan terbaru Departemen Keuangan AS menyebutkan total penerimaan tarif Desember hanya 27,89 miliar dolar. Angka tersebut menandai penurunan lebih dari 10 persen dibandingkan rekor tertinggi pada Oktober lalu.
Penurunan ini terjadi setelah Presiden Trump menarik kembali beberapa tarif utama pada November. Meski begitu, total pendapatan sepanjang 2025 tetap mencapai angka historis sebesar 264,05 miliar dolar.
Dampak Nyata pada Volume Perdagangan
Data Departemen Perdagangan menunjukkan defisit perdagangan AS menyempit menjadi 29,4 miliar dolar. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak pertengahan 2009 akibat penurunan aktivitas logistik.
Menurut laporan dari perusahaan data pengiriman Project44, volume impor dari Tiongkok merosot hingga 28 persen. Di sisi lain, ekspor AS ke negara tersebut juga jatuh sebesar 38 persen.
Kontraksi ini menjadi bukti pergeseran tajam dalam peta perdagangan bilateral dua raksasa ekonomi dunia. Kondisi tersebut memaksa para pelaku industri global untuk menata ulang strategi rantai pasok mereka.
Tantangan Fiskal dan Ketidakpastian Hukum
Meskipun penerimaan tarif melonjak drastis dibanding tahun sebelumnya, anggaran negara tetap mengalami defisit. Pemerintah AS mencatat defisit fiskal sebesar 602 miliar dolar pada kuartal pertama tahun ini.
Rencana kenaikan anggaran militer tampaknya sulit ditutup hanya mengandalkan pendapatan dari sektor tarif. Nilai usulan anggaran tersebut tercatat dua kali lipat lebih besar dari total pendapatan tarif tahunan.
Kini pelaku pasar sedang menantikan keputusan Mahkamah Agung terkait gugatan kebijakan tarif menyeluruh. Ketidakpastian hukum ini berpotensi menambah hambatan bagi arus barang internasional di masa depan.
Sementara AS memperketat perbatasannya, Uni Eropa justru memperluas kerja sama melalui blok dagang Mercosur. Aliansi baru ini siap membentuk salah satu zona perdagangan bebas terbesar di dunia.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.