Kripto vs Saham: Mana yang Lebih Cocok untuk Investor Pemula?

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Kripto vs Saham: Mana yang Lebih Cocok untuk Investor Pemula?

Kamu punya Rp1 juta dan sedang mempertimbangkan dua pilihan untuk membeli saham atau kripto?

Sekilas cara membeli kripto dan saham memang mirip. Kamu tinggal pilih aset, masukkan nominal lalu nilainya akan bergerak mengikuti harga pasar. Tetapi sebenarnya aset yang kamu beli sangatlah berbeda.

Saat membeli saham kamu akan mendapat eksposur terhadap sebuah perusahaan dan kinerja bisnisnya.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Sementara ketika membeli crypto asset kamu memiliki aset digital dengan fungsi, mekanisme jaringan, aturan penerbitan, hingga sumber nilai yang bisa berbeda antara satu aset dan aset lainnya.

Karena itu, sebelum membandingkan mana yang lebih menguntungkan, pahami dulu karakter masing-masing aset, cara kerjanya dan risiko yang menyertainya.

Jangan Mulai dari "Mana yang Lebih Cuan?"

Bitcoin pernah mengalami kenaikan besar begitu juga saham pada NVIDIA, Tesla atau Amazon pada periode tertentu.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Tetapi membandingkan return historis satu saham dengan satu crypto asset belum tentu membantu kamu menentukan pilihan untuk ke depan.

Hasilnya bisa terus berubah bergantung pada aset yang kamu pilih, kapan mulai membeli, kapan menjual, kondisi pasar dan seberapa besar risiko yang berani kamu ambil.

Saat kamu mengganti periode pengukurannya maka hasil perbandingannya juga bisa berbeda.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah "Mana yang return-nya lebih tinggi?"

Tetapi kamu harus memulai dari "Risiko apa yang harus saya hadapi untuk mendapatkan return tersebut?"

Jika kamu sudah mulai mengerti makna dari pertanyaan ini maka perbedaan saham dan kripto akan mulai terlihat lebih mudah.

Saat Membeli Saham Maka Kamu Memiliki Bagian dari Perusahaan

Saat membeli saham kamu tidak hanya membeli kode ticker yang harganya naik dan turun. Melainkan kamu mengambil bagian kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Sehingga nilai investasi kamu akan berkaitan dengan kondisi dan perkembangan bisnis tersebut.

Menurut Investor.gov saham memberikan investor bagian kepemilikan dalam perusahaan. Saham biasa juga umumnya memberikan hak ekonomi dan hak suara tertentu.

Sebagai contoh, kamu membeli saham perusahaan XYZ. Maka faktor harga saham bisa dipengaruhi oleh cara pasar melihat beberapa hal seperti penjualan, laba, arus kas, utang, margin, pertumbuhan, persaingan, kualitas manajemen dan prospek bisnis

Sebagian perusahaan juga membagikan laba kepada pemegang saham melalui dividen. Tetapi, tidak semua perusahaan membayar dividen.

Dividen yang dibagikan juga jumlahnya bisa terus berubah sesuai dengan kondisi bisnis dan keputusan manajemen.

Jadi, di balik setiap ticker ada bisnis yang bisa kamu pelajari.

Kamu bisa melihat bagaimana perusahaan menghasilkan uang, seberapa sehat kondisi keuangannya dan apakah harga sahamnya sebanding dengan kualitas bisnis tersebut.

Crypto Asset Tidak Sama dengan Saham Digital

Saat kamu membeli crypto asset, kamu tidaklah membeli bagian kepemilikan dari sebuah perusahaan. Nilainya berasal dari struktur dan fungsi aset digital yang bisa sangat berbeda antara satu proyek dengan proyek lainnya.

Karena itu jangan menganggap semua kripto bekerja seperti Bitcoin.

Ada aset yang memiliki batas suplai yang digunakan untuk membayar biaya jaringan, mendukung aplikasi tertentu atau memiliki fungsi ekonomi yang lebih terbatas.

Hal lain yang perlu kamu perhatikan adalah membeli token tidak berarti membuat kamu memiliki perusahaan yang mengembangkan proyek tersebut.

Jika sebuah perusahaan blockchain menghasilkan pendapatan US$1 miliar maka pemegang tokennya belum tentu memiliki klaim terhadap laba tersebut seperti pemegang saham pada perusahaan publik.

Menurut Investor.gov crypto asset dibuat, diterbitkan atau ditransfer menggunakan blockchain atau teknologi distributed ledger sejenis. Jadi karakter, hak dan cara kerja setiap aset juga bisa berbeda secara signifikan.

Hal ini lah yang merupakan salah satu perbedaan utama antara saham dan kripto.

Saham mewakili kepemilikan dalam perusahaan sedangkan crypto asset tidak selalu memberikan klaim terhadap bisnis atau laba di balik proyeknya.

Cara Menilai Saham dan Kripto Juga Berbeda

Saham dan kripto tidak bisa dianalisis dengan cara yang sama karena sumber nilai dan struktur keduanya berbeda. Perhatikan tabel berikut ini sebagai perbandingan kamu:

Yang Dinilai

Saham

Kripto

Sumber informasi

Form 10-K, 10-Q, 8-K dan laporan perusahaan

Dokumentasi proyek, data on-chain dan informasi jaringan

Kinerja

Pendapatan, laba, margin dan arus kas

Aktivitas jaringan, penggunaan token dan biaya transaksi

Valuasi

P/E, EPS, free cash flow dan rasio lainnya

Tidak memiliki satu metode valuasi yang berlaku untuk semua aset

Pasokan

Jumlah saham beredar dan potensi dilusi

Total supply, circulating supply dan jadwal token unlock

Kepemilikan

Struktur pemegang saham

Konsentrasi kepemilikan token

Risiko utama

Bisnis, utang, persaingan dan manajemen

Smart contract, tokenomics, jaringan dan governance

Untuk saham perusahaan publik AS, laporan dan dokumen resminya bisa diakses melalui sistem EDGAR milik SEC.

Sementara untuk kripto, informasi yang perlu diperiksa berbeda-beda bergantung pada karakter asetnya masing-masing.

Menurut jurnal penelitian yang berjudul Risks and Returns of Cryptocurrency menunjukan bahwa selama periode penelitian return kripto sangat berkaitan dengan faktor yang lebih spesifik pada pasar kripto termasuk momentum dan perhatian dari investor.

Karena itu, P/E atau EPS tidak tepat digunakan untuk menilai Bitcoin. Sebaliknya jumlah wallet aktif juga tidak bisa menggantikan laporan keuangan ketika kamu sedang menganalisis saham secara fundamental.

Risiko Saham dan Kripto Tidak Bisa Dipukul Rata

Pada saham, perusahaan besar dengan bisnis matang tentu memiliki karakter berbeda dari saham micro-cap atau perusahaan yang sedang mengalami masalah keuangan.

Harga saham individual juga bisa turun tajam ketika earnings mengecewakan sehingga perusahaan kehilangan pelanggan besar, utang memburuk, produk gagal atau bisa saja terjadi kebangkrutan. Pemegang common stock berada di belakang kreditur dan pemegang preferred stock ketika perusahaan dilikuidasi.

Dalam kondisi tertentu nilai yang tersisa bagi pemegang saham biasa bisa sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.

Hal yang sama juga berlaku pada kripto.

Bitcoin, Ether, stablecoin, utility token dan memecoin memiliki risiko investasi yang berbeda. Aset dengan kapitalisasi besar dan pasar aktif bisa memiliki likuiditas yang jauh berbeda dibandingkan dengan token kecil yang hanya diperdagangkan pada sedikit platform.

Karena itu, baik saham maupun kripto memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda bergantung pada aset, likuiditas, struktur produk dan kondisi pasar. Label “saham” atau “kripto” saja belum cukup untuk menentukan seberapa besar risikonya.

Regulasi Kripto di Indonesia Telah Diperbarui

Pengawasan aset kripto di Indonesia kini berada di bawah naungan OJK bukan lagi sepenuhnya di bawah Bappebti.

Sejak 10 Januari 2025, tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto mulai dialihkan dari Bappebti kepada OJK sesuai amanat UU P2SK.

OJK juga menegaskan bahwa proses peralihan tersebut telah diselesaikan.

Kerangka utamanya diatur melalui POJK Nomor 27 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Aset Keuangan Digital Termasuk Aset Kripto. Aturan tersebut kemudian diperbarui melalui POJK Nomor 23 Tahun 2025.

Perubahan regulasi ini penting untuk memahami siapa yang mengawasi industri dan bagaimana penyelenggara diatur. Namun, berada dalam ekosistem yang diawasi OJK tidak berarti harga kripto menjadi bebas risiko.

Jadi, Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?

Tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua orang. Saham maupun kripto memiliki cara kerja dan risiko yang berbeda. Jadi pilihannya perlu disesuaikan dengan apa yang kamu pahami dan seberapa besar risiko yang sanggup kamu hadapi.

Cobalah untuk menjawab lima pertanyaan berikut ini sebelum kamu memilih:

1. Apa yang lebih mudah kamu pahami?

Kalau kamu lebih nyaman menganalisis bisnis, pendapatan, laba, produk, dan kompetitor, Maka saham memiliki kerangka analisis yang lebih langsung.

Tetapi, kalau kamu tertarik mempelajari blockchain, tokenomics, aktivitas jaringan dan custody. Kripto bisa kamu pilih karena membutuhkan pendekatan analisis yang berbeda.

2. Seberapa besar penurunan yang sanggup kamu hadapi?

Jangan menilai toleransi risiko hanya ketika pasar sedang naik. Pertimbangkan juga apa yang akan terjadi jika nilai investasi kamu turun tajam dan membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Kalau penurunan tersebut sampai mengganggu kebutuhan keuangan sehari-hari kamu maka jumlah yang kamu investasikan mungkin terlalu besar dan kamu harus mulai untuk menyesuaikannya kembali.

3. Berapa lama dana tersebut bisa disimpan?

Dana yang akan digunakan dalam beberapa bulan ke depan sebaiknya tidak terlalu bergantung pada aset dengan pergerakan harga tinggi. Dana darurat juga memiliki fungsi berbeda dari modal investasi. Sehingga sebaiknya harus mulai untuk dipisahkan.

4. Apakah kamu memahami risiko selain harga?

Pada saham kamu perlu periksa kondisi bisnis, utang, valuasi, persaingan dan potensi dilusi. Sedangkan pada kripto, kamu perlu periksa custody, tokenomics, jaringan, smart contract, konsentrasi kepemilikan serta risiko platform yang akan digunakan.

5. Bisakah kamu menjelaskan alasan membeli tanpa menyebut pergerakan harga?

Kalau alasan utamamu hanya “Bitcoin lagi naik” atau “saham ini sudah turun 40%” berarti keputusan kamu dalam membeli masih bertumpu hanya pada harga saja.

Alasan membeli yang lebih kuat seharusnya menjelaskan apa yang kamu beli, kenapa aset tersebut menarik, risiko utamanya apa dan kondisi apa yang membuat analisis kamu tidak lagi berlaku.

Bagaimana Kalau Ingin Memiliki Keduanya?

Memiliki saham dan kripto dalam satu portofolio tentu bisa. Namun, tidak perlu langsung mengikuti pembagian seperti 80:20 atau 70:30 hanya karena sering digunakan sebagai contoh oleh orang-orang.

Komposisi yang sesuai akan berbeda untuk setiap orang. Beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan jika ingin memiliki keduanya adalah:

  • Tujuan investasi

  • Horizon waktu

  • Kondisi keuangan

  • Portofolio yang sudah dimiliki

  • Kemampuan menghadapi kerugian

  • Pemahaman terhadap saham dan kripto

Perlu diingat, memiliki dua jenis aset belum tentu membuat portofolio kamu lebih terdiversifikasi.

Saham dan kripto tetap bisa turun bersamaan ketika kondisi pasar memburuk dan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Jadi, jangan hanya melihat berapa persen yang dialokasikan ke masing-masing aset. Tetapi, perhatikan juga apakah keduanya benar-benar menambah sumber risiko yang berbeda atau justru membuat portofolio kamu semakin terkonsentrasi.

Pahami Karakter Saham dan Kripto sebelum Memilih

Saham memberikan kepentingan pada sebuah perusahaan sehingga kamu bisa menilai bisnis, laba, arus kas, utang dan valuasinya. Sedangkan crypto asset memiliki struktur yang berbeda dan bisa membutuhkan analisis mengenai jaringan, tokenomics, supply, penggunaan, custody serta risiko teknologinya. Keduanya juga bisa mengalami kerugian yang besar.

Karena itu, jangan memilih berdasarkan aset yang paling banyak naik pada periode sebelumnya.

Mulailah dari memahami apa yang kamu miliki, bagaimana nilainya terbentuk dan risiko apa yang akan ikut masuk ke portofolio kamu.

Kalau kamu ingin mempelajari saham AS, Gotrade bisa kamu gunakan untuk memantau saham dan informasi pasar sebelum mengambil keputusan.

Gunakan nominal yang sesuai kemampuan finansial dan jangan menjadikan satu aset sebagai penentu seluruh hasil portofolio kamu.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade