Saham Pertama untuk Investor Pemula: Pilihan yang Lebih Stabil untuk Dipelajari

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Saham Pertama untuk Investor Pemula: Pilihan yang Lebih Stabil untuk Dipelajari

Memilih saham pertama sering terasa membingungkan. Pilihannya banyak, sementara media sosial hampir setiap hari membahas ticker yang berbeda.

Wajar.

Namun, kamu tidak perlu mencari saham yang “pasti naik”. Instrumen seperti itu memang tidak ada. Untuk tahap awal, lebih masuk akal memilih saham atau ETF yang bisa dipelajari, sesuai dengan tujuanmu, dan tidak membuat seluruh dana bergantung pada satu keputusan.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Artikel ini juga tidak akan memberikan satu ticker yang cocok untuk semua orang. Fokusnya adalah membantu kamu menyusun pertimbangan sebelum mulai.

Sebelum Memilih Saham, Cek Kondisi Keuanganmu

Saham yang bagus pun bisa menjadi pilihan yang kurang tepat kalau uangnya akan segera dipakai. Jadi, jangan mulai dari grafik harga dulu.

Cek sumber dananya.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Apakah dana darurat sudah tersedia? Apakah ada kebutuhan besar dalam beberapa bulan ke depan? Lalu, apa yang terjadi jika nilai investasi turun saat uang tersebut sedang dibutuhkan?

Harga saham dapat turun dan bertahan di bawah harga beli untuk waktu yang tidak bisa dipastikan. Karena itu, hindari memakai uang sewa, biaya hidup, dana pendidikan, atau dana untuk kebutuhan dekat.

Beberapa pertanyaan berikut bisa membantu:

  1. Apa tujuan saya membeli saham?

  2. Berapa lama dana ini bisa disimpan?

  3. Apakah kebutuhan utama sudah aman?

  4. Seberapa besar kerugian yang masih bisa saya tanggung?

  5. Apakah penurunan harga akan membuat saya terpaksa menjual?

Menurut FINRA dalam panduan mengenai risiko investasi, risiko tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Alokasi aset dan diversifikasi dapat membantu mengelolanya, tetapi hasilnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan instrumen yang dipilih.

Belum siap bukan masalah. Kamu masih bisa membuat watchlist, membaca laporan perusahaan, atau mengamati harga tanpa langsung membeli.

Pasar akan tetap ada besok.

Kenapa Saham Pertama Sebaiknya Mudah Dipahami?

Tujuannya sederhana: kamu perlu tahu apa yang sedang dimiliki.

Kamu tidak harus menjadi ahli industri. Namun, setidaknya pahami produk yang dijual perusahaan, sumber pendapatannya, siapa pelanggannya, dan risiko apa yang bisa mengganggu bisnis tersebut.

Bayangkan kamu membeli sebuah saham hanya karena sedang naik. Seminggu kemudian harganya turun 15%.

Apa yang akan kamu lakukan?

Tanpa alasan pembelian yang jelas, biasanya sulit membedakan antara penurunan biasa dan masalah serius pada bisnis. Keputusan pun lebih mudah dipengaruhi rasa panik.

Sebelum membeli saham, coba cari jawaban atas pertanyaan berikut:

  • Bagaimana perusahaan menghasilkan uang?

  • Apakah pendapatan dan labanya bertumbuh?

  • Bagaimana kondisi arus kas dan utangnya?

  • Siapa pesaing utamanya?

  • Apakah bisnis bergantung pada satu produk?

  • Risiko apa yang dijelaskan oleh manajemen?

  • Apakah harga sahamnya masih masuk akal dibandingkan kinerjanya?

Untuk perusahaan publik AS, laporan tahunan 10-K, laporan kuartalan 10-Q, dan laporan peristiwa penting 8-K dapat dicari melalui sistem EDGAR milik SEC. Mulailah dari bagian deskripsi bisnis, faktor risiko, laporan keuangan, dan penjelasan manajemen. Tidak perlu membaca ratusan halaman sekaligus.

Sedikit demi sedikit sudah cukup.

Tiga Jenis Instrumen yang Bisa Mulai Dipelajari

Tidak ada kategori yang otomatis paling aman untuk investor pemula. Meski begitu, tiga pilihan berikut cukup sering digunakan sebagai bahan belajar karena karakteristiknya relatif mudah dibandingkan.

1. ETF yang mengikuti indeks pasar luas

ETF memungkinkan kamu memperoleh eksposur ke sekumpulan aset melalui satu instrumen. Isinya bisa puluhan, ratusan, bahkan ribuan saham.

SPY dan VOO, misalnya, sama-sama mengikuti S&P 500. Menurut S&P Dow Jones Indices, indeks tersebut mencakup 500 perusahaan besar dan mewakili sekitar 80% kapitalisasi pasar saham AS yang tersedia.

Keduanya diterbitkan oleh pengelola yang berbeda. Detail mengenai tujuan, biaya, kepemilikan, dan risiko dapat diperiksa langsung pada halaman resmi SPY dari State Street serta VOO dari Vanguard.

Keunggulannya cukup jelas. Kinerja investasi tidak hanya bergantung pada satu perusahaan.

Jika salah satu saham di dalam indeks turun, dampaknya terhadap keseluruhan ETF biasanya lebih terbatas dibandingkan jika seluruh dana ditempatkan pada saham tersebut. Namun, ETF pasar luas tetap bisa turun ketika pasar secara keseluruhan melemah.

Diversifikasi membantu mengelola risiko. Bukan menghapusnya.

2. ETF dengan fokus yang lebih khusus

Nama produknya sama-sama ETF, tetapi isinya bisa sangat berbeda.

Invesco QQQ mengikuti Nasdaq-100, yaitu indeks yang mencakup 100 perusahaan nonkeuangan terbesar yang tercatat di Nasdaq. Karena bobotnya cukup besar pada perusahaan teknologi dan bisnis bertema pertumbuhan, pergerakannya dapat lebih terkonsentrasi daripada ETF pasar luas.

Lain lagi dengan SCHD dari Schwab. ETF ini mengikuti Dow Jones U.S. Dividend 100 Index dan berfokus pada perusahaan yang lolos kriteria tertentu terkait saham dividen.

Jadi, QQQ dan SCHD tidak tepat jika disebut sebagai broad-market ETF.

Keduanya juga tidak otomatis lebih aman atau lebih bagus. Tujuannya berbeda. Komposisinya pun berbeda.

Sebelum membeli ETF, buka halaman resminya dan periksa:

  • Indeks yang diikuti

  • Jumlah kepemilikan

  • Saham dengan bobot terbesar

  • Konsentrasi sektor

  • Expense ratio

  • Jadwal perubahan komposisi

  • Risiko utama produk

Jangan hanya melihat grafik lima tahun terakhir. Kinerja masa lalu tidak menjelaskan seluruh risiko yang mungkin muncul berikutnya.

3. Saham perusahaan mapan yang bisnisnya dikenal

Apple, Microsoft, Coca-Cola, dan Walmart sering muncul dalam materi edukasi investasi. Alasannya cukup masuk akal. Produknya dikenal, laporan keuangannya tersedia, dan informasi mengenai bisnisnya relatif mudah ditemukan.

Tetapi nama besar bukan perlindungan.

Perusahaan mapan masih dapat menghadapi pertumbuhan yang melambat, regulasi, perubahan teknologi, masalah manajemen, atau persaingan baru. Harga sahamnya juga bisa terlalu tinggi dibandingkan potensi laba yang diperkirakan.

Karena itu, jangan berhenti pada kalimat, “Perusahaannya bagus.”

Pertanyaan berikutnya adalah: bagus pada harga berapa?

Sebuah perusahaan dapat memiliki bisnis yang kuat, tetapi sahamnya tetap berisiko ketika valuasinya sudah mencerminkan ekspektasi yang terlalu tinggi. Sebaliknya, harga yang turun belum tentu langsung membuat sahamnya murah. Bisa saja proyeksi labanya ikut menurun.

Nama perusahaan yang disebutkan di bagian ini hanya contoh untuk dipelajari, bukan rekomendasi membeli.

Saham atau ETF, Mana yang Lebih Cocok?

Jawabannya tergantung pada pengalaman belajar yang kamu cari. Keduanya punya fungsi yang berbeda.

Aspek

Satu Saham

ETF

Sumber kinerja

Satu perusahaan

Sekumpulan aset

Risiko perusahaan

Lebih terkonsentrasi

Lebih tersebar, tergantung isi ETF

Hal yang dianalisis

Bisnis dan valuasi perusahaan

Indeks, kepemilikan, biaya, serta strategi

Diversifikasi

Perlu beberapa aset

Bisa diperoleh lewat satu ETF

Biaya pengelolaan

Tidak memiliki expense ratio

Umumnya memiliki expense ratio

Potensi belajar

Mendalami satu bisnis

Memahami pasar atau strategi tertentu

ETF pasar luas dapat terasa lebih sederhana bagi orang yang belum ingin memilih perusahaan satu per satu. Sementara itu, satu saham bisa membantu kamu belajar membaca laporan keuangan dan memahami hubungan antara bisnis dengan harga pasar.

Tidak ada jawaban yang berlaku universal.

Yang perlu dihindari adalah dua anggapan ini: ETF selalu aman dan saham perusahaan besar pasti stabil. Keduanya keliru.

Checklist Sebelum Membeli Instrumen Pertama

Keputusan investasi yang baik tidak selalu dimulai dari jawaban. Sering kali, semuanya dimulai dari pertanyaan yang tepat.

1. Apa yang sebenarnya saya beli?

Kalau saham, pahami bisnis perusahaannya. Kalau ETF, lihat indeks, isi portofolio, dan cara produk tersebut dikelola.

Jangan puas hanya karena namanya terkenal.

2. Mengapa saya tertarik?

Coba tulis alasannya dalam satu atau dua kalimat.

“Sedang viral” bukan tesis investasi. Begitu juga dengan “katanya bakal naik”.

Alasan yang lebih jelas bisa berupa pertumbuhan bisnis, kekuatan neraca, eksposur indeks, atau kesesuaian instrumen dengan tujuan jangka panjang. Tetap saja, semuanya perlu diperiksa.

3. Kapan dana ini akan dibutuhkan?

Semakin dekat kebutuhan dananya, semakin kecil ruang untuk menghadapi penurunan pasar.

Saham lebih sesuai untuk dana yang memiliki waktu cukup panjang. Namun, horizon panjang pun tidak menjamin keuntungan.

4. Apa risiko terbesarnya?

Risiko setiap instrumen berbeda. Ada yang sensitif terhadap suku bunga, harga komoditas, perubahan teknologi, regulasi, atau konsumsi masyarakat.

Pada ETF, periksa juga konsentrasi sektor dan kepemilikan teratasnya.

5. Berapa besar porsinya?

Nominalnya mungkin terlihat kecil. Persentasenya belum tentu.

Investasi sebesar US$100 dapat dianggap kecil untuk satu orang, tetapi sangat besar jika itu merupakan seluruh dana investasinya. Ukuran posisi perlu dilihat dalam konteks portofolio dan kondisi keuangan masing-masing.

6. Apa rencananya kalau harga turun?

Tidak perlu memakai satu batas penurunan yang sama untuk semua investor.

Pertanyaan utamanya adalah apakah kamu memahami penyebab penurunan tersebut dan masih bisa memegang investasinya tanpa mengganggu kebutuhan utama. Hindari keputusan otomatis seperti selalu menjual saat turun 10% atau selalu membeli lagi karena harganya terlihat murah.

7. Sudahkah saya menghitung biaya dan kurs?

Untuk investor Indonesia, hasil saham AS tidak hanya dipengaruhi pergerakan harga dalam dolar.

Ada kurs USD/IDR, biaya transaksi, spread konversi mata uang, pajak yang relevan, serta expense ratio untuk ETF. Angkanya mungkin terlihat kecil, tetapi tetap memengaruhi hasil bersih.

Baca juga: 8 Cara Mulai Main Investasi Saham Online Pemula 2026, Modal Kecil tetap Cuan

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memulai

Hampir semua investor pernah membuat kesalahan. Yang penting, jangan sampai kesalahan sederhana menghabiskan terlalu banyak modal.

1. Membeli setelah sahamnya ramai

Popularitas sering datang setelah harga naik cukup jauh. Pada titik itu, ekspektasi pasar mungkin sudah tinggi.

Cari tahu apa yang membuat saham tersebut ramai. Apakah ada perubahan nyata pada bisnis, atau hanya momentum sesaat?

2. Menaruh seluruh dana pada satu pilihan

Satu perusahaan bisa mengalami masalah yang tidak dialami pasar secara keseluruhan. Itulah risiko konsentrasi.

Diversifikasi dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu perusahaan atau sektor, tetapi portofolio yang terdiversifikasi tetap dapat merugi ketika pasar turun. FINRA juga menekankan bahwa diversifikasi adalah cara mengelola risiko, bukan jaminan perlindungan modal.

3. Mengira harga per lembar menunjukkan murah atau mahal

Saham seharga US$10 tidak otomatis lebih murah daripada saham seharga US$200.

Lihat kapitalisasi pasar, laba, pertumbuhan, jumlah saham beredar, dan valuasinya. Harga per lembar hanya satu angka.

4. Membeli ETF tanpa membuka isinya

Dua ETF dapat memiliki nama mirip, tetapi strategi dan risikonya jauh berbeda.

Cek sepuluh kepemilikan terbesar. Lihat juga sektor dominannya. Langkah sederhana ini sering memberi gambaran yang lebih jelas daripada membaca deskripsi promosinya saja.

5. Mengharapkan hasil cepat

Harga saham tidak wajib bergerak sesuai analisismu, apalagi dalam waktu singkat.

Ada kalanya bisnis berkembang, tetapi harga saham belum naik. Ada juga saham yang melesat meski kondisi bisnisnya belum banyak berubah.

Fokus pada bagian yang bisa dikendalikan: riset, ukuran posisi, biaya, diversifikasi, dan disiplin memakai dana investasi.

6. Menyalin keputusan investor lain

Orang lain mungkin memiliki modal lebih besar, akses informasi berbeda, atau jangka waktu yang tidak sama denganmu.

Portofolionya juga bisa hanya sebagian kecil dari kekayaan mereka. Kamu belum tentu tahu konteks lengkapnya.

Pendapat orang lain boleh dijadikan bahan belajar. Jangan dijadikan pengganti analisis.

Kesimpulan

Saham pertama bukan ujian untuk menemukan ticker terbaik. Ini lebih tentang membangun proses.

ETF pasar luas dapat membantu kamu mempelajari diversifikasi. ETF dengan fokus tertentu memberi eksposur yang lebih spesifik, tetapi risikonya perlu dibaca lebih dalam. Sementara itu, saham perusahaan mapan bisa menjadi bahan belajar yang menarik selama kamu tetap memperhatikan bisnis, valuasi, dan kondisi keuangannya.

Mulai saja pelan-pelan. Tidak perlu mengejar pasar.

Gunakan dana yang memang disiapkan untuk investasi dan pilih nominal yang masih nyaman jika nilainya turun. Pengalaman pertama sebaiknya membantumu memahami cara pasar bekerja, bukan membuat kondisi keuangan menjadi tertekan.

Melalui Gotrade Indonesia, kamu dapat mempelajari lebih dari 600 saham AS dan mengakses produk pecahan saham mulai dari US$1 sesuai ketentuan platform. Nominal awal yang kecil tidak mengurangi risiko investasinya, jadi tetap periksa karakteristik produk, biaya, legalitas, dan risiko kurs sebelum bertransaksi.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade