Gotrade News - Rupiah menembus rekor terlemah sepanjang sejarah saat dolar AS sempat menyentuh Rp 17.803 pada Selasa pagi. Rupiah dibuka pada Rp 17.746 per dolar AS, melemah 2 poin dari penutupan sebelumnya.
Tekanan datang dari penguatan dolar AS, konflik Timur Tengah, dan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang. Dampaknya merembet ke ekuitas Indonesia dan menggeser sentimen investor global ke aset safe haven AS.
Key Takeaways
- Rupiah sempat menyentuh Rp 17.803 per dolar AS pada pukul 09:34 WIB, level terlemah sepanjang sejarah.
- Konflik AS-Israel versus Iran di Selat Hormuz mengerek harga minyak Brent dan WTI tajam.
- MSCI memangkas bobot Indonesia dari 0,8% ke 0,5%-0,6% setelah menghapus enam saham domestik.
Dinamika Kurs dan Pelemahan Asia
Melansir Katadata, rupiah bergerak di kisaran Rp 17.745 hingga Rp 17.834 pada perdagangan pagi. Mata uang Garuda bertengger di Rp 17.790 atau melemah 0,24% sampai pukul 10:48 WIB.
Pelemahan turut menjalar ke mayoritas mata uang Asia lainnya pada sesi pagi. Ringgit Malaysia turun 0,33%, baht Thailand 0,29%, peso Filipina 0,22%, sementara yuan dan yen relatif tertekan tipis.
Sejak awal tahun, rupiah sudah terkoreksi lebih dari 9% terhadap yuan dan ringgit. Pelemahan juga tercatat 5% versus yen Jepang dan 3% terhadap baht Thailand.
Dilansir Bloomberg Technoz, rupiah sempat mencapai Rp 17.764 per dolar AS pada 09:18 WIB. Indeks dolar AS tetap stabil di level 99, namun Brent crude bertengger di US$98,36 per barel.
Pemicu Geopolitik dan Aliran Modal
Sentimen berubah cepat setelah serangan AS dan Israel di Selat Hormuz menyasar Iran. Tekanan langsung terasa di pasar minyak global dan mata uang negara berkembang yang sensitif terhadap impor energi.
Menurut Beritasatu, faktor lain adalah aksi MSCI memangkas bobot Indonesia di Global Standard Index. Enam saham domestik dihapus, sehingga bobot Indonesia turun dari 0,8% ke kisaran 0,5%-0,6%.
Ekonom DBS Radhika Rao menilai tekanan datang dari kombinasi review MSCI, geopolitik, dan dinamika domestik. Pemangkasan bobot itu memicu arus modal asing keluar dari saham Indonesia sepanjang pekan ini.
Ariston Tjendra dari Doo Financial menyebut pelemahan sebagai euforia konflik Timur Tengah yang menyebar ke harga minyak dan ekspektasi inflasi. Harga Brent naik 1,9% ke US$111,34 dan WTI menguat 2,3% ke US$107,84 per barel.
Lonjakan minyak menambah kekhawatiran inflasi impor bagi Indonesia. Tekanan ganda dari kurs dan harga energi berpotensi menggerus daya beli serta margin emiten domestik.
Investor yang ingin meraih eksposur balik ke Indonesia bisa melirik iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di pasar AS. Instrumen ini menjadi referensi sentimen investor global terhadap saham domestik.
Sementara itu, penguatan dolar AS membuka peluang lindung nilai melalui Invesco DB US Dollar Bullish Fund (UUP). Eksposur minyak juga relevan via United States Oil Fund (USO) yang mengikuti harga WTI.
HSBC, Deutsche Bank, dan Goldman Sachs juga merevisi pandangan nilai tukar yuan akhir tahun ini. HSBC menaikkan perkiraan ke 6,65 per dolar, sementara Deutsche Bank 6,55 dan Goldman Sachs 6,50 dalam 12 bulan.
Revisi ini menandakan ekspektasi penguatan dolar AS terhadap mata uang Asia masih dominan. Pelaku pasar Indonesia diperkirakan tetap waspada terhadap volatilitas kurs hingga konflik geopolitik mereda.












