Analisis Fundamental Saham, Panduan Lengkap untuk Pemula

Kholida QothrunnadaKholida QothrunnadaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Analisis Fundamental Saham, Panduan Lengkap untuk Pemula

Ringkasan Gotrade

  • Analisis fundamental saham adalah salah satu cara untuk menilai kesehatan bisnis dan keuangan perusahaan, dan membandingkannya dengan harga saham saat ini.

  • Terdapat dua pendekatan analisis fundamental, yakni top-down (ekonomi makro, sektor industri, hingga analisis perusahaan) dan bottom-up (laporan keuangan perusahaan).

  • Investor perlu mempertimbangkan berbagai indikator dalam analisis fundamental, seperti ROE, EPS, ROA, NPM, PBV, PER, DY, DER, dan cash ratio secara menyeluruh.

Analisis fundamental adalah cara menilai kelayakan sebuah saham dari sisi kesehatan bisnis dan keuangan perusahaannya (bukan cuma pergerakan harga di grafik). Hasilnya nanti akan dibandingkan dengan harga saham saat ini.

Tujuan fundamental saham adalah untuk melihat apakah harganya wajar, murah, atau justru mahal. Bagi investor yang sudah tahu cara membeli saham, namun masih bingung menentukan saham mana yang layak dibeli, artikel ini akan membahas seputar analisis fundamental yang biasa dipakai investor untuk menilai sebuah perusahaan.

Apa itu Analisis Fundamental?

Dikutip dari ebook Buku Ajar Manajemen Investasi oleh Susilo Utomo, S.E., M.Si,analisis fundamental adalah pendekatan yang dipakai untuk menilai nilai intrinsik suatu saham berdasarkan data keuangan dan kondisi ekonomi makro-mikro yang mempengaruhi kinerja perusahaan. Analisis ini berakar pada kerangka nilai intrinsik (intrinsic value) yang diperkenalkan Benjamin Graham dan David Dodd dalam buku klasik mereka, Security Analysis (1934).

Baca juga: Aplikasi Investasi Modal 10 Ribu: Mana yang Terbaik?

Investor yang menggunakan analisis fundamental percaya bahwa harga pasar kadang tidak mencerminkan nilai riil dan di situlah peluang investasi muncul.

Sederhananya, prinsip dasar analisis fundamental adalah saat kamu membeli saham, kamu sebenarnya membeli sebagian kepemilikan dari bisnis tersebut, bukan sekadar angka yang naik turun di layar aplikasi.

Tujuan akhir fundamental saham yaitu menemukan nilai wajar atau nilai intrinsik suatu saham, kemudian membandingkannya dengan harga yang berlaku di pasar saat ini. Kalau, nilai intrinsiknya lebih tinggi dari harga pasar, saham tersebut berpotensi undervalued alias dihargai lebih murah dari nilai sebenarnya. Kalau nilai intrinsiknya lebih rendah, maka saham tersebut berpotensi overvalued atau dihargai lebih mahal dari nilai wajarnya.

Baca juga: Di Mana Beli Saham? Ini 5 Platform yang Bisa Dipilih

Beberapa indikator analisis fundamental penting yang digunakan antara lain:

  • Laporan keuangan: laba bersih, pendapatan, arus kas, dan margin.

  • Rasio valuasi: seperti P/E ratio, P/B ratio, atau ROE.

  • Kondisi industri: tren permintaan, inovasi, dan daya saing perusahaan.

  • Faktor makro ekonomi: suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah.

Cara Analisis Fundamental Saham dan Pendekatan Utamanya

Pendekatan utama dalam analisis fundamental terdiri dari top-down dan bottom-up. Pahami kedua penjelasannya di bawah ini.

1. Metode Top Down (Pendekatan dari Atas ke Bawah)

Pendekatan top down dalam fundamental dilakukan dengan memperhatikan faktor kondisi ekonomi makro terlebih dahulu. Penerapan metode ini diawali dengan melakukan analisis makro, lalu analisis sektoral dan terakhir analisis mikro.

Setelah menyelesaikan tahap tadi, selanjutnya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk memperkuat analisis fundamental, yaitu:

Cara Analisis

Fokus

Analisis Perusahaan

Memilih perusahaan terbaik dalam sektor tersebut.

Prospek Bisnis

Menilai peluang dan tantangan bisnis perusahaan.

Persaingan Industri

Membandingkan daya saing perusahaan dengan kompetitornya.

2. Metode Bottom-up (Pendekatan dari Bawah ke Atas)

Cara analisis fundamental saham dengan metode bottom up ini dilakukan dengan melihat laporan keuangan perusahaan. Kemudian, barulah investor bisa melihat bagaimana tren serta kondisi ekonomi mikro dan mikro, kinerja perusahaan tersebut apabila dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor industri sejenis hingga pengelolaannya.

Dua pendekatan metode bottom-up dalam analisis yang bisa dilakukan:

Cara Analisis

Fokus

Laporan Keuangan

Menilai kinerja dan kondisi keuangan perusahaan.

Perbandingan Harga Saham

Membandingkan valuasi saham dengan emiten sejenis menggunakan indikator fundamental seperti PER.

Alasan Analisis Fundamental Penting Sebelum Beli Saham

1. Membantu Melihat Fluktuasi Harga

Dirangkum dari Investopedia, pentingnya analisis fundamental yaitu karena memungkinkan investor fokus pada faktor-faktor mendasar yang benar-benar mendorong operasional dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Artinya, investor tidak hanya terpaku pada pergerakan harga saham sesaat melainkan didasarkan pada kondisi nyata perusahaan, bukan sekadar sentimen pasar yang bersifat sementara.

2. Mengukur Objektivitas Nilai Perusahaan

Manfaat utama dari analisis fundamental yaitu membantu investor mengukur nilai suatu perusahaan dengan lebih akurat. Laporan keuangan menyediakan data konkret yang mengungkap stabilitas keuangan perusahaan secara keseluruhan, profitabilitas, dan likuiditas, penilaian terhadap kualitas tim manajemen, keunggulan kompetitif, dan tren industri.

3. Mengidentifikasi perusahaan yang undervalued

Analisis fundamental juga membantu investor menemukan perusahaan yang nilainya masih di bawah potensi sebenarnya. Hal ini dilihat dari pertimbangan pertumbuhan penjualan, pangsa pasar, dan lini produk, investor bisa mengukur kemampuan perusahaan untuk meningkatkan keuntungan di masa depan serta menumbuhkan nilai bagi pemegang saham.

4. Mendeteksi Saham yang overvalued

Analisis ini juga berperan penting dalam mengenali tanda-tanda peringatan atau investasi yang dinilai terlalu tinggi. Hal ini dilakukan meneliti kesehatan keuangan dan posisi pasar suatu perusahaan, investor bisa memperkirakan apakah perusahaan tersebut punya potensi berkinerja buruk atau mengalami penurunan nilai yang signifikan.

Analisis Fundamental vs Analisis Teknikal, Apa Bedanya?

Singkatnya, perbedaan utama antara analisis fundamental dan teknikal yaitu kalau analisis fundamental melihat nilai intrinsik perusahaan, sedangkan analisis teknikal berfokus pada pola harga dan volume perdagangan.

Dirangkum dari Investopedia, berikut perbandingan mendasar antara analisis fundamental dan teknikal dalam saham:

Aspek

Analisis Fundamental

Analisis Teknikal

Tujuan

Menilai nilai intrinsik perusahaan

Memprediksi arah harga saham

Horizon waktu

Jangka menengah–panjang

Jangka pendek–menengah

Fokus utama

Kinerja keuangan & ekonomi

Grafik harga & volume

Pengguna utama

Investor jangka panjang

Trader aktif

Alat utama

Laporan keuangan, rasio valuasi

Indikator teknikal, pola chart

Sifat analisis

Objektif dan berbasis data bisnis

Reaktif terhadap pergerakan pasar

Kelemahan utama

Tidak bisa memprediksi waktu pergerakan harga

Tidak mempertimbangkan nilai riil perusahaan

Menariknya, riset Cakici dan Zaremba (2025) dalam Journal of International Financial Markets, Institutions and Money, memberi gambaran yang lebih berimbang soal ini. Studi menemukan kalau data teknikal cenderung lebih unggul memprediksi return dalam jangka pendek, terutama saat pasar sedang volatil atau pada perusahaan yang sulit dinilai.

Tapi, strategi berbasis data akuntansi atau fundamental terbukti lebih murah untuk dilakukan dan lebih unggul untuk proyeksi jangka panjang, dan keduanya sama-sama punya nilai prediktif yang independen satu sama lain. Dengan kata lain, fundamental dan teknikal bukan pendekatan yang saling meniadakan, melainkan bisa saling melengkapi tergantung horizon waktu investasi yang dituju.

Kesalahan Umum saat Melakukan Analisis Fundamental

Biasanya tak sedikit investor yang hanya melihat satu rasio saja tanpa mempertimbangkan konteks rasio lainnya. Beberapa kesalahan kerap membuat hasil analisis fundamental menjadi kurang akurat, berikut di antaranya secara umum:

  • Membandingkan rasio antar perusahaan dari industri yang berbeda karakteristik (padahal patokan wajarnya bisa berbeda signifikan).

  • Cuma melihat data satu periode, tanpa memperhatikan tren beberapa tahun terakhir.

  • Mengabaikan faktor kualitatif (seperti kualitas manajemen dan tata kelola perusahaan).

  • Menganggap rasio yang terlihat murah otomatis mengartikan saham tersebut pasti menguntungkan (tanpa menelusuri kemungkinan value trap).

Tips Melakukan Analisis Fundamental Saham

Setelah memahami berbagai cara melakukan analisis fundamental saham, investor juga perlu memahami beberapa indikator penting yang bisa digunakan untuk menyaring dan memilih saham.

Dikutip dari e-book Sukses Trading Saham dengan Analisis Teknikal oleh Rahmat Guna Wijaya, berikut beberapa tips memilih saham berdasarkan analisis fundamental:

1. Pilih Saham dengan Return on Equity (ROE) yang Tinggi

Perhatikan saham dengan ROE minimal 10%, karena semakin tinggi nilainya umumnya semakin baik. ROE ini menjadi tanda kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal yang dimiliki pemegang saham. Khusus pada sektor perbankan, investor juga dapat mempertimbangkan saham dengan ROE yang lebih tinggi dibandingkan ROA.

2. Perhatikan Earnings per Share (EPS)

EPS menunjukkan besarnya keuntungan bersih yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Besarnya EPS bisa menjadi indikasi bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang lebih tinggi bagi pemegang saham.

3. Temukan Perusahaan dengan Return on Assets (ROA) yang Tinggi

ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan seluruh asetnya. Biasanya, ROA yang tinggi menandakan semakin efisiennya perusahaan dalam menggunakan aset untuk menghasilkan keuntungan.

4. Pertimbangkan NPM yang lebih tinggi

Net Profit Margin (NPM) menunjukkan seberapa besar laba bersih yang dapat diperoleh perusahaan dari pendapatannya. NPM yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengonversi pendapatan menjadi laba bersih.

5. Price to Book Value (PBV) yang relatif rendah

PBV digunakan untuk melihat bagaimana pasar menilai suatu perusahaan dibandingkan dengan nilai bukunya. PBV yang lebih rendah dapat menjadi pertimbangan ketika mencari saham yang relatif murah terhadap nilai bukunya. Namun, rasio ini sebaiknya tetap dibandingkan dengan perusahaan lain dalam sektor yang sama.

6. Pilih Saham yang Nilai Price to Earnings Ratio (PER) Wajar

PER akan membandingkan harga saham dengan laba per saham perusahaan. PER yang lebih rendah umumnya bisa menunjukkan valuasi yang lebih murah. Meski demikian, investor tetap perlu membandingkan PER dengan prospek pertumbuhan dan karakteristik sektornya.

7. Perhatikan Pertumbuhan Dividend Yield (DY)

Salah satu cara yang digunakan yaitu DY minimal 3% dengan tren pertumbuhan yang konsisten. Jadi, investor tidak hanya melihat besarnya dividen saat ini, tapi juga perkembangannya dari waktu ke waktu.

8. Ketahui Debt to Equity Ratio (DER) dan Utang Perusahaan

Perbandingan antara total utang dan modal perusahaan ditunjukan DER. Dalam hal ini, DER yang lebih rendah umumnya menunjukkan tingkat penggunaan utang yang lebih terkendali.

Salah satu acuan yang bisa dipakai yaitu DER di bawah 100% atau berada di bawah angka NPM perusahaan (meskipun batas ideal dapat berbeda pada setiap sektor.)

9. Cek Cash Ratio secara Proporsional

Cash ratio merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan kas dan aset yang setara kas. Jika ini terlalu rendah, maka bisa menunjukkan keterbatasan likuiditas, sementara rasio yang terlalu tinggi juga perlu dicermati.

Contoh Perhitungan Analisis Fundamental: Studi Kasus Saham Apple (AAPL)

Agar ada lebih relevan bagi investor Indonesia yang ingin mempraktikkan analisis fundamental pada saham global, berikut contoh perhitungan sederhana menggunakan saham Apple Inc. (AAPL).

Berdasarkan data publik per 31 Agustus 2026, Apple mempunyai EPS trailing twelve months (TTM) sekitar US$8,72 per lembar saham, sementara harga penutupan saham AAPL berada di sekitar US$315,81 per lembar.

Dari kedua angka tersebut, investor bisa menghitung Price to Earnings Ratio (PER) dengan rumus:

PER = Harga Saham ÷ EPS

PER = US$315,81 ÷ US$8,72 ≈ 36,22 kali

Artinya, pada harga tersebut, investor membayar sekitar 36 kali laba per saham Apple dalam 12 bulan terakhir. Data pasar pada periode yang sama juga menunjukkan trailing P/E Apple berada di kisaran 36 kali.

Namun, PER tidak sebaiknya dipakai ebagai satu-satunya dasar untuk menentukan apakah saham tergolong mahal atau murah. Investor bisa membandingkannya dengan perusahaan sejenis, riwayat valuasi Apple, serta indikator fundamental lain seperti ROE, ROA, PBV, pertumbuhan laba, dan arus kas sebelum mengambil keputusan investasi.

Catatan: angka harga saham dan rasio bisa berubah mengikuti pergerakan pasar dan pembaruan laporan keuangan perusahaan. Contoh perhitungan ini bersifat ilustratif untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham AAPL.

Kesimpulan

Analisis fundamental merupakan salah satu pendekatan yang membantu membantu investor menilai kondisi bisnis, kesehatan keuangan, dan nilai wajar sebuah perusahaan sebelum membeli saham.

Dengan memahami pendekatan top-down dan bottom-up dalam analisis ini, kita bisa membandingkan berbagai rasio keuangan, hingga memperhatikan tren dan kondisi industri. Hal ini bisa membantu keputusan yang lebih terukur dan tidak hanya bergantung pada pergerakan harga saham.

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Semua keputusan investasi memiliki risiko dan menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Jadi, pastikan melakukan riset dan mempertimbangkan kondisi keuangan serta profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Kholida Qothrunnada
Ditulis oleh
Kholida Qothrunnada
Kholida Qothrunnada adalah editor sekaligus konten strategis dengan latar belakang pendidikan Ilmu Komunikasi, konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman 4+ tahun sebagai reporter ekonomi-bisnis di media nasional. Fokus topik dan minat: keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku