The Fed Adalah Bank Sentral AS: Fungsi dan Dampaknya ke Saham

Atalya WianAtalya WianHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

The Fed Adalah Bank Sentral AS: Fungsi dan Dampaknya ke Saham

The Fed, atau Federal Reserve System, adalah bank sentral Amerika Serikat. Ketika inflasi, suku bunga, dolar AS, atau pergerakan saham teknologi dibicarakan, namanya hampir selalu muncul.

Namun, memahami kebijakan The Fed tidak cukup hanya dengan melihat apakah suku bunga naik atau turun. Ada kalanya saham justru naik setelah The Fed menaikkan suku bunga. Di waktu lain, pasar malah turun setelah suku bunga dipangkas.

Reaksi seperti ini bisa terjadi karena investor tidak hanya memperhatikan keputusan akhirnya, tetapi juga alasan di balik keputusan tersebut dan seberapa jauh hasilnya berbeda dari ekspektasi pasar.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Apa Itu The Fed?

Federal Reserve System, atau The Fed, adalah sistem bank sentral Amerika Serikat yang dibentuk pada 1913.

Strukturnya tidak hanya terdiri dari satu orang atau satu kantor. Di dalamnya terdapat Board of Governors yang berkedudukan di Washington, D.C., 12 Federal Reserve Banks regional, serta Federal Open Market Committee atau FOMC.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Per 6 Agustus 2026, Kevin Warsh menjabat sebagai Ketua Federal Reserve. Ia mulai menjabat pada 22 Mei 2026 dan juga dipilih sebagai ketua FOMC.

The Fed juga bukan perusahaan swasta biasa yang dapat dimiliki atau diperdagangkan. Federal Reserve menjelaskan bahwa sistem tersebut tidak dimiliki oleh siapa pun. Bank-bank anggota memang memiliki saham di Federal Reserve Bank regional, tetapi saham tersebut tidak sama dengan kepemilikan perusahaan pada umumnya dan tidak dapat diperjualbelikan.

Perbedaan The Fed, FOMC, dan Federal Funds Rate

Ketiga istilah ini saling berkaitan, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.

Istilah

Artinya dan fungsinya

The Fed

Sistem bank sentral Amerika Serikat yang menjalankan kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, mengawasi lembaga keuangan tertentu, dan mendukung sistem pembayaran.

FOMC

Komite pembuat kebijakan moneter di dalam The Fed. FOMC menentukan arah kebijakan moneter dan menetapkan kisaran target federal funds rate.

Federal funds rate

Suku bunga yang digunakan bank untuk meminjamkan dana cadangan kepada bank lain dalam jangka sangat pendek, biasanya semalam. Suku bunga ini menjadi salah satu acuan penting bagi kondisi likuiditas dan biaya pinjaman di Amerika Serikat.

The Fed tidak menetapkan seluruh bunga kartu kredit, hipotek, obligasi, atau pinjaman perusahaan secara langsung. FOMC menetapkan kisaran target federal funds rate, lalu kebijakan tersebut memengaruhi suku bunga pasar dan biaya pinjaman melalui sistem keuangan.

Tugas Utama The Fed

Menjalankan kebijakan moneter adalah salah satu dari lima fungsi utama The Fed. Fungsi lainnya meliputi:

  1. Menjaga stabilitas sistem keuangan.

  2. Mengawasi dan mengatur lembaga keuangan tertentu.

  3. Mendukung keamanan dan efisiensi sistem pembayaran.

  4. Mendorong perlindungan konsumen dan pengembangan komunitas.

Dalam menjalankan kebijakan moneter, Kongres AS memberi mandat kepada The Fed untuk mendukung lapangan kerja maksimum, menjaga stabilitas harga, dan mempertahankan suku bunga jangka panjang yang moderat.

Dua tujuan yang paling sering dibahas adalah lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga. Keduanya dikenal sebagai dual mandate atau mandat ganda The Fed.

Bagaimana Kebijakan The Fed Berdampak pada Saham?

Dampaknya tidak hanya terasa pada biaya pinjaman bank. Ada beberapa jalur yang perlu dipahami investor.

1. Valuasi saham

Harga saham menunjukkan ekspektasi investor terhadap kinerja dan arus kas perusahaan di masa depan. Ketika suku bunga dan yield obligasi naik, investor dapat menggunakan tingkat diskonto yang lebih tinggi, sehingga nilai sekarang dari arus kas masa depan dapat menurun.

Studi Bernanke & Kuttner (2005) di Journal of Finance menemukan penurunan suku bunga acuan yang tidak terduga sebesar 25 bps rata-rata dikaitkan dengan kenaikan indeks saham AS sekitar 1%.

2. Biaya pendanaan perusahaan

Suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat pinjaman dan penerbitan utang menjadi lebih mahal. Ini cenderung lebih terasa pada perusahaan yang memiliki utang tinggi, masih membutuhkan tambahan modal, atau belum menghasilkan arus kas yang stabil.

Meskipun perusahaan dengan neraca yang sehat tidak selalu kebal, mereka biasanya memiliki lebih banyak ruang untuk beradaptasi. Berbagai kondisi pendanaan yang dihadapi perusahaan juga dapat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan Federal Reserve.

3. Daya tarik obligasi

Obligasi pemerintah AS dapat menjadi lebih menarik daripada saham ketika yield Treasury naik, terutama bagi investor yang ingin mengambil risiko lebih rendah.

Harga yang bersedia dibayar investor untuk saham berisiko tinggi dapat turun sebagai akibatnya. Namun, hubungan ini tidak selalu berjalan lurus karena valuasi saham juga dipengaruhi oleh kondisi laba perusahaan, pertumbuhan ekonomi, dan ekspektasi pasar. Treasury juga bukan aset tanpa risiko. Ketika suku bunga pasar berubah, harganya dapat naik atau turun.

4. Nilai dolar AS

Ekspektasi tentang arah suku bunga Federal Reserve dapat berdampak pada dolar AS dan aliran modal global. Namun, kenaikan suku bunga tidak selalu membuat dolar menguat karena pasar juga mempertimbangkan kebijakan negara lain dan kondisi ekonomi global.

Bagi investor Indonesia, pergerakan USD/IDR juga memengaruhi hasil portofolio dalam rupiah. Nilai portofolio berdenominasi dolar dalam rupiah dapat meningkat jika dolar menguat terhadap rupiah. Sebaliknya, jika dolar melemah, hasil investasi dalam rupiah dapat berkurang, meskipun harga saham dalam dolar tidak berubah.

Perubahan dolar dan kondisi keuangan AS juga dapat memengaruhi arus modal menuju pasar negara berkembang. Namun, nilai tukar dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak hanya bergerak karena kebijakan The Fed.

Kenaikan Suku Bunga Tidak Selalu Berarti Saham Turun

Dalam artikel dasar tentang The Fed, orang sering lupa bahwa kenaikan suku bunga tidak selalu berarti harga saham akan turun.

Pasar bergerak berdasarkan ekspektasi. Saat keputusan diumumkan, harga saham mungkin tidak turun lagi jika kenaikan suku bunga sudah diperkirakan sebelumnya. Saham bahkan dapat menguat jika pernyataan The Fed terdengar tidak seketat yang dikhawatirkan pasar.

Hal serupa berlaku saat suku bunga dipangkas. Pemangkasan karena inflasi mulai terkendali dapat diterima positif, terutama jika kondisi ekonomi masih cukup kuat. Sebaliknya, pemangkasan darurat akibat ekonomi yang memburuk justru dapat meningkatkan kekhawatiran investor.

Karena itu, jangan hanya melihat keputusan akhirnya. Perhatikan juga alasan di balik keputusan tersebut, isi pernyataan FOMC, proyeksi ekonomi, dan bahasa yang digunakan.

Data yang Dipantau The Fed

The Fed tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu laporan ekonomi.

Beberapa data yang sering diperhatikan antara lain:

  • Inflasi PCE dan core PCE;

  • Consumer Price Index atau CPI;

  • Nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran;

  • Pertumbuhan upah;

  • Belanja konsumen;

  • Pertumbuhan ekonomi; serta

  • Kondisi kredit dan stabilitas sistem keuangan.

Target inflasi jangka panjang The Fed adalah 2%, yang diukur berdasarkan perubahan tahunan Personal Consumption Expenditures Price Index atau indeks harga PCE.

Core PCE tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang cenderung lebih bergejolak. CPI tetap penting dan dapat menggerakkan pasar, tetapi bukan ukuran resmi yang digunakan The Fed untuk menilai pencapaian target inflasi 2%.

Cara Memahami Hasil Rapat FOMC

FOMC mengadakan delapan rapat setiap tahun. Komite ini juga dapat mengadakan rapat tambahan jika diperlukan.

Riset akademik menunjukkan imbal hasil saham AS cenderung bergerak secara sistematis menjelang dan sepanjang siklus rapat FOMC.

Setelah hasil rapat diumumkan, perhatikan lima hal berikut:

  1. Apakah suku bunga naik, turun, atau tetap?

  2. Apakah keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar?

  3. Apakah pernyataannya terdengar lebih hawkish atau dovish?

  4. Apakah proyeksi inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan pengangguran berubah?

  5. Bagaimana reaksi pasar saham, dolar AS, dan yield Treasury?

Investor juga dapat melihat dot plot ketika Summary of Economic Projections dirilis. Dot plot menunjukkan proyeksi tingkat suku bunga dari para peserta FOMC, bukan janji kebijakan yang pasti akan diterapkan.

Perspektif yang Lebih Rasional bagi Investor

Keputusan Federal Reserve sebaiknya digunakan sebagai konteks dalam pengambilan keputusan, bukan sebagai alasan utama untuk membeli atau menjual saham.

Sebelum mengubah portofolio, periksa kondisi bisnis perusahaan, tingkat utang, arus kas, valuasi, dan jangka waktu investasi. Hindari mengambil posisi yang terlalu besar hanya karena satu konferensi pers atau komentar dari pejabat Federal Reserve.

Untuk posisi jangka pendek, volatilitas setelah pengumuman dapat sangat tinggi. Menentukan batas risiko dan ukuran posisi sebelum hasil rapat keluar biasanya lebih masuk akal daripada mengejar harga setelah pasar bergerak.

Kesimpulan

Federal Reserve adalah bank sentral Amerika Serikat, sementara FOMC adalah komite di dalam Federal Reserve yang menentukan arah kebijakan moneter dan kisaran target federal funds rate.

Biaya pinjaman, yield obligasi, nilai dolar AS, valuasi saham, dan arus modal global dapat dipengaruhi oleh keputusan FOMC. Namun, dampaknya tidak pernah sesederhana “suku bunga naik berarti saham turun”.

Memahami konteks secara keseluruhan sangat penting bagi investor saham AS. Perhatikan bagaimana keputusan tersebut dibandingkan dengan ekspektasi pasar, alasan di balik perubahan kebijakan, dan kondisi fundamental perusahaan yang Anda miliki.

Dengan Gotrade, Anda dapat mengikuti perkembangan pasar global sambil memantau saham AS dan ETF. Pelajari karakteristik dan risiko setiap produk, lalu sesuaikan keputusan Anda dengan profil risiko dan tujuan keuangan.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google
Atalya Wian
Ditulis oleh
Atalya Wian
Atalya adalah content marketer dengan pengalaman lebih dari 3 tahun di industri SaaS, e-commerce, hingga keuangan. Spesialis dalam penulisan topik bisnis, teknologi, dan keuangan untuk audiens profesional.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade