7 Contoh Investasi Jangka Pendek dan Cara Memilihnya

Ringkasan
- Investasi jangka pendek adalah penempatan dana untuk tujuan yang relatif dekat, sehingga likuiditas dan risiko kerugian perlu dipertimbangkan.
- Jenis investasi jangka pendek antara lain deposito, reksa dana pasar uang, surat utang jangka pendek, emas, saham, ETF, dan tabungan berbunga.
- Investasi jangka pendek terbaik tidak selalu yang menawarkan potensi return tertinggi. Kapan dana akan digunakan, toleransi risiko, biaya, dan kemudahan pencairan menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan.
- Meskipun saham dan ETF dapat diperdagangkan dalam jangka pendek, keduanya memiliki risiko perubahan harga sehingga tidak selalu cocok untuk dana yang harus tersedia pada tanggal tertentu.
Ada uang yang baru akan digunakan beberapa bulan ke depan? Membiarkannya begitu saja mungkin terasa kurang ideal. Namun, menempatkan seluruh dana pada aset yang harganya mudah berubah juga dapat menimbulkan masalah ketika uang tersebut tiba-tiba dibutuhkan.
Di sinilah investasi jangka pendek perlu dipahami dengan tepat.
Tidak semua instrumen yang dapat dibeli saat ini dan kemudian dijual beberapa bulan kemudian otomatis cocok untuk kebutuhan jangka pendek. Ada perbedaan dalam hal risiko, likuiditas, biaya, serta kemungkinan nilainya turun saat kamu membutuhkan dana.
Lalu, apa instrumen yang dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka pendek?
Apa yang Dimaksud dengan Investasi Jangka Pendek?
Menempatkan dana untuk tujuan yang relatif dekat dikenal sebagai investasi jangka pendek. Tidak ada satu batas waktu yang berlaku untuk semua situasi, tetapi hal yang paling penting adalah dana akan digunakan lebih cepat dibanding tujuan investasi jangka panjang seperti pensiun.
Investasi jangka pendek biasanya memiliki beberapa karakteristik berikut:
Jangka waktu relatif pendek, mungkin hanya beberapa bulan hingga sekitar satu tahun, tergantung tujuan keuangan.
Likuiditas perlu dipertimbangkan karena dana mungkin harus dicairkan dalam waktu dekat.
Risiko penurunan nilai perlu lebih diperhatikan karena waktu untuk menunggu harga pulih lebih singkat.
Return bukan satu-satunya pertimbangan. Stabilitas nilai, biaya, dan kemudahan pencairan juga menjadi faktor penting.
Menurut Investor.gov, investor biasanya perlu lebih memperhatikan risiko, volatilitas, dan kemudahan mendapatkan dana untuk tujuan yang relatif dekat.
Misalnya, jika uang baru akan digunakan 20 tahun lagi, penurunan harga sementara mungkin masih memiliki cukup waktu untuk pulih. Sebaliknya, jika dana dibutuhkan enam bulan lagi, penurunan harga tepat sebelum tanggal tersebut dapat mengganggu rencana keuangan.
Menurut panduan Investor.gov tentang toleransi risiko, semakin dekat waktu penggunaan dana, semakin penting untuk mempertimbangkan kemungkinan kehilangan sebagian nilai investasi saat aset harus dijual.
Karena itu, investasi jangka pendek sebaiknya tidak dinilai hanya berdasarkan potensi keuntungan.
Apa Perbedaan antara Trading dan Investasi Jangka Pendek?
Trading dan investasi jangka pendek sama-sama dapat melibatkan aset yang dimiliki dalam waktu relatif singkat. Namun, tujuan dan pendekatannya berbeda.
Beberapa hal yang membedakan keduanya adalah sebagai berikut:
Tujuan: Investasi jangka pendek biasanya dimulai dari kebutuhan dana dalam jangka waktu tertentu, sedangkan trading lebih berfokus pada memanfaatkan pergerakan harga.
Dasar keputusan: Investasi jangka pendek mempertimbangkan horizon, likuiditas, dan risiko. Trading lebih sering menggunakan strategi entry, target, stop loss, momentum, atau analisis pasar.
Frekuensi transaksi: Investasi jangka pendek tidak selalu membutuhkan banyak transaksi. Trader dapat melakukan transaksi lebih aktif sesuai strategi.
Manajemen risiko: Investor jangka pendek biasanya berfokus menjaga dana tetap sesuai dengan kebutuhan. Trader lebih berfokus menentukan batas kerugian dan potensi hasil dari setiap posisi.
Pilihan aset: Investasi jangka pendek dapat menggunakan deposito, reksa dana pasar uang, surat utang, atau aset pasar. Trading umumnya dilakukan pada instrumen yang harganya aktif bergerak, seperti saham atau ETF.
Sebagai contoh, jika kamu memiliki dana yang baru akan digunakan enam bulan lagi, kamu dapat menggunakan pendekatan investasi jangka pendek dengan menempatkannya sementara pada instrumen yang memiliki risiko relatif lebih rendah.
Sebaliknya, orang yang membeli saham karena melihat pergerakan harga dan berencana keluar setelah mencapai target tertentu lebih dekat dengan aktivitas trading saham.
Artinya, membeli saham dan menjualnya tiga bulan kemudian belum cukup untuk menentukan apakah tindakan tersebut merupakan trading atau investasi jangka pendek. Tujuan, strategi, dan metode pengambilan keputusan juga perlu dipertimbangkan.
7 Contoh Investasi Jangka Pendek
Menempatkan dana dapat dilakukan dengan berbagai cara. Karakteristik dan tingkat risiko masing-masing instrumen berbeda.
Berikut beberapa contoh investasi jangka pendek yang sering dipertimbangkan.
1. Deposito
Deposito adalah uang yang disimpan di bank untuk jangka waktu tertentu, seperti satu, tiga, enam, atau dua belas bulan.
Nilai pokok deposito tidak bergerak setiap hari seperti aset pasar seperti saham. Nasabah menerima bunga sesuai ketentuan bank dan biasanya mendapatkan pokok kembali ketika deposito jatuh tempo.
Likuiditasnya tetap perlu diperhatikan. Tergantung pada produk dan bank, pencairan sebelum jatuh tempo dapat memiliki ketentuan atau konsekuensi tertentu.
Selain itu, perhatikan ketentuan program penjaminan simpanan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk deposito di Indonesia. Ini termasuk nilai maksimal simpanan, tingkat bunga penjaminan, dan peraturan lainnya.
Deposito dapat dipertimbangkan ketika waktu penggunaan dana sudah cukup jelas dan kamu tidak membutuhkan fleksibilitas penuh untuk mencairkannya setiap saat.
2. Reksa Dana Pasar Uang
Menurut ketentuan produk, reksa dana pasar uang menempatkan dana pada instrumen pasar uang dan surat utang dengan jangka waktu pendek.
Reksa dana pasar uang sering digunakan untuk penempatan dana dengan jangka waktu yang relatif pendek karena karakteristiknya.
Sebagai gambaran, Investor.gov menjelaskan bahwa money market fund di AS berinvestasi pada utang jangka pendek yang likuid, kas, dan setara kas. Meskipun risikonya relatif lebih rendah dibanding banyak jenis mutual fund lainnya, return historisnya juga cenderung lebih rendah.
Perlu diingat bahwa reksa dana pasar uang di Indonesia dan money market fund di Amerika Serikat memiliki struktur dan peraturan produk yang berbeda.
Periksa portofolio, biaya, kebijakan pencairan, dan risiko produk yang kamu pilih sebelum membeli.
3. Surat Utang Jangka Pendek
Jika waktu jatuh temponya sesuai dengan kebutuhan dana, surat utang juga dapat digunakan sebagai instrumen investasi dengan horizon yang lebih pendek.
Contohnya adalah surat utang berkualitas tinggi atau surat utang pemerintah dengan jatuh tempo yang relatif dekat.
Tetap saja, jangan hanya melihat kupon atau imbal hasilnya. Suku bunga dan kondisi pasar dapat mengubah harga obligasi.
Menurut DJPPR Kementerian Keuangan, SBN Ritel tradable memiliki risiko pasar ketika dijual sebelum jatuh tempo. Jika harga jual di pasar sekunder lebih rendah daripada harga beli, investor dapat mengalami kerugian.
Tidak semua SBN Ritel dapat diperdagangkan kapan saja. Beberapa seri bersifat non-tradable dan memiliki mekanisme pencairan tersendiri.
Oleh karena itu, tenor produk dan ketentuannya perlu disesuaikan dengan jangka waktu penggunaan dana.
4. Emas
Emas sering digunakan untuk diversifikasi dan menyimpan nilai dalam jangka panjang. Meskipun demikian, emas juga dapat dibeli dan dijual dalam waktu singkat.
Masalahnya, harga emas tetap dapat naik dan turun.
Investor perlu mempertimbangkan spread antara harga beli dan jual selain perubahan harga. Jika selisihnya cukup besar, harga emas harus naik terlebih dahulu sebelum hasil penjualan dapat menutupi spread tersebut.
Karena itu, jika uang harus dicairkan pada nilai tertentu beberapa minggu atau bulan kemudian, emas belum tentu menjadi pilihan yang sesuai.
Investor yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang cara kerja ETF emas juga dapat mempelajari instrumen tersebut. Struktur dan risikonya berbeda dari pembelian emas fisik secara langsung.
5. Saham
Saham juga dapat diperjualbelikan dalam waktu singkat. Jika harga jual lebih tinggi daripada harga beli, investor atau trader dapat memperoleh capital gain.
Meskipun demikian, potensi keuntungan tersebut datang bersamaan dengan risiko harga.
Harga saham dapat berubah dalam hitungan hari atau bahkan menit karena perubahan dalam laporan keuangan, suku bunga, kondisi ekonomi, berita bisnis, sentimen pasar, dan ekspektasi investor.
Karena itu, saham biasanya kurang sesuai jika seluruh dana harus tersedia dalam waktu dekat pada nilai tertentu.
Misalnya, kamu memiliki Rp20 juta yang pasti akan digunakan untuk membayar kebutuhan tertentu dalam tiga bulan lagi. Menempatkan seluruh dana tersebut pada saham berarti kamu harus siap menghadapi kemungkinan nilainya menurun saat dana dibutuhkan.
Sebaliknya, jika dana tersebut dialokasikan sebagai modal berisiko dan kamu menyadari potensi kerugiannya, saham dapat digunakan dalam pendekatan yang berbeda.
Sebelum memulai, pelajari tentang risiko investasi dan bagaimana perubahan harga dapat memengaruhi nilai portofolio.
6. ETF
Exchange-Traded Fund atau ETF dapat terdiri dari sejumlah aset seperti saham, obligasi, komoditas, atau aset lainnya.
Karena ETF dapat memberikan eksposur terhadap berbagai aset sekaligus, ETF sering dianggap lebih terdiversifikasi daripada membeli satu saham.
Namun, label “ETF” belum tentu berarti risikonya rendah.
Ketika pasar saham turun, ETF saham yang mengikuti indeks saham tetap dapat mengalami penurunan. Sebaliknya, ETF obligasi jangka pendek memiliki karakter risiko yang berbeda karena aset dasarnya juga berbeda.
Harga ETF juga dapat berubah selama jam perdagangan.
Oleh karena itu, ketika mempertimbangkan ETF untuk investasi jangka pendek, perhatikan terlebih dahulu aset dasarnya, volatilitas, likuiditas, expense ratio, dan tujuan ETF.
Jika ingin mengetahui lebih lanjut, kamu dapat mempelajari perbedaan ETF dan saham.
7. Tabungan Berbunga
Tidak semua dana jangka pendek cocok ditempatkan pada instrumen pasar modal.
Tabungan berbunga dapat menjadi pilihan untuk uang yang harus tersedia sewaktu-waktu karena memiliki likuiditas yang tinggi.
Meskipun hasilnya mungkin lebih terbatas dibanding beberapa instrumen investasi, akses terhadap dana menjadi lebih mudah.
Jika tujuan utama kamu bukan mengejar return tinggi, tetapi memastikan uang tersedia ketika dibutuhkan, pilihan ini dapat dipertimbangkan.
Tetap periksa ketentuan bank mengenai bunga, biaya, dan penjaminan simpanan yang berlaku.
Apa Investasi Jangka Pendek Terbaik?
Tidak ada satu investasi jangka pendek yang cocok untuk setiap orang.
Instrumen yang memiliki potensi return tinggi biasanya juga memiliki risiko yang lebih besar. Karena itu, kesesuaian dengan tujuan lebih penting dibanding sekadar potensi keuntungan.
Instrumen | Risiko umum | Likuiditas | Hal yang perlu diperhatikan |
Deposito | Relatif rendah | Bergantung tenor | Jatuh tempo dan syarat pencairan |
Reksa dana pasar uang | Relatif rendah | Relatif tinggi | Portofolio, biaya, dan waktu pencairan |
Surat utang jangka pendek | Rendah hingga menengah | Bergantung instrumen | Jatuh tempo, risiko pasar, dan likuiditas |
Emas | Menengah | Relatif tinggi | Harga dan spread beli-jual |
Saham | Tinggi | Umumnya tinggi untuk saham likuid | Volatilitas dan risiko kerugian |
ETF | Bergantung aset dasar | Umumnya tinggi untuk ETF likuid | Aset dasar, spread, biaya, dan volatilitas |
Tabungan berbunga | Relatif rendah | Tinggi | Bunga, biaya, dan syarat penjaminan |
Menjaga ketersediaan dana mungkin lebih penting daripada mengejar potensi keuntungan besar jika uang akan digunakan untuk kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam tiga bulan.
Sebaliknya, jika dana dialokasikan sebagai modal berisiko dan kerugian tidak mengganggu kebutuhan utama, kamu mungkin memiliki lebih banyak ruang untuk mempertimbangkan aset yang volatil.
Menurut Investor.gov, portofolio dengan porsi saham yang besar mungkin kurang cocok untuk tujuan jangka pendek karena nilainya dapat menurun saat dana harus digunakan.
Contoh Simulasi Investasi Jangka Pendek
Misalnya, kamu memiliki modal Rp10 juta dan ingin membandingkan beberapa skenario selama enam bulan.
Dengan asumsi sederhana:
Return tahunan 4% menghasilkan sekitar Rp200.000 dalam enam bulan.
Return tahunan 6% menghasilkan sekitar Rp300.000 dalam enam bulan.
Kenaikan aset sebesar 8% menghasilkan keuntungan kotor sekitar Rp800.000.
Penurunan aset sebesar 8% mengakibatkan kerugian sekitar Rp800.000.
Pajak, biaya transaksi, spread, perubahan kurs, dan compounding belum diperhitungkan dalam perhitungan ini.
Dua skenario terakhir menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Aset dengan potensi pertumbuhan yang lebih besar juga dapat bergerak ke arah sebaliknya. Jika dana harus digunakan enam bulan lagi, pertanyaannya bukan hanya “berapa keuntungan yang bisa diperoleh?”, tetapi juga “apa yang terjadi jika nilainya turun ketika uang harus dicairkan?”
Risiko Investasi Jangka Pendek yang Perlu Dipertimbangkan
Dengan jangka waktu investasi yang lebih pendek, kamu memiliki waktu yang lebih sedikit untuk menunggu pemulihan ketika harga aset turun.
Berikut beberapa risiko penting yang perlu diperhatikan.
1. Risiko Harga
Harga saham, ETF, emas, dan obligasi yang diperdagangkan di pasar dapat berubah.
Kerugian yang sebelumnya hanya tercatat di portofolio dapat menjadi kerugian aktual jika kamu terpaksa menjual saat harga turun.
2. Risiko Likuiditas
Aset tidak selalu dapat dijual dengan cepat pada harga yang kamu inginkan.
Likuiditas yang rendah juga dapat membuat spread antara harga beli dan jual menjadi lebih lebar.
3. Biaya Transaksi
Biaya dapat berdampak lebih besar pada return selama periode investasi yang lebih pendek.
Perhatikan biaya transaksi, spread, pajak, expense ratio ETF, dan biaya lain yang berlaku.
4. Risiko Nilai Tukar
Pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi hasil investasi dalam rupiah jika kamu membeli saham atau ETF AS.
Misalnya, harga saham naik dalam dolar AS sementara dolar AS melemah terhadap rupiah. Hasil akhir dalam rupiah dapat berbeda dari persentase kenaikan saham.
Untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut, baca artikel tentang investasi saham luar negeri.
5. Risiko Mengambil Keputusan karena Pergerakan Harga Sesaat
Investor dengan horizon pendek sering melihat perubahan harga lebih sering.
Masalahnya, ketika aset bergerak tajam, keputusan dapat berubah menjadi reaktif.
Investor.gov juga mengingatkan agar berhati-hati saat mengambil keputusan investasi jangka pendek hanya berdasarkan berita atau saham yang sedang populer di media sosial.
Sebelum membeli saham, pahami bisnis perusahaan dan alasan kamu membuka posisi.
Cara Memilih Investasi Jangka Pendek
Kamu dapat menggunakan lima pertanyaan berikut daripada langsung mencari instrumen dengan return tertinggi.
1. Kapan Dana Akan Digunakan?
Mulai dari tanggal ketika dana dibutuhkan.
Dana yang akan dibutuhkan bulan depan sebaiknya diperlakukan berbeda dari dana yang tidak digunakan selama dua atau tiga tahun.
Semakin dekat waktu penggunaan dana, semakin penting likuiditas dan kestabilan nilai.
2. Apakah Kebutuhan Bisa Ditunda?
Dana untuk liburan memiliki fleksibilitas yang berbeda dibanding uang kuliah, cicilan, atau biaya kesehatan.
Kemampuan untuk menanggung penurunan nilai juga biasanya lebih rendah jika kebutuhan tidak dapat ditunda.
3. Berapa Kerugian yang Siap Ditanggung?
Bayangkan modal Rp10 juta turun menjadi Rp8 juta saat kebutuhan dana muncul.
Apakah kebutuhan kamu tetap dapat dipenuhi?
Jika tidak, instrumen yang memiliki volatilitas tinggi mungkin kurang cocok untuk dana tersebut.
4. Seberapa Mudah Aset Dicairkan?
Jangan hanya memperhatikan return.
Perhatikan juga berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencairkan aset dan apakah ada biaya atau pembatasan untuk mencairkan aset sebelum jatuh tempo.
5. Berapa Hasil Bersih Setelah Semua Biaya?
Hasil yang sebenarnya diterima belum tentu sama dengan return yang terlihat.
Jika kamu berinvestasi pada aset berdenominasi dolar AS, hitung biaya transaksi, spread, pajak, expense ratio, dan dampak nilai tukar.
Jadi, Apa Investasi Jangka Pendek yang Paling Cocok?
Investasi jangka pendek terbaik adalah yang paling sesuai dengan tujuan dan jangka waktu penggunaan dana, bukan otomatis yang memiliki potensi return paling tinggi.
Likuiditas dan kestabilan biasanya menjadi pertimbangan utama untuk kebutuhan yang waktunya sudah pasti dan relatif dekat.
Jika kamu memahami bahwa harga dapat berubah dan dana yang digunakan memang siap menanggung risiko tersebut, saham dan ETF dapat menjadi pilihan yang dipertimbangkan.
Melalui Gotrade, kamu dapat mempelajari berbagai saham AS dan ETF jika tertarik mengeksplorasi pasar AS. Tetap sesuaikan pilihan aset, horizon, dan ukuran investasi dengan risiko yang siap kamu tanggung sebelum membuka posisi.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Investasi saham berisiko tinggi dan tidak sesuai untuk semua orang. Lakukan analisis pribadi sebelum memutuskan.












