Apa Itu Compound Interest dan Cara Kerjanya dalam Investasi

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Apa Itu Compound Interest dan Cara Kerjanya dalam Investasi

Modal Rp10 juta menghasilkan return 8% pada tahun pertama sehingga nilainya akan menjadi Rp10,8 juta.

Jika keuntungan Rp800 ribu tersebut tetap diinvestasikan perhitungan pada tahun berikutnya tidak lagi dimulai dari Rp10 juta tetapi dari Rp10,8 juta.

Artinya, hasil yang sudah diperoleh ikut menghasilkan pertumbuhan baru. Inilah dasar dari compound interest atau bunga majemuk.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Nilai investasi bisa bertumbuh dari modal awal sekaligus hasil yang terakumulasi dari periode sebelumnya. Tetapi, angka tersebut hanyalah contoh simulasi.

Pada tabungan berbunga tingkat bunga mengikuti ketentuan produk. Sementara pada saham, return dapat berbeda setiap tahun termasuk mengalami penurunan atau hasil negatif.

Yang Bertumbuh Bukan Hanya Modal Awal

Compound interest atau bunga majemuk adalah bunga yang dihitung dari modal awal dan bunga yang sudah terkumpul.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Investor.gov mendefinisikan nya sebagai bunga yang diperoleh dari pokok dan bunga yang telah terakumulasi. Konsepnya mudah yaitu ketika hasil investasi tidak diambil maka hasil tersebut ikut menjadi dasar perhitungan pada periode berikutnya.

Sebagai contoh modal awalnya adalah Rp10 juta yang menghasilkan pertumbuhan 8% per tahun.

Tahun

Nilai Awal

Pertumbuhan 8%

Nilai Akhir

1

Rp10.000.000

Rp800.000

Rp10.800.000

2

Rp10.800.000

Rp864.000

Rp11.664.000

3

Rp11.664.000

Rp933.120

Rp12.597.120

Pada tahun pertama, pertumbuhannya Rp800 ribu. Pada tahun ketiga, jumlahnya menjadi Rp933.120 meskipun tingkat pertumbuhan yang digunakan tetap 8%.

Perbedaan ini muncul karena nilai yang menjadi dasar perhitungan terus bertambah. Selama hasil sebelumnya tetap diinvestasikan pertumbuhan berikutnya ikut dihitung dari nilai yang sudah terakumulasi.

Kamu juga bisa mencoba sendiri bagaimana modal, tingkat pertumbuhan dan jangka waktu mempengaruhi hasil akhirnya melalui kalkulator compound interest di bawah ini.

Simple Interest dan Compound Interest Memberikan Hasil Berbeda

Simple interest atau bunga tunggal hanya menggunakan modal awal sebagai dasar perhitungan.

Sebagai contoh dengan modal Rp10 juta dan bunga 8% per tahun:

Bunga tahunan = Rp10 juta × 8% = Rp800 ribu

Lalu jika selama 10 tahun total bunga tunggalnya akan menjadi:

Rp800 ribu × 10 = Rp8 juta

Maka nilai akhirnya adalah:

Rp10 juta + Rp8 juta = Rp18 juta

Sedangkan pada compound interest bunga setiap tahun akan ditambahkan ke modal.

Maka dari itu dengan asumsi yang sama maka hasilnya adalah:

Rp10 juta × (1 + 8%)¹⁰ = sekitar Rp21,59 juta

Metode

Nilai Setelah 10 Tahun

Simple interest

Rp18 juta

Compound interest

Sekitar Rp21,59 juta

Selisihnya muncul karena compound interest menghasilkan pertumbuhan dari hasil periode sebelumnya.

Disclaimer: Pada contoh simulasi ini memakai return tetap tidak memasukkan biaya, pajak atau inflasi dan bukan proyeksi hasil investasi.

Rumus Compound Interest pada Frekuensinya

Untuk compounding satu kali per tahun rumusnya adalah:

FV = PV × (1 + r)ⁿ

Keterangan:

  • FV: nilai pada masa depan.

  • PV: modal awal.

  • r: tingkat bunga atau return per periode.

  • n: jumlah periode.

Jika bunga dihitung beberapa kali dalam satu tahun maka rumusnya menjadi:

FV = PV × (1 + r ÷ m)ᵐⁿ

Keterangan tambahan:

  • m: jumlah compounding dalam satu tahun.

Misalnya:

  • Tahunan: m = 1

  • Kuartalan: m = 4

  • Bulanan: m = 12

  • Harian: menggunakan jumlah hari sesuai ketentuan produk

Frekuensi yang lebih sering bisa menghasilkan nilai sedikit lebih tinggi jika tingkat nominalnya sama. Tetapi kamu harus selalu periksa apakah angka yang ditampilkan merupakan suku bunga nominal atau tingkat efektif tahunan.

Produk dengan bunga nominal sama belum tentu menghasilkan nilai akhir yang sama jika frekuensi dan biayanya berbeda.

Pada Saham Lebih Tepat Disebut Sebagai Compound Growth

Saham tidak memberikan bunga tetap seperti tabungan atau deposito.

Hasil investasinya berasal dari perubahan harga, dividen saham atau distribusi lain. Nilainya juga bisa turun ketika harga saham melemah.

Efek compounding muncul ketika hasil investasi tetap berada di dalam portofolio saham dan ikut menghasilkan pertumbuhan pada periode berikutnya.

Contohnya, saat perusahaan membagikan dividen tunai. Jika dividen tersebut digunakan untuk membeli saham tambahan, jumlah saham yang kamu miliki akan bertambah.

Tetapi jika perusahaan kembali membayar dividen dengan nilai per saham yang sama, jumlah dividen yang diterima juga bisa menjadi lebih besar karena kepemilikan saham kamu terus bertambah.

Proses ini dikenal sebagai dividend reinvestment. Meski begitu, reinvestasi tidak menjamin hasil yang akan terus meningkat. Saham tambahan dibeli pada harga pasar maka nilai dividen dapat berubah dan harga saham tetap bisa turun.

Karena return saham tidak tetap istilah compound growth atau compounding return jauh lebih tepat daripada menganggap saham menghasilkan bunga majemuk dengan tingkat yang pasti.

Return Rata-Rata Bisa Memberikan Gambaran Hasil yang Keliru

Rata-rata return tidak selalu menunjukkan hasil yang benar-benar akan kamu terima. Misalnya, sebuah investasi naik 20% pada tahun pertama lalu turun 20% pada tahun kedua. Secara perhitungan rata-rata return-nya memang 0%.

Tetapi, jika modal awalnya Rp10 juta maka:

Tahun pertama: Rp10 juta × 1,20 = Rp12 juta

Tahun kedua: Rp12 juta × 0,80 = Rp9,6 juta

Nilai akhirnya justru turun 4% dari modal awal.

Hal Ini terjadi karena persentase kenaikan dan penurunan dihitung dari basis nilai yang berbeda. Untuk kembali dari Rp9,6 juta ke Rp10 juta, investasi perlu naik sekitar 4,17%.

Karena itu, saat melihat pertumbuhan investasi jangan hanya mengandalkan rata-rata perhitungan.

Besarnya naik-turun return dari waktu ke waktu ikut mempengaruhi hasil dari compounding.

Urutan return sendiri tidak mengubah nilai akhir jika tidak ada penambahan atau penarikan dana karena hasil perkaliannya tetap sama.

Menurut hasil riset Exponential Growth Bias and Household Finance menunjukkan bahwa orang cenderung menilai pertumbuhan eksponensial seperti pertumbuhan linear. Akibatnya, nilai masa depan investasi bisa diperkirakan terlalu rendah dan biaya pinjaman berbunga juga bisa disalahpahami.

Hal sebaliknya juga perlu dihindari saat menggunakan kalkulator compound interest.

Saat kamu memasukkan return historis 8% atau 10%. Bukan berarti investasi akan menghasilkan angka tersebut secara konsisten setiap tahun.

Untuk investasi pasar, lebih masuk akal menggunakan beberapa asumsi, seperti skenario konservatif, tengah dan optimistis. Dengan begitu, kamu bisa melihat bagaimana hasil akhirnya berubah ketika return tidak berjalan sesuai dengan perkiraan kamu.

4 Faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Compounding

Keempat faktor ini menentukan seberapa cepat nilai investasi dapat bertumbuh dari waktu ke waktu.

1. Waktu

Semakin lama investasi berjalan maka semakin banyak kesempatan bagi hasil sebelumnya untuk ikut bertumbuh pada periode berikutnya. Tetapi, waktu saja tidak cukup.

Investasi yang terus merugi atau aset yang kualitasnya memburuk tidak menjadikannya lebih baik hanya karena telah disimpan lebih lama.

2. Return bersih

Yang benar-benar ikut bertumbuh adalah hasil setelah memperhitungkan biaya, pajak dan potongan lainnya. Selisih return bersih yang terlihat kecil setiap tahun bisa menghasilkan perbedaan nilai akhir yang cukup besar ketika berlangsung dalam jangka panjang.

3. Kontribusi rutin

Pada tahap awal, tambahan modal secara rutin sering memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan nilai investasi. Karena itu, compounding bukanlah pengganti kebiasaan menabung atau menambah investasi. Keduanya justru bisa bekerja bersama untuk memperbesar basis modal.

4. Reinvestasi

Efek compounding akan lebih terbatas jika seluruh hasil investasi selalu diambil. Ketika dividen atau hasil lainnya diinvestasikan kembali maka basis modal memiliki kesempatan untuk bertambah.

Meski begitu, reinvestasi tidak harus selalu dilakukan. Keputusannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan kamu misalnya karena dana, tujuan investasi, diversifikasi atau kualitas aset yang kamu miliki.

Biaya dan Inflasi Juga Ikut Terakumulasi

Compounding tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya return. Biaya dan inflasi juga ikut menentukan seberapa besar hasil yang benar-benar kamu rasakan dalam jangka panjang.

Investor.gov menjelaskan bahwa biaya investasi mengurangi return karena uang yang digunakan untuk membayar biaya tidak lagi berada di dalam portofolio untuk ikut bertumbuh.

Misalnya kamu melakukan sebuah investasi yang menghasilkan return kotor 8% per tahun sementara total biaya tahunannya sekitar 1%.

Artinya return setelah biaya menjadi sekitar 7% sebelum memperhitungkan pajak.

Selisih satu poin persentase mungkin terlihat kecil dalam satu tahun. Tetapi jika berlangsung selama bertahun-tahun perbedaannya akan ikut terakumulasi dan bisa menghasilkan nilai akhir yang cukup jauh.

Maka dari itu nilai Inflasi juga perlu diperhitungkan. Nilai Rp100 juta di masa depan belum tentu memiliki daya beli yang sama dengan Rp100 juta hari ini.

Karena itu kamu perlu membedakan beberapa angka berikut:

  • Nilai nominal: jumlah uang yang terlihat.

  • Nilai riil: nilai setelah memperhitungkan perubahan daya beli akibat inflasi.

  • Return kotor: hasil sebelum biaya, pajak dan potongan lain.

  • Return bersih: hasil setelah biaya dan potongan yang berlaku.

Perhatikan juga berapa banyak hasil yang tersisa setelah biaya dan seberapa besar apa daya belinya di masa depan.

Compound Growth Membutuhkan Waktu dan Konsistensi

Compound interest adalah proses ketika bunga dihitung dari modal awal dan bunga yang telah terkumpul.

Dalam investasi saham dan ETF, konsep yang lebih tepat adalah compound growth.

Nilai portofolio bisa bertumbuh ketika return dan dividen tetap diinvestasikan tetapi hasilnya tidak tetap dan dapat berubah menjadi kerugian.

Waktu mampu membantu karena memberi lebih banyak periode pertumbuhan. Namun, nilai akhir juga ditentukan oleh kontribusi, return bersih, biaya, inflasi, penarikan dan kualitas aset.

Gunakan simulasi compound interest untuk membuat rencana, bukan untuk menjanjikan hasil. Kamu bisa memantau saham AS melalui Gotrade dan menilai kembali portofolio sesuai tujuan, horizon, serta profil risiko.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade