Belajar Beli Saham untuk Pemula: Panduan dari Nol sampai Pembelian Pertama

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Belajar Beli Saham untuk Pemula: Panduan dari Nol sampai Pembelian Pertama

Ringkasan Gotrade

  • Belajar beli saham sebaiknya dimulai dari memahami bisnis dan risiko, bukan mencari ticker yang sedang ramai.

  • Sebelum membeli, tentukan dana, horizon investasi, alasan memilih saham, dan seberapa besar posisi yang ingin kamu ambil.

  • Pahami juga cara kerja market order, limit order, spread, dan saham pecahan agar kamu mengetahui apa yang terjadi ketika menekan tombol beli.

Belajar beli saham sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “Saham apa yang lagi naik hari ini?”

Membeli saham memang bisa dilakukan dalam beberapa klik. Tetapi sebagai investor kamu harus bisa memahami tentang perusahaan yang kamu beli, alasan memilih saham tersebut, berapa dana yang siap kamu investasikan dan apa yang akan kamu lakukan jika harganya bergerak tidak sesuai harapan.

Karena itu, sebagai investor pemula sebaiknya kamu belajar secara bertahap.

Baca juga: Cara & Aplikasi Beli Saham IPO: Pilihan IPO di Indonesia dan Amerika

Panduan ini akan membahas langkah-langkah yang perlu dipahami agar kamu tidak hanya asal klik untuk membeli tetapi juga memahami alasan di balik setiap keputusan pembelian saham.

Sebelum Beli Saham, Pahami Dulu Apa yang Kamu Beli

Saham bukannya hanya sebuah kode ticker yang harganya naik turun setiap hari. Ketika kamu membeli saham perusahaan publik kamu sebenarnya membeli bagian kepemilikan dalam perusahaan tersebut dan ikut serta dalam perkembangan bisnisnya.

Menurut Investor.gov investor saham akan memperoleh hasil dari kenaikan harga maupun dividen yang dibagikan perusahaan. Tetapi, tidak ada jaminan keduanya akan terjadi karena harga saham juga bisa turun.

Baca juga: Trading Saham: Cara Kerja, Strategi dan Risikonya

Jadi, sebelum bertanya:

“Saham apa yang akan naik?”

Lebih baik mulai dari pertanyaan:

“Bisnis apa yang sedang saya beli dan risiko apa yang akan ikut saya ambil?”

Cara berpikir ini penting karena perusahaan dengan produk terkenal belum tentu memiliki kondisi keuangan yang kuat.

Begitu juga sebaliknya perusahaan dengan bisnis yang bagus belum tentu menarik untuk dibeli jika harga sahamnya sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan kinerja dan prospeknya.

Belajar Beli Saham dari Nol

Saat memulai untuk membeli saham kamu tidak perlu memahami seluruh pasar modal sebelum membeli saham pertama, perhatikan beberapa hal berikut ini:

1. Tentukan Dana yang Memang Siap Diinvestasikan

Sebelum membeli saham kamu perlu mengecek terlebih dahulu apakah dana yang akan digunakan memang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat.

Misalnya, kamu memiliki uang Rp5 juta tetapi Rp4 juta di antaranya akan dipakai untuk membayar biaya kuliah tiga bulan lagi. Uangnya memang tersedia sekarang tetapi bukan berarti semua uangnya cocok untuk dimasukkan ke dalam saham.

Harga saham bisa saja turun ketika dana tersebut perlu kamu gunakan. Karena itu, jumlah yang diinvestasikan perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, kapan uang akan dibutuhkan dan seberapa besar perubahan nilai yang masih bisa kamu terima.

2. Pahami Perusahaan di Balik Ticker

Setelah menentukan dana kamu bisa mulai untuk melihat perusahaan yang ingin kamu pelajari.

Misalnya, jika kamu tertarik pada perusahaan teknologi karena produknya sering kamu gunakan.

Hal Itu bisa jadi titik awal kamu untuk memulai investasi. Selanjutnya kamu bisa mulai mencari tahu bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan uang, apakah dari penjualan produk, langganan, iklan, biaya layanan atau sumber lainnya.

Setelah itu, kamu bisa lihat apakah bisnis tersebut benar-benar menghasilkan laba dan kas. Bagi investor pemula kamu bisa mulai dari empat hal berikut ini:

Yang diperiksa

Pertanyaan sederhana

Pendapatan

Apakah penjualan perusahaan bertumbuh?

Laba

Apakah perusahaan menghasilkan keuntungan?

Arus kas

Apakah bisnis menghasilkan kas dari operasinya?

Utang

Apakah jumlah utangnya masih dapat dikelola?

Menurut SEC, laporan laba rugi, neraca dan laporan arus kas memberikan kamu sudut pandang yang berbeda dalam memahami kondisi keuangan perusahaan.Tetapi, kamu tidak harus langsung memahami setiap istilah akuntansi di dalamnya.

Mulailah dari memahami bagaimana bisnis bekerja, dari mana uang masuk, ke mana uang akan keluar dan periksa kembali apakah kondisi keuangannya membaik atau justru memburuk.

3. Jangan Menilai Murah atau Mahal dari Harga per Lembar

Bagi pemula yang baru memulai untuk membeli saham harga per lembar dalam saham sering menjadi patokan pertama.

Sebagai contoh Saham A memiliki harga US$20 dan saham B memiliki harga US$200.

Saham A belum tentu lebih murah secara valuasi dari saham B hanya karena harga per lembarnya lebih rendah karena harga saham juga dipengaruhi oleh jumlah saham yang beredar.

Untuk melihat ukuran perusahaan kamu bisa mulai dari market capitalization. Setelah itu, menggunakan rasio seperti P/E atau metrik valuasi lain yang sesuai untuk melihat seberapa tinggi pasar menghargai bisnis tersebut dibandingkan kinerjanya.

Jadi daripada berpikir “Harga sahamnya murah atau mahal?” lebih baik untuk mulai memikirkan “Ekspektasi seperti apa yang sudah tercermin dalam harga saham ini?”

Pertanyaan tersebut akan membantu kamu melihat harga dalam konteks bisnis dan valuasinya bukan hanya dari angka per lembar saham yang ada.

4. Bedakan Saham Individual dan ETF

Saat mulai belajar untuk membeli saham kamu tidak harus memulai dari satu perusahaan.

Saham individual membuat hasil investasi kamu lebih bergantung pada kondisi satu perusahaan. Sementara itu, ETF memungkinkan kamu memiliki eksposur ke beberapa saham dalam satu instrumen.

Meskipun begitu ETF yang berisi banyak saham tetap bisa memiliki risiko konsentrasi jika sebagian besar bobotnya hanya berada pada beberapa perusahaan atau satu sektor tertentu.

5. Tentukan Ukuran Posisi sebelum Membeli

Setelah menemukan saham atau ETF yang ingin dibeli kamu harus tentukan dulu seberapa besar bagian portofolio yang ingin kamu tempatkan di aset tersebut.

Sebagai contoh misalnya, kamu memiliki dana investasi US$500 dan ingin membeli saham Apple dengan harga US$100. Membeli US$50, US$200 atau menggunakan seluruh US$500 akan memberikan dampak yang berbeda terhadap portofolio kamu.

Semakin besar porsi satu saham maka semakin besar pula pengaruh pergerakan harganya terhadap total nilai portofolio.

Sebagai contoh adalah saat harga saham tersebut turun hingga 20%. Jika hanya 10% dari portofolio kamu berada di saham itu maka dampaknya akan jauh berbeda dibandingkan jika seluruh dana ditempatkan pada satu saham. Karena itu, jangan hanya menentukan saham apa yang ingin dibeli, tetapi tentukan juga berapa besar posisi yang masuk akal untuk portofolio kamu.

Setelah menentukan berapa besar posisi yang ingin dialokasikan, kamu juga bisa melihat seberapa besar porsi nominal tersebut terhadap keseluruhan portofolio melalui simulasi berikut ini:

6. Pelajari Market Order dan Limit Order

Ketika kamu sudah memilih saham dan menentukan nominal yang ingin dibeli. Langkah berikutnya adalah memahami bagaimana order tersebut masuk ke pasar.

Dua jenis order dasar yang perlu dipahami pemula adalah market order dan limit order.

Menurut Fidelity, market order adalah eksekusi transaksi pada harga terbaik yang tersedia saat itu tetapi harga akhirnya tidak dijamin sama saat kamu order. Sebaliknya limit order adalah ketika kamu bisa menentukan batasan harga tetapi order kamu belum tentu akan terisi.

7. Pahami Bid, Ask, dan Spread Sebelum Klik Beli

Selain harga terakhir kamu juga perlu perhatikan juga bid dan ask. Bid adalah harga tertinggi dari pembeli sedangkan ask adalah harga terendah dari penjual. Selisih keduanya disebut bid-ask spread.

Misalnya:

Bid: US$99,90
Ask: US$100,10
Spread: US$0,20

Pada saham yang likuid spread biasanya lebih kecil. Karena itu, jangan hanya melihat last price karena harga eksekusi bisa berbeda tergantung bid, ask, dan kondisi pasar.

8. Periksa Order Sebelum Dikirim

Kesalahan transaksi tidak selalu berasal dari hasil analisis. Ticker, nominal atau jenis order yang salah juga bisa menyebabkan hasil yang tidak sesuai rencana.

Sebelum mengirimkan order kamu perlu cek kembali beberapa hal ini:

  • Ticker: pastikan saham yang kamu pilih benar

  • Nominal atau jumlah saham: jangan tertukar antara nilai investasi dan jumlah saham

  • Jenis order: pastikan market atau limit order sesuai dengan kebutuhan

  • Nilai transaksi: cek apakah masih sesuai alokasi

  • Biaya: pahami biaya dan ketentuan transaksi yang berlaku

Sudah Beli Saham, Lalu Harus Apa?

Membeli saham bukanlah akhir dari proses. Setelah memiliki posisi, kamu masih harus memantau apakah alasan awal membeli masih sesuai dengan perkembangan perusahaan.

Jika kamu ingin menjadi investor jangka panjang, perubahan fundamental biasanya lebih penting daripada pergerakan harga setiap beberapa menit. Selain itu setelah membeli kamu perlu mencatat tiga hal berikut ini:

  • Alasan membeli: apa yang membuat perusahaan tersebut menarik?

  • Hal yang dipantau: misalnya pendapatan, margin, utang, jumlah pengguna, atau perkembangan produk.

  • Kondisi yang mengubah analisis: apa yang membuat alasan awal membeli tidak lagi berlaku?

Catatan ini membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih terarah ketika harga bergerak secara masif. Harga yang naik atau turun belum bisa menentukan kondisi bisnis perusahaan akan ikut berubah.

Mulai dari Proses, Bukan dari Saham yang Sedang Naik

Belajar beli saham bukan tentang mencari cara agar pembelian pertama langsung menghasilkan keuntungan tetapi membangun proses yang tetap bisa kamu gunakan ketika harga bergerak tidak sesuai dengan harapan.

Sebelum membeli kamu perlu memahami tentang bisnis perusahaan, kondisi keuangannya, risiko yang dihadapi, berapa besar posisi yang ingin diambil dan bagaimana order akan dieksekusi.

Memulai dari nominal kecil pada saham yang benar-benar kamu pahami bisa menjadi cara untuk belajar membaca pasar tanpa harus mengikuti banyak ticker sekaligus.

Melalui Gotrade, kamu bisa mempelajari saham AS dan ETF serta mengakses saham tertentu secara fraksional mulai dari US$1 sesuai ketentuan produk yang berlaku.

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left

Welcome Reward hingga $1.888

Buat akun dan trading saham AS di Gotrade

*Syarat dan ketentuan berlaku