Investor.gov mendefinisikan nya sebagai bunga yang diperoleh dari pokok dan bunga yang telah terakumulasi. Konsepnya mudah yaitu ketika hasil investasi tidak diambil maka hasil tersebut ikut menjadi dasar perhitungan pada periode berikutnya.
Sebagai contoh modal awalnya adalah Rp10 juta yang menghasilkan pertumbuhan 8% per tahun.
Tahun | Nilai Awal | Pertumbuhan 8% | Nilai Akhir |
1 | Rp10.000.000 | Rp800.000 | Rp10.800.000 |
2 | Rp10.800.000 | Rp864.000 | Rp11.664.000 |
3 | Rp11.664.000 | Rp933.120 | Rp12.597.120 |
Pada tahun pertama, pertumbuhannya Rp800 ribu. Pada tahun ketiga, jumlahnya menjadi Rp933.120 meskipun tingkat pertumbuhan yang digunakan tetap 8%.
Perbedaan ini muncul karena nilai yang menjadi dasar perhitungan terus bertambah. Selama hasil sebelumnya tetap diinvestasikan pertumbuhan berikutnya ikut dihitung dari nilai yang sudah terakumulasi.
Kamu juga bisa mencoba sendiri bagaimana modal, tingkat pertumbuhan dan jangka waktu mempengaruhi hasil akhirnya melalui kalkulator compound interest di bawah ini.
Simple Interest dan Compound Interest Memberikan Hasil Berbeda
Simple interest atau bunga tunggal hanya menggunakan modal awal sebagai dasar perhitungan.
Sebagai contoh dengan modal Rp10 juta dan bunga 8% per tahun:
Bunga tahunan = Rp10 juta × 8% = Rp800 ribu
Lalu jika selama 10 tahun total bunga tunggalnya akan menjadi:
Rp800 ribu × 10 = Rp8 juta
Maka nilai akhirnya adalah:
Rp10 juta + Rp8 juta = Rp18 juta
Sedangkan pada compound interest bunga setiap tahun akan ditambahkan ke modal.
Maka dari itu dengan asumsi yang sama maka hasilnya adalah:
Rp10 juta × (1 + 8%)¹⁰ = sekitar Rp21,59 juta
Metode | Nilai Setelah 10 Tahun |
Simple interest | Rp18 juta |
Compound interest | Sekitar Rp21,59 juta |
Selisihnya muncul karena compound interest menghasilkan pertumbuhan dari hasil periode sebelumnya.
Disclaimer: Pada contoh simulasi ini memakai return tetap tidak memasukkan biaya, pajak atau inflasi dan bukan proyeksi hasil investasi.
Rumus Compound Interest pada Frekuensinya

Untuk compounding satu kali per tahun rumusnya adalah:
FV = PV × (1 + r)ⁿ
Keterangan:
Jika bunga dihitung beberapa kali dalam satu tahun maka rumusnya menjadi:
FV = PV × (1 + r ÷ m)ᵐⁿ
Keterangan tambahan:
Misalnya:
Frekuensi yang lebih sering bisa menghasilkan nilai sedikit lebih tinggi jika tingkat nominalnya sama. Tetapi kamu harus selalu periksa apakah angka yang ditampilkan merupakan suku bunga nominal atau tingkat efektif tahunan.
Produk dengan bunga nominal sama belum tentu menghasilkan nilai akhir yang sama jika frekuensi dan biayanya berbeda.
Pada Saham Lebih Tepat Disebut Sebagai Compound Growth
Saham tidak memberikan bunga tetap seperti tabungan atau deposito.
Hasil investasinya berasal dari perubahan harga, dividen saham atau distribusi lain. Nilainya juga bisa turun ketika harga saham melemah.
Efek compounding muncul ketika hasil investasi tetap berada di dalam portofolio saham dan ikut menghasilkan pertumbuhan pada periode berikutnya.
Contohnya, saat perusahaan membagikan dividen tunai. Jika dividen tersebut digunakan untuk membeli saham tambahan, jumlah saham yang kamu miliki akan bertambah.
Tetapi jika perusahaan kembali membayar dividen dengan nilai per saham yang sama, jumlah dividen yang diterima juga bisa menjadi lebih besar karena kepemilikan saham kamu terus bertambah.
Proses ini dikenal sebagai dividend reinvestment. Meski begitu, reinvestasi tidak menjamin hasil yang akan terus meningkat. Saham tambahan dibeli pada harga pasar maka nilai dividen dapat berubah dan harga saham tetap bisa turun.
Karena return saham tidak tetap istilah compound growth atau compounding return jauh lebih tepat daripada menganggap saham menghasilkan bunga majemuk dengan tingkat yang pasti.
Return Rata-Rata Bisa Memberikan Gambaran Hasil yang Keliru
Rata-rata return tidak selalu menunjukkan hasil yang benar-benar akan kamu terima. Misalnya, sebuah investasi naik 20% pada tahun pertama lalu turun 20% pada tahun kedua. Secara perhitungan rata-rata return-nya memang 0%.
Tetapi, jika modal awalnya Rp10 juta maka:
Tahun pertama: Rp10 juta × 1,20 = Rp12 juta
Tahun kedua: Rp12 juta × 0,80 = Rp9,6 juta
Nilai akhirnya justru turun 4% dari modal awal.
Hal Ini terjadi karena persentase kenaikan dan penurunan dihitung dari basis nilai yang berbeda. Untuk kembali dari Rp9,6 juta ke Rp10 juta, investasi perlu naik sekitar 4,17%.
Karena itu, saat melihat pertumbuhan investasi jangan hanya mengandalkan rata-rata perhitungan.
Besarnya naik-turun return dari waktu ke waktu ikut mempengaruhi hasil dari compounding.
Urutan return sendiri tidak mengubah nilai akhir jika tidak ada penambahan atau penarikan dana karena hasil perkaliannya tetap sama.
Menurut hasil riset Exponential Growth Bias and Household Finance menunjukkan bahwa orang cenderung menilai pertumbuhan eksponensial seperti pertumbuhan linear. Akibatnya, nilai masa depan investasi bisa diperkirakan terlalu rendah dan biaya pinjaman berbunga juga bisa disalahpahami.
Hal sebaliknya juga perlu dihindari saat menggunakan kalkulator compound interest.
Saat kamu memasukkan return historis 8% atau 10%. Bukan berarti investasi akan menghasilkan angka tersebut secara konsisten setiap tahun.
Untuk investasi pasar, lebih masuk akal menggunakan beberapa asumsi, seperti skenario konservatif, tengah dan optimistis. Dengan begitu, kamu bisa melihat bagaimana hasil akhirnya berubah ketika return tidak berjalan sesuai dengan perkiraan kamu.
4 Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Compounding
Keempat faktor ini menentukan seberapa cepat nilai investasi dapat bertumbuh dari waktu ke waktu.
1. Waktu
Semakin lama investasi berjalan maka semakin banyak kesempatan bagi hasil sebelumnya untuk ikut bertumbuh pada periode berikutnya. Tetapi, waktu saja tidak cukup.
Investasi yang terus merugi atau aset yang kualitasnya memburuk tidak menjadikannya lebih baik hanya karena telah disimpan lebih lama.
2. Return bersih
Yang benar-benar ikut bertumbuh adalah hasil setelah memperhitungkan biaya, pajak dan potongan lainnya. Selisih return bersih yang terlihat kecil setiap tahun bisa menghasilkan perbedaan nilai akhir yang cukup besar ketika berlangsung dalam jangka panjang.
3. Kontribusi rutin
Pada tahap awal, tambahan modal secara rutin sering memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan nilai investasi. Karena itu, compounding bukanlah pengganti kebiasaan menabung atau menambah investasi. Keduanya justru bisa bekerja bersama untuk memperbesar basis modal.
4. Reinvestasi
Efek compounding akan lebih terbatas jika seluruh hasil investasi selalu diambil. Ketika dividen atau hasil lainnya diinvestasikan kembali maka basis modal memiliki kesempatan untuk bertambah.
Meski begitu, reinvestasi tidak harus selalu dilakukan. Keputusannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan kamu misalnya karena dana, tujuan investasi, diversifikasi atau kualitas aset yang kamu miliki.
Biaya dan Inflasi Juga Ikut Terakumulasi
Compounding tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya return. Biaya dan inflasi juga ikut menentukan seberapa besar hasil yang benar-benar kamu rasakan dalam jangka panjang.
Investor.gov menjelaskan bahwa biaya investasi mengurangi return karena uang yang digunakan untuk membayar biaya tidak lagi berada di dalam portofolio untuk ikut bertumbuh.
Misalnya kamu melakukan sebuah investasi yang menghasilkan return kotor 8% per tahun sementara total biaya tahunannya sekitar 1%.
Artinya return setelah biaya menjadi sekitar 7% sebelum memperhitungkan pajak.
Selisih satu poin persentase mungkin terlihat kecil dalam satu tahun. Tetapi jika berlangsung selama bertahun-tahun perbedaannya akan ikut terakumulasi dan bisa menghasilkan nilai akhir yang cukup jauh.
Maka dari itu nilai Inflasi juga perlu diperhitungkan. Nilai Rp100 juta di masa depan belum tentu memiliki daya beli yang sama dengan Rp100 juta hari ini.
Karena itu kamu perlu membedakan beberapa angka berikut:
Nilai nominal: jumlah uang yang terlihat.
Nilai riil: nilai setelah memperhitungkan perubahan daya beli akibat inflasi.
Return kotor: hasil sebelum biaya, pajak dan potongan lain.
Return bersih: hasil setelah biaya dan potongan yang berlaku.
Perhatikan juga berapa banyak hasil yang tersisa setelah biaya dan seberapa besar apa daya belinya di masa depan.
Compound Growth Membutuhkan Waktu dan Konsistensi
Compound interest adalah proses ketika bunga dihitung dari modal awal dan bunga yang telah terkumpul.
Dalam investasi saham dan ETF, konsep yang lebih tepat adalah compound growth.
Nilai portofolio bisa bertumbuh ketika return dan dividen tetap diinvestasikan tetapi hasilnya tidak tetap dan dapat berubah menjadi kerugian.
Waktu mampu membantu karena memberi lebih banyak periode pertumbuhan. Namun, nilai akhir juga ditentukan oleh kontribusi, return bersih, biaya, inflasi, penarikan dan kualitas aset.
Gunakan simulasi compound interest untuk membuat rencana, bukan untuk menjanjikan hasil. Kamu bisa memantau saham AS melalui Gotrade dan menilai kembali portofolio sesuai tujuan, horizon, serta profil risiko.