Dalam buku ciptaanya Bollinger on Bollinger Bands, untuk menciptakan alat ini ia menggabungkan latar belakangnya di bidang matematika dengan teknik dengan analisis pasar keuangan. Untuk menilai volatilitas dan tren harga saham ia menggunakan rata-rata bergerak dan ukuran statistik deviasi standar.
Bollinger Bands punya sifat fleksibel terhadap kerangka waktu, artinya indikator ini bisa diterapkan pada grafik dengan timeframe tertentu (harian, mingguan, atau hitungan menit). Selain dipakai untuk saham, indikator ini juga cocok digunakan untuk perdagangan mata uang (forex), komoditas, dan perdagangan berjangka.
Fungsi Bollinger Bands
Bollinger Bands diciptakan agar membantu trader dan investor mengukur volatilitas suatu saham/sekuritas, hingga menentukan apakah harganya overvalued atau undervalued. Berikut merupakan beberapa fungsi dari Bollinger Bands:
No | Fungsi | Penjelasan |
1 | Mengukur Volatilitas Pasar | Lebar pita mencerminkan tingkat volatilitas. Pita melebar = volatilitas tinggi Pita menyempit = volatilitas rendah dan pasar relatif tenang. |
2 | Mengenali Kondisi Overbought dan Oversold | Membantu trader melihat apakah harga sudah "terlalu tinggi" (overbought) atau "terlalu rendah" (oversold) dibandingkan rata-ratanya. |
3 | Mendeteksi Penyempitan Pita (Squeeze) | Saat pita menyempit signifikan (Bollinger Squeeze) artinya volatilitas sedang rendah dan pasar dalam fase konsolidasi sering jadi sinyal breakout akan terjadi. |
4 | Mengonfirmasi Kekuatan Tren | Harga yang konsisten menyentuh/berjalan di sepanjang salah satu pita menandakan tren sedang kuat dan kemungkinan akan berlanjut, bukan berbalik arah. |
5 | Sebagai Support dan Resistance Dinamis | Pita atas dan bawah berfungsi seperti level support/resistance, namun sifatnya dinamis mengikuti pergerakan harga dan volatilitas. |
Mekanisme Bollinger Bands
Indikator ini ditampilkan dalam tiga garis, yakni atas, bawah, dan tengah. Garis tersebut akan bergerak mengikuti pergerakan harga.
Mengutip laman Ensiklopedia Britannica Money, Bollinger Bands bekerja dengan menggabungkan dua hal, yakni rata-rata pergerakan harga atau simple moving average (SMA) dan tingkat volatilitas harga (deviasi standar). Kombinasi tersebut menghasilkan tiga komponen utama.
1. Simple Moving Average (SMA)
SMA merupakan rata-rata harga penutupan dalam periode tertentu. SMA bisa dihitung dengan menjumlahkan harga penutupan selama periode yang dipilih, kemudian bagi dengan jumlah periode tersebut.
Contoh: SMA 20 hari dihitung dengan menjumlahkan harga penutupan dari 20 hari perdagangan terakhir, lalu membaginya dengan 20.
2. Deviasi Standar
Deviasi standar dipakai untuk mengukur seberapa jauh harga menyebar dari rata-ratanya. Ini menjadi ukuran volatilitas. Semakin besar deviasi standar, fluktuasi harga juga akan semakin besar. Deviasi standar umumnya dihitung menggunakan periode yang sama dengan SMA (contoh sama-sama 20 hari).
3. Pita Atas dan Pita Bawah
Pita atas dan pita bawah terbentuk dengan menambahkan dan mengurangi deviasi standar (biasanya dikali dua) dari nilai SMA. Akan tampil dua garis yang "membungkus" pergerakan harga seperti saluran yang sifatnya dinamis.
Rumus Perhitungan Bollinger Bands
Menggunakan SMA 20 hari dan dua deviasi standar. Simak rumusnya di bawah ini:
Komponen | Rumus |
Pita Atas | SMA 20 hari + (SD 20 hari × 2) |
Pita Tengah | SMA 20 hari |
Pita Bawah | SMA 20 hari − (SD 20 hari × 2) |
Meski lumayan populer, perlu diingat bahwa Bollinger Bands baiknya digunakan sebagai indikator pendukung (bukan sebagai satu-satunya acuan). Idealnya, bisa dikombinasikan dengan metode analisis lain agar sinyal yang dihasilkan lebih akurat.
Penggunaan Strategi Trading dengan Bollinger Bands
Dengan Bollinger Bands trader terbantu dalam mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold berdasarkan konsep mean reversion. Ini jadi anggapan kalau harga aset cenderung kembali ke rata-ratanya seiring waktu.
Kalau kondisi harga mendekati batas atas, saham dianggap overbought dan berpotensi koreksi. Sementara ketika harga mendekati batas bawah, saham oversold dan berpotensi rebound.
Di pasar sideways (tren mendatar), ini bisa dijadikan strategi. Beli saat harga menyentuh batas bawah, sell/short ketika menyentuh batas atas. Pada pasar yang sedang tren kuat, sinyal ini kurang mumpuni karena harga bisa terus berjalan di sepanjang salah satu batas untuk waktu lama.
Jadi, alternatifnya trader bisa mengenali arah tren lebih dulu dan hanya bertransaksi searah tren. Contoh di uptrend, saat harga menyentuh pita bawah trader bisa membelinya, tapi tidak menjual saat menyentuh pita atas. Pasalnya, sentuhan selanjutnya pada pita bawah justru dimanfaatkan untuk menambah posisi.
Apakah Bollinger Bands Bagus untuk Trader?
Bollinger Bands karena dalam satu indikator bisa menggabungkan dua fungsi. Kalau indikator seperti average true range (ATR), deviasi standar, dan Indeks Volatilitas (VIX) hanya fokus mengukur volatilitas, sedangkan moving average, parabolic Stop and Reverse (SAR), dan Average Directional Index (ADX) fokus membaca tren. Untuk membaca volatilitas, Bollinger Bands menggabungkan keduanya dengan rata-rata bergerak guna membaca tren dan deviasi standar.
Sifatnya yang visua juga membuat indikator ini unggul karena membuat perubahan volatilitas mudah terlihat langsung di grafik, apalagi saat harga mendekati titik ekstrem (pita atas atau bawah). Hal tersebut membuat banyak trader memanfaatkannya sebagai bagian dari strategi.
Jadi, Bollinger Bands termasuk indikator yang bagus dan fleksibel untuk trader. Tapi, perlu diingat akan lebih baik kalau penggunaanya dilakukan dengan kombinasi indikator lain.
Referensi:
Thompson, C. (n.d.). Bollinger Band® definition. Investopedia. https://www.investopedia.com/terms/b/bollingerbands.asp
Bollinger, J. (2001). Bollinger on Bollinger Bands. McGraw-Hill.
https://www.bollingerbands.com/