Obligasi Pemerintah: Jenis, Cara Kerja, dan Risikonya

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Obligasi Pemerintah: Jenis, Cara Kerja, dan Risikonya

Ringkasan Gotrade

  • Obligasi pemerintah adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah untuk memperoleh pembiayaan dari investor dengan pembayaran sesuai ketentuan instrumennya.
  • Return obligasi pemerintah bisa berasal dari kupon, diskonto, serta capital gain atau loss jika obligasi diperdagangkan di pasar sekunder.
  • Obligasi pemerintah tetap memiliki risiko, termasuk risiko suku bunga, harga, likuiditas, inflasi, nilai tukar, dan sovereign risk.

Pemerintah membutuhkan dana untuk membiayai anggaran dan kebutuhan pembiayaan lainnya.

Salah satu caranya adalah menerbitkan surat berharga kepada investor yang kemudian akan menerima pembayaran sesuai dengan karakteristik instrumennya.

Instrumen ini sering disebut sebagai obligasi pemerintah.

Baca juga: 7 Contoh Investasi Jangka Pendek dan Cara Memilihnya

Dalam obligasi kamu akan menemukan istilah seperti SBN, SUN, Obligasi Negara, SBSN, ORI, SBR, SR, dan ST yang saling berkaitan tetapi tidaklah sama.

Apa Itu Obligasi Pemerintah?

Obligasi pemerintah adalah surat berharga yang diterbitkan pemerintah untuk memperoleh pendanaan dari investor selanjutnya Investor akan menerima pembayaran sesuai dengan ketentuan instrumen tersebut.

Kemenkeu mendefinisikan Obligasi Negara sebagai Surat Utang Negara berjangka waktu lebih dari 12 bulan dengan kupon dan/atau pembayaran bunga secara diskonto.

Baca juga: Apa Itu MSCI? Pengertian, Klasifikasi Pasar, dan Dampaknya ke Saham Indonesia

Sementara untuk Surat Utang Negara (SUN) adalah surat berharga berupa pengakuan utang yang pembayaran bunga dan pokoknya dijamin oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.

Jadi, istilah obligasi pemerintah bisa mencakup beberapa instrumen pemerintah tetapi struktur hukumnya tetap perlu dibedakan antara SUN dan SBSN.

Kenapa Pemerintah Menerbitkan Obligasi?

Pemerintah menerbitkan obligasi sebagai salah satu sumber pembiayaan negara. Dana yang diperoleh bisa digunakan untuk membantu membiayai APBN, mengelola utang yang jatuh tempo, dan mendukung berbagai kebutuhan pembangunan negara.

Penerbitan SBN juga berperan dalam pengelolaan portofolio utang dan pengembangan pasar keuangan domestik.

Bagi investor, obligasi pemerintah akan memberikan cash flow yang sesuai dengan ketentuan instrumen, seperti pembayaran kupon dan pengembalian pokok saat jatuh tempo.

Perbedaan Obligasi Pemerintah dan Obligasi Korporasi

Meskipun keduanya sama-sama instrumen utang tetapi penerbit dan sumber risikonya berbeda. Perhatikan tabel berikut ini:

Aspek

Obligasi Pemerintah

Obligasi Korporasi

Penerbit

Pemerintah

Perusahaan

Tujuan

Pembiayaan negara

Pendanaan perusahaan

Credit risk

Terkait sovereign risk

Terkait kondisi keuangan perusahaan

Yield

Sering menjadi benchmark

Umumnya mencakup tambahan credit spread

Market risk

Tetap ada

Tetap ada

Risiko utama

Kondisi fiskal dan sovereign

Cash flow, utang, dan balance sheet

Obligasi korporasi umumnya menawarkan yield tambahan untuk mengkompensasi credit risk perusahaan. Selisih yield tersebut dikenal sebagai credit spread.

Sederhananya, obligasi pemerintah lebih banyak mencerminkan risiko sovereign sedangkan obligasi korporasi bergantung pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya.

Bagaimana Cara Kerja Obligasi Pemerintah?

Misalnya ketika pemerintah menerbitkan obligasi dengan:

Nilai nominal: Rp100 juta
Kupon: 6% per tahun
Jatuh tempo: 5 tahun

Jika investor membeli pada nilai nominal makakupon tahunannya adalah:

Rp100 juta × 6% = Rp6 juta per tahun

Selama obligasi masih berjalan maka investor akan menerima kupon sesuai jadwal. Saat jatuh tempo, pokok Rp100 juta yang dibayarkan akan kembali sesuai dengan ketentuan instrumen.

Jika obligasi bisa diperdagangkan di pasar sekunder maka investor juga bisa menjualnya sebelum jatuh tempo. Harganya juga bisa berada di atas, sama dengan atau di bawah nilai nominal bergantung dengan kondisi pasar.

Dari Mana Return Obligasi Pemerintah Berasal?

Return obligasi pemerintah tidak hanya berasal dari kupon. Secara umum, hasil investasi bisa berasal dari beberapa komponen berikut ini:

1. Kupon

Kupon adalah pembayaran berkala sesuai dengan ketentuan obligasi. Misalnya ketika obligasi senilai Rp100 juta dengan kupon 6% per tahun maka akan memberikan kupon sekitar:

Rp100 juta × 6% = Rp6 juta per tahun

2. Capital Gain atau Loss

Jika obligasi dijual di pasar sekunder maka perubahan harga juga akan mempengaruhi return.

Misalnya, obligasi dibeli pada harga 98 lalu dijual pada 101 maka investor akan memperoleh capital gain. Sebaliknya, jika dijual lebih rendah dari harga beli maka investor akan mengalami capital loss.

3. Diskonto

Beberapa surat berharga pemerintah tidak membayar kupon tetapi diterbitkan atau diperdagangkan di bawah nilai nominal. Selisih antara harga beli dan nilai nominal yang diterima saat jatuh tempo akan menjadi bagian dari return investor.

Karena itu, return obligasi pemerintah tidak selalu sama dengan angka kupon yang tercantum.

Coba Simulasikan Return Obligasi

Setelah memahami sumber return obligasi, kamu bisa mencoba menghitung bagaimana kupon dan perubahan harga obligasi mempengaruhi hasil investasi.

Masukkan nilai investasi, tingkat kupon, harga beli, dan harga jual untuk melihat estimasi pendapatan kupon, capital gain atau loss, serta total return.

Simulasi Kupon dan Capital Gain Obligasi

Apa Saja Jenis Obligasi Pemerintah Indonesia?

Menurut Kemenkeu SBN Indonesia terdiri dari SUN konvensional dan SBSN atau Sukuk Negara. Bentuknya kemudian bisa berbeda berdasarkan target investor, jenis imbalan, tenor serta mekanisme perdagangan.

1. Fixed Rate (FR)

FR adalah Obligasi Negara dengan kupon tetap dan bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Karena tradable, harga FR bisa berubah mengikuti yield, suku bunga, ekspektasi inflasi, kondisi fiskal, likuiditas, dan pergerakan pasar obligasi global.

2. Obligasi Negara Ritel (ORI)

ORI adalah SUN ritel konvensional yang ditawarkan kepada investor individu Indonesia. ORI memiliki kupon tetap dan bisa diperdagangkan di pasar sekunder setelah memenuhi ketentuan minimum holding period.

3. Savings Bond Ritel (SBR)

Saving bond ritel atau SBR merupakan bagian dari SUN ritel tetapi tidak diperdagangkan di pasar sekunder.

Kuponnya menggunakan skema floating with floor dan tersedia fasilitas early redemption sesuai dengan ketentuan seri. Jadi, FR, ORI, dan SBR memiliki perbedaan pada jenis kupon, target investor, dan mekanisme perdagangannya.

4. Sukuk Ritel (SR) dan Sukuk Tabungan (ST)

SR dan ST merupakan bagian dari SBSN ritel. SR bisa diperdagangkan dan memberikan imbalan tetap sedangkan ST tidak diperdagangkan dan menggunakan imbalan mengambang.

5. Project Based Sukuk (PBS)

PBS merupakan salah satu seri SBSN yang penerbitannya berkaitan dengan proyek atau kegiatan dalam APBN dan aset negara sebagai underlying.

Pada lelang SBSN 2026, pemerintah masih menerbitkan sejumlah seri PBS bersama instrumen syariah lainnya.

6. SUN dalam Valuta Asing

Pemerintah juga menerbitkan SUN dalam valuta asing melalui pasar internasional.

Instrumen ini memiliki currency exposure yang berbeda dari SBN rupiah sehingga pergerakan nilai tukar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. DJPPR juga mencatat penerbitan global bond pemerintah dalam denominasi USD.

Apakah Obligasi Pemerintah Aman?

Obligasi pemerintah memiliki profil risiko yang berbeda dari saham dan obligasi korporasi, tetapi bukan berarti bebas risiko.

Untuk SUN Indonesia, pembayaran bunga dan pokok dijamin oleh Negara Republik Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, investor tetap perlu memperhatikan beberapa risiko berikut ini:

1. Risiko Suku Bunga dan Harga

Ketika market yield naik, harga obligasi fixed-rate yang sudah beredar cenderung turun. Dampaknya biasanya lebih besar pada obligasi dengan duration lebih panjang. Jika dijual sebelum jatuh tempo, harga jual juga bisa lebih rendah dari harga beli.

2. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas muncul ketika obligasi sulit dijual kembali pada harga yang diinginkan. Saat aktivitas pasar menurun, volume transaksi bisa berkurang dan bid-ask spread dapat melebar.

3. Risiko Inflasi dan Reinvestasi

Inflasi tinggi bisa menekan real return dari kupon yang diterima. Jika suku bunga turun maka pembayaran kupon mungkin hanya bisa diinvestasikan kembali pada yield yang lebih rendah.

4. Risiko Nilai Tukar

Untuk obligasi pemerintah dalam valuta asing, perubahan kurs bisa menambah atau mengurangi return bagi investor yang menghitung kekayaannya dalam rupiah.

5. Sovereign Risk

Obligasi pemerintah sering digunakan sebagai benchmark berisiko relatif rendah tetapi sovereign risk tetap ada dan berbeda antarnegara.

Karena itu, istilah risk-free lebih tepat dipahami sebagai benchmark dalam konteks tertentu bukannya seluruh obligasi pemerintah benar-benar bisa bebas tanpa risiko.

Bagaimana Membaca Obligasi Pemerintah sebelum Berinvestasi?

Sebelum membeli obligasi pemerintah, kamu jangan hanya melihat coupon. Perhatikan juga karakteristik instrumen dan risiko yang menyertainya, seperti:

1. Penerbit dan Jenis Instrumen

Lihat siapa penerbitnya dan jenis obligasinya. Misalnya SUN, SBSN, ORI, SBR atau Treasury. Setiap instrumen bisa memiliki mekanisme dan risiko yang berbeda-beda.

2. Maturity dan Duration

Semakin panjang jatuh tempo maka semakin besar perhatian yang perlu diberikan pada perubahan suku bunga. Untuk mengukur sensitivitas harga secara lebih tepat kamu bisa menggunakan duration.

3. Coupon, Harga, dan Yield

Periksa apakah kuponnya fixed, floating atau floating with floor. Untuk obligasi tradable lihat juga apakah harganya berada di premium, par atau discount. Jangan menyamakan coupon dengan return. Kamu harus perhatikan juga current yield, YTM, dan yield curve.

4. Tradability dan Likuiditas

Cek apakah obligasi bisa dijual sebelum jatuh tempo atau memiliki fasilitas early redemption. Untuk obligasi tradable, kamu harus perhatikan juga likuiditas karena hal ini bisa mempengaruhi kemudahan menjual dan harga yang tersedia.

5. Currency, Pajak, dan Biaya

Untuk obligasi pemerintah dalam valuta asing kamu harus perhatikan risiko kurs. Net return juga bisa dipengaruhi oleh pajak, spread, dan biaya transaksi. Karena itu, gunakan selalu terms terbaru dari instrumen yang benar-benar akan dibeli.

Bagaimana Cara Membeli Obligasi Pemerintah?

Untuk SBN ritel seperti ORI, SBR, SR, dan ST pembelian di pasar perdana bisa dilakukan melalui Mitra Distribusi resmi.

Investor biasanya perlu melakukan registrasi, melengkapi SID dan rekening yang diperlukan, memilih seri yang sedang ditawarkan lalu menyelesaikan pemesanan serta pembayaran sesuai dengan instruksi.

Karena periode penawaran dan ketentuan setiap seri bisa berbeda maka kamu perlu mengecek selalu informasi terbaru dari Kementerian Keuangan dan Mitra Distribusi resmi.

Pahami Obligasi Pemerintah Sebelum Berinvestasi

Obligasi pemerintah bisa membantu investor memahami hubungan antara suku bunga, yield, inflasi, kondisi fiskal, dan harga aset di pasar keuangan.

Namun, kamu jangan hanya melihat besar kupon. Perhatikan juga harga obligasi, maturity, duration, yield, likuiditas, pajak, dan karakteristik instrumennya sebelum mengambil keputusan.

Konsep yang sama juga bisa digunakan ketika mengamati pasar obligasi pemerintah AS. Salah satu contohnya adalah iShares 20+ Year Treasury Bond ETF (TLT), ETF yang memberikan exposure terhadap obligasi Treasury AS dengan jatuh tempo panjang dan tersedia untuk dipantau melalui Gotrade.

Melalui Gotrade Indonesia kamu juga bisa memantau berbagai saham AS dan ETF AS untuk melihat bagaimana perubahan suku bunga dan kondisi pasar mempengaruhi aset yang sedang kamu pelajari.

Download Gotrade untuk mulai mengeksplorasi pasar AS.

Referensi

JDIH Kementerian Keuangan, “Definisi Obligasi Negara.”

JDIH Kementerian Keuangan, “Definisi Surat Utang Negara.”

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, “Definisi Surat Berharga Negara.”

Kementerian Keuangan Republik Indonesia, “Mengenal Sukuk Ritel Seri SR024.”

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, “Rencana Lelang Surat Berharga Syariah Negara pada Hari Selasa, 2 Juni 2026.”

Republik Indonesia, “Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.”

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.

Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1 juta+

Gotraders 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
Traders League IV

Total hadiah
lebih dari $4000

termasuk langganan
TradingView untuk
semua pemenang

Daftar sekarang

*Syarat dan ketentuan berlaku