All Time High (ATH): Definisi, Faktor, dan Cara Memanfaatkannya

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

All Time High (ATH): Definisi, Faktor, dan Cara Memanfaatkannya

Ketika harga sebuah saham baru saja mencetak rekor tertinggi. Reaksi yang muncul biasanya langsung terbagi dua seperti, menganggap saham sudah terlalu mahal atau buru-buru untuk masuk karena takut harganya naik lebih tinggi.

Nyatanya kedua kesimpulan itu diambil terlalu cepat.

All time high hanyalah menunjukkan harga saham telah melewati level tertinggi sebelumnya dan kondisi ini belum menjelaskan apakah valuasinya sudah mahal, kinerja bisnisnya sedang membaik atau kenaikan harga tersebut masih bisa berlanjut.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Karena itu, ATH lebih berguna sebagai titik awal kamu untuk melakukan analisis.

Setelah harga mencetak rekor baru, kamu tetap perlu untuk melihat apa yang mendorong kenaikannya, bagaimana kondisi fundamental perusahaan serta apakah valuasinya masih masuk akal.

All Time High Adalah Rekor Harga Tertinggi

ATH atau all time high adalah level harga tertinggi yang pernah dicapai oleh suatu aset sepanjang riwayat perdagangannya.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Misalnya, saham XYZ yang sebelumnya tidak pernah diperdagangkan di atas US$100. Jika hari ini harganya mencapai US$103, maka US$103 menjadi ATH baru bagi saham ini.

ATH perlu untuk dibedakan dari 52-week high.

Karena istilah ini hanya menunjukkan harga tertinggi dalam 52 minggu terakhir sehingga sebuah saham bisa mencetak 52-week high tetapi masih bisa berada jauh dibawah rekor tertinggi sepanjang sejarahnya.

Perbedaan tersebut juga penting untuk konteks penelitian momentum. Banyak yang menggunakan 52-week high sebagai titik acuan untuk melihat hubungan antara posisi harga saat ini dan perilaku investor bukannya menggunakan ATH sepanjang sejarah perdagangan.

ATH Tidak Selalu Berarti Saham Sudah Mahal

Harga saham yang tinggi belum tentu menunjukkan valuasi yang mahal. Saham seharga US$300 bisa saja memiliki valuasi yang lebih rendah daripada saham seharga US$30 jika laba, cash flow dan prospek pertumbuhannya jauh lebih tinggi.

Misalnya saat sebuah saham mencetak ATH setelah perusahaan menunjukkan beberapa hal, seperti:

  • Pendapatan yang terus bertumbuh.

  • Margin yang membaik.

  • EPS yang meningkat.

  • Proyeksi bisnis yang lebih kuat.

Dalam kondisi ini, harga tertinggi baru bisa mencerminkan perubahan positif pada bisnis yang memang layak dihargai lebih tinggi oleh pasar.

Namun, ATH bisa juga terjadi ketika fundamental perusahaan tidak banyak yang berubah. Jika harga naik jauh lebih cepat daripada laba atau cash flow maka kenaikan tersebut bisa lebih banyak berasal dari ekspansi valuasi.

Karena itu, ketika kamu menemukan saham yang sedang berada di ATH, jangan hanya berpikir tentang apakah harganya sudah terlalu tinggi.

Pikirkan kembali tentang “Apa yang berubah pada bisnis sehingga pasar sekarang bersedia memberikan valuasi yang lebih tinggi?”

Kenapa Saham Bisa Mencetak ATH?

Saham mampu mencetak ATH karena berbagai faktor dan alasan di balik kenaikannya tidaklah selalu sama.

Harga bisa saja naik setelah perusahaan mencatat earnings yang lebih baik, menaikkan guidance, meluncurkan produk baru atau menunjukkan prospek pertumbuhan yang lebih kuat.

Selain itu kondisi industri, perubahan suku bunga, dan sentimen pasar juga bisa mempengaruhi valuasi yang diberikan investor.

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh NBER informasi dalam pengumuman earnings bisa mempengaruhi harga saham dan aktivitas perdagangan karena investor menyesuaikan ekspektasinya terhadap kondisi perusahaan.

Namun, ATH tidak selalu muncul karena satu berita besar. Harga bisa naik secara bertahap selama beberapa bulan ketika ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan, laba atau kondisi bisnis terus berubah.

Karena itu, ATH saja belum cukup bagi kamu untuk membuktikan bahwa fundamental perusahaan sedang kuat.

Periksa juga apa yang benar-benar berubah pada laporan keuangan, guidance, kondisi industri atau perkembangan bisnis sebelum menilai kenaikan harganya.

Tidak Ada Historical Resistance Bukan Berarti Tidak Ada Penjual

Saat harga menembus ATH memang tidak ada lagi level harga historis di atasnya yang bisa digunakan sebagai resistance dari puncak sebelumnya.

Tetapi bukan berarti tekanan jual hilang begitu saja. Investor yang sudah mencatat keuntungan bisa mulai mengambil profit.

Investor lain mungkin menilai valuasi saham sudah terlalu tinggi sementara perubahan sentimen pasar juga bisa memunculkan tekanan jual baru setelah breakout.

Karena itu, saat harga berada di atas ATH tidak ada lagi resistance dari level harga sebelumnya. Namun, tekanan jual tetap bisa muncul kapan saja karena investor bisa memilih mengambil keuntungan atau menjual sahamnya pada harga baru.

Breakout ATH juga belum tentu bisa bertahan.

Jika harga gagal mempertahankan level tertinggi sebelumnya dan kembali turun ke bawah area tersebut maka breakout bisa dianggap gagal dan level lama bisa kembali menjadi area yang perlu diperhatikan.

ATH Bisa Menjadi Reference Point bagi Investor

Menurut penelitian yang berjudul The 52-Week High and Momentum Investing kedekatan harga saham dengan 52-week high memiliki hubungan dengan return berikutnya.

Dalam penelitian ini juga menjelaskan bahwa investor bisa menggunakan harga tertinggi sebelumnya sebagai anchor atau titik acuan.

52-week high berbeda dari all time high dan hasil penelitian historis tidak menjamin pergerakan satu saham pada masa depan. Harga tertinggi sebelumnya bisa menjadi titik acuan yang mempengaruhi cara investor menilai apakah harga saat ini terasa terlalu tinggi atau masih menarik untuk dibeli.

Cara Membaca Saham yang Sedang ATH

Kamu bisa gunakan beberapa langkah berikut ini untuk memahami konteks kenaikannya:

1. Cari penyebab kenaikannya

Periksa kembali apakah kenaikan harga didukung oleh earnings, guidance, margin, produk baru, kondisi industri atau perkembangan bisnis lainnya.

2. Bandingkan dengan valuasinya

Lihat apakah kenaikan harga masih sejalan dengan pertumbuhan laba dan cash flow. Kamu bisa menggunakan P/E, EV/EBITDA atau metode valuasi lain yang sesuai dengan karakter bisnisnya.

3. Periksa struktur harga

Kamu bisa melihat apakah harga baru saja menembus ATH setelah konsolidasi atau sudah naik cukup jauh dalam waktu yang singkat. Struktur harga bisa membantu kamu memahami posisi saham dalam tren saat ini.

4. Lihat volume perdagangannya

Bandingkan volume ketika harga mencetak ATH dengan aktivitas normal saham tersebut. Volume yang meningkat menunjukkan aktivitas pasar yang lebih besar tetapi hal tidak menjamin breakout akan terus bertahan.

5. Tentukan kondisi yang membatalkan analisismu

Trader bisa menentukan area invalidation sebelum membuka posisi. Sementara itu, investor jangka panjang perlu mengetahui perubahan fundamental apa yang dapat membuat alasan awal investasinya tidak lagi berlaku.

[DYNAMIC CONTENT: ATH REALITY CHECKER]

Jangan Lupa Stock Split

Ketika melihat ATH saham yang sudah diperdagangkan selama puluhan tahun kamu harus pastikan data historis yang kamu gunakan sudah memperhitungkan corporate action seperti stock split.

Menurut FINRA, stock split mengubah harga per saham dan jumlah saham yang dimiliki secara langsung mengubah total nilai kepemilikan.

Sebagai contoh, saham seharga US$100 yang mengalami split 2-for-1 akan menjadi sekitar US$50 per saham dengan jumlah saham menjadi dua kali lebih banyak.

Karena itu, membandingkan harga sebelum dan sesudah stock split tanpa penyesuaian bisa memberikan gambaran yang keliru tentang ATH historis. Maka dari itu pastikan data harga yang kamu gunakan memiliki metodologi penyesuaian yang konsisten.

Jangan Menilai Saham Hanya dari ATH

All time high menunjukkan bahwa harga saham telah mencapai rekor tertinggi baru tetapi kondisi ini belum menjawab apakah saham sudah terlalu mahal atau masih bisa naik lebih tinggi.

Saat saham mencetak ATH kamu harus mencari tahu apa yang mendorong kenaikannya. Periksa perkembangan bisnis, valuasi, volume perdagangan dan bagaimana harga bereaksi setelah melewati level tertinggi sebelumnya.

Bagi investor, ATH sebaiknya menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali fundamental dan valuasi bukan menggantikan keduanya.

Bagi trader, breakout ATH tetap perlu disertai level invalidation, ukuran posisi dan pengelolaan risiko yang jelas.

Kamu bisa memantau pergerakan saham AS melalui Gotrade, lalu membandingkan harga, fundamental dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan sesuai strategi dan profil risiko kamu.

Disclaimer: Kinerja di masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Selalu lakukan riset dan pahami risikonya sebelum mengambil keputusan.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade