Trump Incar Greenland Demi Rare Earth, Tapi Ini Realitas Pahitnya
Rendy Andriyanto
Gotrade Team
Ditinjau oleh Analis Internal Gotrade
Share this article
Jakarta, Gotrade News - Presiden Donald Trump kembali menyuarakan ambisinya untuk menguasai Greenland demi mengamankan pasokan rare earth global yang selama ini didominasi oleh China. Meski langkah ini diklaim sebagai solusi strategis untuk industri teknologi dan pertahanan, para ahli menilai rencana tersebut lebih condong pada manuver geopolitik ketimbang solusi ekonomi yang realistis.
Key Takeaways:
Geopolitik vs Logistik: Ambisi Trump terbentur kondisi alam Greenland yang ekstrem dan minimnya infrastruktur dasar seperti jalan raya.
Dominasi China: Langkah ini dipicu oleh pembatasan ekspor rare earth oleh China yang menguasai 90% pasar global.
Risiko Investasi: Saham perusahaan tambang spekulatif sempat melonjak, namun pakar mengingatkan bahwa ekstraksi di Greenland belum terbukti menguntungkan secara komersial.
Dorongan Trump ini muncul setelah China memperketat aturan pembelian mineral kritis sebagai balasan atas tarif dagang AS. Mineral seperti neodymium dan terbium sangat krusial bagi produksi magnet berkinerja tinggi yang digunakan oleh produsen kendaraan listrik seperti Tesla, Inc. hingga robotika canggih.
Namun, menambang di Greenland bukanlah perkara mudah karena sebagian besar wilayahnya tertutup es dan belum memiliki akses logistik memadai. Diogo Rosa, peneliti dari Geological Survey of Denmark and Greenland, menyebutkan bahwa setiap proyek tambang harus membangun infrastruktur jalan dan pembangkit listrik sendiri dari nol.
Peta di atas menunjukkan sebaran deposit material kritis di Greenland, namun lokasi-lokasi ini berada di area terpencil yang sangat sulit dijangkau. Selain tantangan akses, rare earth di Greenland umumnya terbungkus dalam batuan kompleks bernama eudialyte yang hingga kini belum memiliki metode pemrosesan yang terbukti menguntungkan secara ekonomi.
Isu lingkungan juga menjadi penghalang besar karena proses pemisahan mineral membutuhkan bahan kimia beracun yang berisiko merusak sektor pariwisata yang sedang dibangun Greenland. Patrick Schröder dari Chatham House memperingatkan bahwa mineral ini sering ditemukan bersamaan dengan uranium radioaktif yang menambah kompleksitas pengolahan.
Meski saham perusahaan eksplorasi seperti Critical Metals sempat melonjak dua kali lipat pasca isu ini bergulir, sebagian besar proyek di sana masih dalam tahap sangat awal. Pakar industri menilai AS sebaiknya fokus pada proyek yang lebih matang di wilayah bersahabat seperti Australia atau domestik AS sendiri.
Ketergantungan pada rantai pasok China memang menjadi risiko bagi kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin Corporation yang membutuhkan material ini untuk jet tempur. Namun, memaksakan penambangan di lingkungan sekeras Arktik dinilai sebagai langkah mundur dibandingkan mengoptimalkan tambang yang sudah memiliki akses pasar.