Pendapatan besar belum tentu laba perusahaan juga besar. Ada bisnis yang penjualannya tinggi, tetapi sebagian besar uangnya habis untuk bahan baku, gaji, bunga, dan biaya operasional.
Ada juga perusahaan dengan pendapatan yang lebih kecil bisa saja punya margin yang lebih tinggi karena struktur biayanya lebih ringan.
Rasio profitabilitas membantu kamu melihat seberapa efektif perusahaan mengubah penjualan, aset, ekuitas, atau modal menjadi laba. Dari sini, kamu bisa menilai apakah bisnisnya benar-benar efisien atau hanya terlihat besar dari sisi pendapatan.
Artikel ini akan membahas apa itu rasio profitabilitas, cara menghitungnya, serta cara membacanya dengan tepat.
Apa Itu Rasio Profitabilitas?
Rasio profitabilitas adalah kelompok metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Pembanding yang digunakan bisa berbeda-beda. Ada rasio yang membandingkan laba dengan pendapatan. Ada juga yang menghubungkan laba dengan aset, ekuitas, atau seluruh modal yang digunakan perusahaan.
Menurut CFA, rasio profitabilitas umumnya dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, rasio margin yang membantu kamu melihat seberapa banyak laba yang tersisa dari pendapatan perusahaan.
Kedua, rasio pengembalian yang menunjukkan seberapa efektif aset atau modal perusahaan digunakan untuk menghasilkan laba.
Perbedaan Rasio Margin dan Rasio Pengembalian
Terdapat enam perbedaan rasio yang umum digunakan dan pengelompokannya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Sebagai catatan rasio margin menggunakan pendapatan sebagai pembanding. Sementara itu, ROA, ROE, dan ROIC menggunakan aset atau modal yang digunakan perusahaan.
Contoh Data Perusahaan
Supaya perhitungannya lebih mudah diikuti, gunakan satu contoh perusahaan dengan data sebagai berikut:
Komponen
Nilai
Pendapatan
US$1 miliar
Harga pokok penjualan
US$600 juta
Laba operasional
US$180 juta
Laba bersih
US$120 juta
Rata-rata total aset
US$1,5 miliar
Rata-rata ekuitas
US$600 juta
NOPAT
US$144 juta
Rata-rata invested capital
US$900 juta
Disclaimer: Data ini hanya digunakan sebagai simulasi untuk menghitung beberapa rasio profitabilitas. Angka tersebut bukan berasal dari perusahaan tertentu.
Rumus Rasio Profitabilitas
Rumus rasio profitabilitas biasanya berbeda tergantung jenis laba dan sumber daya yang ingin dibandingkan. Perhatikan beberapa rumus berikut ini:
Rasio Margin
Ketiga rasio berikut ini sama-sama menggunakan pendapatan sebagai pembanding. Perbedaannya hanya terletak pada biaya apa saja yang sudah masuk ke dalam perhitungan:
1. Gross Profit Margin
Gross profit margin menunjukkan bagian pendapatan yang tersisa setelah harga pokok penjualan dikurangkan.
Rumus Gross Profit Margin adalah:
Gross profit margin = Laba kotor ÷ Pendapatan × 100%
Dari setiap US$1 pendapatan, perusahaan menyisakan US$0,40 setelah menutup biaya langsung produk atau jasanya.
Perubahan gross margin ini dapat dipengaruhi oleh harga jual, biaya bahan baku, diskon, serta komposisi produk.
Jika terjadi penurunan margin, mulailah untuk mencari tahu apakah penyebabnya hanya sementara atau menunjukkan daya tawar perusahaan yang mulai melemah.
2. Operating Profit Margin
Operating margin berguna untuk memperlihatkan berapa banyak laba yang tersisa setelah biaya produksi dan biaya operasional diperhitungkan.
Rumusnya adalah:
Operating profit margin = Laba operasional ÷ Pendapatan × 100%
Artinya, perusahaan tersebut dapat menyisakan laba operasional sebesar US$0,18 dari setiap US$1 pendapatan yang didapatkan.
Rasio ini biasanya mencakup biaya seperti pemasaran, riset, gaji, dan administrasi. Karena belum dipengaruhi bunga serta pajak, operating margin cukup berguna untuk melihat kinerja operasi inti.
Tetapi kamu masih perlu untuk memperhatikan cara perusahaan mengelompokkan biaya. Dua bisnis yang terlihat serupa belum tentu mencatat seluruh beban dengan cara yang sama.
3. Net Profit Margin
Net profit margin memperlihatkan laba yang benar-benar tersisa setelah biaya operasional, bunga, pajak, dan beban lainnya masuk ke perhitungan.
Rumus yang digunakan adalah:
Net profit margin = Laba bersih ÷ Pendapatan × 100%
Maka perhitungan yang dihasilkan, sebagai berikut:
Net profit margin = US$120 juta ÷ US$1 miliar × 100% Net profit margin = 12%
Hasilnya dari setiap US$1 pendapatan, perusahaan dapat menghasilkan laba bersih sebesar US$0,12.
Dibandingkan gross margin, net margin memberikan gambaran yang lebih menyeluruh karena sudah memperhitungkan berbagai beban perusahaan.
Meski begitu, angkanya bisa ikut berubah karena faktor di luar kegiatan utama, seperti keuntungan penjualan aset, manfaat pajak, atau beban satu kali.
Rasio Pengembalian
Jika rasio margin berfokus pada penjualan, rasio pengembalian berfungsi untuk melihat laba dibandingkan dengan aset atau modal yang telah digunakan oleh perusahaan.
1. Return on Assets
Return on Assets atau ROA berfungsi untuk menunjukkan seberapa efektif perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba.
Rumusnya adalah:
ROA = Laba bersih ÷ Rata-rata total aset × 100%
Maka berdasarkan ilustrasi diatas hasil perhitungannya adalah:
ROA = US$120 juta ÷ US$1,5 miliar × 100% ROA = 8%
Hasilnya adalah ROA sebesar 8% berarti perusahaan menghasilkan laba US$0,08 dari setiap US$1 rata-rata aset yang digunakan. Rata-rata aset biasanya dihitung dari saldo awal dan akhir periode.
ROA lebih berguna ketika perusahaan dibandingkan dengan bisnis yang memiliki kebutuhan aset serupa. Sebagai contoh ialah perusahaan manufaktur dan perusahaan perangkat lunak.
2. Return on Equity
Return on Equity atau ROE digunakan untuk mengukur laba bersih yang dibandingkan dengan rata-rata ekuitas pemegang saham.
Rumusnya ialah:
ROE = Laba bersih ÷ Rata-rata ekuitas × 100%
Maka hasilnya:
ROE = US$120 juta ÷ US$600 juta × 100% ROE = 20%
Dalam simulasi ini, perusahaan dapat menghasilkan laba US$0,20 untuk setiap US$1 rata-rata ekuitas.
Angka 20% terlihat lebih tinggi daripada ROA sebesar 8%. Tetapi, selisih tersebut belum tentu menunjukkan performa yang lebih baik.
Perusahaan mungkin menggunakan utang, melakukan buyback, atau memiliki basis ekuitas yang relatif kecil. Maka dari itu ROE menjadi sulit dibaca ketika ekuitas sangat rendah atau negatif.
Dalam kondisi tersebut, rasio utang dan perubahan jumlah saham perlu untuk diperiksa lebih jauh.
3. Return on Invested Capital
Return on Invested Capital atau ROIC berguna untuk melihat seberapa efektif perusahaan menghasilkan laba dari modal yang digunakan untuk menjalankan bisnis.
Dengan rumus sebagai berikut:
ROIC = NOPAT ÷ Rata-rata invested capital × 100%
Maka hasilnya:
ROIC = US$144 juta ÷ US$900 juta × 100% ROIC = 16%
NOPAT adalah laba operasional setelah pajak. Sementara itu, invested capital biasanya mencakup utang berbunga dan ekuitas yang dipakai untuk membiayai kegiatan operasional.
Cara menghitung invested capital bisa berbeda, tergantung metodologi yang digunakan. Jadi, saat membandingkan beberapa perusahaan, pastikan pembilang dan penyebutnya telah dihitung dengan pendekatan yang konsisten.
ROIC juga sering dibandingkan dengan biaya modal.
Jika ROIC terus berada di atas biaya modal, berarti perusahaan telah menghasilkan pengembalian operasional yang lebih tinggi daripada biaya modal.
Ringkasan Hasil Perhitungan
Dari data simulasi sebelumnya, setiap rasio memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Rasio
Hasil Simulasi
Fokus Analisis
Gross profit margin
40%
Biaya langsung dan strategi harga
Operating profit margin
18%
Efisiensi kegiatan operasional
Net profit margin
12%
Laba akhir setelah seluruh beban
ROA
8%
Produktivitas aset
ROE
20%
Pengembalian atas ekuitas
ROIC
16%
Pengembalian atas modal operasional
Angka-angka tersebut tidak bisa untuk saling menggantikan karena setiap rasio menjawab pertanyaan yang berbeda.
Perusahaan bisa saja memiliki gross margin tinggi, tetapi ROA rendah karena membutuhkan aset besar untuk menjalankan bisnisnya.
ROE yang tinggi juga perlu dibaca dengan hati-hati. Angka tersebut bisa terdorong oleh penggunaan utang atau jumlah ekuitas yang relatif kecil.
Karena itu, lihat beberapa rasio sekaligus agar kamu mendapat gambaran yang lebih utuh tentang profitabilitas perusahaan.
Cara Membaca Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas baru akan terasa berguna jika kamu tahu apa yang dibandingkan dan mengapa angkanya dapat berubah. Perhatikan 5 hal berikut ini saat membaca rasio profitabilitas:
1. Lihat Perubahannya dari Waktu ke Waktu
Mulailah dengan membandingkan margin dan tingkat pengembalian selama beberapa periode. Dari sini, kamu bisa melihat apakah perbaikannya berlangsung konsisten atau hanya muncul pada satu tahun tertentu.
Kenaikan sesaat bisa jadi berasal dari penjualan aset, manfaat pajak, atau beban yang tidak berulang. Karena itu, baca juga laporan keuangan dan catatan pendukung lainnya, bukan hanya angka rasio yang telah ditampilkan.
2. Bandingkan dengan Bisnis yang Serupa
Margin yang tergolong tinggi pada satu industri bisa terlihat biasa saja pada industri lain. Perusahaan penerbangan, ritel, farmasi, dan perangkat lunak memiliki struktur biaya serta kebutuhan modal yang berbeda.
Sebagai contoh data industri AS dari NYU Stren per Januari 2026 memperlihatkan selisih yang cukup lebar. Rata-rata net margin industri transportasi udara tercatat sekitar 2,51%, sedangkan pada industri farmasi sekitar 18,54%.
Jadi, gunakanlah pembanding dengan model bisnis dan karakter industri yang mirip dan sesuai.
3. Cari Tahu Penyebab Perubahan Rasio
Margin bisa naik karena harga jual meningkat, bahan baku lebih murah, atau produk bermargin tinggi terjual lebih banyak. Perbaikan juga bisa datang dari pengurangan tenaga kerja atau komponen satu kali yang belum tentu terulang.
Coba pisahkan lagi perubahan yang berasal dari operasi utama dan perubahan yang sifatnya sementara.
Menurut investor.gov laporan tahunan, Form 10-K, serta catatan laporan keuangan dapat membantu kamu memahami sumber pendapatan, beban, dan risiko yang berada di balik angka tersebut.
4. Jangan Lewatkan Pengaruh Utang
ROE yang tinggi memang terlihat menarik, tetapi hasilnya bisa terdorong oleh penggunaan utang atau jumlah ekuitas yang kecil. Pada saat yang sama, beban bunga dari utang dapat menekan net profit margin.
Bandingkan juga ROE dengan ROA dan ROIC. Jika selisihnya jauh, maka perlu periksa kembali rasio utang, biaya bunga, serta kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya.
Tujuannya untuk melihat apakah pengembalian berasal dari operasi yang kuat atau penggunaan leverage yang lebih besar.
5. Cocokkan Laba dengan Arus Kas
Laba bersih yang naik belum tentu diikuti dengan pertambahan kas. Jika profitabilitas membaik tetapi arus kas operasi justru melemah, kamu perlu mencari penyebabnya. Periksa apakah piutang dan persediaan meningkat, serta seberapa besar pengaruh transaksi non-kas seperti kompensasi berbasis saham.
Perhatikan juga belanja modalnya karena arus kas operasi yang kuat belum tentu menyisakan banyak kas setelah kebutuhan investasi perusahaan.
Apakah Rasio Profitabilitas Tinggi Selalu Lebih Baik?
Tidak selalu.
Rasio yang tinggi dapat mencerminkan bisnis yang efisien dan memiliki daya tawar kuat. Namun, hasil yang sama juga dapat muncul karena:
Pengurangan biaya yang sulit dipertahankan
Keuntungan penjualan aset
Ekuitas yang sangat kecil
Utang yang tinggi
Buyback dalam jumlah besar
Siklus industri yang sedang berada di puncak
Rasio yang rendah juga tidak selalu buruk. Perusahaan dapat mengorbankan laba jangka pendek untuk membangun pabrik, mengembangkan produk, atau memasuki pasar baru.
Baca Rasio Profitabilitas dalam Konteks yang Tepat
Rasio profitabilitas membantu kamu melihat bukan hanya berapa besar laba pada usatu perusahaan, tetapi juga bagaimana laba tersebut dapat dihasilkan.
Gross margin, operating margin, dan net margin membaca laba dari tahap yang berbeda. Sementara itu, ROA, ROE, dan ROIC menunjukkan seberapa efektif perusahaan menggunakan aset, ekuitas, serta modalnya.
Jangan hanya berhenti pada satu angka. Lihatlah kembali perubahannya dari waktu ke waktu, lalu bandingkan dengan bisnis sejenis, dan periksa kembali pengaruh utang dan arus kas.
Dengan begitu, kamu bisa mengetahui apakah profitabilitasnya memang membaik atau hanya terdorong oleh faktor sementara.
Pelajari saham AS yang tersedia di Gotrade dan sesuaikan keputusan dengan strategi serta profil risikomu.
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.