Beberapa indikator analisis fundamental penting yang digunakan antara lain:
-
Laporan keuangan: laba bersih, pendapatan, arus kas, dan margin.
-
Rasio valuasi: seperti P/E ratio, P/B ratio, atau ROE.
-
Kondisi industri: tren permintaan, inovasi, dan daya saing perusahaan.
-
Faktor makro ekonomi: suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah.
Cara Analisis Fundamental Saham dan Pendekatan Utamanya
Pendekatan utama dalam analisis fundamental terdiri dari top-down dan bottom-up. Pahami kedua penjelasannya di bawah ini.
1. Metode Top Down (Pendekatan dari Atas ke Bawah)
Pendekatan top down dalam fundamental dilakukan dengan memperhatikan faktor kondisi ekonomi makro terlebih dahulu. Penerapan metode ini diawali dengan melakukan analisis makro, lalu analisis sektoral dan terakhir analisis mikro.
Setelah menyelesaikan tahap tadi, selanjutnya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk memperkuat analisis fundamental, yaitu:
|
Cara Analisis
|
Fokus
|
|
Analisis Perusahaan
|
Memilih perusahaan terbaik dalam sektor tersebut.
|
|
Prospek Bisnis
|
Menilai peluang dan tantangan bisnis perusahaan.
|
|
Persaingan Industri
|
Membandingkan daya saing perusahaan dengan kompetitornya.
|
2. Metode Bottom-up (Pendekatan dari Bawah ke Atas)
Cara analisis fundamental saham dengan metode bottom up ini dilakukan dengan melihat laporan keuangan perusahaan. Kemudian, barulah investor bisa melihat bagaimana tren serta kondisi ekonomi mikro dan mikro, kinerja perusahaan tersebut apabila dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor industri sejenis hingga pengelolaannya.
Dua pendekatan metode bottom-up dalam analisis yang bisa dilakukan:
|
Cara Analisis
|
Fokus
|
|
Laporan Keuangan
|
Menilai kinerja dan kondisi keuangan perusahaan.
|
|
Perbandingan Harga Saham
|
Membandingkan valuasi saham dengan emiten sejenis menggunakan indikator fundamental seperti PER.
|
Alasan Analisis Fundamental Penting Sebelum Beli Saham
1. Membantu Melihat Fluktuasi Harga
Dirangkum dari Investopedia, pentingnya analisis fundamental yaitu karena memungkinkan investor fokus pada faktor-faktor mendasar yang benar-benar mendorong operasional dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Artinya, investor tidak hanya terpaku pada pergerakan harga saham sesaat melainkan didasarkan pada kondisi nyata perusahaan, bukan sekadar sentimen pasar yang bersifat sementara.
2. Mengukur Objektivitas Nilai Perusahaan
Manfaat utama dari analisis fundamental yaitu membantu investor mengukur nilai suatu perusahaan dengan lebih akurat. Laporan keuangan menyediakan data konkret yang mengungkap stabilitas keuangan perusahaan secara keseluruhan, profitabilitas, dan likuiditas, penilaian terhadap kualitas tim manajemen, keunggulan kompetitif, dan tren industri.
3. Mengidentifikasi perusahaan yang undervalued
Analisis fundamental juga membantu investor menemukan perusahaan yang nilainya masih di bawah potensi sebenarnya. Hal ini dilihat dari pertimbangan pertumbuhan penjualan, pangsa pasar, dan lini produk, investor bisa mengukur kemampuan perusahaan untuk meningkatkan keuntungan di masa depan serta menumbuhkan nilai bagi pemegang saham.
4. Mendeteksi Saham yang overvalued
Analisis ini juga berperan penting dalam mengenali tanda-tanda peringatan atau investasi yang dinilai terlalu tinggi. Hal ini dilakukan meneliti kesehatan keuangan dan posisi pasar suatu perusahaan, investor bisa memperkirakan apakah perusahaan tersebut punya potensi berkinerja buruk atau mengalami penurunan nilai yang signifikan.
Analisis Fundamental vs Analisis Teknikal, Apa Bedanya?
Singkatnya, perbedaan utama antara analisis fundamental dan teknikal yaitu kalau analisis fundamental melihat nilai intrinsik perusahaan, sedangkan analisis teknikal berfokus pada pola harga dan volume perdagangan.
Dirangkum dari Investopedia, berikut perbandingan mendasar antara analisis fundamental dan teknikal dalam saham:
|
Aspek
|
Analisis Fundamental
|
Analisis Teknikal
|
|
Tujuan
|
Menilai nilai intrinsik perusahaan
|
Memprediksi arah harga saham
|
|
Horizon waktu
|
Jangka menengah–panjang
|
Jangka pendek–menengah
|
|
Fokus utama
|
Kinerja keuangan & ekonomi
|
Grafik harga & volume
|
|
Pengguna utama
|
Investor jangka panjang
|
Trader aktif
|
|
Alat utama
|
Laporan keuangan, rasio valuasi
|
Indikator teknikal, pola chart
|
|
Sifat analisis
|
Objektif dan berbasis data bisnis
|
Reaktif terhadap pergerakan pasar
|
|
Kelemahan utama
|
Tidak bisa memprediksi waktu pergerakan harga
|
Tidak mempertimbangkan nilai riil perusahaan
|
Menariknya, riset Cakici dan Zaremba (2025) dalam Journal of International Financial Markets, Institutions and Money, memberi gambaran yang lebih berimbang soal ini. Studi menemukan kalau data teknikal cenderung lebih unggul memprediksi return dalam jangka pendek, terutama saat pasar sedang volatil atau pada perusahaan yang sulit dinilai.
Tapi, strategi berbasis data akuntansi atau fundamental terbukti lebih murah untuk dilakukan dan lebih unggul untuk proyeksi jangka panjang, dan keduanya sama-sama punya nilai prediktif yang independen satu sama lain. Dengan kata lain, fundamental dan teknikal bukan pendekatan yang saling meniadakan, melainkan bisa saling melengkapi tergantung horizon waktu investasi yang dituju.
Kesalahan Umum saat Melakukan Analisis Fundamental
Biasanya tak sedikit investor yang hanya melihat satu rasio saja tanpa mempertimbangkan konteks rasio lainnya. Beberapa kesalahan kerap membuat hasil analisis fundamental menjadi kurang akurat, berikut di antaranya secara umum:
-
Membandingkan rasio antar perusahaan dari industri yang berbeda karakteristik (padahal patokan wajarnya bisa berbeda signifikan).
-
Cuma melihat data satu periode, tanpa memperhatikan tren beberapa tahun terakhir.
-
Mengabaikan faktor kualitatif (seperti kualitas manajemen dan tata kelola perusahaan).
-
Menganggap rasio yang terlihat murah otomatis mengartikan saham tersebut pasti menguntungkan (tanpa menelusuri kemungkinan value trap).
Tips Melakukan Analisis Fundamental Saham
Setelah memahami berbagai cara melakukan analisis fundamental saham, investor juga perlu memahami beberapa indikator penting yang bisa digunakan untuk menyaring dan memilih saham.
Dikutip dari e-book Sukses Trading Saham dengan Analisis Teknikal oleh Rahmat Guna Wijaya, berikut beberapa tips memilih saham berdasarkan analisis fundamental:
1. Pilih Saham dengan Return on Equity (ROE) yang Tinggi
Perhatikan saham dengan ROE minimal 10%, karena semakin tinggi nilainya umumnya semakin baik. ROE ini menjadi tanda kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal yang dimiliki pemegang saham. Khusus pada sektor perbankan, investor juga dapat mempertimbangkan saham dengan ROE yang lebih tinggi dibandingkan ROA.
2. Perhatikan Earnings per Share (EPS)
EPS menunjukkan besarnya keuntungan bersih yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Besarnya EPS bisa menjadi indikasi bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang lebih tinggi bagi pemegang saham.
3. Temukan Perusahaan dengan Return on Assets (ROA) yang Tinggi
ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan seluruh asetnya. Biasanya, ROA yang tinggi menandakan semakin efisiennya perusahaan dalam menggunakan aset untuk menghasilkan keuntungan.
4. Pertimbangkan NPM yang lebih tinggi
Net Profit Margin (NPM) menunjukkan seberapa besar laba bersih yang dapat diperoleh perusahaan dari pendapatannya. NPM yang lebih tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengonversi pendapatan menjadi laba bersih.
5. Price to Book Value (PBV) yang relatif rendah
PBV digunakan untuk melihat bagaimana pasar menilai suatu perusahaan dibandingkan dengan nilai bukunya. PBV yang lebih rendah dapat menjadi pertimbangan ketika mencari saham yang relatif murah terhadap nilai bukunya. Namun, rasio ini sebaiknya tetap dibandingkan dengan perusahaan lain dalam sektor yang sama.
6. Pilih Saham yang Nilai Price to Earnings Ratio (PER) Wajar
PER akan membandingkan harga saham dengan laba per saham perusahaan. PER yang lebih rendah umumnya bisa menunjukkan valuasi yang lebih murah. Meski demikian, investor tetap perlu membandingkan PER dengan prospek pertumbuhan dan karakteristik sektornya.
7. Perhatikan Pertumbuhan Dividend Yield (DY)
Salah satu cara yang digunakan yaitu DY minimal 3% dengan tren pertumbuhan yang konsisten. Jadi, investor tidak hanya melihat besarnya dividen saat ini, tapi juga perkembangannya dari waktu ke waktu.
8. Ketahui Debt to Equity Ratio (DER) dan Utang Perusahaan
Perbandingan antara total utang dan modal perusahaan ditunjukan DER. Dalam hal ini, DER yang lebih rendah umumnya menunjukkan tingkat penggunaan utang yang lebih terkendali.
Salah satu acuan yang bisa dipakai yaitu DER di bawah 100% atau berada di bawah angka NPM perusahaan (meskipun batas ideal dapat berbeda pada setiap sektor.)
9. Cek Cash Ratio secara Proporsional
Cash ratio merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan kas dan aset yang setara kas. Jika ini terlalu rendah, maka bisa menunjukkan keterbatasan likuiditas, sementara rasio yang terlalu tinggi juga perlu dicermati.
Contoh Perhitungan Analisis Fundamental: Studi Kasus Saham Apple (AAPL)
Agar ada lebih relevan bagi investor Indonesia yang ingin mempraktikkan analisis fundamental pada saham global, berikut contoh perhitungan sederhana menggunakan saham Apple Inc. (AAPL).
Berdasarkan data publik per 31 Agustus 2026, Apple mempunyai EPS trailing twelve months (TTM) sekitar US$8,72 per lembar saham, sementara harga penutupan saham AAPL berada di sekitar US$315,81 per lembar.
Dari kedua angka tersebut, investor bisa menghitung Price to Earnings Ratio (PER) dengan rumus:
PER = Harga Saham ÷ EPS
PER = US$315,81 ÷ US$8,72 ≈ 36,22 kali
Artinya, pada harga tersebut, investor membayar sekitar 36 kali laba per saham Apple dalam 12 bulan terakhir. Data pasar pada periode yang sama juga menunjukkan trailing P/E Apple berada di kisaran 36 kali.
Namun, PER tidak sebaiknya dipakai ebagai satu-satunya dasar untuk menentukan apakah saham tergolong mahal atau murah. Investor bisa membandingkannya dengan perusahaan sejenis, riwayat valuasi Apple, serta indikator fundamental lain seperti ROE, ROA, PBV, pertumbuhan laba, dan arus kas sebelum mengambil keputusan investasi.
Catatan: angka harga saham dan rasio bisa berubah mengikuti pergerakan pasar dan pembaruan laporan keuangan perusahaan. Contoh perhitungan ini bersifat ilustratif untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham AAPL.
Kesimpulan
Analisis fundamental merupakan salah satu pendekatan yang membantu membantu investor menilai kondisi bisnis, kesehatan keuangan, dan nilai wajar sebuah perusahaan sebelum membeli saham.
Dengan memahami pendekatan top-down dan bottom-up dalam analisis ini, kita bisa membandingkan berbagai rasio keuangan, hingga memperhatikan tren dan kondisi industri. Hal ini bisa membantu keputusan yang lebih terukur dan tidak hanya bergantung pada pergerakan harga saham.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Semua keputusan investasi memiliki risiko dan menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Jadi, pastikan melakukan riset dan mempertimbangkan kondisi keuangan serta profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.