Rasio Profitabilitas: Pengertian, 6 Rumus Lengkap & Cara Hitung

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Rasio Profitabilitas: Pengertian, 6 Rumus Lengkap & Cara Hitung

Pendapatan besar belum tentu laba perusahaan juga besar. Ada bisnis yang penjualannya tinggi, tetapi sebagian besar uangnya habis untuk bahan baku, gaji, bunga, dan biaya operasional.

Ada juga perusahaan dengan pendapatan yang lebih kecil bisa saja punya margin yang lebih tinggi karena struktur biayanya lebih ringan.

Itulah fungsi dari rasio profitabilitas.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Rasio profitabilitas membantu kamu melihat seberapa efektif perusahaan mengubah penjualan, aset, ekuitas, atau modal menjadi laba. Dari sini, kamu bisa menilai apakah bisnisnya benar-benar efisien atau hanya terlihat besar dari sisi pendapatan.

Artikel ini akan membahas apa itu rasio profitabilitas, cara menghitungnya, serta cara membacanya dengan tepat.

Apa Itu Rasio Profitabilitas?

Rasio profitabilitas adalah kelompok metrik keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Pembanding yang digunakan bisa berbeda-beda. Ada rasio yang membandingkan laba dengan pendapatan. Ada juga yang menghubungkan laba dengan aset, ekuitas, atau seluruh modal yang digunakan perusahaan.

Menurut CFA, rasio profitabilitas umumnya dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, rasio margin yang membantu kamu melihat seberapa banyak laba yang tersisa dari pendapatan perusahaan.

Kedua, rasio pengembalian yang menunjukkan seberapa efektif aset atau modal perusahaan digunakan untuk menghasilkan laba.

Perbedaan Rasio Margin dan Rasio Pengembalian

Terdapat enam perbedaan rasio yang umum digunakan dan pengelompokannya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

perbedaan rasio margin dan rasio pengembalian

Sebagai catatan rasio margin menggunakan pendapatan sebagai pembanding. Sementara itu, ROA, ROE, dan ROIC menggunakan aset atau modal yang digunakan perusahaan.

Contoh Data Perusahaan

Supaya perhitungannya lebih mudah diikuti, gunakan satu contoh perusahaan dengan data sebagai berikut:

Komponen

Nilai

Pendapatan

US$1 miliar

Harga pokok penjualan

US$600 juta

Laba operasional

US$180 juta

Laba bersih

US$120 juta

Rata-rata total aset

US$1,5 miliar

Rata-rata ekuitas

US$600 juta

NOPAT

US$144 juta

Rata-rata invested capital

US$900 juta

Disclaimer: Data ini hanya digunakan sebagai simulasi untuk menghitung beberapa rasio profitabilitas. Angka tersebut bukan berasal dari perusahaan tertentu.

Rumus Rasio Profitabilitas

Rumus rasio profitabilitas biasanya berbeda tergantung jenis laba dan sumber daya yang ingin dibandingkan. Perhatikan beberapa rumus berikut ini:

Rasio Margin

Ketiga rasio berikut ini sama-sama menggunakan pendapatan sebagai pembanding. Perbedaannya hanya terletak pada biaya apa saja yang sudah masuk ke dalam perhitungan:

1. Gross Profit Margin

Gross profit margin menunjukkan bagian pendapatan yang tersisa setelah harga pokok penjualan dikurangkan.

Rumus Gross Profit Margin adalah:

Gross profit margin = Laba kotor ÷ Pendapatan × 100%

Laba kotor perusahaan dalam simulasi adalah:

US$1 miliar − US$600 juta = US$400 juta

Maka hasilnya adalah:

Gross profit margin = US$400 juta ÷ US$1 miliar × 100%
Gross profit margin = 40%

Dari setiap US$1 pendapatan, perusahaan menyisakan US$0,40 setelah menutup biaya langsung produk atau jasanya.

Perubahan gross margin ini dapat dipengaruhi oleh harga jual, biaya bahan baku, diskon, serta komposisi produk.

Jika terjadi penurunan margin, mulailah untuk mencari tahu apakah penyebabnya hanya sementara atau menunjukkan daya tawar perusahaan yang mulai melemah.

2. Operating Profit Margin

Operating margin berguna untuk memperlihatkan berapa banyak laba yang tersisa setelah biaya produksi dan biaya operasional diperhitungkan.

Rumusnya adalah:

Operating profit margin = Laba operasional ÷ Pendapatan × 100%

Maka perhitungannya akan menjadi:

Operating profit margin = US$180 juta ÷ US$1 miliar × 100%
Operating profit margin = 18%

Artinya, perusahaan tersebut dapat menyisakan laba operasional sebesar US$0,18 dari setiap US$1 pendapatan yang didapatkan.

Rasio ini biasanya mencakup biaya seperti pemasaran, riset, gaji, dan administrasi. Karena belum dipengaruhi bunga serta pajak, operating margin cukup berguna untuk melihat kinerja operasi inti.

Tetapi kamu masih perlu untuk memperhatikan cara perusahaan mengelompokkan biaya. Dua bisnis yang terlihat serupa belum tentu mencatat seluruh beban dengan cara yang sama.

3. Net Profit Margin

Net profit margin memperlihatkan laba yang benar-benar tersisa setelah biaya operasional, bunga, pajak, dan beban lainnya masuk ke perhitungan.

Rumus yang digunakan adalah:

Net profit margin = Laba bersih ÷ Pendapatan × 100%

Maka perhitungan yang dihasilkan, sebagai berikut:

Net profit margin = US$120 juta ÷ US$1 miliar × 100%
Net profit margin = 12%

Hasilnya dari setiap US$1 pendapatan, perusahaan dapat menghasilkan laba bersih sebesar US$0,12.

Dibandingkan gross margin, net margin memberikan gambaran yang lebih menyeluruh karena sudah memperhitungkan berbagai beban perusahaan.

Meski begitu, angkanya bisa ikut berubah karena faktor di luar kegiatan utama, seperti keuntungan penjualan aset, manfaat pajak, atau beban satu kali.

Rasio Pengembalian

Jika rasio margin berfokus pada penjualan, rasio pengembalian berfungsi untuk melihat laba dibandingkan dengan aset atau modal yang telah digunakan oleh perusahaan.

1. Return on Assets

Return on Assets atau ROA berfungsi untuk menunjukkan seberapa efektif perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan laba.

Rumusnya adalah:

ROA = Laba bersih ÷ Rata-rata total aset × 100%

Maka berdasarkan ilustrasi diatas hasil perhitungannya adalah:

ROA = US$120 juta ÷ US$1,5 miliar × 100%
ROA = 8%

Hasilnya adalah ROA sebesar 8% berarti perusahaan menghasilkan laba US$0,08 dari setiap US$1 rata-rata aset yang digunakan. Rata-rata aset biasanya dihitung dari saldo awal dan akhir periode.

ROA lebih berguna ketika perusahaan dibandingkan dengan bisnis yang memiliki kebutuhan aset serupa. Sebagai contoh ialah perusahaan manufaktur dan perusahaan perangkat lunak.

2. Return on Equity

Return on Equity atau ROE digunakan untuk mengukur laba bersih yang dibandingkan dengan rata-rata ekuitas pemegang saham.

Rumusnya ialah:

ROE = Laba bersih ÷ Rata-rata ekuitas × 100%

Maka hasilnya:

ROE = US$120 juta ÷ US$600 juta × 100%
ROE = 20%

Dalam simulasi ini, perusahaan dapat menghasilkan laba US$0,20 untuk setiap US$1 rata-rata ekuitas.

Angka 20% terlihat lebih tinggi daripada ROA sebesar 8%. Tetapi, selisih tersebut belum tentu menunjukkan performa yang lebih baik.

Perusahaan mungkin menggunakan utang, melakukan buyback, atau memiliki basis ekuitas yang relatif kecil. Maka dari itu ROE menjadi sulit dibaca ketika ekuitas sangat rendah atau negatif.

Dalam kondisi tersebut, rasio utang dan perubahan jumlah saham perlu untuk diperiksa lebih jauh.

3. Return on Invested Capital

Return on Invested Capital atau ROIC berguna untuk melihat seberapa efektif perusahaan menghasilkan laba dari modal yang digunakan untuk menjalankan bisnis.

Dengan rumus sebagai berikut:

ROIC = NOPAT ÷ Rata-rata invested capital × 100%

Maka hasilnya:

ROIC = US$144 juta ÷ US$900 juta × 100%
ROIC = 16%

NOPAT adalah laba operasional setelah pajak. Sementara itu, invested capital biasanya mencakup utang berbunga dan ekuitas yang dipakai untuk membiayai kegiatan operasional.

Cara menghitung invested capital bisa berbeda, tergantung metodologi yang digunakan. Jadi, saat membandingkan beberapa perusahaan, pastikan pembilang dan penyebutnya telah dihitung dengan pendekatan yang konsisten.

ROIC juga sering dibandingkan dengan biaya modal.

Jika ROIC terus berada di atas biaya modal, berarti perusahaan telah menghasilkan pengembalian operasional yang lebih tinggi daripada biaya modal.

Ringkasan Hasil Perhitungan

Dari data simulasi sebelumnya, setiap rasio memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Rasio

Hasil Simulasi

Fokus Analisis

Gross profit margin

40%

Biaya langsung dan strategi harga

Operating profit margin

18%

Efisiensi kegiatan operasional

Net profit margin

12%

Laba akhir setelah seluruh beban

ROA

8%

Produktivitas aset

ROE

20%

Pengembalian atas ekuitas

ROIC

16%

Pengembalian atas modal operasional

Angka-angka tersebut tidak bisa untuk saling menggantikan karena setiap rasio menjawab pertanyaan yang berbeda.

Perusahaan bisa saja memiliki gross margin tinggi, tetapi ROA rendah karena membutuhkan aset besar untuk menjalankan bisnisnya.

ROE yang tinggi juga perlu dibaca dengan hati-hati. Angka tersebut bisa terdorong oleh penggunaan utang atau jumlah ekuitas yang relatif kecil.

Karena itu, lihat beberapa rasio sekaligus agar kamu mendapat gambaran yang lebih utuh tentang profitabilitas perusahaan.

Cara Membaca Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas baru akan terasa berguna jika kamu tahu apa yang dibandingkan dan mengapa angkanya dapat berubah. Perhatikan 5 hal berikut ini saat membaca rasio profitabilitas:

1. Lihat Perubahannya dari Waktu ke Waktu

Mulailah dengan membandingkan margin dan tingkat pengembalian selama beberapa periode. Dari sini, kamu bisa melihat apakah perbaikannya berlangsung konsisten atau hanya muncul pada satu tahun tertentu.

Kenaikan sesaat bisa jadi berasal dari penjualan aset, manfaat pajak, atau beban yang tidak berulang. Karena itu, baca juga laporan keuangan dan catatan pendukung lainnya, bukan hanya angka rasio yang telah ditampilkan.

2. Bandingkan dengan Bisnis yang Serupa

Margin yang tergolong tinggi pada satu industri bisa terlihat biasa saja pada industri lain. Perusahaan penerbangan, ritel, farmasi, dan perangkat lunak memiliki struktur biaya serta kebutuhan modal yang berbeda.

Sebagai contoh data industri AS dari NYU Stren per Januari 2026 memperlihatkan selisih yang cukup lebar. Rata-rata net margin industri transportasi udara tercatat sekitar 2,51%, sedangkan pada industri farmasi sekitar 18,54%.

Jadi, gunakanlah pembanding dengan model bisnis dan karakter industri yang mirip dan sesuai.

3. Cari Tahu Penyebab Perubahan Rasio

Margin bisa naik karena harga jual meningkat, bahan baku lebih murah, atau produk bermargin tinggi terjual lebih banyak. Perbaikan juga bisa datang dari pengurangan tenaga kerja atau komponen satu kali yang belum tentu terulang.

Coba pisahkan lagi perubahan yang berasal dari operasi utama dan perubahan yang sifatnya sementara.

Menurut investor.gov laporan tahunan, Form 10-K, serta catatan laporan keuangan dapat membantu kamu memahami sumber pendapatan, beban, dan risiko yang berada di balik angka tersebut.

4. Jangan Lewatkan Pengaruh Utang

ROE yang tinggi memang terlihat menarik, tetapi hasilnya bisa terdorong oleh penggunaan utang atau jumlah ekuitas yang kecil. Pada saat yang sama, beban bunga dari utang dapat menekan net profit margin.

Bandingkan juga ROE dengan ROA dan ROIC. Jika selisihnya jauh, maka perlu periksa kembali rasio utang, biaya bunga, serta kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya.

Tujuannya untuk melihat apakah pengembalian berasal dari operasi yang kuat atau penggunaan leverage yang lebih besar.

5. Cocokkan Laba dengan Arus Kas

Laba bersih yang naik belum tentu diikuti dengan pertambahan kas. Jika profitabilitas membaik tetapi arus kas operasi justru melemah, kamu perlu mencari penyebabnya. Periksa apakah piutang dan persediaan meningkat, serta seberapa besar pengaruh transaksi non-kas seperti kompensasi berbasis saham.

Perhatikan juga belanja modalnya karena arus kas operasi yang kuat belum tentu menyisakan banyak kas setelah kebutuhan investasi perusahaan.

Apakah Rasio Profitabilitas Tinggi Selalu Lebih Baik?

Tidak selalu.

Rasio yang tinggi dapat mencerminkan bisnis yang efisien dan memiliki daya tawar kuat. Namun, hasil yang sama juga dapat muncul karena:

  • Pengurangan biaya yang sulit dipertahankan

  • Keuntungan penjualan aset

  • Ekuitas yang sangat kecil

  • Utang yang tinggi

  • Buyback dalam jumlah besar

  • Siklus industri yang sedang berada di puncak

Rasio yang rendah juga tidak selalu buruk. Perusahaan dapat mengorbankan laba jangka pendek untuk membangun pabrik, mengembangkan produk, atau memasuki pasar baru.

Baca Rasio Profitabilitas dalam Konteks yang Tepat

Rasio profitabilitas membantu kamu melihat bukan hanya berapa besar laba pada usatu perusahaan, tetapi juga bagaimana laba tersebut dapat dihasilkan.

Gross margin, operating margin, dan net margin membaca laba dari tahap yang berbeda. Sementara itu, ROA, ROE, dan ROIC menunjukkan seberapa efektif perusahaan menggunakan aset, ekuitas, serta modalnya.

Jangan hanya berhenti pada satu angka. Lihatlah kembali perubahannya dari waktu ke waktu, lalu bandingkan dengan bisnis sejenis, dan periksa kembali pengaruh utang dan arus kas.

Dengan begitu, kamu bisa mengetahui apakah profitabilitasnya memang membaik atau hanya terdorong oleh faktor sementara.

Pelajari saham AS yang tersedia di Gotrade dan sesuaikan keputusan dengan strategi serta profil risikomu.

Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade