BI Diprediksi Tahan BI-Rate 5,75%, Rupiah Tertekan

Key Takeaways
Ekonom memprediksi Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75% pada RDG September 2026, setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei sampai Juni 2026.
Rupiah tertekan ke kisaran Rp17.860 sampai Rp17.884 per dolar AS, setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75% sampai 4,00%.
Arah BI-Rate dan The Fed ikut menggerakkan instrumen seperti EIDO, UUP, dan TLT, karena selisih suku bunga memengaruhi aliran modal dan nilai tukar.
Gotrade News - Bank Indonesia (BI) diprediksi menahan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026, di tengah rupiah yang tertekan ke kisaran Rp17.860 sampai Rp17.884 per dolar AS. Menurut Sindonews, LPEM FEB UI menilai BI sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, dengan kenaikan lanjutan tetap menjadi opsi jika kondisi eksternal memburuk.
Ekspektasi penahanan ini muncul setelah BI menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei sampai Juni 2026. Pasar kini menimbang apakah ruang pengetatan tambahan masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, terutama setelah The Fed kembali menaikkan suku bunganya.
Inflasi Agustus 3,19% Masih dalam Target BI
Dilansir Sindonews, inflasi nasional Agustus 2026 naik ke 3,19% secara tahunan dari 2,88% pada Juli, namun masih berada dalam rentang sasaran BI 1,5% sampai 3,5%. Kenaikan terutama didorong inflasi pangan bergejolak yang melonjak ke 4,06% dari 2,52%, dengan komoditas seperti ayam, cabai, dan beras sebagai pemicu.
Menurut LPEM FEB UI, tekanan dari sisi pasokan ini berada di luar jangkauan kebijakan moneter, sehingga menaikkan suku bunga dinilai kurang efektif untuk meredamnya. Argumen inilah yang membuat mayoritas ekonom condong ke skenario penahanan bulan ini.
The Fed Naik ke 3,75% sampai 4,00%, Rupiah Tertekan
Melansir Suara.com, ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan BI kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75%. Ia mencatat The Fed telah menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75% sampai 4,00%, sementara cadangan devisa Indonesia berada di US$146,5 miliar atau setara 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Kenaikan bunga di AS memperlebar tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dinamika ini sebelumnya juga terlihat saat rupiah melemah tertekan kenaikan imbal hasil obligasi AS. Bagi yang ingin memahami mekanisme pasar mata uang, konsep valuta asing atau valas menjadi dasar untuk membaca pergerakan rupiah terhadap dolar.
Indikator | Angka Terbaru |
|---|---|
BI-Rate | 5,75% (diprediksi ditahan) |
Inflasi Agustus 2026 (yoy) | 3,19% |
Inflasi pangan bergejolak Agustus 2026 | 4,06% |
Rupiah per dolar AS | Rp17.860 sampai Rp17.884 |
Fed Funds Rate | 3,75% sampai 4,00% |
Cadangan devisa | US$146,5 miliar |
Peluang BI-Rate Naik ke 6,00% sampai 6,25% Akhir 2026
Meski September diprediksi tenang, sejumlah ekonom melihat ruang kenaikan di akhir tahun. Menurut ANTARA, Faisal Rachman dari PermataBank memperkirakan BI-Rate naik ke 6,00% pada akhir 2026, sementara Irman Faiz dari Bank Danamon mempertahankan proyeksi hingga 6,25%. Teuku Riefky dari LPEM FEB UI menyebut kenaikan lanjutan masih bisa menjadi opsi pada akhir tahun ini atau awal 2027.
ANTARA juga mencatat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina, serta volatilitas harga komoditas dan energi global, sebagai risiko eksternal utama. Proyeksi nilai tukar yang dikutip dalam laporan tersebut menempatkan rupiah di sekitar Rp17.963 per dolar AS pada akhir 2026.
Dampak ke Saham AS dan ETF Indonesia
Pelemahan rupiah memengaruhi instrumen yang terkait langsung dengan pasar Indonesia, seperti iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang diperdagangkan dalam dolar AS. Di sisi lain, penguatan dolar tercermin pada Invesco DB US Dollar Index Bullish Fund (UUP), sementara arah suku bunga The Fed ikut menggerakkan harga obligasi tenor panjang lewat iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT).
Investor yang memantau aset global di Gotrade dapat mencermati hasil RDG BI bersama arah kebijakan The Fed, karena keduanya menentukan selisih suku bunga yang memengaruhi aliran modal dan nilai tukar. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














