Ichimoku cloud adalah alat analisis yang membantu trader untuk langsung tahu arah tren pasar, kekuatan pergerakan harga, dan titik-titik penting harga (support/resistance). Ichimoku Cloud disebut juga Ichimoku Kinko Hyo.
Buat trader pemula yang sering bingung menentukan arah tren pasar, Ichimoku Cloud bisa jadi jawabannya. Yuk, ketahui siapa yang menciptakannya, indikator hingga cara membacanya pada artikel ini.
Asal Mula dan Pencipta Ichimoku Cloud
Ichimoku Kinko Hyo pertama kali dikembangkan oleh jurnalis asal Jepang bernama Goichi Hosoda (nama penanya 'Ichimoku Sanjin') dalam bukunya pada 1969 sebanyak 7 jilid.
Dalam Bahasa Jepang 'Ichi' artinya satu, 'moku' berarti pandangan sekilas, 'kinko' artinya keseimbangan , dan 'hyo' artinya bagan/grafik. Jadi, arti dari keseluruhannya itu seperti “Bagan keseimbangan satu pandangan sekilas.
Beliau memerlukan waktu sekitar 30 tahun untuk mengembangkan Ichimoku seperti yang kita kenal sekarang. Ada yang menyebut karyanya dimulai pada 1930-an, dan ia merahasiakannya hingga tahun 1950-an (saat mengungkapkan indikator tersebut kepada sekelompok temannya).
Setelah dipublikasikan, bukunya itu terkenal di kalangan investor Jepang. Sejak saat itu, metode ini sering dipakai di pasar Asia. Baru pada 1990-an mulai tersebar di seluruh dunia (kurangnya terjemahan karena saat itu buku ditulis menggunakan Bahasa Jepang).
Meskipun awalnya dirancang untuk pasar saham Jepang, Cloud bisa dengan cepat diadopsi secara luas di pasar mata uang dan komoditas. Saat ini, Ichimoku cloud menjadi fitur standar di sebagian besar platform perdagangan dan analitik populer yang umum dipakai dalam strategi jangka pendek maupun jangka panjang.
Mengenal Ichimoku Cloud dalam Analisis Teknikal Trading
Dikutip dari e-book 70+ Technical Indicators - Mastering Intraday Trading oleh The Financial Edits, mendefinisikan ichimoku cloud sebagai salah satu alat analisis teknikal yang memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi pasar seperti arah tren, kekuatan momentum, level support dan resistance dalam satu tampilan sekaligus.
Ichimoku cloud punya aspek unik yang berorientasi ke masa depan, berbeda dari indikator teknis lainnya. Karena kelengkapannya inilah, Ichimoku cloud sering dipakai oleh trader intraday yang mau mengambil keputusan trading dengan lebih akurat. Caranya dengan mempertimbangkan beberapa time frame sekaligus.
Efektivitas Ichimoku Cloud telah dibuktikan secara ilmiah. Salah satunya dalam penelitian yang dilakukan oleh Nguyen dkk. (2022) di jurnal Computational Economics, menemukan selama pandemi COVID-19, aturan Ichimoku ini telah memberi kinerja positif pada sektor tertentu (properti, makanan & minuman, sumber daya) di pasar saham Vietnam.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa Ichimoku Cloud punya dasar akademis yang mendukung keandalannya, khususnya saat kondisi pasar sedang tidak menentu. Meskipun begitu, seperti indikator teknikal lainnya, hasilnya tetap bisa berbeda-beda tergantung jenis aset, kondisi pasar, maupun strategi yang digunakan masing-masing trader.
Indikator Ichimoku Cloud
Indikator Ichimoku kinko hyo adalah sistem analisis teknikal terdiri dari lima garis, yaitu Tenkan-sen, Kijun-sen, Senkou Span A, Senkou Span B, dan Chikou Span. Berikut penjelasan dari lima indikator:
Cara Membaca Ichimoku Cloud
1. Lihat Ketebalan Cloud
Cloud yang tebal menginformasikan level support/resistance yang kuat, sementara cloud tipis menunjukkan level yang lebih lemah dan mudah ditembus harga. Untuk sudut kemiringan cloud, semakin tajam sudutnya, maka kuat tren yang sedang terjadi.
2. Pahami Posisi Harga terhadap Cloud
Harga di atas cloud: tren sedang bullish (cloud berguna sebagai support)
Harga di bawah cloud: tren sedang bearish (cloud berguna sebagai resistance)
Harga di dalam cloud: pasar sedang konsolidasi (belum ada arah jelas).
3. Menggunakan Cloud sebagai Level Support/Resistance
Saat harga di atas cloud, biasanya trader akan menunggu harga pullback ke cloud untuk peluang beli. Sebaliknya, saat harga di bawah cloud, rally ke arah cloud bisa menjadi peluang jual.
4. Perhatikan Sinyal Trading Utama
Tenkan-sen memotong ke atas Kijun-sen: sinyal beli (makin kuat jika terjadi di luar cloud)
Tenkan-sen memotong ke bawah Kijun-sen artinya sinyal jual
Breakout di atas/bawah cloud menandakan konfirmasi perubahan tren, makin valid jika cloud tebal
Senkou Span A di atas Senkou Span B menandakan kondisi bullish atau sebaliknya bearish.
5. Lihat Keterbatasannya
Ichimoku Cloud memiliki kurva belajar yang cukup curam untuk pemula, sehingga cenderung sedikit lambat karena berbasis data historis. Karena banyak baris, untuk tampilannya juga terasa "ramai". Makanya sebaiknya dikombinasikan dengan indikator lain untuk memvalidasi sinyal.
Strategi Menggunakan Ichimoku Cloud untuk Trader
Berikut gambaran dalam menggunakan ichimoku cloud dikutip dari Investopedia: Untuk menangkap peluang tren jangka pendek, seorang sebagai trader saham memakai dua alat bantu Ichimoku Cloud dan Relative Strength Index (RSI).
Begini gambaran eksekusinya:
Trader melihat harga naik menembus ke atas Cloud, dan pasa saat yang sama RSI juga ikut naik. Kedua sinyal ini muncul bareng, trader percaya ini momentum kenaikan sedang kuat. Kemudian langsung membeli (buka posisi long). Sebagai pengaman, stop loss dipasang tepat di bawah Cloud, kalau harga jatuh sampai situ berarti rencana ini gagal dan posisi harus ditutup.
Selagi posisi berjalan, trader melihat RSI mulai menunjukkan tanda-tanda melemah yang disebut divergensi (harga masih naik tapi RSI tidak naik setinggi sebelumnya). Untuk bisa dapat untung, trader menggeser stop loss ke titik impas (breakeven). Jadi, kalau rencana gagal, ia tidak rugi modal. Target profit juga sudah dipasang di level Leading Span B.
Lalu, semakin lama sinyal makin memburuk ada dua garis indikator (Conversion Line dan Base Line) saling silang ke arah turun. Dalam hal ini, harga penutupan candle masuk kembali ke dalam Cloud serta RSI jatuh di bawah 50. Ketiganya bersama-sama menandakan momentum naik sudah habis. Jika muncul tanda ini, trader keluar dari posisi sambil tetap untung, sebelum harga sempat jatuh lebih dalam.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.