Untuk melihat apakah valuasinya besar atau kecil, kamu juga perlu memperhatikan jumlah saham yang beredar.
Perusahaan dengan harga saham rendah tetap bisa memiliki valuasi tinggi jika jumlah sahamnya sangat banyak.
Hal yang sama berlaku ketika harga saham turun. Penurunan 30% tidak otomatis membuat saham tersebut menarik untuk dibeli.
Harga bisa melemah karena sentimen pasar, tetapi juga karena kondisi bisnisnya memburuk, seperti:
Pertumbuhan pendapatan mulai melambat
Margin keuntungan menurun
Utang perusahaan bertambah
Produk mulai kehilangan daya saing
Manajemen menurunkan proyeksi bisnis
Jumlah saham beredar terus meningkat
Karena itu, jangan memulai pencarian dengan pertanyaan, “Saham apa yang sedang murah?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah bisnis ini masih layak dimiliki pada harga sekarang?”
1. Pahami Cara Perusahaan Menghasilkan Uang
Kamu tidak perlu menjadi ahli di semua industri. Namun, setidaknya kamu harus memahami cara dasar perusahaan menghasilkan pendapatan.
Coba jawab beberapa pertanyaan berikut:
Produk atau layanan apa yang dijual?
Siapa pelanggannya?
Mengapa pelanggan memilih perusahaan ini?
Dari mana pertumbuhan datang?
Apa biaya terbesar dalam bisnis?
Siapa kompetitor utamanya?
Apa yang membuat pelanggan sulit berpindah?
Untuk perusahaan dengan banyak lini bisnis, jangan berhenti pada angka pendapatan total. Cari tahu segmen mana yang menjadi sumber pendapatan dan laba terbesar, serta bagian mana yang masih merugi atau membebani kinerja perusahaan.
SEC menjelaskan saat kamu mulai menganalisis saham AS, Form 10-K dapat menjadi salah satu titik awal. Dokumen ini memuat penjelasan mengenai bisnis perusahaan, risiko, kondisi keuangan, dan hasil operasionalnya.
Kamu tidak harus langsung membaca seluruh dokumen. Mulailah dari bagian berikut:
Setelah membacanya, coba jelaskan kembali bisnis tersebut dengan bahasamu sendiri. Jika kamu masih kesulitan memahami dari mana perusahaan menghasilkan uang, jangan terburu-buru membeli sahamnya.
2. Periksa Apakah Pertumbuhannya Benar-Benar Sehat
Pendapatan yang meningkat memanglah positif tetapi kamu masih perlu melihat bagaimana pertumbuhan tersebut terjadi. Karena pendapatan bisa naik karena:
Jumlah pelanggan bertambah.
Harga produk dinaikkan.
Perusahaan membeli bisnis lain.
Nilai tukar mata uang.
Penjualan kepada satu pelanggan besar.
Kondisi industri sedang sangat kuat.
Pertumbuhan yang sehat biasanya tidak hanya terlihat dari revenue. Periksa juga gross profit, operating income, laba bersih dan laba per saham.
Data | Hal yang Perlu Dilihat |
Pendapatan | Apakah bisnis terus berkembang? |
Gross margin | Apakah produk tetap menghasilkan laba yang sehat? |
Operating margin | Apakah biaya operasional terkendali? |
Laba bersih | Apakah perusahaan benar-benar menghasilkan laba? |
EPS | Apakah laba per saham ikut bertumbuh? |
Jumlah saham | Apakah pemegang saham mengalami dilusi? |
Dalam penelitian Robert Novy-Marx yang berjudul The Other Side of Value: The Gross Profitability Premium menjelaskan bahwa gross profitability bisa memberikan informasi penting mengenai kualitas ekonomi perusahaan.Tetapi hal ini tidak bisa dijadikan sebagai acuan.
Gross margin tinggi belum tentu cukup jika perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk pemasaran, riset atau mempertahankan pelanggan.
3. Pastikan Laba Didukung oleh Arus Kas
Laba bersih dan kas bukan hal yang sama. Perusahaan bisa mencatat pendapatan sebelum pelanggan benar-benar membayar.
Perusahaan juga bisa memiliki laba tinggi, tetapi kasnya habis untuk persediaan, belanja modal atau kebutuhan operasional.
Karena itu kamu bisa bandingkan laba bersih dengan:
Contohnya:
Kondisi tersebut belum tentu berarti perusahaan bermasalah. Namun, kamu perlu mencari tahu mengapa laba dan arus kas bergerak ke arah yang berbeda.
Bagi pemula kamu bisa menerapkan prinsip sederhana ini:
“Laba yang didukung arus kas biasanya lebih meyakinkan dari pada laba yang terus tumbuh tanpa kas yang mengikuti.”
4. Cek Utang dan Kemampuan Perusahaan Bertahan
Utang tidak selamanya buruk. Perusahaan bisa menggunakan utang untuk membangun pabrik, mengembangkan bisnis atau melakukan akuisisi. Masalahnya baru muncul ketika beban utang lebih besar daripada kemampuan perusahaan menghasilkan kas.
Saat membeli saham periksa kembali jumlah kas, total utang, beban bunga, jadwal jatuh tempo, arus kas operasi, free cash flow dan kewajibn sewa.
Jangan langsung memakai aturan bahwa Debt-to-Equity Ratio harus selalu di bawah angka tertentu.
Struktur utang perusahaan perbankan, utilitas, teknologi dan manufaktur sangat berbeda.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah laba operasi cukup untuk membayar bunga?
Apakah perusahaan masih menghasilkan kas setelah belanja modal?
Apakah banyak utang akan jatuh tempo dalam waktu dekat?
Apakah perusahaan perlu menerbitkan saham baru untuk mencari dana?
Apakah bisnis mampu bertahan jika pendapatan menurun?
Neraca yang sehat tidak menjamin harga saham akan naik. Namun, perusahaan dengan kas cukup dan utang terkendali biasanya memiliki ruang lebih besar saat kondisi bisnis memburuk.
5. Perhatikan Jumlah Saham yang Beredar
Pemula seringkali hanya fokus pada pertumbuhan pendapatan dan laba tetapi lupa memeriksa jumlah saham yang ada.
Perusahaan dapat menerbitkan saham baru untuk:
Membayar karyawan.
Membiayai akuisisi.
Menambah modal.
Mengonversi obligasi.
Memenuhi kebutuhan kas.
Jika jumlah saham meningkat, bagian kepemilikan investor lama menjadi lebih kecil.
Misalnya:
Laba perusahaan meningkat 20%.
Namun, EPS berubah dari:
US$100 juta ÷ 100 juta saham = US$1
Menjadi:
US$120 juta ÷ 130 juta saham = sekitar US$0,92
Bisnisnya menghasilkan laba lebih besar tetapi laba yang diterima untuk setiap saham justru turun.
Karena itu, periksa tren diluted weighted-average shares selama beberapa tahun.
Buyback juga perlu dianalisis dengan hati-hati. Buyback bisa meningkatkan EPS karena jumlah saham berkurang tetapi belum tentu menciptakan nilai jika dilakukan saat harga saham terlalu mahal atau memakai utang.
6. Lihat Apakah Manajemen Menggunakan Modal dengan Baik
Perusahaan menghasilkan kas untuk dipakai kembali dalam bisnis. Manajemen bisa menggunakannya untuk mengembangkan produk, membuka fasilitas baru, melakukan akuisisi, membayar utang, membagikan dividen, membeli kembali saham atau menyimpannya sebagai cadangan.
Masalahnya, pertumbuhan tidak selalu menciptakan nilai. Perusahaan bisa membuka banyak cabang atau melakukan akuisisi besar tetapi hasil yang diperoleh dari modal tersebut belum tentu sebanding.
Salah satu rasio yang dapat membantu adalah Return on Invested Capital atau ROIC.
Rasio ini menunjukkan seberapa efektif perusahaan menghasilkan laba operasi dari modal yang digunakan.
Jangan hanya melihat angkanya dalam satu tahun. Periksa juga hal berikut ini:
Apakah ROIC meningkat secara konsisten?
Apakah hasilnya berasal dari bisnis utama?
Berapa banyak modal yang dibutuhkan untuk bertumbuh?
Apakah akuisisi sebelumnya memberikan hasil yang baik?
Apakah program buyback benar-benar mengurangi jumlah saham beredar?
Apakah utang bertambah lebih cepat daripada laba?
Manajemen yang baik tidak hanya terdengar meyakinkan saat menjelaskan rencana.
Kualitas keputusannya juga perlu terlihat dari pertumbuhan laba, arus kas, tingkat utang, dan hasil penggunaan modal dari waktu ke waktu.
7. Jangan Lupa Memeriksa Valuasi
Setelah menemukan perusahaan yang berkualitas kamu masih perlu menilai berapa harga sahamnya. Saat menilai harga ini kamu bisa menggunakan beberapa rasio untuk membantu kamu dalam menilai.
Beberapa rasio yang dapat digunakan antara lain:
Price-to-Earnings Ratio.
EV/EBITDA.
Price-to-Sales.
Price-to-Book Value.
Free cash flow yield.
Discounted cash flow.
Tidak ada satu rasio pun yang cocok untuk semua perusahaan. P/E rendah belum tentu saham murah. Bisa jadi pasar memperkirakan laba perusahaan akan turun.
P/E tinggi juga belum tentu mahal. Perusahaan mungkin memiliki pertumbuhan dan kualitas bisnis yang lebih tinggi meskipun risikonya semakin besar jika ekspektasi tidak tercapai.
Perusahaan yang bagus masih bisa menjadi investasi yang buruk jika kamu membayar harga yang terlalu tinggi.
8. Cari Alasan Kenapa Saham Ini Tidak Layak Dibeli
Setelah menyukai sebuah saham kamu akan lebih mudah mencari informasi yang mendukung keputusanmu. Inilah yang disebut confirmation bias. Untuk menguranginya tuliskanlah beberapa alasan yang dapat membuat analisismu salah.
Contohnya:
Pertumbuhan melambat.
Kompetitor mengambil pangsa pasar.
Produk utama kehilangan relevansi.
Perusahaan terlalu bergantung pada satu pelanggan.
Utang meningkat.
Regulasi berubah.
Pendiri atau manajemen meninggalkan perusahaan.
Margin terus menurun.
Jumlah saham bertambah.
Valuasi membutuhkan asumsi terlalu optimistis.
Kamu juga bisa membandingkan Risk Factors pada laporan terbaru dengan tahun sebelumnya. Risiko yang baru muncul atau dibahas lebih panjang bukan berarti menjadi masalah besar. Tatepi perubahan ini perlu di cari tahu lebih dalam.
Evaluasi Saham dengan Beberapa Indikator Penting
Menilai saham tidak cukup hanya dari pertumbuhan laba atau valuasi. Kondisi arus kas, neraca, efisiensi penggunaan modal dan perubahan jumlah saham juga perlu diperiksa secara bersamaan.
Gunakan scorecard berikut untuk merangkum kualitas bisnis, sumber pertumbuhan, ketahanan keuangan, dan risiko utama berdasarkan data yang kamu masukkan.
Kenali Bisnisnya sebelum Membeli Saham
Cara memilih saham yang baik untuk pemula bukanlah dengan mencari saham yang sedang ramai, paling murah atau baru turun tajam.
Mulailah dengan memahami bisnisnya. Setelah itu, periksa kualitas pertumbuhan, arus kas, utang, penggunaan modal dan perubahan jumlah saham.
Baru setelah perusahaan terlihat layak, nilai apakah harga sahamnya masih masuk akal.
Perusahaan berkualitas belum tentu menjadi investasi yang bagus jika valuasinya sudah terlalu tinggi. Sebaliknya, saham murah belum tentu menarik jika bisnisnya terus melemah.
Gunakan Gotrade untuk memantau saham AS dan mempelajari informasi perusahaan sebelum mengambil keputusan. Tetap sesuaikan pilihan saham serta ukuran posisi dengan tujuan dan profil risikomu.
Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil pada masa depan. Harga saham dapat turun dan investor dapat kehilangan sebagian atau seluruh modal. Materi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.
Gotrade Indonesia (PT Valbury Asia Futures) memungkinkan akses ke saham AS dari Indonesia melalui kontrak yang didukung penuh. 'Saham' mengacu pada Kontrak Derivatif PALN dan tidak mengacu pada "surat berharga" berdasarkan undang-undang pasar modal Indonesia dan dalam hal apa pun tidak boleh dianggap sebagai penawaran umum efek.