Bagaimana Cara Kerja Investasi Saham? Pahami Sebelum Mulai

Gabriella SabatiniGabriella SabatiniHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Bagaimana Cara Kerja Investasi Saham? Pahami Sebelum Mulai

Ringkasan Gotrade

  • Investasi saham berarti memiliki sebagian kecil dari perusahaan dengan potensi capital gain dan dividen.

  • Cara kerjanya meliputi pembelian saham, kinerja perusahaan, pergerakan harga, hingga keputusan investor.

  • Investasi saham memiliki potensi keuntungan sekaligus risiko, seperti fluktuasi harga dan capital loss.

Pernahkah kamu berpikir, sebenarnya apa saja yang terjadi setelah kamu menekan tombol “Beli” saham? Uangmu tidak hanya berubah menjadi angka di portofolio. Tapi, kamu baru saja mempunyai sebagian kecil sebuah perusahaan dan tentu nilainya bisa berubah seiring bisnis tersebut berkembang serta keputusan para investor di pasar.

Lantas, dari mana keuntungan saham diperoleh dan kenapa harganya bisa naik turun sewaktu-waktu? Agar lebih memahami, kamu perlu melihat bagaimana investasi saham bekerja dari awal, mulai dari membeli saham, memiliki bagian dari perusahaan,hingga mendapatkan potensi capital gain atau dividen.

Apa Itu Investasi Saham?

Secara umum, saham merupakan bukti bahwa kamu memiliki bagian dari sebuah perusahaan. Sederhananya ketika membeli saham, kamu bukan sekadar membeli aset yang harganya bisa berubah, tetapi ikut memiliki sebagian kecil dari bisnis tersebut.

Baca juga: Cara & Aplikasi Beli Saham IPO: Pilihan IPO di Indonesia dan Amerika

Dilansir dari laman Investor.gov, saham memberikan pemegangnya bagian kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Para investor bisa memperoleh manfaat dari kenaikan harga saham maupun pembagian dividen, sedangkan perusahaan menerbitkan saham untuk mendapatkan dana yang dapat digunakan, seperti untuk mengembangkan bisnis, meluncurkan produk, atau memperluas pasar.

Besarnya kepemilikan bergantung pada jumlah saham yang kamu miliki, dibandingkan dengan total saham yang diterbitkan perusahaan. Oleh sebab itu, saat kamu memutuskan untuk membeli saham , otomatis kamu menempatkan dana pada bisnis yang kinerjanya dapat berubah dari waktu ke waktu.

Nah, dari sinilah cara kerja saham mulai kelihatan. Ada perusahaan yang membutuhkan modal, ada investor yang ingin memiliki bagian dari bisnis tersebut, lalu ada pasar yang mempertemukan aktivitas jual dan beli saham.

Baca juga: Belajar Beli Saham untuk Pemula: Panduan dari Nol sampai Pembelian Pertama

Bagaimana Cara Kerja Investasi Saham?

Secara sederhana, investasi saham dimulai ketika kamu membeli sebagian kepemilikan sebuah perusahaan. Setelah itu, ada beberapa proses yang saling berkaitan, mulai dari perusahaan menjalankan bisnis, investor menilai kinerjanya, hingga permintaan dan penawaran membuat harga saham bergerak. OJK melalui Buku Saku Pasar Modal 2025 juga menempatkan saham sebagai salah satu instrumen investasi dalam pasar modal Indonesia dan menyusun panduan tersebut untuk membantu masyarakat memahami pasar modal sebelum mulai berinvestasi.

1. Kamu Membeli Saham dan Menjadi Pemilik Perusahaan

Ketika kamu membeli saham, kamu memperoleh bagian kepemilikan perusahaan. Misalnya, kamu membeli 1 lot saham dengan harga Rp 1.000 per lembar. Karena 1 lot terdiri dari 100 lembar, dana yang kamu keluarkan adalah Rp 100.000, belum termasuk biaya transaksi.

2. Perusahaan Menggunakan Modal untuk Menjalankan Bisnis

Ketika perusahaan menerbitkan saham kepada publik, dana yang dihimpun dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan bisnis, seperti ekspansi, pengembangan produk, membuka pasar baru, atau kebutuhan perusahaan lainnya. Artinya, ada bisnis nyata yang berada di balik saham yang kamu miliki.

3. Kinerja Perusahaan Memengaruhi Prospek Saham

Setelah modal digunakan untuk menjalankan bisnis, kinerja perusahaan menjadi salah satu hal yang diperhatikan investor. Pendapatan, laba, arus kas, pertumbuhan bisnis, hingga kondisi industrinya dapat memengaruhi pandangan pasar terhadap prospek perusahaan.

4. Investor Menilai Prospek Perusahaan

Investor kemudian menilai apakah sebuah perusahaan masih menarik untuk dimiliki. Penilaian tersebut dapat dilakukan dengan melihat laporan keuangan, kondisi bisnis, prospek industri, hingga harga saham dibandingkan dengan nilai perusahaan.

5. Permintaan dan Penawaran Membuat Harga Saham Bergerak

Ketika semakin banyak investor ingin membeli sebuah saham, permintaannya dapat meningkat dan harga berpotensi naik. Sebaliknya, tekanan jual yang lebih besar dapat membuat harga turun.

Tapi, keputusan membeli atau menjual biasanya dipengaruhi oleh banyak hal. Informasi dan ketetapan baru mengenai perusahaan, keadaan ekonomi, perubahan suku bunga, hingga ekspektasi terhadap kinerja masa depan bisa mengubah keputusan investor secara tiba-tiba.

6. Kamu Bisa Mendapatkan Keuntungan dari Saham

Ada dua sumber keuntungan yang paling umum. Pertama berasal dari capital gain, ketika harga jual saham lebih tinggi daripada harga belinya. Kedua dari dividen, kondisi dimana perusahaan membagikan sebagian labanya kepada pemegang saham.

7. Kamu Bisa Menjual Saham atau Tetap Memilikinya

Setelah membeli saham, kamu tidak perlu langsung menjualnya ketika harga berubah. Kamu bisa tetap menyimpannya, selama portofoliomu masih sesuai dengan tujuan finansial dan investasi yang sudah disusun dan bisa menjualnya kembali setelah kamu memiliki keputusan untuk mengubah rencana investasimu.

Baca Juga: ETF vs Saham: Mana yang Lebih Baik untuk Investasi Jangka Panjang?

Dari Mana Keuntungan Investasi Saham Berasal?

Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih harga jual dan harga beli saham. Misalnya, kamu membeli saham di harga Rp 1.000 per lembar dan menjualnya ketika harga mencapai Rp 1.300. Selisih Rp 300 per lembar tersebut merupakan capital gain, sebelum memperhitungkan biaya transaksi.

Perlu dibedakan antara kenaikan harga dan keuntungan yang sudah terealisasi. Selama saham belum dijual, kenaikan tersebut masih berupa keuntungan yang belum direalisasikan.

Mendapatkan Dividen dari Pembagian Laba

Selain dari kenaikan harga, saham juga mampu memberikan keuntungan melalui dividen. Dividen adalah pembagian sebagian laba perusahaan kepada pemegang saham. Namun perlu kamu pahami, bahwa tidak semua perusahaan membagikan dividen secara rutin. Pembagian dividen dikembalikan lagi pada kebijakan dan kondisi bisnis perusahaan.

Investasi Saham Tidak Hanya Menunggu Harga Naik

Memiliki saham berarti, memiliki bagian dari bisnis. Oleh sebab itu, keputusan investasi sebaiknya tidak diletakkan, pada harapan harga akan naik dalam waktu dekat. Kinerja bisnis dan prospek perusahaan tetap perlu diperhatikan, dengan ini kamu bisa ikut memahami kinerja saham yang kamu beli.

Sumber Keuntungan

Cara Kerja

Kapan Diperoleh?

Capital gain

Selisih harga jual dan harga beli

Saat saham dijual dengan harga lebih tinggi

Dividen

Pembagian sebagian laba perusahaan

Saat perusahaan membagikan dividen

Kenapa Harga Saham Bisa Naik dan Turun?

Alasan kenapa saham naik turun.

Harga saham pada dasarnya bergerak mengikuti permintaan dan penawaran di pasar. Ketika lebih banyak investor ingin membeli suatu saham, permintaannya dapat meningkat dan harga berpotensi naik. Sebaliknya, jika tekanan jual lebih besar, harga dapat bergerak turun. Menurut Investopedia, harga saham terbentuk dari interaksi antara permintaan investor untuk membeli dan jumlah saham yang tersedia untuk dijual.

Namun, perubahan harga tidak hanya soal berapa banyak orang yang membeli atau menjual. Kinerja perusahaan, prospek bisnis, berita, kondisi ekonomi, suku bunga, hingga ekspektasi investor terhadap masa depan dapat mengubah minat terhadap sebuah saham. Karena itu, ketika melihat harga saham naik atau turun, penting untuk memahami apa yang mendorong pergerakan tersebut, bukan hanya melihat angka harganya.

Bagaimana Saham Dibeli dan Dijual?

Setelah memahami bahwa saham merupakan bagian kepemilikan dalam sebuah perusahaan, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana kepemilikan tersebut bisa berpindah dari satu pihak ke pihak lain? Prosesnya melibatkan perusahaan saat menerbitkan saham, investor yang memperdagangkannya, serta perusahaan efek yang membantu menghubungkan investor dengan pasar. Meski sama-sama melibatkan jual beli saham, cara kerja trading saham berbeda dengan investasi saham, terutama dari sisi jangka waktu dan tujuan.

Perusahaan Menawarkan Saham di Pasar Primer

Ketika perusahaan pertama kali menawarkan saham kepada publik, proses tersebut dikenal sebagai Initial Public Offering (IPO). Pada tahap ini, perusahaan menghimpun dana dari investor melalui penerbitan saham.

Investor Memperdagangkan Saham di Pasar Sekunder

Setelah saham tercatat di bursa, saham tersebut dapat diperjualbelikan antar-investor di pasar sekunder. Jadi, ketika kamu membeli saham yang sudah diperdagangkan di bursa, saham tersebut umumnya berasal dari investor lain yang menjual kepemilikannya, bukan langsung dari perusahaan.

OJK melalui Buku Saku Pasar Modal 2025 menjelaskan bahwa pasar modal Indonesia melibatkan berbagai pihak, termasuk Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, emiten, serta perusahaan efek. Buku tersebut memang disusun sebagai panduan ringkas bagi masyarakat yang ingin memahami dan mulai berinvestasi di pasar modal.

Broker Menghubungkan Investor dengan Pasar

Untuk melakukan transaksi, investor menggunakan perusahaan efek atau platform yang menyediakan akses ke pasar. Saat kamu memasukkan instruksi beli atau jual, pesanan tersebut diproses melalui sistem perdagangan sesuai mekanisme yang berlaku.

Baca Juga: Investasi Saham Luar Negeri: Cara, Risiko, dan Pajaknya

Cara Investor Menilai Saham Sebelum Membelinya

Sebelum memasukkan saham ke portofolio, jangan hanya melihat apakah harganya sedang naik atau turun. Ada beberapa hal yang bisa kamu periksa untuk memahami kualitas bisnis sekaligus menilai apakah saham tersebut sesuai dengan tujuan investasimu.

Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan antara lain:

  • Kenali bisnis dan prospek perusahaan. Pahami produk atau layanan yang ditawarkan, sumber pendapatan, posisi perusahaan di industrinya, serta peluang pertumbuhannya.

  • Pelajari laporan keuangan. Perhatikan pendapatan, laba, arus kas, aset, dan utang untuk melihat bagaimana kondisi bisnis dari waktu ke waktu.

  • Perhatikan kinerja dan rasio keuangan. Setelah memahami angka dasarnya, kamu bisa mengenal rasio seperti ROE, profit margin, atau DER untuk membantu membandingkan kinerja perusahaan.

  • Bandingkan harga saham dengan nilainya. Perusahaan yang bagus belum tentu menjadi investasi yang menarik jika harga sahamnya sudah terlalu tinggi. Karena itu, pertimbangkan juga valuasi sebelum membeli.

Dengan cara ini, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada pergerakan harga, tetapi juga pada bisnis yang sebenarnya kamu beli.

Bagaimana Investasi Saham Bisa Bertumbuh dalam Jangka Panjang?

Investasi jangka panjang memberi kesempatan bagi dana yang kamu tanam untuk berkembang seiring waktu. Investor.gov menjelaskan bahwa investasi dilakukan dengan menempatkan dana pada aset seperti saham dengan harapan memperoleh hasil di masa depan, baik dari kenaikan nilai maupun pembayaran dividen. Namun, berinvestasi dalam jangka panjang bukan berarti harga saham akan selalu naik. Fluktuasi tetap bisa terjadi sepanjang perjalanan investasi.

Salah satu konsep yang perlu kamu pahami adalah compound growth, yaitu ketika hasil investasi ikut menghasilkan pertumbuhan pada periode berikutnya. Misalnya, kamu mulai berinvestasi dengan Rp 1 juta. Jika nilainya tumbuh 10% dalam setahun, nilainya menjadi Rp 1,1 juta. Pada tahun berikutnya, pertumbuhan 10% dihitung dari Rp1,1 juta sehingga nilainya menjadi Rp 1,21 juta.

Artinya, pertumbuhan sebelumnya ikut menjadi bagian dari dana yang dapat menghasilkan pertumbuhan berikutnya. Semakin lama proses ini berlangsung, semakin besar efek pertumbuhannya.

Efek compounding

Catatan: contoh 10% diatas hanya ilustrasi untuk memahami mekanismenya, bukan jaminan bahwa investasi saham akan memberikan return 10% setiap tahun. Harga saham tetap dapat naik dan turun.

Apa Risiko dalam Investasi Saham?

Saham memang punya potensi keuntungan, tetapi pergerakannya juga tidak selalu sesuai harapan. Sebelum mulai berinvestasi, kamu perlu memahami beberapa risiko berikut agar bisa membuat keputusan dengan lebih terukur.

  • Harga saham bisa berfluktuasi. Harga saham dapat naik dan turun mengikuti kondisi pasar, sehingga nilai investasi kamu bisa berubah dari waktu ke waktu.

  • Kinerja perusahaan bisa menurun. Penjualan yang melemah, biaya yang meningkat, perubahan industri, atau masalah dalam bisnis dapat memengaruhi prospek perusahaan dan harga sahamnya.

  • Bisa mengalami capital loss. Jika kamu menjual saham dengan harga lebih rendah daripada harga beli, selisihnya menjadi kerugian atau capital loss.

  • Diversifikasi dapat membantu mengelola risiko. Menyebarkan investasi ke beberapa perusahaan atau aset dapat mengurangi ketergantungan pada satu investasi, meski tidak sepenuhnya menghilangkan risiko.

  • Sesuaikan investasi dengan kemampuanmu. Pertimbangkan tujuan, jangka waktu investasi, dan seberapa besar penurunan nilai yang sanggup kamu hadapi sebelum menentukan pilihan investasi.

Mulai Investasi Saham dengan Gotrade

Setelah kamu mengerti bagaimana investasi saham bekerja,selanjutnya bisa langsung mulai menerapkan pengetahuan tersebut pada tujuan investasimu. Analisa tujuan investasimu, pahami perusahaan yang kamu minati, dan pelajari lebih dalam soal risiko yang akan didapatkan sebelum kamu memutuskan untuk membeli saham yang ingin dimiliki.Jadi kamu tidak hanya mengikuti pergerakan harga saham, tetapi juga bisa mengetahui kenapa harga bisa naik turun sewaktu-waktu

Gotrade hadir untuk membantu kamu dalam mulai berinvestasi saham, hanya melalui satu aplikasi. Kamu bisa mengeksplorasi berbagai pilihan saham dan membangun portofolio sesuai dengan tujuan investasimu. Download aplikasi Gotrade dan mulai perjalanan investasi saham kamu sekarang.

Referensi:

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Gabriella Sabatini
Ditulis oleh
Gabriella Sabatini
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku