Jadi, sebelum bertanya:
“Saham apa yang akan naik?”
Lebih baik mulai dari pertanyaan:
“Bisnis apa yang sedang saya beli dan risiko apa yang akan ikut saya ambil?”
Cara berpikir ini penting karena perusahaan dengan produk terkenal belum tentu memiliki kondisi keuangan yang kuat.
Begitu juga sebaliknya perusahaan dengan bisnis yang bagus belum tentu menarik untuk dibeli jika harga sahamnya sudah terlalu tinggi dibandingkan dengan kinerja dan prospeknya.
Belajar Beli Saham dari Nol
Saat memulai untuk membeli saham kamu tidak perlu memahami seluruh pasar modal sebelum membeli saham pertama, perhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Tentukan Dana yang Memang Siap Diinvestasikan
Sebelum membeli saham kamu perlu mengecek terlebih dahulu apakah dana yang akan digunakan memang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat.
Misalnya, kamu memiliki uang Rp5 juta tetapi Rp4 juta di antaranya akan dipakai untuk membayar biaya kuliah tiga bulan lagi. Uangnya memang tersedia sekarang tetapi bukan berarti semua uangnya cocok untuk dimasukkan ke dalam saham.
Harga saham bisa saja turun ketika dana tersebut perlu kamu gunakan. Karena itu, jumlah yang diinvestasikan perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, kapan uang akan dibutuhkan dan seberapa besar perubahan nilai yang masih bisa kamu terima.
2. Pahami Perusahaan di Balik Ticker
Setelah menentukan dana kamu bisa mulai untuk melihat perusahaan yang ingin kamu pelajari.
Misalnya, jika kamu tertarik pada perusahaan teknologi karena produknya sering kamu gunakan.
Hal Itu bisa jadi titik awal kamu untuk memulai investasi. Selanjutnya kamu bisa mulai mencari tahu bagaimana perusahaan tersebut menghasilkan uang, apakah dari penjualan produk, langganan, iklan, biaya layanan atau sumber lainnya.
Setelah itu, kamu bisa lihat apakah bisnis tersebut benar-benar menghasilkan laba dan kas. Bagi investor pemula kamu bisa mulai dari empat hal berikut ini:
Yang diperiksa | Pertanyaan sederhana |
Pendapatan | Apakah penjualan perusahaan bertumbuh? |
Laba | Apakah perusahaan menghasilkan keuntungan? |
Arus kas | Apakah bisnis menghasilkan kas dari operasinya? |
Utang | Apakah jumlah utangnya masih dapat dikelola? |
Menurut SEC, laporan laba rugi, neraca dan laporan arus kas memberikan kamu sudut pandang yang berbeda dalam memahami kondisi keuangan perusahaan.Tetapi, kamu tidak harus langsung memahami setiap istilah akuntansi di dalamnya.
Mulailah dari memahami bagaimana bisnis bekerja, dari mana uang masuk, ke mana uang akan keluar dan periksa kembali apakah kondisi keuangannya membaik atau justru memburuk.
3. Jangan Menilai Murah atau Mahal dari Harga per Lembar
Bagi pemula yang baru memulai untuk membeli saham harga per lembar dalam saham sering menjadi patokan pertama.
Sebagai contoh Saham A memiliki harga US$20 dan saham B memiliki harga US$200.
Saham A belum tentu lebih murah secara valuasi dari saham B hanya karena harga per lembarnya lebih rendah karena harga saham juga dipengaruhi oleh jumlah saham yang beredar.
Untuk melihat ukuran perusahaan kamu bisa mulai dari market capitalization. Setelah itu, menggunakan rasio seperti P/E atau metrik valuasi lain yang sesuai untuk melihat seberapa tinggi pasar menghargai bisnis tersebut dibandingkan kinerjanya.
Jadi daripada berpikir “Harga sahamnya murah atau mahal?” lebih baik untuk mulai memikirkan “Ekspektasi seperti apa yang sudah tercermin dalam harga saham ini?”
Pertanyaan tersebut akan membantu kamu melihat harga dalam konteks bisnis dan valuasinya bukan hanya dari angka per lembar saham yang ada.
4. Bedakan Saham Individual dan ETF
Saat mulai belajar untuk membeli saham kamu tidak harus memulai dari satu perusahaan.
Saham individual membuat hasil investasi kamu lebih bergantung pada kondisi satu perusahaan. Sementara itu, ETF memungkinkan kamu memiliki eksposur ke beberapa saham dalam satu instrumen.
Meskipun begitu ETF yang berisi banyak saham tetap bisa memiliki risiko konsentrasi jika sebagian besar bobotnya hanya berada pada beberapa perusahaan atau satu sektor tertentu.
5. Tentukan Ukuran Posisi sebelum Membeli
Setelah menemukan saham atau ETF yang ingin dibeli kamu harus tentukan dulu seberapa besar bagian portofolio yang ingin kamu tempatkan di aset tersebut.
Sebagai contoh misalnya, kamu memiliki dana investasi US$500 dan ingin membeli saham Apple dengan harga US$100. Membeli US$50, US$200 atau menggunakan seluruh US$500 akan memberikan dampak yang berbeda terhadap portofolio kamu.
Semakin besar porsi satu saham maka semakin besar pula pengaruh pergerakan harganya terhadap total nilai portofolio.
Sebagai contoh adalah saat harga saham tersebut turun hingga 20%. Jika hanya 10% dari portofolio kamu berada di saham itu maka dampaknya akan jauh berbeda dibandingkan jika seluruh dana ditempatkan pada satu saham. Karena itu, jangan hanya menentukan saham apa yang ingin dibeli, tetapi tentukan juga berapa besar posisi yang masuk akal untuk portofolio kamu.
Setelah menentukan berapa besar posisi yang ingin dialokasikan, kamu juga bisa melihat seberapa besar porsi nominal tersebut terhadap keseluruhan portofolio melalui simulasi berikut ini:
6. Pelajari Market Order dan Limit Order
Ketika kamu sudah memilih saham dan menentukan nominal yang ingin dibeli. Langkah berikutnya adalah memahami bagaimana order tersebut masuk ke pasar.
Dua jenis order dasar yang perlu dipahami pemula adalah market order dan limit order.
Menurut Fidelity, market order adalah eksekusi transaksi pada harga terbaik yang tersedia saat itu tetapi harga akhirnya tidak dijamin sama saat kamu order. Sebaliknya limit order adalah ketika kamu bisa menentukan batasan harga tetapi order kamu belum tentu akan terisi.
7. Pahami Bid, Ask, dan Spread Sebelum Klik Beli
Selain harga terakhir kamu juga perlu perhatikan juga bid dan ask. Bid adalah harga tertinggi dari pembeli sedangkan ask adalah harga terendah dari penjual. Selisih keduanya disebut bid-ask spread.
Misalnya:
Bid: US$99,90
Ask: US$100,10
Spread: US$0,20
Pada saham yang likuid spread biasanya lebih kecil. Karena itu, jangan hanya melihat last price karena harga eksekusi bisa berbeda tergantung bid, ask, dan kondisi pasar.
8. Periksa Order Sebelum Dikirim
Kesalahan transaksi tidak selalu berasal dari hasil analisis. Ticker, nominal atau jenis order yang salah juga bisa menyebabkan hasil yang tidak sesuai rencana.
Sebelum mengirimkan order kamu perlu cek kembali beberapa hal ini:
Ticker: pastikan saham yang kamu pilih benar
Nominal atau jumlah saham: jangan tertukar antara nilai investasi dan jumlah saham
Jenis order: pastikan market atau limit order sesuai dengan kebutuhan
Nilai transaksi: cek apakah masih sesuai alokasi
Biaya: pahami biaya dan ketentuan transaksi yang berlaku
Sudah Beli Saham, Lalu Harus Apa?
Membeli saham bukanlah akhir dari proses. Setelah memiliki posisi, kamu masih harus memantau apakah alasan awal membeli masih sesuai dengan perkembangan perusahaan.
Jika kamu ingin menjadi investor jangka panjang, perubahan fundamental biasanya lebih penting daripada pergerakan harga setiap beberapa menit. Selain itu setelah membeli kamu perlu mencatat tiga hal berikut ini:
Alasan membeli: apa yang membuat perusahaan tersebut menarik?
Hal yang dipantau: misalnya pendapatan, margin, utang, jumlah pengguna, atau perkembangan produk.
Kondisi yang mengubah analisis: apa yang membuat alasan awal membeli tidak lagi berlaku?
Catatan ini membantu kamu mengambil keputusan dengan lebih terarah ketika harga bergerak secara masif. Harga yang naik atau turun belum bisa menentukan kondisi bisnis perusahaan akan ikut berubah.
Mulai dari Proses, Bukan dari Saham yang Sedang Naik
Belajar beli saham bukan tentang mencari cara agar pembelian pertama langsung menghasilkan keuntungan tetapi membangun proses yang tetap bisa kamu gunakan ketika harga bergerak tidak sesuai dengan harapan.
Sebelum membeli kamu perlu memahami tentang bisnis perusahaan, kondisi keuangannya, risiko yang dihadapi, berapa besar posisi yang ingin diambil dan bagaimana order akan dieksekusi.
Memulai dari nominal kecil pada saham yang benar-benar kamu pahami bisa menjadi cara untuk belajar membaca pasar tanpa harus mengikuti banyak ticker sekaligus.
Melalui Gotrade, kamu bisa mempelajari saham AS dan ETF serta mengakses saham tertentu secara fraksional mulai dari US$1 sesuai ketentuan produk yang berlaku.