Pergerakan harga saham yang naik dan turun sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi di pasar. Dalam satu hari, harga saham bahkan bisa berubah beberapa kali mengikuti aktivitas jual beli investor. Namun, perubahan tersebut tidak selalu terjadi karena kondisi perusahaan sedang membaik atau memburuk.
Ada kalanya harga saham naik karena investor melihat prospek bisnis yang lebih cerah, meskipun kinerja perusahaan belum banyak berubah. Sebaliknya, saham juga bisa turun ketika muncul kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi atau prospek perusahaan. Lalu, apa saja yang sebenarnya membuat harga saham terus bergerak?
Mengapa Harga Saham Bisa Naik Dan Turun?
Pasti kamu pernah melihat melalui koran atau berita online mengenai harga saham yang naik setelah perusahaan merilis laporan keuangan, namun disaat yang bersamaan beberapa hari kemudian justru turun? Atau malah sebaliknya, yang mana perusahaan belum mendapatkan keuntungan besar tapi harga sahamnya terus naik? Kondisi ini pastinya akan membuat investor berpikir dan bertanya, kira-kira apa yang sebenarnya membuat harga saham bisa berubah-ubah?
Harga saham sudah pasti bergerak setiap waktu, karena aktivitas jual beli di pasar. Namun, keputusan investor dipengaruhi oleh banyak hal, bisa dari kinerja perusahaan, keadaan ekonomi, suku bunga, hingga berbagai harapan terhadap pertumbuhan bisnis di masa depan.
Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, memahami penyebab naik turunnya harga saham menjadi semakin penting. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor saham dan surat berharga lainnya telah mencapai lebih dari 21 juta SID per akhir Maret 2026. Hal ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai berinvestasi, sekaligus pentingnya memahami faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga saham sebelum mengambil keputusan investasi.
Dilansir dari laman website Investopedia, ternyata harga saham dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu fundamental perusahaan, faktor teknikal, dan faktor sentimen pasar. Ketiga hal ini saling berkaitan, sehingga membentuk sebuah pergerakan harga saham setiap hari. Oleh sebab itu, harga saham tidak selalu bergerak mengikuti keadaan perusahaan saat ini. Pada berbagai kasus, perubahan ekspektasi atau pandangan investor pada keadaan ekonomi saat itu saja sudah cukup untuk membuat harga saham naik dan turun.
Harga saham bisa ada karena adanya transaksi antara pembeli dan penjual di bursa. Ketika kedua belah pihak sepakat pada suatu harga, transaksipun terjadi dan harga tersebut menjadi harga saham terbaru.
Artinya, harga saham tidak langsung ditentukan oleh perusahaan, tapi ditentukan dari aktivitas pasar. Menurut Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham di pasar terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran (supply dan demand) dalam sistem perdagangan di bursa. Semakin banyak investor yang ingin membeli suatu saham dibanding menjualnya, semakin besar peluang harga saham meningkat, begitu pula sebaliknya.
Apabila jumlah pembeli lebih banyak daripada penjual, permintaan (demand) meningkat sehingga bisa saja langsung naik. Sebaliknya, jika tekanan jual lebih besar, pasokan (supply) meningkat maka harga saham bisa berpotensi mengalami penurunan.
Kenapa Harga Saham Bisa Saja Tidak Mengikuti Kondisi Sebuah Perusahaan?
Banyak investor mengira perusahaan dengan keuntungan besar, pasti memiliki harga saham yang terus naik. Padahal, kenyataannya tidak akan selalu begitu.
Andaikan sebuah perusahaan berhasil meningkatkan keuntungan 15%. Meski terdengar positif, harga sahamnya tetap bisa turun jika pasar sebelumnya memperkirakan pertumbuhan mencapai 25%. Sebaliknya, perusahaan yang keuntungannya belum besar bisa saja mengalami kenaikan harga saham, jika investor percaya bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek bisnis yang bagus dan akan terus meningkat.
Kondisi
Potensi Reaksi Harga Saham
Kinerja perusahaan melebihi ekspektasi pasar
Berpotensi naik
Kinerja sesuai ekspektasi
Cenderung bergerak stabil
Kinerja di bawah ekspektasi
Berpotensi turun
Sebagai contoh, NVIDIA (NVDA) pernah mengalami penurunan harga meskipun mencatat pertumbuhan laba, karena hasil tersebut masih berada di bawah ekspektasi pasar. Lewat aplikasi Gotrade, kamu bisa memantau pergerakan saham seperti NVDA dan melihat bagaimana pasar merespons laporan keuangan maupun ekspektasi investor. Gotrade juga memungkinkan kamu membeli saham AS secara fractional mulai dari US$1.
Pergerakan harga saham biasanya tidak dipicu oleh satu penyebab saja. Dalam praktiknya, ada berbagai faktor yang memengaruhi keputusan investor untuk membeli atau menjual saham. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjelaskan bahwa harga saham di pasar bergerak mengikuti mekanisme permintaan dan penawaran yang dipengaruhi berbagai informasi dan aktivitas pasar.
Fundamental Perusahaan
Kinerja perusahaan menjadi salah satu faktor yang paling sering diperhatikan investor.
Beberapa indikator yang biasanya diamati antara lain:
Semakin baik kinerja perusahaan dan prospek bisnisnya, semakin besar peluang investor memberikan penilaian positif terhadap saham tersebut. Namun, fundamental bukan satu-satunya penentu harga. Faktor eksternal juga dapat memengaruhi cara pasar menilai sebuah perusahaan.
Kondisi Ekonomi Dan Suku Bunga
Perubahan kondisi ekonomi seringkali berdampak pada hampir seluruh pasar saham. Ketika suku bunga naik, biaya pinjaman bagi perusahaan ikut meningkat. Di saat yang sama, sebagian investor mulai melirik instrumen lain seperti obligasi karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Akhirnya, permintaan saham dapat berkurang sehingga harga beberapa saham berpotensi ikut turun.
Dilansir pada laman John Hancock, perubahan suku bunga, kondisi ekonomi, hingga siklus pasar merupakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi naik dan turunnya harga saham dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Hal-hal yang Memengaruhi Harga Saham Bergerak
Harga saham bisa bergerak naik atau turun, karena mengalami berbagai hal bukan hanya kinerja perusahaan. Tapi bisa saja berasal dari fundamental perusahaan, kondisi ekonomi, hingga kondisi investor, semuanya dapat memengaruhi keputusan jual beli di pasar.
Kondisi Pasar
Selain dari laporan data keuangan perusahaan, harga saham juga dipengaruhi oleh kondisi pasar. Keadaan ini bisa muncul dari berbagai faktor, seperti berita perusahaan, kebijakan pemerintah yang baru diresmikan, hingga tergantung pada ekonomi global.
Jika ada kabar positif, biasanya bisa mendorong optimisme investor, sedangkan berita buruk seperti resesi, konflik geopolitik, atau ketidakpastian ekonomi dapat menekan harga saham karena berkurangnya kepercayaan investor.
Oleh sebab itu, kenaikan atau penurunan harga saham belum tentu mencerminkan perubahan pada perusahaan. Pada banyaknya kasus yang ada, pasar hanya sedang bereaksi terhadap informasi yang baru terjadi atau kebijakan yang baru diresmikan.
Psikologi Investor
Pada setiap transaksi saham ada keputusan investor yang dipengaruhi oleh emosi. Saat keadaan pasar baik, banyak orang membeli saham karena takut ketinggalan peluang (Fear of Missing Out), sehingga harga bisa naik lebih cepat. Namun ketika kabar negatif muncul, aksi jual yang dilakukan banyak investor dalam waktu bersamaan mampu membuat harga saham turun dengan cepat.
Banyak investor pemula mengira bahwa perusahaan dengan bisnis yang berkembang, pasti memiliki harga saham yang terus naik. Padahal faktanya, pasar tidak selalu bekerja dengan sesederhana itu. Ada beberapa alasan, mengapa saham dari perusahaan yang bisa dikatakan terus meningkat dan berkembang, seperti ekspektasi pasar terlalu tinggi, valuasi sudah terlalu mahal, rotasi sektor hingga, kondisi ekonomi berubah. Simak penjelasannya melalui gambar dibawah ini!
Langkah-langkah Membaca Harga Saham yang Naik dan Turun
Harga saham yang naik atau turun setiap hari, baiknya tidak serta merta dijadikan alasan untuk membeli atau menjual. Sebelum mengambil keputusan, cari tahu dulu penyebab mengenai naik turun atau naiknya saham. Apakah disebabkan karena perusahaan merilis laporan keuangan, sentimen pasar, perubahan suku bunga, atau faktor kebijakan pemerintah yang baru. Dengan kamu memahami berbagai alasannya, kamu bisa mengambil keputusan investasi berdasarkan analisis, bukan emosi sesaat.
1. Gali Lebih Dalam Penyebab Pergerakan Saham
Periksa dan analisis secara mendalam, apakah kenaikan atau penurunan harga saham dipengaruhi oleh laporan keuangan (earnings), berita perusahaan, perubahan suku bunga, atau kondisi pasar. Saat kamu sudah memahami penyebabnya, kamu bisa menilai apakah pergerakan itu sifatnya sementara atau berpotensi berdampak dalam jangka panjang.
2. Pastikan Kembali Mengenai Fundamental Perusahaan
Jangan hanya melihat harga saham. Perhatikan dan pastikan dengan benar apakah pendapatan, laba, arus kas, atau prospek bisnis perusahaan mengalami perubahan. Jika fundamentalnya tetap kuat, fluktuasi harga jangka pendek belum tentu menjadi sinyal yang perlu kamu khawatirkan.
3. Tentukan Tujuan Investasi Kamu
Jika kamu berinvestasi untuk jangka panjang, hindari mengambil keputusan hanya karena pergerakan harga harian. Banyak-banyaklah membaca berita dan informasi terkini mengenai saham perusahaan yang kamu beli atau ingin jual, buat strategi yang matang sehingga tidak gegabah dalam menentukan sebuah keputusan yang memicu kerugian pada investasi yang sudah kamu susun.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Investor Saat Harga Saham Turun
Saat harga saham turun, tidak sedikit investor yang mengambil keputusan secara terburu-buru. Padahal, reaksi seperti ini justru dapat meningkatkan risiko kerugian. Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan investor:
Langsung menjual saham karena panik (panic selling). Penurunan harga belum tentu menandakan fundamental perusahaan memburuk.
Membeli saham hanya karena harganya turun. Saham yang terlihat murah belum tentu memiliki prospek yang baik.
Mengabaikan penyebab penurunan harga. Cari tahu terlebih dahulu apakah penurunan dipicu oleh sentimen pasar atau perubahan fundamental perusahaan.
Mengambil keputusan berdasarkan emosi atau FOMO. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis, bukan rasa takut atau ikut-ikutan tren.
Terlalu fokus pada pergerakan harga harian. Jika tujuan investasimu jangka panjang, fluktuasi dalam jangka pendek belum tentu menjadi alasan untuk mengubah strategi.
Pahami Pergerakan Saham Dengan Lebih Percaya Diri
Perlu kamu pahami, bahwa harga saham akan selalu bergerak naik dan turun. Daripada mencoba menebak setiap perubahan harga, lebih baik kamu mencari tahu dan menganalisa apa yang menjadi penyebab pergerakan saham. Dengan pengetahuan yang baik, kamu bisa mengambil sebuah keputusan investasi dengan cara lebih tenang dan objektif. Kamu bisa memantau perkembangan harga saham terkini melalui aplikasi Gotrade. Lewat aplikasi ini kamu bisa melihat pergerakan saham AS, hingga memahami informasi perusahaan. Download aplikasi Gotrade sekarang dan mulai investasi dengan lebih percaya diri.
FAQ
1. Kenapa Harga Saham Bisa Naik Dan Turun?
Harga saham naik dan turun karena perubahan permintaan (demand) dan penawaran (supply) di pasar. Pergerakan ini dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti kinerja perusahaan, kondisi ekonomi, sentimen investor, hingga kebijakan pemerintah yang baru saja diberlakukan.
2. Kenapa Saham Perusahaan yang Bagus Tetap Bisa Turun?
Harga saham tidak hanya mencerminkan kondisi perusahaan saat ini, tetapi juga ekspektasi investor terhadap masa depan. Jika hasil kinerja perusahaan tidak memenuhi harapan pasar, harga saham bisa mengalami penurunan sewaktu-waktu.
3. Apakah harga saham selalu mengikuti laba perusahaan?
Tidak selalu. Harga saham mencerminkan ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan di masa depan. Karena itu, saham tetap bisa turun meskipun laba perusahaan meningkat apabila hasil tersebut masih berada di bawah harapan pasar.
4. Mengapa semua saham bisa turun bersamaan?
Saat terjadi sentimen negatif seperti kenaikan suku bunga, inflasi tinggi, atau ketidakpastian ekonomi global, banyak investor mengurangi aset berisiko. Akibatnya, banyak saham dapat mengalami penurunan secara bersamaan meskipun berasal dari sektor yang berbeda.
5. Apakah saham yang turun berarti layak dibeli?
Belum tentu. Harga saham yang turun bisa menjadi peluang jika fundamental perusahaan tetap kuat dan penurunannya hanya dipengaruhi sentimen jangka pendek. Namun, jika penyebabnya adalah memburuknya kinerja bisnis atau prospek perusahaan, investor perlu melakukan analisis lebih lanjut sebelum membeli.
Referensi
Investopedia. Factors That Move Stock Prices Up and Down.
John Hancock. Why the Stock Market Goes Up and Down and What You Can Do About It.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.