Jam Pre-Market dan After-Hours dalam WIB
Perbedaan zona waktu antara Indonesia dan Amerika Serikat membuat jadwal perdagangan saham AS terlihat sedikit membingungkan, terutama saat Daylight Saving Time berlaku.
Secara umum, pre-market dapat dimulai pukul 04.00 ET, sedangkan after-hours dapat berlangsung sampai pukul 20.00 ET. Namun, jam transaksi yang tersedia bagi investor tetap bergantung pada broker dan saham yang diperdagangkan.
Pada 2026, Daylight Saving Time berlaku di sebagian besar wilayah Amerika Serikat dari 8 Maret sampai 1 November. Karena Indonesia tidak menggunakan sistem tersebut, jam perdagangan saham AS akan bergeser satu jam bagi pengguna WIB.
Karena itu, istilah yang lebih tepat digunakan adalah Eastern Time atau ET, bukan selalu EST. Sepanjang tahun, zona waktu New York berganti antara Eastern Daylight Time dan Eastern Standard Time.
Perbedaan Pre-Market dan After-Hours
Pre-market dan after-hours sama-sama berlangsung di luar jam reguler. Namun, waktu perdagangan, pemicu pergerakan harga, dan kondisi pasarnya tidak selalu sama.
1. Pre-market trading
Pre-market adalah sesi transaksi yang berlangsung sebelum pasar reguler dibuka. Pergerakannya sering dipengaruhi oleh laporan keuangan yang terbit sebelum pembukaan, data inflasi, laporan tenaga kerja, perubahan rekomendasi analis, serta perkembangan dari pasar Asia dan Eropa.
Sesi pre-market dapat dimulai pukul 04.00 ET. Namun, akses investor ritel tetap bergantung pada broker, saham, jenis akun, dan jenis order yang digunakan.
Aktivitas pada awal sesi biasanya masih tipis. Harga memang dapat bergerak sebelum bursa dibuka, tetapi belum tentu ada cukup banyak pembeli dan penjual untuk mengeksekusi order pada harga yang terlihat di layar.
2. After-hours trading
After-hours dimulai setelah sesi reguler berakhir pukul 16.00 ET. Aktivitasnya biasanya meningkat ketika perusahaan merilis laporan keuangan, memperbarui proyeksi bisnis, mengumumkan pergantian manajemen, atau melakukan aksi korporasi.
Apple, Microsoft, atau Tesla, misalnya, sering merilis laporan keuangan setelah pasar reguler ditutup. Investor kemudian merespons angka pendapatan, laba, margin, dan proyeksi manajemen. Harga saham pun dapat bergerak dalam hitungan menit.
Reaksi awal tersebut belum tentu bertahan. Setelah laporan dipelajari lebih lengkap dan lebih banyak investor masuk saat sesi reguler dibuka, arah serta besarnya pergerakan harga bisa berubah.
Bagaimana Transaksi di Luar Jam Reguler Berjalan?
Sekilas, transaksi pre-market dan after-hours terlihat sama seperti jual beli saham pada jam reguler. Perbedaannya baru terasa saat order mulai diproses.
Transaksi di luar jam reguler dilakukan melalui sistem perdagangan elektronik, termasuk bursa dan alternative trading systems. Namun, sistem-sistem ini tidak selalu terhubung dengan cara yang sama.
Akibatnya, harga yang terlihat di satu platform belum tentu menjadi harga terbaik yang tersedia di tempat lain. Data harga yang ditampilkan dan cara broker meneruskan order juga dapat berbeda.
Misalnya, harga transaksi terakhir sebuah saham tercatat US$100. Namun, order book menunjukkan:
Bid tertinggi: US$99,40
Ask terendah: US$100,60
Harga US$100 tersebut hanya menunjukkan transaksi terakhir yang terjadi. Kamu belum tentu bisa membeli atau menjual saham tepat di harga itu karena harga yang tersedia saat ini berada pada bid dan ask.
Banyak broker juga hanya mengizinkan limit order untuk transaksi di luar jam reguler. Dengan jenis order ini, kamu dapat menentukan harga maksimum saat membeli atau harga minimum saat menjual.
Meski begitu, limit order tidak menjamin transaksi akan selesai. Order bisa terisi sebagian, tidak terisi sama sekali, atau kedaluwarsa ketika sesi berakhir.
Risiko yang Sering Terlewatkan
Pergerakan harga yang cepat sering menjadi daya tarik utama di pre-market dan after-hours. Namun, saat order mulai dieksekusi, risiko yang paling terasa justru muncul.
1. Order mungkin tidak terisi
Jumlah pembeli dan penjual biasanya lebih sedikit dibandingkan sesi reguler. Harga yang terlihat menarik di layar belum tentu memiliki pihak yang bersedia bertransaksi pada level tersebut.
Selain itu, order dapat hanya terisi sebagian. Misalnya, kamu ingin membeli 20 saham, tetapi hanya tersedia 5 saham pada harga limit yang dipasang.
2. Spread dapat melebar
Spread adalah selisih antara harga bid tertinggi dan ask terendah. Selisih ini cenderung melebar ketika likuiditas menurun.
Pada sesi reguler, sebuah saham mungkin memiliki bid US$99,98 dan ask US$100. Namun, saat after-hours, bid dapat turun menjadi US$99,40 sementara ask naik menjadi US$100,60.
Spread yang lebih lebar menjadi biaya tidak langsung. Meskipun harga saham belum banyak bergerak, hasil transaksi dapat langsung tertekan.
3. Harga dapat berubah saat pasar dibuka
Harga pre-market atau after-hours tidak menjamin harga pembukaan sesi reguler. Ketika lebih banyak investor dan order masuk pukul 09.30 ET, proses pembentukan harga dapat menghasilkan level yang berbeda.
Misalnya, saham yang naik 8% di after-hours mungkin hanya dibuka 2% lebih tinggi pada sesi reguler. Sebaliknya, penurunan kecil dapat membesar setelah pasar mempelajari informasi secara lebih lengkap.
4. Reaksi terhadap berita dapat berlebihan
Pendapatan perusahaan mungkin meningkat, tetapi proyeksi manajemen justru melemah. Laba juga dapat melampaui estimasi, sementara margin atau arus kas menurun.
Harga biasanya bergerak lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan investor untuk membaca laporan secara menyeluruh. Karena itu, keputusan yang hanya didasarkan pada headline atau satu angka dapat mengabaikan konteks penting.
5. Investor ritel berhadapan dengan peserta profesional
Extended-hours trading bukan tempat yang bebas dari persaingan. Investor ritel dapat berhadapan dengan institusi, market maker, dan sistem otomatis yang memiliki data, infrastruktur, serta kecepatan eksekusi lebih tinggi.
Kondisi ini tidak berarti investor ritel selalu dirugikan. Namun, perbedaan akses informasi dan kecepatan transaksi dapat memengaruhi pergerakan harga di luar jam reguler.
Apakah Semua Investor Bisa Mengaksesnya?
Akses perdagangan di luar jam reguler kini semakin terbuka untuk investor ritel. Namun, ketersediaannya tetap bergantung pada broker, saham, jenis akun, dan fitur yang digunakan.
Pre-market dan after-hours tidak lagi terbatas pada investor institusional. Banyak broker sudah menyediakan akses ini bagi investor individu, meski cakupan dan jam transaksinya bisa berbeda.
Sebuah broker, misalnya, mungkin hanya mendukung saham tertentu atau membatasi transaksi pada limit order. Ada juga platform yang menyediakan pre-market tetapi tidak membuka seluruh sesi after-hours.
Karena itu, periksa ketentuan broker sebelum menganggap sebuah saham dapat langsung diperdagangkan di luar jam reguler.
Pre-market dan after-hours juga berbeda dari overnight trading atau perdagangan 24/5. Overnight trading berlangsung di luar sesi pre-market, reguler, dan after-hours, serta biasanya hanya tersedia untuk saham tertentu melalui venue perdagangan yang mendukungnya.
Di Gotrade, fitur 24/5 tersedia pada saham AS tertentu. Saham yang belum mendukung fitur tersebut akan diberi penanda di aplikasi.
Checklist Sebelum Memasang Order
Sebelum bereaksi terhadap pergerakan harga di pre-market atau after-hours, periksa dulu kondisi transaksinya secara menyeluruh.
Pastikan harga yang kamu lihat berasal dari sesi dan waktu yang benar.
Periksa bid, ask, spread, dan volume, bukan hanya harga transaksi terakhir.
Baca laporan atau pengumuman secara lengkap, jangan hanya mengandalkan headline.
Gunakan batas harga yang sesuai dan terima kemungkinan order tidak terisi.
Periksa apakah order akan dibatalkan, diteruskan, atau tetap aktif ketika sesi berganti.
Hindari ukuran posisi yang terlalu besar saat likuiditas sedang tipis.
Tentukan batas risiko sebelum memasang order, bukan setelah harga bergerak.
Mengamati pergerakan pre-market atau after-hours tanpa langsung bertransaksi juga merupakan keputusan yang wajar. Bagi investor jangka panjang, sesi ini sering lebih berguna sebagai konteks daripada sinyal beli atau jual.
Pergerakan di luar jam reguler dapat menunjukkan bagaimana pasar merespons sebuah berita. Namun, keputusan akhir tetap perlu mempertimbangkan kualitas bisnis, kondisi keuangan, valuasi, tujuan investasi, dan jangka waktu kepemilikan.
Kesimpulan
Pre-market dan after-hours dapat memberi konteks tambahan tentang cara pasar merespons sebuah berita. Namun, kedua sesi ini tidak selalu menjadi waktu terbaik untuk langsung mengambil posisi.
Melalui pre-market dan after-hours, investor bisa melihat reaksi awal terhadap laporan keuangan, data ekonomi, atau perkembangan bisnis sebelum sesi reguler berjalan penuh.
Meski begitu, bergerak lebih cepat bukan selalu berarti mendapat hasil yang lebih baik. Likuiditas yang lebih rendah, spread yang lebih lebar, quote yang terfragmentasi, dan perubahan harga saat pasar reguler dibuka dapat membuat eksekusi order lebih sulit.
Di Gotrade, kamu dapat memeriksa saham AS tertentu yang mendukung transaksi 24/5. Sebelum memasang order, perhatikan label sesi, jenis order, spread, dan risiko yang tercantum di aplikasi.
Sesuaikan setiap keputusan dengan tujuan, jangka waktu, dan kemampuanmu menghadapi kerugian. Pergerakan harga di luar jam reguler sebaiknya digunakan sebagai tambahan informasi, bukan sebagai satu-satunya alasan untuk membeli atau menjual saham.