Misalnya, saham XYZ yang sebelumnya tidak pernah diperdagangkan di atas US$100. Jika hari ini harganya mencapai US$103, maka US$103 menjadi ATH baru bagi saham ini.
ATH perlu untuk dibedakan dari 52-week high.
Karena istilah ini hanya menunjukkan harga tertinggi dalam 52 minggu terakhir sehingga sebuah saham bisa mencetak 52-week high tetapi masih bisa berada jauh dibawah rekor tertinggi sepanjang sejarahnya.
Perbedaan tersebut juga penting untuk konteks penelitian momentum. Banyak yang menggunakan 52-week high sebagai titik acuan untuk melihat hubungan antara posisi harga saat ini dan perilaku investor bukannya menggunakan ATH sepanjang sejarah perdagangan.
ATH Tidak Selalu Berarti Saham Sudah Mahal
Harga saham yang tinggi belum tentu menunjukkan valuasi yang mahal. Saham seharga US$300 bisa saja memiliki valuasi yang lebih rendah daripada saham seharga US$30 jika laba, cash flow dan prospek pertumbuhannya jauh lebih tinggi.
Misalnya saat sebuah saham mencetak ATH setelah perusahaan menunjukkan beberapa hal, seperti:
Dalam kondisi ini, harga tertinggi baru bisa mencerminkan perubahan positif pada bisnis yang memang layak dihargai lebih tinggi oleh pasar.
Namun, ATH bisa juga terjadi ketika fundamental perusahaan tidak banyak yang berubah. Jika harga naik jauh lebih cepat daripada laba atau cash flow maka kenaikan tersebut bisa lebih banyak berasal dari ekspansi valuasi.
Karena itu, ketika kamu menemukan saham yang sedang berada di ATH, jangan hanya berpikir tentang apakah harganya sudah terlalu tinggi.
Pikirkan kembali tentang “Apa yang berubah pada bisnis sehingga pasar sekarang bersedia memberikan valuasi yang lebih tinggi?”
Kenapa Saham Bisa Mencetak ATH?
Saham mampu mencetak ATH karena berbagai faktor dan alasan di balik kenaikannya tidaklah selalu sama.
Harga bisa saja naik setelah perusahaan mencatat earnings yang lebih baik, menaikkan guidance, meluncurkan produk baru atau menunjukkan prospek pertumbuhan yang lebih kuat.
Selain itu kondisi industri, perubahan suku bunga, dan sentimen pasar juga bisa mempengaruhi valuasi yang diberikan investor.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh NBER informasi dalam pengumuman earnings bisa mempengaruhi harga saham dan aktivitas perdagangan karena investor menyesuaikan ekspektasinya terhadap kondisi perusahaan.
Namun, ATH tidak selalu muncul karena satu berita besar. Harga bisa naik secara bertahap selama beberapa bulan ketika ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan, laba atau kondisi bisnis terus berubah.
Karena itu, ATH saja belum cukup bagi kamu untuk membuktikan bahwa fundamental perusahaan sedang kuat.
Periksa juga apa yang benar-benar berubah pada laporan keuangan, guidance, kondisi industri atau perkembangan bisnis sebelum menilai kenaikan harganya.
Tidak Ada Historical Resistance Bukan Berarti Tidak Ada Penjual
Saat harga menembus ATH memang tidak ada lagi level harga historis di atasnya yang bisa digunakan sebagai resistance dari puncak sebelumnya.
Tetapi bukan berarti tekanan jual hilang begitu saja. Investor yang sudah mencatat keuntungan bisa mulai mengambil profit.
Investor lain mungkin menilai valuasi saham sudah terlalu tinggi sementara perubahan sentimen pasar juga bisa memunculkan tekanan jual baru setelah breakout.
Karena itu, saat harga berada di atas ATH tidak ada lagi resistance dari level harga sebelumnya. Namun, tekanan jual tetap bisa muncul kapan saja karena investor bisa memilih mengambil keuntungan atau menjual sahamnya pada harga baru.
Breakout ATH juga belum tentu bisa bertahan.
Jika harga gagal mempertahankan level tertinggi sebelumnya dan kembali turun ke bawah area tersebut maka breakout bisa dianggap gagal dan level lama bisa kembali menjadi area yang perlu diperhatikan.
ATH Bisa Menjadi Reference Point bagi Investor
Menurut penelitian yang berjudul The 52-Week High and Momentum Investing kedekatan harga saham dengan 52-week high memiliki hubungan dengan return berikutnya.
Dalam penelitian ini juga menjelaskan bahwa investor bisa menggunakan harga tertinggi sebelumnya sebagai anchor atau titik acuan.
52-week high berbeda dari all time high dan hasil penelitian historis tidak menjamin pergerakan satu saham pada masa depan. Harga tertinggi sebelumnya bisa menjadi titik acuan yang mempengaruhi cara investor menilai apakah harga saat ini terasa terlalu tinggi atau masih menarik untuk dibeli.
Cara Membaca Saham yang Sedang ATH
Kamu bisa gunakan beberapa langkah berikut ini untuk memahami konteks kenaikannya:
1. Cari penyebab kenaikannya
Periksa kembali apakah kenaikan harga didukung oleh earnings, guidance, margin, produk baru, kondisi industri atau perkembangan bisnis lainnya.
2. Bandingkan dengan valuasinya
Lihat apakah kenaikan harga masih sejalan dengan pertumbuhan laba dan cash flow. Kamu bisa menggunakan P/E, EV/EBITDA atau metode valuasi lain yang sesuai dengan karakter bisnisnya.
3. Periksa struktur harga
Kamu bisa melihat apakah harga baru saja menembus ATH setelah konsolidasi atau sudah naik cukup jauh dalam waktu yang singkat. Struktur harga bisa membantu kamu memahami posisi saham dalam tren saat ini.
4. Lihat volume perdagangannya
Bandingkan volume ketika harga mencetak ATH dengan aktivitas normal saham tersebut. Volume yang meningkat menunjukkan aktivitas pasar yang lebih besar tetapi hal tidak menjamin breakout akan terus bertahan.
5. Tentukan kondisi yang membatalkan analisismu
Trader bisa menentukan area invalidation sebelum membuka posisi. Sementara itu, investor jangka panjang perlu mengetahui perubahan fundamental apa yang dapat membuat alasan awal investasinya tidak lagi berlaku.
[DYNAMIC CONTENT: ATH REALITY CHECKER]
Jangan Lupa Stock Split
Ketika melihat ATH saham yang sudah diperdagangkan selama puluhan tahun kamu harus pastikan data historis yang kamu gunakan sudah memperhitungkan corporate action seperti stock split.
Menurut FINRA, stock split mengubah harga per saham dan jumlah saham yang dimiliki secara langsung mengubah total nilai kepemilikan.
Sebagai contoh, saham seharga US$100 yang mengalami split 2-for-1 akan menjadi sekitar US$50 per saham dengan jumlah saham menjadi dua kali lebih banyak.
Karena itu, membandingkan harga sebelum dan sesudah stock split tanpa penyesuaian bisa memberikan gambaran yang keliru tentang ATH historis. Maka dari itu pastikan data harga yang kamu gunakan memiliki metodologi penyesuaian yang konsisten.
Jangan Menilai Saham Hanya dari ATH
All time high menunjukkan bahwa harga saham telah mencapai rekor tertinggi baru tetapi kondisi ini belum menjawab apakah saham sudah terlalu mahal atau masih bisa naik lebih tinggi.
Saat saham mencetak ATH kamu harus mencari tahu apa yang mendorong kenaikannya. Periksa perkembangan bisnis, valuasi, volume perdagangan dan bagaimana harga bereaksi setelah melewati level tertinggi sebelumnya.
Bagi investor, ATH sebaiknya menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali fundamental dan valuasi bukan menggantikan keduanya.
Bagi trader, breakout ATH tetap perlu disertai level invalidation, ukuran posisi dan pengelolaan risiko yang jelas.
Kamu bisa memantau pergerakan saham AS melalui Gotrade, lalu membandingkan harga, fundamental dan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan sesuai strategi dan profil risiko kamu.
Disclaimer: Kinerja di masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Selalu lakukan riset dan pahami risikonya sebelum mengambil keputusan.