Rebound saham adalah salah satu fenomena saat saham yang telah mengalami penurunan (bearish) menunjukan kembali momentum kenaikan. Hal tersebut menjadi peluang menarik investor untuk meraih keuntungan saat dimanfaatkan dengan tepat.
Harga saham tidak melulu bergerak searah. Maknaya, penting bagi investor memahami kapan waktu yang tepat memanfaatkan rebound supaya meminimalisir kerugian dan mengambil keputusan investasi.
Makna Rebound di Pasar Saham
Suatu saham yang tengah mengalami tren penurunan (downtrend) tidak akan selamanya ada di kondisi ini. Dalam hal ini, rebound saham merujuk pada kembalinya pasar ke tren naik periode penurunan tajam.
Dikutip dari ebook Smart Trader Rich Investor oleh Ellen May, pada titik tertentu harga berpotensi mengalami teknikal rebound saham, yaitu kenaikan harga yang sifatnya sementara setelah terjadi penurunan yang cukup signifikan.
Untuk gambaran alurnya: Saat harga saham terus-menerus turun (garis abu-abu), pasar dalam kondisi downtrend. Di posisi tersebut, kadang harga bisa tiba-tiba naik sebentar walaupun trennya masih negatif.
Kenaikan yang sebentar itu yang dinamakan technical rebound atau ibarat "napas sejenak" sebelum harga melanjutkan arahnya. Ada kemungkinan yang bisa terjadi dari titik rebound saham ini.
Harga kembali turun, yakni rebound hanya sementara, dan tren turun berlanjut seperti sebelumnya.
Harga berbalik arah, rebound berubah jadi awal dari tren naik (uptrend) dengan lebih tahan lama.
Apa itu Potensi Rebound Saham?
Dalam The Journal of Finance bertajuk ‘Does the Stock Market Overreact?’ yang dilakukan De Bondt dan Thaler (1985), menyebut bahwa portofolio saham yang paling merosot selama 3 sampai 5 tahun justru condong mengungguli saham yang sebelumnya paling naik pada periode selanjutnya.
Hal tadi menjadi bukti kalau pasar bisa bereaksi berlebihan sehingga harga kemudian berbalik. Bukan sinyal harian, tapi itu jadi tanda efek rata-rata jangka panjang lintas banyak saham.
Masalahnya, kalau rebound baru terjadi, investor belum bisa langsung tahu mana dari dua kemungkinan itu yang akan terjadi. Leh sebab itu, rebound disebut juga sebagai "titik keputusan" bukan sinyal beli ynag pasti sehingga perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Waktu Kapan Rebound Dilakukan
Adanya pergerakan harga saham setelah penurunan tajam tidak selalu bisa diprediksi secara pasti. Oleh sebab itu, menentukan waktu yang tepat melakukan rebound tidaklah gampang. Namun, beberapa penelitian akademis telah mencoba mengungkap pola di balik fenomena ini.
Bremer dan Sweeney (1991) dalam The Journal of Finance The Reversal of Large Stock-Price Decreases, menemukan saham yang mengalami penurunan tajam dalam satu hari (penurunan 10 persen atau lebih) secara rata-rata mencatat imbal hasil positif pada hari-hari berikutnya, sebuah pola rebound yang tetap terlihat bahkan pada saham berkapitalisasi besar.
Hasil studi tadi menunjukkan bahwa momen setelah penurunan tajam bisa menjadi titik potensial untuk terjadinya rebound. Meski demikian, agar keputusan investasi tidak hanya bersandar pada asumsi historis. Perlu adanya indikator teknikal yang lebih nyata untuk membuktikan apakah momentum pembalikan arah memang sedang terjadi.
Tips dan Strategi Melihat Sinyal Saham yang Berpotensi Rebound
Saham yang sedang tertekan bukan harus dihindari sepenuhnya. Dengan pendekatan yang tepat, saham beaten-down bisa menjadi peluang investasi menguntungkan.
Simak tips-tips mengenali sinyal saham rebound di bawah ini dirangkum dari Investopedia:
1. Asumsikan Berita Buruk Belum Berakhir
Jangan buru-buru masuk saat harga baru turun 25–30%, karena penurunan bisa saja berlanjut. Patikan kamu memilih saham dengan valuasi terdiskon dari fundamentalnya.
2. Cari Tahu Secara Rutin Laporan Keuangan
Hal ini bisa dilakukan dengan melihat arus kas, peringkat kredit, beban utang, kondisi neraca, bahkan ke potensi masalah hukum (yang sekiranya akan membebani kinerja saham di kemudian hari).
3. Ikuti Tren Harga Saham
Cek pola pergerakan harga saat berita negatif muncul. Kalau tekanan jual mulai mereda meski ada kabar negatif baru, itu bisa jadi tanda kalau pasar sudah mengantisipasi sebagian besar sentimen buruk.
4. Sabar Menunggu Hasilnya
Pemulihan kinerja perusahaan butuh waktu yang bahkan bisa hingga bertahun-tahun. Sebagai investor, kita perlu sabar menunggu untuk memperoleh imbal hasil lebih baik dalam jangka panjang.
5. Mulai dengan Porsi yang Kecil
Sulit memutuskan titik terendah secara presisi. Maka mulailah dengan porsi investasi kecil, kemudian tambah secara bertahap seiring munculnya perbaikan kinerja perusahaan.
Mulai pantau peluang rebound saham favoritmu dari Gotrade, aplikasi investasi saham AS yang aman dan sudah terpercaya karena berizin Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Dengan modal mulai dari $1 saja, kamu udah bisa investasi saham perusahaan-perusahaan besar lho.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.