Apa Itu IPO? Cara Kerja, Proses, dan Risikonya

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Apa Itu IPO? Cara Kerja, Proses, dan Risikonya

Saat perusahaan besar mengumumkan rencana IPO, perhatian pasar biasanya langsung tertuju ke sana. Berita yang mulai ramai, valuasinya diperdebatkan, dan banyak orang ingin tahu kapan saham tersebut bisa dibeli.

Rasa penasaran itu wajar. Lewat IPO, publik mendapat kesempatan untuk memiliki saham perusahaan yang sebelumnya hanya dipegang oleh pendiri, karyawan, dan investor privat.

Meski begitu, IPO bukan jaminan kamu akan mendapatkan harga murah. Harga penawaran ditentukan melalui proses valuasi dan permintaan investor, sedangkan harga setelah saham mulai diperdagangkan akan bergerak mengikuti pasar.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Selisihnya bisa cukup besar, baik ke atas maupun ke bawah.

Simak artikel ini untuk memahami apa itu IPO, bagaimana prosesnya berlangsung, serta hal-hal yang perlu kamu perhatikan sebelum membeli saham yang baru melantai di bursa.

Apa itu IPO?

IPO adalah Initial Public Offering yaitu sebuah proses ketika perusahaan menawarkan sahamnya kepada publik untuk pertama kalinya. Melalui proses ini, perusahaan yang sebelumnya privat menjadi perusahaan publik.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu

Sebelum IPO, saham biasanya dimiliki oleh pendiri, karyawan, perusahaan lain atau investor awal seperti venture capital dan private equity.

Tetapi setelah IPO, saham yang ditawarkan bisa dimiliki dan diperdagangkan oleh investor publik.

IPO bukan berarti perusahaan tersebut baru berdiri. Perusahaan yang sudah berkembang atau memiliki bisnis matang juga bisa melakukan IPO untuk memperoleh pendanaan, memberikan likuidixatas kepada pemegang saham lama atau mendukung kebutuhan bisnis lainnya.

Investor.gov menjelaskan bahwa IPO merupakan penawaran saham pertama perusahaan kepada publik. Tetapi IPO tidak selalu berarti investor sedang berinvestasi pada perusahaan yang masih berada di tahap awal.

Bagaimana Cara Kerja IPO?

Sebelum saham mulai diperdagangkan di bursa, perusahaan harus melalui beberapa tahap untuk menyiapkan penawaran kepada publik, seperti berikut ini:

1. Perusahaan Memilih Underwriter

Perusahaan biasanya akan bekerja sama dengan bank investasi atau underwriter untuk membantu menyiapkan IPO. Pihak ini akan membantu menyusun struktur penawaran, menentukan kisaran valuasi dan memasarkan saham kepada calon investor.

2. Menyiapkan Dokumen dan Prospektus

Perusahaan kemudian menyiapkan dokumen penawaran yang memuat informasi mengenai bisnis, kondisi keuangan, risiko, struktur kepemilikan serta rencana penggunaan dana IPO.

Dokumen ini menjadi salah satu sumber utama yang bisa digunakan investor untuk memahami perusahaan sebelum membeli sahamnya.

3. Menentukan Valuasi dan Kisaran Harga

Perusahaan bersama underwriter memperkirakan valuasi dan menentukan kisaran harga penawaran. Proses ini mempertimbangkan kondisi keuangan, prospek bisnis, perusahaan pembanding serta minat investor.

4. Menentukan Harga Final dan Alokasi Saham

Setelah melihat permintaan pasar, harga IPO final dan jumlah saham yang dialokasikan kepada investor ditentukan.

Tidak semua investor yang berminat selalu mendapat saham sesuai jumlah yang diminta terutama ketika permintaan lebih besar daripada saham yang tersedia.

5. Saham Mulai Listing di Bursa

Setelah proses penawaran selesai saham akan mulai tercatat dan diperdagangkan di bursa. Sejak saat itu, harga bergerak mengikuti permintaan dan penawaran di pasar.

Karena itu, harga transaksi pada hari pertama belum tentu sama dengan harga IPO yang ditetapkan sebelumnya.

Apa yang Terjadi Setelah Saham IPO?

Perubahan yang paling jelas terlihat pada saham perusahaan saat mulai diperdagangkan secara terbuka di bursa. Investor publik mulai bisa untuk membeli dan menjual saham tersebut melalui pasar sekunder.

IPO juga dapat membantu perusahaan memperoleh dana baru untuk mengembangkan produk, membuka fasilitas, memperluas pasar, membayar utang, melakukan akuisisi, atau menambah modal kerja.

Selain itu, pemegang saham lama juga mendapatkan kesempatan untuk menjual sebagian kepemilikannya, baik saat IPO itu terjadi maupun setelah masa pembatasan berakhir.

Setelah menjadi perusahaan publik di AS, perusahaan juga wajib menyampaikan informasi secara berkala. Dokumen yang umum ditemukan antara lain laporan kuartalan melalui Form 10-Q dan laporan tahunan melalui Form 10-K.

Keterbukaan ini memberimu lebih banyak bahan untuk dianalisis mulai dari kondisi keuangan, risiko usaha, penggunaan dana IPO, serta valuasi saham-nya.

Harga IPO Tidak Selalu Sama dengan Harga Pasar

Harga IPO adalah harga penawaran yang berlaku bagi investor yang telah mendapat alokasi sebelum saham mulai diperdagangkan. Tidak semua investor ritel bisa membeli saham pada harga tersebut.

Menurut Investor.gov, alokasi IPO lebih banyak diberikan kepada investor institusi atau klien tertentu dari underwriter. Investor individu baru bisa membeli setelah saham masuk ke pasar terbuka.

Sebagai contoh adalah saat harga IPO ditetapkan sebesar US$20 per saham. Ketika perdagangan dimulai, tingginya permintaan bisa membuat transaksi pertama terjadi pada US$27.

Artinya, kamu membeli pada harga pasar US$27, bukan pada harga IPO yang sebenarnya. Pergerakan harganya juga bisa berlawanan.

Harga saham juga bisa turun di bawah US$20 jika permintaan melemah atau kondisi pasar berubah. Karena itu, harga penawaran tidak menjadi jaminan harga saham akan bertahan setelah terjadi listing.

Kenapa Harga Saham IPO Bisa Bergerak Tajam?

Pada hari-hari pertama perdagangan, saham yang benar-benar tersedia di pasar biasanya belum banyak. Sebagian besar saham masih dipegang oleh pendiri, karyawan, manajemen, dan investor awal yang belum boleh menjual karena aturan lock-up.

Ketika permintaan ramai sementara pasokannya terbatas, harga bisa naik atau turun dengan cepat.

Pergerakan tersebut belum tentu menunjukkan perubahan pada kondisi bisnis. Kadang, harganya lebih banyak dipengaruhi oleh pemberitaan, suasana pasar, besarnya alokasi saham, aksi jual investor jangka pendek, atau ekspektasi yang terlanjur tinggi.

Underwriter juga dapat melakukan stabilisasi harga dalam periode terbatas setelah IPO.

Jadi, lonjakan pada hari pertama belum membuktikan bahwa harga saham akan terus naik.

Jangan Lewatkan Masa Lock-Up

Lock-up agreement adalah masa pembatasan yang membuat pemegang saham tertentu belum dapat menjual sahamnya setelah dilakukannya IPO.

Aturan ini biasanya berlaku bagi pendiri, manajemen, karyawan, investor awal, dan perusahaan venture capital.

Masa lock-up biasanya berlangsung sekitar 180 hari, tetapi ketentuannya bisa berbeda pada setiap IPO. Kamu dapat memeriksa jadwal dan jumlah sahamnya dalam prospektus, terutama pada bagian Shares Eligible for Future Sale.

Ketika masa lock-up selesai, lebih banyak saham yang berpotensi masuk ke pasar tetapi harga saham belum tentu terjadi penurunan

Cara Menganalisis IPO Melalui Prospektus

Prospektus IPO biasanya berisi halaman yang sangat panjang tetapi kamu tidak perlu membaca seluruh halamannya. Kamu hanya perlu membaca beberapa poin penting, seperti:

1. Pahami Cara Perusahaan Menghasilkan Uang

Mulai membuka pada bagian Business untuk lebih mengenal model bisnis perusahaan.

Dari situ kamu dapat mencari tahu tentang produk utamanya, sumber pendapatan, jenis pelanggan, pasar yang dilayani, serta ketergantungannya pada pemasok atau mitra tertentu.

Perhatikan juga posisi perusahaan di industrinya. Bisnis yang tumbuh cepat belum tentu punya keunggulan yang kuat jika produknya mudah ditiru atau persaingan yang sangat ketat pada industrinya.

2. Cari Risiko yang Berkaitan dengan Bisnisnya

Pada bagian Risk Factors biasanya berisi daftar panjang risiko pada perusahaan. Pada bagian ini kamu bisa mulai fokus pada risiko yang paling mengancam atau berbahaya pada operasional perusahaan.

Misalnya, perusahaan tersebut ternyata masih terus merugi, hanya bergantung pada satu pelanggan besar, sedang menghadapi regulasi ketat, atau terlalu bergantung pada pendirinya. Risiko yang ditulis berulang kali atau dijelaskan secara panjang perlu kamu perhatikan lebih detail lagi.

3. Lihat Kondisi Keuangan Perusahaan

Bagian krusial saat membaca prospektus IPO adalah bagian Financial Statements, bagian ini sangat penting untuk membandingkan hasil perusahaan selama beberapa periode ke belakang.

Periksa dengan cermat bagian pertumbuhan pendapatan, margin, laba atau rugi operasional, arus kas, jumlah utang, posisi kas, dan kompensasi berbasis saham.

Jika kerugian, utang, atau kebutuhan kas meningkat lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan. Terdapat kemungkinan bahwa perusahaan masih membutuhkan pendanaan tambahan setelah IPO dilakukan.

4. Perhatikan Ke Mana Dana IPO Akan Digunakan

Pada bagian Use of Proceeds menjelaskan rencana penggunaan dana yang diterima perusahaan. Uangnya bisa dipakai untuk ekspansi, riset, akuisisi, pembayaran utang, atau kebutuhan umum perusahaan.

Penjelasan yang terlalu luas seperti “general corporate purposes” memberi perusahaan ruang penggunaan yang besar. Karena itu, lihat apakah tujuan penggunaan dananya cukup jelas dan sesuai dengan rencana pertumbuhan yang disampaikan.

5. Baca Bagian Dilution dan Struktur Hak Suara

IPO dapat menambah jumlah saham beredar dan mengurangi persentase kepemilikan investor lama.

Bagian Dilution membantu kamu melihat perbedaan antara harga yang dibayar investor IPO dan nilai buku bersih per saham setelah penawaran terjadi.

Cek juga apakah perusahaan memiliki beberapa kelas saham.

Dalam struktur dual-class, saham milik pendiri bisa memiliki hak suara lebih besar daripada saham yang dijual kepada publik. Kamu tetap mendapat kepentingan ekonomi, tetapi pengaruh terhadap keputusan perusahaan hanya terbatas.

prospectus quick scan

Baca juga: Investasi Saham untuk Pemula: Sebelum Beli, Cek Dulu Ini

Apa Saja Risiko Membeli Saham IPO?

Tidak semua saham IPO yang menarik harus kamu beli. Kamu tetap perlu memperhatikan beberapa detail pada perusahaan penting pada perusahaan.

Sebelum membeli coba kamu periksa lagi beberapa hal berikut ini:

  • Apakah kamu telah memahami bagaimana cara perusahaan menghasilkan uang?

  • Apakah pertumbuhan perusahaan berasal dari permintaan yang nyata?

  • Apakah perusahaan masih bergantung pada pendanaan baru?

  • Untuk apa dana IPO akan digunakan?

  • Apakah valuasinya masih masuk akal dibandingkan bisnis sejenis?

  • Bagaimana struktur hak suara dan potensi penjualan saham setelah masa lock-up?

  • Apakah kamu siap jika harganya turun setelah mulai diperdagangkan?

Nama perusahaan yang besar dan merek yang terkenal belum cukup untuk menjadi alasan untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Bisnisnya bisa saja bagus, tetapi sahamnya belum tentu menarik jika harga yang ditawarkan terlalu tinggi atau risikonya masih belum kamu pahami.

Pahami Kembali Risikonya Sebelum Membeli Saham IPO

Bagi perusahaan, IPO dapat menjadi cara untuk mengumpulkan modal dan membuka akses ke pasar publik.

Bagi pendiri atau investor awal, IPO juga bisa menjadi jalan untuk memperoleh likuiditas.

Sementara itu bagi investor publik seperti kamu, IPO dapat membuka akses ke perusahaan yang sebelumnya privat menjadi publik.

Harga IPO belum tentu sama dengan harga pembukaan. Perusahaan mungkin belum memiliki riwayat panjang sebagai emiten publik, dan pasokan saham bisa berubah saat lock-up berakhir.

Karena itu, jangan menilai IPO hanya dari nama perusahaan atau pergerakan hari pertamanya.

Baca prospektus, pahami penggunaan dana, cek laporan keuangan, lihat struktur saham, dan tentukan apakah valuasinya sejalan dengan risiko serta prospek bisnisnya.

Melalui Gotrade, kamu dapat memantau saham AS yang sudah tersedia dan mengikuti perkembangan perusahaan setelah listing. Tetap sesuaikan keputusan dengan tujuan, strategi, dan profil risikomu.

Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa depan. Saham yang baru IPO dapat mengalami pergerakan harga yang tajam dan investor dapat kehilangan sebagian atau seluruh modal. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade