Volatilitas Saham: Jenis, Cara Mengukur, dan Faktornya

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Volatilitas Saham: Jenis, Cara Mengukur, dan Faktornya

Ringkasan Gotrade

  • Volatilitas menunjukkan seberapa besar harga atau return saham bergerak dalam periode tertentu.
  • Volatilitas mengukur besar pergerakan, bukan arah harga. Saham bisa naik atau turun dengan volatilitas yang sama-sama tinggi.
  • Historical volatility melihat pergerakan yang sudah terjadi, sedangkan implied volatility mencerminkan ekspektasi pasar terhadap besarnya pergerakan ke depan.

Volatilitas sering digunakan untuk menggambarkan seberapa besar harga saham bergerak naik dan turun dalam suatu periode. Dua saham bisa saja menghasilkan return akhir yang sama tetapi akan mengalami perjalanan harga yang sangat berbeda.

Saham yang pergerakannya lebih besar dan lebih tajam akan memiliki volatilitas yang lebih tinggi. Karena itu, volatilitas digunakan untuk membantu investor melihat seberapa besar perubahan harga yang terjadi di sepanjang perjalanan bukan hanya membandingkan harga awal dan harga akhir.

Apa Itu Volatilitas?

Volatilitas adalah ukuran seberapa besar perubahan return suatu saham, aset atau pasar dalam periode tertentu. Menurut Nasdaq volatilitas sebagai ukuran yang bisa dihitung menggunakan standard deviation dari return aset. Semakin besar variasi return maka akan semakin tinggi volatilitasnya.

Baca juga: PEG Ratio: Rumus, Cara Hitung, dan Cara Membacanya

Volatilitas tidak hanya menggambarkan penurunan harga saja, saham yang bergerak naik dan turun secara tajam tetap memiliki volatilitas tinggi. Karena itu, volatilitas mengukur besarnya pergerakan bukan arah pergerakannya.

Apa Perbedaan Volatilitas dan Risiko?

Volatilitas dan risiko saling berkaitan tetapi mengukur hal yang berbeda. Volatilitas mengukur seberapa besar perubahan harga atau return sedangkan risiko mencakup kemungkinan yang lebih luas, seperti risiko bisnis, utang, likuiditas, regulasi, hingga kehilangan modal.

Saham dengan volatilitas rendah belum tentu memiliki risiko bisnis yang rendah. Sebaliknya, perusahaan dengan fundamental yang kuat juga bisa mengalami volatilitas tinggi dalam jangka pendek akibat laporan keuangan, perubahan suku bunga atau sentimen pasar.

Baca juga: Stock Split: Jenis, Cara Kerja, dan Efek bagi Investor

Karena itu, volatilitas lebih tepat digunakan sebagai salah satu ukuran pergerakan harga bukannya sebagai gambaran lengkap mengenai risiko investasi.

Jenis-Jenis Volatilitas dalam Saham

Dalam analisis saham terdapat dua jenis volatilitas yang umum digunakan yaitu sebagai berikut:

1. Historical Volatility

Historical volatility digunakan untuk mengukur seberapa besar return saham berfluktuasi berdasarkan data harga yang sudah terjadi.

Menurut Fidelity historical volatility umumnya dihitung menggunakan standard deviation dan bisa dinyatakan dalam angka tahunan.

Misalnya:

Stock A: 20-day historical volatility = 18%
Stock B: 20-day historical volatility = 45%

Jika periode dan metode perhitungannya sama maka stock B memiliki fluktuasi historis yang lebih besar.

Tetapi, historical volatility tidak menunjukkan volatilitas di masa depan akan tetap sama. Pergerakan saham bisa berubah setelah earnings, berita material atau perubahan kondisi pasar.

2. Implied Volatility

Implied volatility atau IV mencerminkan ekspektasi pasar terhadap besarnya pergerakan harga di masa depan yang tersirat dari harga options.

Berbeda dari historical volatility, IV berasal dari harga options bukan dari pergerakan saham di masa lalu.

Misalnya:

Historical volatility = 25%
Implied volatility = 45%

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pasar options sedang memperhitungkan potensi pergerakan yang lebih besar dibandingkan volatilitas yang baru saja terjadi.

Tetapi, IV tidak menunjukkan arah pergerakan harga. IV yang tinggi bukan berarti saham diperkirakan turun sebesar angka tersebut melainkan menunjukkan ekspektasi terhadap besarnya fluktuasi atau uncertainty.

Apa Perbedaan Volatilitas Saham dan Volatilitas Pasar?

Volatilitas tidak hanya bisa dibedakan dari cara pengukurannya, tetapi juga dari apa yang sedang mengalami pergerakan.

Dalam konteks saham, volatilitas dapat terjadi pada satu saham tertentu maupun pasar secara keseluruhan. Perbedaannya terutama terletak pada sumber pergerakan harga yang mempengaruhinya, seperti:

1. Volatilitas Saham

Volatilitas saham menggambarkan seberapa besar harga atau return satu saham bergerak dalam periode tertentu.

Pergerakannya bisa dipengaruhi oleh faktor spesifik perusahaan seperti laporan keuangan, guidance, peluncuran produk, perubahan manajemen, litigasi, regulasi atau berita sektor. Karena itu, satu saham bisa mengalami volatilitas tinggi meskipun kondisi pasar secara umum relatif tenang.

2. Volatilitas Pasar

Volatilitas pasar menggambarkan besarnya pergerakan pasar yang lebih luas, misalnya indeks seperti S&P 500.

Volatilitas pasar mampu meningkat ketika banyak saham bergerak besar dalam waktu yang bersamaan. Penyebabnya bisa berasal dari data inflasi, perubahan suku bunga, kekhawatiran resesi, geopolitik atau krisis finansial.

Bagaimana Cara Mengukur Volatilitas Saham?

Salah satu cara paling umum untuk mengukur volatilitas adalah menggunakan standard deviation dari return saham. Semakin besar standard deviation maka akan semakin besar variasi return dalam periode tersebut.

Menurut Fidelity standard deviation mengukur seberapa jauh data tersebar dari nilai rata-ratanya.

1. Hitung Return Saham

Misalnya harga saham naik dari US$100 menjadi US$101:

Maka rumus yang digunakan adalah:

Return = (101 ÷ 100) − 1 = 1%

Perhitungan yang sama bisa dilakukan untuk seluruh periode yang dianalisis.

2. Hitung Rata-Rata Return

Misalnya return harian selama lima periode adalah:

+1%, −1%, +2%, −2%, dan 0%

Maka rata-rata return-nya adalah 0%.

3. Hitung Standard Deviation

Standard deviation mengukur seberapa jauh setiap return bergerak dari rata-ratanya. Untuk contoh ini sample standard deviation hariannya ada di sekitar 1,58% semakin tinggi angka ini maka semakin besar fluktuasi return saham.

4. Annualisasi Volatilitas

Volatilitas harian juga bisa dikonversi menjadi estimasi volatilitas tahunan:

Annualized Volatility ≈ Daily Volatility × √252

Dengan volatilitas harian 1,58%:

1,58% × √252 ≈ 25,1%

Angka 25,1% bukanlah harga saham yang akan naik atau turun tepat di angka 25,1% dalam setahun. Angka tersebut merupakan ukuran volatilitas historis yang telah dikonversi ke skala tahunan.

Faktor yang Mempengaruhi Volatilitas Saham

Volatilitas saham mampu berubah dari waktu ke waktu. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhinya:

1. Earnings dan Guidance

Laporan keuangan mampu memicu pergerakan besar ketika hasil aktual berbeda dari ekspektasi pasar.

Investor biasanya akan memperhatikan pendapatan, EPS, margin, dan guidance. Karena itu, pergerakan harga sering dipengaruhi oleh seberapa besar hasil berbeda dari ekspektasi bukan hanya berdasarkan laporan tersebut terlihat baik atau buruk.

2. Informasi Baru tentang Perusahaan

Pergantian manajemen, produk baru, akuisisi, gugatan hukum, perubahan regulasi atau cyber attack mampu mengubah ekspektasi terhadap bisnis. Semakin besar dampaknya terhadap prospek pendapatan dan arus kas perusahaan maka semakin besar pula potensi pergerakan harganya.

3. Suku Bunga dan Kondisi Ekonomi

Perubahan suku bunga, inflasi, data tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi mampu mempengaruhi valuasi serta ekspektasi laba perusahaan. Faktor ini biasanya tidak hanya mempengaruhi satu saham tetapi juga pasar secara lebih luas.

4. Ketidakpastian Pasar

Volatilitas bisa meningkat ketika ketidakpastian pasar yang membesar misalnya, akibat konflik geopolitik, tekanan di sektor perbankan, kekhawatiran resesi atau ketidakpastian politik. Dalam kondisi seperti ini harga mampu bereaksi lebih tajam terhadap informasi baru.

5. Likuiditas

Ketika likuiditas rendah dan market depth menipis maka transaksi yang relatif besar akan menghasilkan perubahan harga yang lebih besar. Karena itu, saham dengan likuiditas lebih rendah bisa mengalami pergerakan yang lebih tajam.

6. Leverage

Utang akan meningkatkan sensitivitas nilai ekuitas terhadap perubahan kondisi bisnis. Ketika perusahaan memiliki leverage tinggi maka perubahan pendapatan atau biaya pendanaan akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap pemegang saham.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh G. William Schwert volatilitas pasar berkaitan dengan berbagai faktor termasuk financial leverage, suku bunga, dan kondisi ekonomi. Karena itu, volatilitas biasanya muncul dari kombinasi berbagai faktor bukan hanya satu penyebab saja.

Cara Membaca Volatilitas Saham

Angka volatilitas akan lebih berguna jika dibaca dalam konteks, bukan dilihat sendiri tanpa ada analisis lainnya, perhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Bandingkan dengan Riwayat Saham

Misalnya volatilitas historis 1 tahun sebesar 25% sedangkan volatilitas 20 hari terakhir mencapai 48%. Artinya, saham belakangan ini bergerak jauh lebih besar dibandingkan dengan pola pergerakan yang lebih panjang.

2. Bandingkan dengan Peer

Bandingkan saham dengan perusahaan yang memiliki sektor dan karakter bisnis relatif mirip. Sebagai contoh saham software yang belum tentu relevan jika langsung dibandingkan dengan saham utilitas karena pola volatilitas tiap sektor bisa berbeda.

3. Gunakan Periode yang Sama

Jangan membandingkan volatilitas 20 hari satu perusahaan dengan volatilitas 1 tahun dari perusahaan lain. Periode yang lebih pendek biasanya akan lebih sensitif terhadap kondisi terbaru.

4. Cari Penyebab Perubahannya

Lonjakan volatilitas bisa muncul di sekitar earnings, pengumuman produk, keputusan suku bunga, litigasi atau akuisisi. Angka volatilitas akan lebih mudah dipahami jika kamu mengetahui katalis di balik pergerakannya.

5. Pisahkan Arah dan Besarnya Pergerakan

Dua saham bisa memiliki volatilitas yang sama tetapi arah return berbeda. Sebagai contoh adalah:

Stock A: return +20%, volatility 35%
Stock B: return −20%, volatility 35%

Volatilitas stock A dan stock B sama tetapi memiliki arah pergerakan yang berbeda.

6. Lihat Bersama Ukuran Posisi

Volatilitas juga perlu dibaca bersamaan dengan exposure. Pergerakan 5% akan memiliki dampak yang berbeda jika saham hanya mencakup 2% portofolio dibandingkan dengan 50% portofolio berada pada satu saham.

Pahami Volatilitas sebagai Ukuran Pergerakan Harga

Volatilitas menunjukkan seberapa besar return saham bergerak dalam periode tertentu. Semakin lebar variasinya maka akan semakin tinggi tingkat volatilitasnya.

Historical volatility melihat pergerakan yang sudah terjadi sedangkan implied volatility mencerminkan ekspektasi pasar yang tersirat dari harga options.

Keduanya membantu membaca besar pergerakan tetapi tidak menunjukkan arah harga dan tidak menggambarkan seluruh risiko investasi.

Karena itu, jangan menilai saham hanya dari satu angka volatilitas. Bandingkan periode yang sama, pahami katalisnya lalu lihat volatilitas bersama fundamental, likuiditas, valuasi, dan ukuran posisi.

Kamu bisa menggunakan Gotrade untuk memantau pergerakan saham AS yang sedang dipelajari lalu membandingkan volatilitas dengan fundamental dan eksposur portofolio sebelum mengambil keputusan.

Buka akun Gotrade dan mulai pantau saham AS yang ingin kamu analisis.

Referensi

Schwert, G. W., “Why Does Stock Market Volatility Change Over Time?”

Nasdaq, “Volatility.”

Fidelity Investments, “Historical Volatility.”

Fidelity Investments, “Standard Deviation.”

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku