Laba bersih biasanya berada di bagian bawah laporan laba rugi dan sering disebut bottom line.
Angka ini biasanya menunjukkan hasil setelah pendapatan dikurangi biaya serta beban yang diakui oleh perusahaan.
Contohnya net profit margin 12% artinya perusahaan menghasilkan laba bersih sebanyak US$0,12 dari setiap US$1 pendapatan.
Net profit margin juga bisa bernilai negatif. Kondisi ini bisa terjadi ketika perusahaan mencatat rugi bersih pada periode yang dihitung.
Rumus Net Profit Margin
Rumus net profit margin adalah:
Net Profit Margin = (Laba Bersih ÷ Pendapatan) × 100%
Data laba bersih dan pendapatan dapat ditemukan dalam laporan laba rugi perusahaan.
Pastikan kedua angka berasal dari periode yang sama agar hasil perhitungannya sebanding. Misalnya, jangan membagi laba bersih satu kuartal dengan pendapatan selama satu tahun.
Contoh Cara Menghitung Net Profit Margin
Perusahaan A memiliki pendapatan sebesar US$500 juta dan laba bersih US$60 juta. Maka dari itu berdasarkan data ini, net profit margin yang bisa dihitung adalah:
Net Profit Margin = (US$60 juta ÷ US$500 juta) × 100%
Net Profit Margin = 12%
Hasilnya adalah setiap US$1 pendapatan perusahaan A akan menyisakan sekitar US$0,12 laba bersih setelah seluruh biaya dan beban telah diperhitungkan.
Contoh Net Profit Margin Negatif
Net profit margin juga bisa bernilai negatif ketika perusahaan mencatat rugi bersih.
Sebagai contoh perusahaan B memperoleh pendapatan sebesar US$200 juta tetapi membukukan rugi bersihnya sebanyak US$10 juta.
Maka dari itu perhitungannya adalah:
Net Profit Margin = (-US$10 juta ÷ US$200 juta) × 100%
Net Profit Margin = -5%
Margin negatif ini menunjukkan bahwa Perusahaan B telah mencatat rugi bersih sekitar US$0,05 dari setiap US$1 pendapatan.
Kerugian bisa berasal dari kegiatan operasional, beban bunga, pajak, penurunan nilai aset, biaya restrukturisasi atau faktor lainnya.
Perbedaan Gross, Operating, dan Net Profit Margin
Perbedaan di antara ketiganya terletak pada jenis laba yang digunakan, Seperti:

Cara Membaca Net Profit Margin
Tidak ada satu angka net profit margin yang dianggap baik untuk semua perusahaan karena setiap bisnis memiliki struktur biaya, model bisnis, dan kondisi industri yang berbeda. Karena itu, besar kecilnya margin perlu dibaca dalam konteks yang tepat.
Gunakan tiga langkah berikut untuk menilainya.
1. Bandingkan dengan Periode Sebelumnya
Periksa perubahan margin selama beberapa kuartal atau tahun untuk melihat apakah profitabilitas perusahaan membaik, menurun atau cenderung stabil.
Perhatikan contoh berikut ini:
Periode | Pendapatan | Laba Bersih | Net Profit Margin |
Tahun 1 | US$400 juta | US$32 juta | 8% |
Tahun 2 | US$450 juta | US$45 juta | 10% |
Tahun 3 | US$500 juta | US$60 juta | 12% |
Dalam contoh tersebut laba bersih tumbuh lebih cepat daripada pendapatan sehingga net profit margin meningkat dari 8% menjadi 12%.
Meski demikian, kenaikan ini belum tentu seluruhnya berasal dari perbaikan operasional. Penyebabnya juga bisa berupa pertumbuhan penjualan, penurunan biaya, perubahan komposisi produk, manfaat pajak atau keuntungan satu kali.
2. Bandingkan dengan Perusahaan Sejenis
Agar hasilnya lebih relevan kamu perlu juga untuk memperhatikan juga wilayah operasi, periode laporan dan ukuran bisnis yang tidak terlalu berbeda.
Perbandingan lintas industri bisa menghasilkan kesimpulan yang kurang tepat karena setiap sektor memiliki struktur biaya dan sumber laba yang berbeda.
Sektor | Contoh Perusahaan | Faktor yang Mempengaruhi Margin |
Teknologi | Apple, Microsoft | Komposisi hardware, software, layanan, cloud, dan biaya riset |
Kesehatan | Pfizer, Johnson & Johnson | Biaya riset, paten, regulasi, dan jenis produk |
Barang konsumsi | Procter & Gamble, Unilever | Harga bahan baku, kekuatan merek, dan biaya distribusi |
Ritel | Walmart, Target | Persaingan harga, logistik, biaya toko, dan volume penjualan |
Energi | ExxonMobil, Chevron | Harga komoditas, biaya produksi, dan kondisi operasional |
3. Periksa Penyebab Perubahan Margin
Jangan berhenti pada kesimpulan bahwa margin naik atau turun. Periksa laporan laba rugi, arus kas, dan catatan laporan keuangan untuk memahami apakah perubahan tersebut berasal dari kegiatan utama perusahaan atau faktor sementara.
Kenaikan margin yang didukung pertumbuhan penjualan dan efisiensi operasional memiliki arti yang berbeda dari kenaikan akibat penjualan aset, manfaat pajak atau biaya satu kali.
Dengan mengetahui sumber perubahannya kamu bisa menilai apakah margin tersebut berpotensi berkelanjutan.
Apa Net Profit Margin yang Bagus?
Tidak ada batas net profit margin yang berlaku untuk semua perusahaan.
Margin 5% mungkin tergolong rendah pada satu industri tetapi bisa saja masih wajar pada bisnis yang mengandalkan volume penjualan besar.
Sebaliknya, margin 20% belum tentu bisa dipertahankan apabila kenaikannya berasal dari keuntungan non berulang.
Untuk menilai apakah suatu margin tergolong baik maka kamu perlu untuk membandingkan dengan tiga hal, yaitu
kinerja perusahaan pada periode sebelumnya
perusahaan lain dalam industri yang sama
rata-rata industri yang menggunakan periode dan metode perhitungan sebanding.
Perhatikan juga tanggal pembaruan data karena margin perusahaan bisa terus berubah mengikuti kondisi ekonomi dan siklus bisnis.
Cara Menggunakan Net Profit Margin untuk Analisis Saham
Net profit margin akan lebih berguna jika dibaca bersamaan dengan kinerja bisnis dan rasio keuangan lainnya.
Berikut ini adalah beberapa cara menggunakannya dalam analisis fundamental saham:
1. Lihat Bersama Pertumbuhan Pendapatan
Margin yang naik saat pendapatan tumbuh mampu menunjukkan bahwa laba bersih meningkat lebih cepat daripada penjualan.
Tetapi, margin juga bisa naik karena perusahaan memangkas biaya ketika pendapatannya turun.
Karena itu periksa kembali apakah peningkatan tersebut berasal dari pertumbuhan bisnis atau penghematan yang mungkin hanya sementara.
2. Bandingkan dengan Kompetitor
Perusahaan dengan margin lebih tinggi mungkin memiliki harga jual yang lebih kuat, biaya lebih rendah, skala bisnis lebih besar atau produk yang lebih menguntungkan.
Meski begitu, margin yang lebih tinggi bukan berarti membuat sahamnya lebih menarik. Kamu masih perlu mempertimbangkan harga saham, pertumbuhan dan juga ekspektasi pasar.
3. Periksa Faktor yang Tidak Berulang
Laba bersih dapat dipengaruhi kejadian yang tidak rutin, seperti penjualan aset, biaya restrukturisasi, penurunan nilai aset, penyelesaian perkara hukum atau manfaat pajak satu kali.
Jika nilainya besar, net profit margin pada periode tersebut mungkin tidak akan mencerminkan kegiatan utama perusahaan.
Periksa kembali laporan laba rugi dan catatan keuangan untuk mengetahui sumber perubahannya.
4. Gunakan Bersama Rasio Lain
Net profit margin hanya menunjukkan berapa banyak laba bersih yang tersisa dari pendapatan. Rasio ini tidak menjelaskan tingkat utang, arus kas, penggunaan modal atau valuasi saham.
Karena itu bandingkan juga dengan pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas operasi, free cash flow, debt-to-equity ratio, return on equity, earnings per share, dan price-to-earnings ratio.
Kelebihan dan Keterbatasan Net Profit Margin
Tabel berikut ini akan merangkum kelebihan dan hal-hal yang perlu kamu perhatikan saat menggunakan net profit margin.:
Kelebihan | Keterbatasan |
Mudah dihitung dari laporan laba rugi | Tidak menunjukkan arus kas aktual |
Membantu melihat tren profitabilitas | Dipengaruhi bunga, pajak, dan faktor non operasional |
Dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan sejenis | Kurang sesuai untuk perbandingan lintas industri |
Menunjukkan laba bersih dari setiap nilai penjualan | Tidak menunjukkan apakah saham murah atau mahal |
Net profit margin yang positif tidak selalu berarti arus kas perusahaan kuat. Arus kas operasi juga bisa melemah akibat peningkatan piutang, perubahan modal kerja atau perbedaan waktu pencatatan pendapatan dan pembayaran.
Kesalahan saat Membaca Net Profit Margin
Net profit margin bisa memberikan gambaran mengenai profitabilitas perusahaan. Berikut ini beberapa kesalahan yang perlu kamu hindari:
1. Menganggap Margin Tinggi Selalu Lebih Baik
Margin yang tinggi belum tentu menunjukkan kondisi perusahaan yang lebih baik. Angka tersebut tetap perlu dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan, kualitas laba, risiko bisnis, dan valuasi saham.
Periksa juga apakah kenaikan margin berasal dari kegiatan utama perusahaan atau faktor sementara seperti manfaat pajak, penjualan aset maupun pemotongan biaya.
2. Membandingkan Perusahaan dari Industri Berbeda
Setiap industri memiliki struktur biaya, tingkat persaingan dan kebutuhan modal yang berbeda.
Sebagai contoh perusahaan ritel. Perusahaan ritel mampu beroperasi dengan margin tipis tetapi menghasilkan laba dari volume penjualan yang besar.
Karena itu, bandingkan net profit margin dengan perusahaan yang memiliki industri dan model bisnis serupa.
3. Hanya Melihat Satu Periode
Margin dalam satu kuartal bisa dipengaruhi oleh musim penjualan, perubahan pajak, biaya restrukturisasi atau transaksi yang tidak berulang.
Melihat satu periode saja bisa membuat perubahan sementara terlihat seperti tren jangka panjang. Periksa juga perkembangan margin selama beberapa kuartal atau tahun untuk memahami arah profitabilitas perusahaan.
4. Mengabaikan Pertumbuhan Pendapatan
Net profit margin bisa meningkat meskipun pendapatan menurun. Misalnya karena perusahaan memangkas biaya atau menghentikan kegiatan yang kurang menguntungkan.
Kenaikan seperti ini belum tentu menunjukkan bahwa bisnis sedang berkembang. Periksa juga apakah peningkatan margin didukung oleh pertumbuhan pendapatan dan permintaan yang sehat.
5. Menganggap Laba Bersih Sama dengan Arus Kas
Laba bersih dihitung menggunakan aturan akuntansi sedangkan laporan arus kas mencatat kas yang benar-benar masuk dan keluar dari perusahaan.
Perbedaan waktu pencatatan penjualan, pembayaran, piutang dan persediaan bisa membuat laba bersih bergerak berbeda dari arus kas.
Akibatnya, perusahaan bisa mencatat laba dan margin positif tetapi tetap memiliki arus kas operasi yang lemah.
6. Tidak Membaca Penjelasan dalam Laporan Keuangan
Untuk perusahaan AS kamu perlu melakukan pemeriksaan pada laporan 10-K, 10-Q, catatan laporan keuangan serta bagian Management’s Discussion and Analysis atau MD&A.
Bagian tersebut bisa menjelaskan penyebab perubahan margin secara lebih rinci termasuk biaya restrukturisasi, penurunan nilai aset, perubahan pajak, tuntutan hukum atau transaksi satu kali yang tidak berasal dari kegiatan utama perusahaan.
Gunakan Net Profit Margin dalam Konteks yang Tepat
Net profit margin membantu kamu melihat berapa banyak laba bersih yang tersisa dari pendapatan perusahaan. Tetapi, angka margin tidak bisa dinilai sendiri karena setiap industri memiliki struktur biaya dan model bisnis yang berbeda.
Bandingkan margin dengan periode sebelumnya dan perusahaan sejenis. Periksa juga pertumbuhan pendapatan, arus kas, utang, kualitas laba, serta faktor non berulang agar kamu memahami penyebab perubahannya.
Melalui Gotrade Indonesia, kamu dapat mempelajari laporan keuangan, kinerja, dan valuasi saham AS sebelum membuat keputusan.
Pelajari saham AS dan analisis fundamental di aplikasi Gotrade.
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa depan. Materi ini bersifat umum dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu.