ROA (Return on Asset): Rumus dan Cara Membacanya untuk Analisis Saham

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

ROA (Return on Asset): Rumus dan Cara Membacanya untuk Analisis Saham

Laba perusahaan meningkat 10 persen. Kabar baik?

Belum tentu.

Jika asetnya bertambah 50 persen pada periode yang sama karena pembelian pabrik atau akuisisi, kenaikan laba tadi mungkin belum sebanding dengan modal yang sudah ditanamkan ke dalam bisnis.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Di sinilah Return on Assets berguna. Rasio ini tidak hanya melihat jumlah laba, tetapi juga seberapa produktif aset perusahaan dalam menghasilkan laba tersebut.

Apa Itu Return on Assets?

Untuk membaca rasio ini dengan benar, kamu perlu memahami dua angka yang dibandingkan di dalamnya.

Return on Assets atau ROA adalah rasio profitabilitas yang membandingkan laba bersih perusahaan dengan aset yang digunakan untuk menjalankan bisnis.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Secara sederhana, ROA menjawab pertanyaan berikut:

Dari setiap US$1 aset yang digunakan, berapa laba bersih yang berhasil dihasilkan perusahaan?

Aset tidak hanya berupa gedung dan mesin. Di dalam neraca, aset juga dapat mencakup kas, surat berharga, piutang, persediaan, properti, peralatan, goodwill, serta aset tak berwujud.

Menurut panduan laporan keuangan dari SEC, neraca menunjukkan aset, liabilitas, dan ekuitas pada suatu tanggal. Sementara itu, laporan laba rugi menunjukkan pendapatan, biaya, dan laba yang dihasilkan selama periode tertentu.

Perbedaan periode tersebut menjadi salah satu alasan rata-rata total aset lebih sering digunakan untuk menghitung ROA.

Rumus Return on Assets

Setelah mengetahui komponennya, perhitungan ROA sebenarnya tidak terlalu rumit.

Rumus ROA yang umum digunakan adalah:

ROA = Laba Bersih ÷ Rata-rata Total Aset × 100%

Rata-rata total aset dihitung dengan rumus:

Rata-rata Total Aset = (Aset Awal Periode + Aset Akhir Periode) ÷ 2

CFA Institute juga mencantumkan Return on Assets sebagai laba bersih yang dibagi dengan rata-rata total aset.

Penggunaan rata-rata aset bukan sekadar pilihan teknis. Laba bersih dikumpulkan sepanjang tahun, sedangkan nilai total aset pada neraca hanya menggambarkan posisi perusahaan pada tanggal tertentu.

Jika perusahaan melakukan akuisisi besar pada pertengahan tahun, penggunaan aset akhir tahun saja dapat membuat hasil ROA terlihat lebih rendah daripada kondisi sepanjang periode.

Contoh Cara Menghitung ROA

Contoh berikut memperlihatkan bagaimana aset awal dan akhir periode masuk ke dalam perhitungan.

Perusahaan A melaporkan data berikut:

Komponen

Nilai

Total aset awal tahun

US$180 juta

Total aset akhir tahun

US$220 juta

Laba bersih

US$10 juta

Pertama, hitung rata-rata total aset:

(US$180 juta + US$220 juta) ÷ 2 = US$200 juta

Kemudian hitung ROA:

US$10 juta ÷ US$200 juta × 100% = 5%

Artinya, perusahaan menghasilkan laba bersih sekitar US$0,05 dari setiap US$1 rata-rata aset yang digunakan selama periode tersebut.

Angka 5 persen belum cukup untuk menyimpulkan apakah perusahaan efisien atau tidak. Kamu masih perlu membandingkannya dengan kinerja sebelumnya, perusahaan pesaing, dan karakter industri tempat perusahaan beroperasi.

Data ROA Bisa Ditemukan di Mana?

Kedua komponen ROA tersedia di laporan keuangan, jadi kamu tidak membutuhkan data yang terlalu rumit.

Angka yang perlu dicari adalah:

  • Net income atau laba bersih, yang tersedia dalam laporan laba rugi.

  • Total assets atau total aset, yang tersedia dalam neraca.

Untuk perusahaan AS, informasi tersebut biasanya terdapat pada bagian financial statements dalam laporan tahunan Form 10-K.

SEC menyediakan panduan membaca Form 10-K yang menjelaskan bagian bisnis, faktor risiko, pembahasan manajemen, laporan keuangan, dan catatan akuntansi perusahaan.

Catatan laporan keuangan penting karena perubahan laba atau aset tidak selalu berasal dari kegiatan operasional normal. Akuisisi, pelepasan aset, perubahan estimasi akuntansi, atau pencatatan penurunan nilai juga dapat mengubah ROA.

Karena itu, jangan hanya mengandalkan angka yang muncul di situs penyedia data. Gunakan filing perusahaan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya berubah.

Cara Membaca ROA dengan Lebih Tepat

Angka ROA baru benar-benar berguna ketika ditempatkan dalam konteks bisnis yang sesuai.

1. Bandingkan dengan Bisnis Sejenis

ROA perusahaan software tidak tepat dibandingkan langsung dengan perusahaan minyak, bank, atau jaringan ritel.

Apple, misalnya, memiliki model bisnis dan komposisi aset yang berbeda dari Walmart, yang mengelola banyak toko, pusat distribusi, dan persediaan. Keduanya juga berbeda dari ExxonMobil, yang membutuhkan fasilitas produksi dan infrastruktur energi bernilai besar.

ROA yang lebih rendah pada perusahaan padat aset tidak otomatis menunjukkan bahwa manajemennya buruk. Bisnis tersebut memang memerlukan aset yang lebih besar untuk menghasilkan pendapatan.

Perbandingan akan lebih relevan jika dilakukan terhadap perusahaan yang menjual produk serupa, menggunakan model bisnis sejenis, dan berada pada tahap perkembangan yang kurang lebih sama.

2. Lihat Tren, Bukan Hanya Satu Tahun

Misalnya, ROA sebuah perusahaan bergerak seperti berikut:

  • Tahun pertama: 8%

  • Tahun kedua: 10%

  • Tahun ketiga: 12%

Kenaikan tersebut dapat menunjukkan bahwa laba tumbuh lebih cepat daripada aset. Namun, kamu masih perlu mencari penyebabnya.

Apakah margin laba membaik? Persediaan berputar lebih cepat? Perusahaan menjual aset yang tidak produktif? Atau laba naik karena keuntungan satu kali?

Penurunan ROA juga tidak selalu buruk.

Perusahaan mungkin baru membangun gudang, membeli mesin, atau mengakuisisi bisnis lain. Aset tersebut langsung masuk ke neraca, sementara tambahan pendapatan dan laba bisa membutuhkan waktu sebelum terlihat.

3. Pecah ROA Menjadi Margin dan Perputaran Aset

ROA dapat diuraikan menjadi dua bagian:

ROA = Net Profit Margin × Total Asset Turnover

Net profit margin menunjukkan berapa banyak laba bersih yang tersisa dari pendapatan. Total asset turnover menunjukkan seberapa besar pendapatan yang dihasilkan dari aset perusahaan.

Dua perusahaan dapat memiliki ROA yang sama melalui cara yang berbeda.

Perusahaan pertama mungkin memiliki margin tinggi, tetapi penjualannya relatif kecil dibandingkan aset. Perusahaan kedua bisa memiliki margin tipis, tetapi persediaan dan asetnya berputar jauh lebih cepat.

Pendekatan tersebut merupakan bagian dari analisis DuPont. CFA Institute memasukkan analisis DuPont, rasio profitabilitas, dan rasio aktivitas sebagai alat untuk memahami sumber perubahan kinerja perusahaan.

4. Baca Bersama ROE dan Utang

ROA dan Return on Equity sama-sama menggunakan laba bersih, tetapi keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda.

Aspek

ROA

ROE

Penyebut

Rata-rata total aset

Rata-rata ekuitas

Yang dinilai

Produktivitas seluruh aset

Laba terhadap modal pemegang saham

Hubungan dengan utang

Terpengaruh melalui aset dan beban bunga

Dapat meningkat jika basis ekuitas mengecil

Penggunaan

Menilai efisiensi penggunaan aset

Menilai pengembalian terhadap ekuitas

Perusahaan dengan utang besar dapat mencatat ROE tinggi karena nilai ekuitasnya relatif kecil. Namun, beban bunga dari utang juga dapat menekan laba bersih dan ROA.

Karena itu, selisih yang besar antara ROE dan ROA perlu dibaca bersama Debt to Equity Ratio, beban bunga, serta arus kas perusahaan.

Selisih tersebut bukan otomatis masalah. Namun, angkanya bisa menunjukkan bahwa struktur pendanaan ikut mendorong tingkat pengembalian kepada pemegang saham.

5. Periksa Kualitas Labanya

ROA dapat naik karena bisnis utama perusahaan membaik. Namun, kenaikan yang sama juga bisa dipengaruhi oleh:

  • keuntungan dari penjualan aset;

  • manfaat pajak yang tidak berulang;

  • pembalikan provisi;

  • penurunan nilai aset pada periode sebelumnya;

  • keuntungan investasi di luar kegiatan utama.

Bandingkan laba bersih dengan arus kas dari aktivitas operasi. Keduanya tidak harus selalu sama, tetapi perbedaan besar yang berlangsung selama beberapa periode perlu ditelusuri melalui catatan laporan keuangan.

Berapa ROA yang Bagus?

Pertanyaan ini sering muncul, tetapi jawabannya tidak dapat diringkas menjadi satu angka untuk semua perusahaan.

Tidak ada batas ROA yang berlaku universal untuk seluruh sektor.

Aturan seperti “ROA di bawah 5 persen buruk” atau “ROA di atas 10 persen sangat baik” terlalu menyederhanakan analisis. Setiap industri memiliki kebutuhan aset dan karakter profitabilitas yang berbeda.

Pada industri perbankan, misalnya, sebagian besar aset terdiri dari pinjaman dan instrumen keuangan. Federal Reserve mencatat return on average assets bank AS sekitar 1 persen pada semester pertama 2025, dan tingkat tersebut masih berada di atas rata-rata sepuluh tahunnya.

Cara yang lebih masuk akal untuk menilai ROA adalah:

  1. Bandingkan dengan perusahaan dalam industri yang sama.

  2. Periksa tren selama tiga sampai lima periode.

  3. Cari penyebab naik atau turunnya total aset.

  4. Pisahkan laba operasional dari keuntungan satu kali.

  5. Baca bersama margin, perputaran aset, utang, dan arus kas.

ROA negatif menunjukkan bahwa perusahaan mencatat rugi bersih selama periode tersebut.

Kondisi itu tentu perlu diperiksa lebih lanjut. Namun, satu tahun dengan ROA negatif belum tentu berarti perusahaan akan terus merugi. Bisnis siklikal, perusahaan yang baru berkembang, dan perusahaan yang sedang menjalani restrukturisasi dapat mengalami perubahan hasil yang tajam.

Keterbatasan ROA

Sebelum memakai ROA sebagai dasar penilaian, ingat bahwa rasio ini tetap bergantung pada angka dan kebijakan akuntansi.

ROA menggunakan nilai aset yang tercatat dalam laporan keuangan, bukan nilai ekonomi atau nilai pasar terkini.

Aset lama mungkin telah mengalami depresiasi selama bertahun-tahun, sedangkan aset baru dicatat pada harga yang lebih tinggi. Akibatnya, dua perusahaan dengan usia pabrik berbeda dapat memiliki ROA yang sulit dibandingkan secara langsung.

Perusahaan yang banyak mengeluarkan dana untuk riset, merek, perangkat lunak, atau pengembangan internal juga dapat terlihat lebih ringan aset. Sebagian biaya tersebut mungkin langsung dicatat sebagai beban, bukan sebagai aset dalam neraca.

Akuisisi juga dapat menambah goodwill dan aset tak berwujud dalam jumlah besar. Hal ini dapat menurunkan ROA meskipun kegiatan operasional perusahaan belum banyak berubah.

Karena keterbatasan tersebut, ROA lebih tepat digunakan sebagai alat investigasi, bukan tombol keputusan. Angkanya memberi petunjuk mengenai hal yang perlu diperiksa berikutnya.

ROA Berguna, tetapi Jangan Dibaca Sendirian

Pada akhirnya, ROA paling bermanfaat ketika digunakan sebagai bagian dari analisis yang lebih luas.

ROA menunjukkan berapa banyak laba bersih yang dihasilkan dari aset perusahaan. Rasio ini dapat membantu membedakan bisnis yang tumbuh secara produktif dari bisnis yang terus menambah aset tanpa kenaikan laba yang sebanding.

Namun, ROA tinggi tidak menjamin harga saham akan naik. Perusahaan masih dapat memiliki valuasi yang mahal, utang besar, arus kas lemah, atau laba yang berasal dari kejadian tidak berulang.

Gunakan ROA untuk membandingkan bisnis sejenis, membaca tren, dan memahami sumber perubahan profitabilitas. Setelah itu, lanjutkan analisis dengan memeriksa margin, asset turnover, utang, arus kas, dan valuasi perusahaan.

Untuk menilai perusahaan global secara lebih terukur, cek saham dan ETF AS yang tersedia di Gotrade, lalu pelajari laporan keuangannya sebelum mengambil keputusan.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade