Pada chart harian satu bar mewakili aktivitas selama satu sesi. Kalau kamu memakai chart satu jam maka volumenya hanya akan menghitung transaksi dalam satu jam tersebut.
Menurut Nasdaq volume adalah jumlah saham yang berpindah tangan antara pembeli dan penjual.
Jadi volume 10 juta bukan berarti ada 10 juta saham yang dibeli tanpa penjual. Setiap saham yang berpindah tangan selalu melibatkan kedua sisi transaksi.
Volume juga tidak berarti menunjukkan arah dengan sendirinya. Arah tetap dibaca dari perubahan harga sedangkan volume membantu kamu menjawab satu pertanyaan penting yaitu “Seberapa ramai aktivitas pasar ketika harga bergerak?”
Satu Transaksi Tidak Dihitung Dua Kali
Misalnya saat kamu membeli 100 saham dari penjual yang melepas 100 saham pada harga US$50.
Volume yang tercatat tetaplah 100 saham bukannya 200 saham karena pembelian dan penjualan tersebut merupakan dua sisi dari transaksi yang sama.
Contohnya:
Transaksi | Jumlah Saham | Volume Kumulatif |
Transaksi pertama | 100 | 100 |
Transaksi kedua | 250 | 350 |
Transaksi ketiga | 400 | 750 |
Setelah tiga transaksi terjadi volume kumulatifnya menjadi 750 saham. Angka ini hanya akan bertambah ketika transaksi benar-benar terjadi bukannya ketika order masih menunggu di pasar.
Warna Bar Volume Bukan Penanda Volume Beli dan Jual
Pada banyak chart biasanya bar volume diberi warna hijau atau merah.
Warna ini bukan berarti seluruh transaksi hijau berasal dari pembeli sedangkan transaksi merah berasal dari penjual. Setiap transaksi tetap melibatkan kedua belah pihak.
Biasanya, warna bar yang digunakan mengikuti arah candle atau aturan dari platform.
Bar hijau biasanya menunjukkan volume pada periode ketika harga ditutup naik sedangkan bar warna merah muncul ketika harga ditutup turun.
Jadi, baca warnanya sebagai konteks pergerakan harga, bukan sebagai volume beli atau jual murni.
Cara Menilai Apakah Volume Benar-Benar Tinggi
Volume besar belum tentu berarti aktivitasnya tinggi.
Angka 5 juta saham bisa terasa tinggi tetapi belum tentu istimewa jika saham tersebut biasanya bisa memperdagangkan 50 juta saham per hari.
Sebaliknya, volume 2 juta saham bisa menjadi lonjakan besar apabila rata-rata hariannya hanya 400 ribu saham.
Karena itu kamu perlu membandingkan volume dengan riwayat saham yang sama.
Misalnya rata-rata 10, 20 atau 30 hari. Kamu bisa menggunakan relative volume untuk melihat seberapa besar aktivitas hari ini dibandingkan dengan rata-ratanya.
Sebagai contoh, volume hari ini mencapai 6 juta saham sedangkan rata-rata 20 harinya hanya 3 juta saham.
Maka yang terjadi adalah:
Relative volume = 6 juta ÷ 3 juta = 2
Artinya aktivitas perdagangan hari itu bernilai dua kali lebih tinggi daripada biasanya.
Angka tersebut bukan sinyal beli atau jual tetapi hanya menunjukkan bahwa pasar sedang berada di fase yang lebih aktif.
Untuk volume intraday kamu bisa menggunakan pembanding pada waktu yang sama.
Jika pukul 10 pagi volume sudah mencapai 2 juta saham maka bandingkan dengan rata-rata volume pukul 10 pagi pada sesi-sesi sebelumnya bukannya dengan volume satu hari penuh.
Seperti, rata-rata volume pukul 10 pagi hanya 800 ribu saham. Maka dalam kondisi ini volume 2 juta menunjukkan aktivitas awal sesi memang jauh lebih ramai daripada biasanya.
Untuk membandingkan volume dengan lebih jelas kamu bisa memasukkan data pada alat berikut ini untuk melihat relative volume dan menilai apakah aktivitas transaksi saat ini lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan kondisi normal:
Cara Membaca Harga dan Volume Saham dalam Berbagai Kondisi
Harga menunjukkan arah pergerakan sedangkan volume membantu kamu melihat seberapa ramai aktivitas di baliknya. Menurut Charles Schwab, kenaikan volume dapat menunjukkan partisipasi yang lebih kuat, sementara volume yang menurun bisa menandakan minat pasar mulai berkurang.
Hubungan keduanya bisa menjadi petunjuk awal tetapi bukan aturan pasti untuk menebak harga berikutnya.
Pergerakan Harga | Volume | Pembacaan Awal |
Naik | Meningkat | Kenaikan disertai aktivitas yang lebih besar |
Naik | Menurun | Harga naik dengan partisipasi yang mengecil |
Turun | Meningkat | Penurunan terjadi saat aktivitas sedang tinggi |
Turun | Menurun | Harga turun dengan aktivitas yang lebih rendah |
Perhatikan 6 hal ini untuk membantu kamu membaca harga dan volume saham dalam berbagai macam kondisi:
1. Harga Naik dan Volume Meningkat
Pada kondisi ini lebih banyak saham yang berpindah tangan ketika harga naik.
Pembacaannya akan lebih kuat jika harga menembus level penting, ditutup dekat dengan harga tertinggi dan mampu bertahan sampai sesi berikutnya.
Meski begitu volume yang tinggi tidak menjamin kenaikan akan terus berlanjut. Aktivitas besar juga bisa muncul karena euforia atau reaksi berlebihan terhadap berita.
Harga tetap bisa naik meskipun volumenya mengecil. Kondisi ini bisa terjadi karena penjual sedang sedikit, pasar sepi atau tren yang mulai kehilangan partisipan. Tetapi, jangan langsung menyebutnya sebagai bull trap. Lihat dulu pada posisi harga apakah kenaikannya masih mampu bertahan atau tidak.
3. Harga Turun dan Volume Meningkat
Penurunan dengan volume tinggi menunjukkan aktivitas pasar sedang besar ketika harga melemah.
Pemicunya bisa berupa laporan keuangan yang mengecewakan, kepanikan pasar atau penjualan setelah support ditembus. Harga belum tentu akan terus turun.
Perhatikan apakah harga masih mencetak titik rendah baru atau mulai bertahan pada beberapa candle berikutnya.
Volume yang mengecil saat harga turun bisa menunjukkan tekanan jual yang lebih terbatas. Saat tren naik pola seperti ini kadang muncul ketika harga sedang mengalami pullback.
Tetapi, volume rendah bisa juga berarti pembeli belum tertarik untuk masuk. Jadi kondisi ini belum cukup untuk memastikan apakah harga akan memantul.
5. Membaca Volume Saat Pullback
Saat saham sedang berada dalam uptrend kemudian turun selama beberapa hari dan volume saat penurunan lebih kecil dibandingkan volume pada kenaikan sebelumnya maka aktivitas jual terlihat relatif lebih ringan.
Sebelum menyebutnya pullback yang sehat periksa kembali apakah struktur higher low masih bertahan, support belum ditembus dan tidak ada berita penting yang bisa mengubah kondisi bisnis. Lihat juga apakah volume kembali meningkat saat harga mulai memantul.
Sebaliknya jika terjadi pullback dengan volume besar perlu kamu periksa lebih dalam. Kondisi tersebut bisa menunjukkan aksi ambil untung yang ramai tetapi juga bisa menjadi awal perubahan tren.
6. Membaca Volume Saat Breakout
Saat harga menembus resistance volume di atas rata-rata bisa menunjukkan bahwa lebih banyak pelaku pasar yang ikut bertransaksi. Sebaliknya breakout dengan aktivitas rendah perlu kamu baca dengan lebih hati-hati.
Selain volume periksa juga apakah candle ditutup di atas resistance, harga mampu bertahan dan tidak langsung kembali ke rentang sebelumnya.
Volume berfungsi untuk memberi konfirmasi tambahan bukannya jaminan bahwa breakout akan berhasil.
Apakah Volume Tinggi Berarti Investor Institusi Sedang Masuk?
Belum tentu. Lonjakan volume memang bisa berasal dari transaksi yang besar tetapi data volume biasanya tidak menunjukkan siapa pelakunya atau apa tujuan transaksinya.
Aktivitas tinggi juga bisa muncul karena beberapa faktor berikut ini:
Transaksi ritel
Market maker
Penyesuaian portofolio ETF
Options hedging & short covering
Berita perusahaan
Transaksi antar instansi dengan posisi yang berlawanan.
Karena itu kamu tidak bisa menyimpulkan bahwa volume tinggi berarti smart money sedang masuk. Volume hanya menunjukkan bahwa banyak saham sedang diperdagangkan. Untuk mengetahui siapa yang aktif dan alasan di balik transaksinya kamu tetaplah membutuhkan data tambahan.
Beberapa Kesalahan Saat Membaca Volume Saham
Volume terlihat sederhana tetapi mudah disalahartikan jika kamu hanya melihat satu bar tanpa konteks. Berikut ini beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi:
1. Hanya Melihat Lonjakan dalam Satu Hari
Satu volume spike belum cukup untuk menunjukkan perubahan tren.
Bandingkan dengan rata-rata volume saham yang sama, gunakan timeframe yang setara lalu lihat bagaimana harga bergerak sebelum dan sesudah lonjakan tersebut.
2. Menganggap Volume Tinggi Selalu Bullish
Volume tinggi hanya menunjukkan aktivitas yang sedang ramai. Kondisi ini bisa muncul saat harga naik, jatuh tajam atau ketika pasar bereaksi terhadap berita buruk.
Warna hijau pada bar volume juga bukan berarti seluruh transaksi berasal dari pembeli.
3. Memakai Satu Patokan untuk Semua Saham
Volume 2 juta saham bisa sangat besar bagi satu perusahaan tetapi bisa biasa saja bagi perusahaan lain.
Rata-rata gunakan 10, 20 atau 30 hari sebagai pembanding bukannya batas yang berlaku untuk semua saham.
4. Langsung Menyimpulkan Institusi Sedang Masuk
Data volume standar tidak menunjukkan identitas pelaku transaksi. Lonjakan aktivitas bisa saja berasal dari investor ritel, market maker, rebalancing ETF, short covering atau transaksi institusi yang saling berlawanan.
5. Mengabaikan Timeframe dan Aksi Korporasi
Jangan membandingkan volume satu jam dengan volume satu hari penuh.
Periksa kembali apakah perusahaan baru melakukan stock split atau aksi korporasi lain yang mengubah jumlah saham. Pastikan data historis pada chart sudah disesuaikan.
Gunakan Volume untuk Membaca Konteks Pasar
Volume menunjukkan berapa banyak saham yang berpindah tangan dalam periode tertentu.
Angkanya baru terasa berguna setelah kamu membandingkannya dengan volume normal dan melihat apa yang sedang terjadi pada harga.
Kenaikan harga dengan volume besar bisa menunjukkan partisipasi pasar yang lebih ramai sedangkan penurunan harga dengan volume tinggi juga bisa menandakan aktivitas besar saat tekanan jual meningkat.
Meski begitu, keduanya belum cukup untuk memastikan pergerakan berikutnya.
Hindari langsung menyebut lonjakan volume sebagai akumulasi, distribusi, atau masuknya smart money. Data volume biasa tidak menunjukkan siapa yang bertransaksi maupun alasan di baliknya.
Melalui Gotrade, kamu dapat memantau chart saham AS dan indikator volume sebagai bagian dari proses analisismu.
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa depan. Analisis teknikal dapat menghasilkan sinyal yang keliru, dan harga saham dapat bergerak berlawanan dari perkiraan. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.