Menurut FINRA sekuritas dengan volume tinggi umumnya memiliki likuiditas yang lebih besar tetapi spread kecil tidak memberikan gambaran lengkap karena jumlah pelaku serta order yang tersedia pada berbagai harga ikut menentukan likuiditas.
Likuiditas tidak hanya bisa dilihat dari satu indikator. Ada beberapa aspek yang membantu menunjukkan seberapa mudah sebuah saham diperdagangkan dan seberapa besar dampak ordernya terhadap harga.
Aspek | Yang Perlu Dilihat |
Volume | Seberapa banyak saham yang diperdagangkan dalam periode tertentu? |
Dollar volume | Berapa besar nilai transaksi yang terjadi? |
Bid-ask spread | Seberapa lebar jarak antara harga bid dan ask terbaik? |
Market depth | Berapa banyak saham yang tersedia pada beberapa level harga? |
Price impact | Seberapa besar harga berubah ketika order masuk? |
Eksekusi | Apakah order dapat terisi penuh mendekati harga yang diharapkan? |
Semakin baik likuiditasnya biasanya akan semakin mudah sebuah order dieksekusi tanpa membuat harganya bergerak terlalu jauh.
Tetapi, masing-masing indikator masih perlu dibaca bersama karena volume tinggi saja belum tentu spreadnya keciil dan market depthnya besar.
Likuiditas Selalu Bergantung pada Ukuran Order
Saham bukan hanya tentang “likuid” atau “tidak likuid”.
Likuiditas juga bergantung pada seberapa besar ukuran order yang ingin kamu transaksikan dibandingkan dengan jumlah saham yang tersedia di pasar.
Misalnya pada harga ask US$100 tersedia 5.000 saham.
Bagi investor yang ingin membeli 10 saham dalam jumlah tersebut relatif besar dibandingkan ukuran ordernya. Tetapi, bagi institusi yang ingin membeli 500.000 saham kondisi likuiditasnya tentu berbeda.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Apakah saham ini likuid?”
Tetapi:
“Apakah saham ini cukup likuid untuk ukuran order saya?”
Menurut penelitian berjudul market liquidity kedalaman pasar berkaitan dengan seberapa sensitif harga terhadap order flow. Semakin besar tekanan transaksi dibandingkan likuiditas yang tersedia maka semakin besar pula potensi dampaknya terhadap harga.
Volume Besar Belum Tentu Berarti Price Impact Kecil
Ada alasan akademis mengapa volume saja tidak cukup untuk menilai likuiditas. Menurut penelitian Illiquidity and Stock Returns: Cross-Section and Time-Series Effects ukuran illiquidity digunakan pada hubungan absolute return dan dollar volume. Artinya ukuran tersebut melihat seberapa besar harga berubah dibandingkan dengan nilai perdagangan yang terjadi.
Misalnya:
Saham A dan B sama-sama memiliki dollar volume sebesar US$100 juta.
Namun:
Saham A bergerak 0,5%.
Saham B bergerak 8%.
Kamu belum bisa menyimpulkan penyebabnya hanya dari data tersebut. Tetapi turnover yang sama tidak selalu menghasilkan dampak harga yang sama. Hal ini membantu menjelaskan mengapa likuiditas bersifat multidimensi.
Volume menjawab seberapa aktif transaksi terjadi dan price impact menjawab seberapa mudah pasar menyerap aktivitas tersebut.
Likuiditas Bisa Berubah Sepanjang Hari
Saham yang biasanya aktif diperdagangkan belum tentu memiliki tingkat likuiditas yang sama setiap saat.
Kondisinya bisa berubah mengikuti jam perdagangan, earnings, berita perusahaan, data ekonomi, volatilitas pasar, trading halt serta perubahan permintaan dan penawaran.
Perbedaan antara sesi reguler dan extended hours menjadi salah satu contoh yang paling mudah dilihat.
Menurut FINRA, perdagangan pada extended hours bisa memiliki likuiditas yang lebih rendah dan volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan sesi reguler.
Dalam kondisi ini, order bisa hanya terisi sebagian, tidak terisi sama sekali atau mendapatkan harga yang kurang menguntungkan.
Artinya, average volume historis yang tinggi belum tentu menjamin spread tetap kecil atau likuiditas tetap besar ketika kamu bertransaksi di luar jam reguler. Kondisi pasar bisa berubah dengan cepat terutama ketika informasi baru baru saja dirilis.
Saham Likuid Belum Tentu Memiliki Fundamental yang Baik
Likuiditas, fundamental dan valuasi menjawab pertanyaan yang berbeda.
Likuiditas membantu melihat seberapa mudah saham dibeli atau dijual tanpa membuat harga bergerak terlalu jauh.
Fundamental membantu menilai bagaimana kondisi bisnis perusahaan.
Valuasi membantu melihat berapa harga yang dibayar dibandingkan dengan kinerja dan prospek bisnis tersebut.
Karena itu, saham yang sangat likuid belum tentu menjadi saham yang menarik secara fundamental. Perusahaan bisa saja aktif diperdagangkan tetapi memiliki valuasi tinggi, laba yang menurun, utang bertambah atau bisnis yang mulai kehilangan daya saing.
Sebaliknya, perusahaan kecil dengan likuiditas rendah juga bukan berarti memiliki fundamental yang buruk.
Tantangannya lebih banyak berada pada proses transaksi seperti spread yang lebih lebar, antrean yang tipis atau risiko harga yang bergerak ketika order berukuran besar masuk.
Jadi, kamu bisa gunakan likuiditas untuk menilai kualitas eksekusi transaksi bukan sebagai pengganti analisis fundamental dan valuasi.
Cara Mengecek Likuiditas Sebelum Transaksi
Daripada mengandalkan satu indikator kamu bisa gunakan beberapa pengecekan berikut ini sebelum memasukkan order.
1. Periksa volume dan dollar volume
Lihat average volume selama beberapa minggu atau bulan bukannya hanya volume hari ini. Kamu juga bisa menghitung dollar volume dengan rumus berikut ini:
Harga × Average Volume
Angka ini membantu membandingkan aktivitas transaksi antar saham dengan harga yang berbeda.
2. Cek bid-ask spread
Kamu perlu perhatikan kembali jarak antara harga bid dan ask. Jika membandingkan beberapa saham kamu bisa gunakan juga spread percentage agar hasilnya lebih sebanding.
3. Bandingkan market depth dengan ukuran order
Jangan hanya melihat harga terbaik. Periksa juga berapa banyak saham yang tersedia pada harga tersebut dan beberapa level berikutnya.
Jika kamu ingin membeli 5.000 saham sementara hanya 100 saham tersedia pada harga terbaik maka sebagian order bisa tereksekusi pada harga yang berbeda dari yang kamu inginkan.
4. Perhatikan sesi perdagangan
Likuiditas mampu berubah sepanjang hari. Sesi reguler biasanya memiliki kondisi berbeda dibandingkan pre-market atau after-hours baik dari sisi volume, spread maupun kedalaman pasar.
5. Pilih jenis order sesuai kondisi
Market order memprioritaskan eksekusi tetapi tidak menjamin pada harga tertentu. Sementara limit order membantu membatasi harga transaksi tetapi order belum tentu akan terisi seluruhnya.
Contoh Membandingkan Likuiditas Dua Saham
Sebagai contoh ada dua saham dengan karakteristik sebagai berikut:
Data | Saham A | Saham B |
Harga | US$10 | US$100 |
Average volume | 2 juta | 500 ribu |
Dollar volume | US$20 juta | US$50 juta |
Bid | US$9,90 | US$99,98 |
Ask | US$10,10 | US$100,02 |
Spread | US$0,20 | US$0,04 |
Spread percentage | sekitar 2% | sekitar 0,04% |
Ask size | 200 | 5.000 |
Jika hanya melihat average volume maka saham A terlihat lebih aktif karena jumlah saham yang diperdagangkan jauh lebih besar.
Tetapi saat diperhatikan lagi saham B memiliki dollar volume lebih tinggi, spread yang jauh lebih kecil dan jumlah saham yang tersedia pada harga ask lebih besar.
Untuk ukuran order tertentu, kondisi ini bisa membuat eksekusinya lebih efisien.
Contoh ini menunjukkan bahwa volume saja belum cukup untuk menilai likuiditas. Dollar volume, bid-ask spread, market depth dan ukuran order juga perlu dilihat secara bersamaan.
Risiko Saham dengan Likuiditas Rendah
Likuiditas rendah tidak berarti harga saham pasti turun. Risikonya lebih banyak berkaitan dengan proses transaksi dan kualitas eksekusi order.
1. Sulit mendapat harga yang diinginkan
Kamu mungkin tetap bisa membeli atau menjual saham tetapi hal ini tidak akan selalu sesuai dengan harga yang terlihat di layar. Spread yang lebar dan antrean yang tipis bisa membuat harga eksekusi berbeda dari ekspektasi.
2. Slippage dan price impact lebih besar
Order yang cukup besar dibandingkan likuiditas tersedia bisa menyentuh beberapa level harga. Akibatnya, rata-rata harga eksekusi bisa bergerak menjauh dari harga awal yang kamu lihat.
3. Order bisa hanya terisi sebagian
Jika jumlah saham yang tersedia terbatas maka hanya akan ada sebagian order yang mungkin tereksekusi. Sisanya tetap bisa menunggu atau tidak terisi bergantung pada jenis order dan kondisi pasar.
Ketika volatilitas meningkat atau muncul berita besar order yang sebelumnya terlihat pada order book bisa berubah atau dibatalkan. Kondisi ini bisa membuat spread semakin melebar dan proses keluar dari posisi menjadi lebih sulit.
Cek Likuiditas Berdasarkan Ukuran Ordermu
Likuiditas membantu kamu menilai seberapa mudah sebuah saham ditransaksikan tanpa membuat harga eksekusi bergerak terlalu jauh. Volume bisa menjadi titik awal tetapi sebaiknya tidak kamu gunakan sendirian.
Periksa juga dollar volume untuk melihat nilai transaksi lalu lihat bid-ask spread dan market depth untuk memahami harga serta jumlah saham yang tersedia.
Setelah itu, baru kamu bisa bandingkan kondisi tersebut dengan ukuran order yang ingin kamu masukkan.
Saham yang cukup likuid untuk pembelian 10 saham belum tentu memberikan kualitas eksekusi yang sama ketika ukuran order jauh lebih besar.
Semakin besar order dibandingkan likuiditas yang tersedia maka semakin penting untuk memperhatikan risiko slippage, partial fill dan price impact. Karena itu, kamu bisa gunakan likuiditas untuk menilai kondisi transaksi dan tetap melakukan analisis bisnis dan risiko secara terpisah.
Melalui Gotrade, kamu bisa memantau saham AS dan mengecek kondisi harga sebelum memasukkan order. Sesuaikan ukuran transaksi dengan strategi, kebutuhan dan profil risiko kamu.
Disclaimer: Kinerja di masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Likuiditas bisa berubah dan harga eksekusi aktual bisa berbeda dari harga yang terlihat saat order dimasukkan. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.