Risiko Investasi Adalah: Jenis dan Cara Mengukurnya

Gabriella SabatiniGabriella SabatiniHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Risiko Investasi Adalah: Jenis dan Cara Mengukurnya

Setiap investasi punya tingkat ketidakpastian. Harga saham bisa turun, perusahaan bisa menghadapi masalah, atau perubahan kurs bisa membuat nilai investasi dalam rupiah ikut berubah. Karena itu, memahami risiko sejak awal penting sebelum menentukan aset dan strategi investasi.

Apa Itu Risiko Investasi?

Risiko investasi adalah kemungkinan hasil aktual dari suatu investasi berbeda dari hasil yang kamu harapkan, termasuk ketika nilai investasi turun atau mengalami kerugian. Jadi, risiko tidak selalu berarti kehilangan seluruh modal. Hasil yang lebih rendah dari ekspektasi juga termasuk risiko.

Dilansir dari laman Investopedia, risiko dalam keuangan berkaitan dengan kemungkinan hasil aktual berbeda dari hasil yang diharapkan. Dalam investasi, perbedaan tersebut bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari pergerakan pasar hingga kondisi aset yang kamu miliki.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Risiko juga tidak sama dengan volatilitas. Harga aset yang naik dan turun dalam jangka pendek merupakan bagian dari fluktuasi pasar, tetapi belum tentu menunjukkan kerugian permanen. Karena itu, cara melihat risiko perlu disesuaikan dengan aset, tujuan, dan jangka waktu investasimu.

Risiko Tidak Bisa Dihilangkan Sepenuhnya

Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko, yang bisa kamu lakukan adalah mengelola dampaknya lewat pemilihan aset, diversifikasi, dan strategi yang sesuai dengan kondisi finansialmu

Hubungan Risiko dan Potensi Return

Dalam investasi terdapat konsep risk-return tradeoff. Aset dengan risiko lebih tinggi dapat menawarkan potensi return yang lebih besar sebagai kompensasi atas ketidakpastian yang ditanggung. Namun, risiko yang lebih tinggi tidak otomatis menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Dilansir dari laman Investopedia, hubungan risiko dan return menunjukkan bahwa investor umumnya mengharapkan imbal hasil lebih tinggi ketika mengambil risiko lebih besar. Tetap saja, tidak ada jaminan bahwa risiko yang lebih tinggi akan menghasilkan return yang lebih tinggi.

Contohnya, saham dapat memberikan peluang pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan aset yang lebih rendah risikonya, tetapi pergerakan harganya juga lebih sulit diprediksi. Kamu perlu mempertimbangkan apakah potensi hasil tersebut sepadan dengan risiko yang harus ditanggung.

Hubungan risiko dan potensi return

Jenis-Jenis Risiko Investasi

Risiko investasi dapat berasal dari kondisi pasar secara keseluruhan maupun faktor yang lebih spesifik pada aset atau perusahaan. Berikut beberapa risiko yang perlu kamu pahami. Dilansir dari laman FCNB, risiko investasi dapat muncul dari kondisi pasar, inflasi, likuiditas, hingga kondisi aset atau perusahaan yang menjadi tempat kamu berinvestasi.

1. Risiko Pasar

Risiko pasar muncul ketika perubahan kondisi ekonomi atau sentimen investor memengaruhi nilai investasi. Perubahan suku bunga, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, dan gejolak pasar dapat membuat harga aset bergerak naik atau turun. Risiko ini tidak mudah dihilangkan dengan diversifikasi karena dapat memengaruhi banyak aset sekaligus.

2. Risiko Spesifik Perusahaan

Risiko ini berasal dari kondisi perusahaan atau industri tertentu. Contohnya adalah perubahan manajemen, produk gagal, masalah operasional, fraud, persaingan, atau persoalan hukum yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan. Risiko spesifik seperti ini dapat dikurangi dengan menyebarkan investasi ke perusahaan atau sektor yang berbeda.

3. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas terjadi ketika aset sulit dijual dengan cepat pada harga yang wajar. Kondisi ini lebih mungkin terasa pada aset dengan aktivitas perdagangan rendah. Artinya, suatu aset bisa saja memiliki nilai yang tinggi, tetapi belum tentu mudah dicairkan ketika kamu membutuhkan dana.OJK juga mencantumkan risiko likuiditas sebagai salah satu risiko investasi di pasar modal.

4. Risiko Kredit dan Solvabilitas

Risiko kredit adalah kemungkinan pihak yang memiliki kewajiban utang gagal membayar bunga atau pokok sesuai perjanjian. Risiko ini terutama relevan pada obligasi dan instrumen utang. Sementara itu, risiko solvabilitas berkaitan dengan kemampuan suatu entitas mempertahankan kondisi keuangan dan memenuhi kewajibannya dalam jangka panjang.

5. Risiko Inflasi

Inflasi dapat mengurangi daya beli hasil investasi. Karena itu, return nominal saja belum cukup untuk melihat apakah nilai investasi benar-benar bertambah secara riil. Misalnya, investasi menghasilkan return 5% ketika inflasi mencapai 6%. Nilai investasi memang bertambah secara nominal, tetapi daya beli yang dihasilkan belum tentu ikut meningkat.

6. Risiko Suku Bunga

Perubahan suku bunga dapat memengaruhi nilai investasi, terutama obligasi. Ketika suku bunga naik, harga obligasi yang sudah beredar umumnya turun. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga obligasi dapat meningkat.

Risiko pada Berbagai Jenis Investasi

Setiap instrumen memiliki sumber risiko yang berbeda. Memahami karakteristiknya membantu kamu melihat risiko yang paling relevan sebelum memilih investasi.

Jenis Investasi

Risiko yang Umum Dihadapi

Saham

Risiko pasar, perusahaan, dan likuiditas

Obligasi

Risiko kredit, suku bunga, dan reinvestasi

ETF

Risiko pasar, likuiditas, dan aset yang mendasarinya

Reksa dana

Bergantung pada aset yang dimiliki

Investasi global

Risiko pasar, nilai tukar, dan regulasi

Misalnya, saham lebih banyak terpapar perubahan harga dan kondisi bisnis perusahaan. Pada obligasi, kemampuan penerbit memenuhi kewajiban serta perubahan suku bunga menjadi perhatian penting. Sementara investasi global memiliki tambahan risiko dari perubahan nilai tukar. Pada investasi global, kamu juga perlu mempertimbangkan risiko nilai tukar karena aset yang dibeli dalam dolar AS dapat mengalami perubahan nilai ketika dikonversi ke rupiah. Pada investasi global, kamu juga perlu mempertimbangkan risiko nilai tukar karena aset yang dibeli dalam dolar AS dapat mengalami perubahan nilai ketika dikonversi ke rupiah. Misalnya, Gotrade menyediakan akses fractional shares untuk saham AS seperti NVIDIA (NVDA), sehingga kamu bisa mulai berinvestasi dengan nominal mulai US$1. Namun, investasi dengan nominal lebih kecil tetap memiliki risiko perubahan harga saham maupun nilai tukar.

Bagaimana Cara Mengukur Risiko Investasi?

Risiko investasi tidak hanya dilihat dari kemungkinan rugi, tetapi juga dapat dianalisis menggunakan sejumlah indikator kuantitatif. Divya dan Viswambharan dalam penelitian tentang investment risk management menempatkan identifikasi dan analisis risiko sebagai bagian penting dalam proses pengelolaan risiko investasi.

1. Volatilitas dan Standard Deviation

Volatilitas menunjukkan seberapa besar nilai atau return investasi bergerak naik dan turun. Salah satu ukuran yang umum digunakan adalah standard deviation. Semakin besar variasi return historis, semakin tinggi standard deviation. Namun, angka tersebut hanya menggambarkan pola masa lalu dan tidak menjamin pergerakan di masa depan.

2. Beta

Dilansir dari laman Investopedia, beta digunakan untuk melihat seberapa sensitif pergerakan suatu saham terhadap pergerakan pasar. Secara sederhana:

  • Beta > 1: saham cenderung bergerak lebih besar daripada pasar.

  • Beta = 1: pergerakan saham cenderung sejalan dengan pasar.

  • Beta < 1: saham cenderung bergerak lebih rendah daripada pasar.

Beta saham.

3. Maximum Drawdown

Maximum drawdown menunjukkan penurunan terbesar dari titik tertinggi ke titik terendah dalam periode tertentu. Misalnya, nilai portofolio naik dari Rp 10 juta menjadi Rp 12 juta, lalu turun menjadi Rp 9 juta. Artinya, portofolio mengalami maximum drawdown sebesar 25% dari titik tertingginya.

Metrik ini membantu kamu melihat seberapa dalam investasi pernah mengalami penurunan, tetapi tidak berarti penurunan yang sama akan terjadi lagi.

maximum drawdown.

4. Sharpe Ratio

Sharpe ratio membandingkan return yang diperoleh dengan tingkat risiko yang diambil. Metrik ini dapat membantu melihat apakah tambahan return cukup sepadan dengan risiko yang ditanggung. Namun, hasilnya tetap perlu dibaca bersama periode pengukuran, tujuan investasi, dan karakteristik aset.

5. Value at Risk (VaR)

Value at Risk atau VaR digunakan untuk memperkirakan potensi kerugian dalam periode dan tingkat kepercayaan tertentu. Misalnya, suatu model dapat memperkirakan potensi kerugian portofolio dalam satu hari pada tingkat kepercayaan tertentu. Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan data dan asumsi, bukan batas kerugian yang pasti.

Risk Tolerance vs Risk Capacity: Apa Bedanya?

Menentukan investasi bukan hanya soal seberapa besar return yang ingin kamu dapatkan. Kamu juga perlu melihat seberapa besar risiko yang bersedia dan mampu kamu tanggung.

Risk Tolerance

Risk tolerance adalah tingkat risiko yang secara psikologis masih bisa kamu terima. Misalnya, kamu mungkin tetap tenang ketika nilai portofolio turun 10%, tetapi merasa tidak nyaman jika penurunannya mencapai 30%.

Risk Capacity

Sementara itu, risk capacity berkaitan dengan kemampuan finansialmu untuk menghadapi kerugian. Kondisi seperti pendapatan, dana yang tersedia, kebutuhan dalam waktu dekat, dan jangka waktu investasi ikut menentukan kapasitas tersebut.

Cara Mengelola Risiko Investasi

Risiko investasi tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun, kamu bisa mengatur portofolio agar potensi dampaknya tetap sesuai dengan tujuan dan kemampuan finansialmu. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Sesuaikan investasi dengan tujuan dan jangka waktu: pilih aset berdasarkan kapan dana akan digunakan dan seberapa besar fluktuasi yang masih bisa kamu terima.

  • Tentukan alokasi aset: atur porsi setiap jenis aset sesuai profil risiko dan kebutuhan finansialmu. Jangan hanya mengejar aset dengan potensi return tertinggi.

  • Lakukan diversifikasi: sebarkan investasi ke beberapa aset, sektor, atau wilayah untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber risiko.

  • Perhatikan ukuran setiap posisi: hindari menempatkan porsi yang terlalu besar pada satu saham atau aset karena pergerakannya bisa terlalu memengaruhi keseluruhan portofolio.

  • Lakukan rebalancing secara berkala: evaluasi kembali komposisi portofolio ketika pergerakan harga membuat alokasinya terlalu jauh dari target awal.

  • Kendalikan keputusan emosional: buat strategi sebelum kondisi pasar berubah agar kamu tidak mudah mengambil keputusan karena panik, FOMO, atau terlalu percaya diri.

Pahami Risiko, Atur Strategi Investasi

Memahami risiko membantu kamu melihat investasi secara lebih realistis. Bukan hanya mengejar potensi return, tetapi juga mempertimbangkan apa yang bisa terjadi ketika kondisi pasar bergerak berlawanan dengan ekspektasi. Kalau kamu sudah memahami karakteristik aset dan risikonya, kamu bisa mulai menyusun strategi investasi yang lebih terarah. Siap mulai berinvestasi global? Download aplikasi Gotrade dan jelajahi berbagai pilihan investasi dalam satu aplikasi.

FAQ

Apa itu risiko investasi?

Risiko investasi adalah kemungkinan hasil investasi berbeda dari yang kamu harapkan, termasuk ketika nilai investasi turun atau mengalami kerugian. Setiap instrumen memiliki tingkat dan jenis risiko yang berbeda.

Apa saja jenis risiko investasi?

Beberapa jenis risiko investasi yang umum antara lain risiko pasar, risiko spesifik perusahaan, risiko likuiditas, risiko kredit, risiko inflasi, dan risiko suku bunga.

Bagaimana cara mengurangi risiko investasi?

Risiko tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa dikelola dengan diversifikasi, menyesuaikan investasi dengan profil dan tujuan finansial, mengatur alokasi aset, serta melakukan evaluasi portofolio secara berkala.

Referensi:

Investopedia. “Beta: Definition, Calculation, and Explanation.”

Financial and Consumer Services Commission of New Brunswick (FCNB). “9 Types of Investment Risk – A Guide for New Brunswick Investors.”

Divya, T.S. & Viswambharan, A.M. “Investment Risk Management.” Shanlax International Journal of Commerce, Vol. 7, Issue 4, 2019, pp. 36–41.

Otoritas Jasa Keuangan. Buku Saku Pasar Modal. 2023.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Gabriella Sabatini
Ditulis oleh
Gabriella Sabatini
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade