Menurut Fidelity perbedaan utama keduanya berada pada horizon waktu. Investasi biasanya dilakukan dalam periode bertahun-tahun sedangkan trading hanya melibatkan transaksi dalam hitungan hari, minggu atau bulan.
Tetapi, trading tidak selalu berarti membeli dan menjual saham pada hari yang sama. Ada juga trader yang mempertahankan posisi selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu sebelum menjualnya lagi bergantung pada strategi yang digunakan.
Bagaimana Cara Kerja Trading Saham?
Cara kerja kerja trading saham memiliki alur seperti berikut ini:
1. Mencari saham
Trader biasanya memulai dengan menyaring saham berdasarkan kriteria tertentu.
Ada yang ingin mencari saham dengan volume tinggi, saham yang sedang berada dalam tren kuat, saham yang mendekati area support atau resistance hingga saham yang sedang mendapat katalis dari laporan keuangan atau berita perusahaan.
Tujuannya bukanlah mencari saham yang "akan naik" melainkan mencari situasi yang tepat dengan strategi yang sudah ditentukan.
2. Menentukan alasan masuk
Sebelum membeli suatu saham biasanya trader perlu mengetahui kenapa posisi tersebut dibuka, seperti:
Harga menembus resistance dengan kenaikan volume
Harga kembali menguji support setelah mengalami kenaikan
Tren jangka pendek masih terus naik
Adanya perubahan fundamental atau katalis yang dianggap relevan terhadap pergerakan harga
Menurut Investor.gov kemudahan dalam online trading bukan berarti menghilangkan kebutuhan untuk melakukan riset. Investor tetap perlu memahami alasan membeli atau menjual serta risiko dari transaksi yang dilakukan.
Dengan begitu, keputusan tidak hanya muncul karena melihat harga sedang naik atau karena saham tertentu ramai dibicarakan.
3. Menentukan harga dan jenis order
Setelah menemukan setup yang sesuai trader biasanya akan menentukan bagaimana order akan dimasukkan. Dua jenis order yang paling umum adalah market order dan limit order.
Limit order memungkinkan trader menentukan batas harga tertentu sementara Market order memprioritaskan eksekusi pada harga terbaik yang tersedia saat order masuk.
Pilihan ini penting karena harga yang terlihat di layar belum tentu sama dengan harga akhir ketika transaksi selesai dieksekusi.
4. Mengelola posisi
Setelah order terisi trader akan mulai memantau apakah pergerakan harga masih sesuai dengan skenario awal.
Posisi tidak harus langsung ditutup hanya karena harga turun sedikit begitu juga sebaliknya posisi tidak seharusnya terus dipertahankan jika alasan awal membuka transaksi sudah tidak berlaku. Karena itu, trader biasanya menentukan level invalidasi sebelum masuk.
Posisi bisa ditutup karena beberapa alasan, seperti berikut ini:
Target harga tercapai
Skenario trading tidak lagi valid
Risiko berubah menjadi terlalu besar
Kondisi pasar berubah
Trader ingin mengurangi eksposur menjelang suatu peristiwa
Profit maupun kerugian baru terealisasi ketika posisi dijual.
Contoh Trading Saham
Bayangkan saham ABC diperdagangkan di harga US$100. Setelah melakukan analisis, kamu membeli 10 saham dengan harga tersebut.
Total nilai posisi:
10 × US$100 = US$1.000
Lalu beberapa hari kemudian harga naik menjadi US$106 dan kamu menjual seluruh posisi yang kamu punya, maka:
Nilai penjualan:
10 × US$106 = US$1.060
Keuntungan kotor dari perubahan harga menjadi:
US$1.060 - US$1.000 = US$60
Tetapi, hasil bersih bisa berbeda setelah memperhitungkan biaya transaksi, pajak yang berlaku atau faktor lainnya.
Skenario sebaliknya juga bisa terjadi. Jika harga turun menjadi US$96 dan kamu menutup posisi. Maka kerugian kotornya akan menjadi:
(US$96 - US$100) × 10 = -US$40
Dari contoh ini menunjukkan bahwa trading tidak hanya membahas berapa besar harga bisa naik. Tetapi trader juga perlu mengetahui seberapa besar kerugian yang trader siap untuk diterima jika skenarionya tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Trading Saham vs Investasi Saham
Trading dan investasi sama-sama melibatkan kepemilikan saham tetapi memiliki pendekatan yang berbeda, perhatikan tabel berikut ini:
Aspek | Trading Saham | Investasi Saham |
Horizon waktu | Relatif pendek | Relatif panjang |
Frekuensi transaksi | Cenderung lebih sering | Cenderung lebih jarang |
Fokus utama | Pergerakan harga dan kondisi pasar | Pertumbuhan bisnis dan nilai perusahaan |
Analisis | Banyak menggunakan harga, volume, teknikal, dan katalis | Lebih banyak mempertimbangkan fundamental dan valuasi |
Pengelolaan posisi | Lebih aktif | Biasanya lebih pasif |
Risiko | Sangat dipengaruhi volatilitas jangka pendek | Lebih terpapar perubahan fundamental jangka panjang |
Berdasarkan tabel diatas perbedaan antara keduanya ada pada tujuan penggunaannya. Trader bisa melihat fundamental sebagai katalis sedangkan investor tetap mempertimbangkan harga dan valuasi saat akan membeli saham.
Analisis yang Digunakan dalam Trading Saham
Tidak ada satu metode analisis yang harus digunakan semua trader. Pendekatannya biasanya disesuaikan dengan strategi, horizon dan kondisi pasar. Berikut ini beberapa metode yang biasa digunakan dalam trading saham:
1. Analisis Teknikal
Analisis teknikal berfokus dalam pergerakan harga dan aktivitas pasar seperti tren, support dan resistance, volume, momentum, volatilitas serta pola harga.
Indikator seperti moving average, RSI, MACD atau stochastic bisa digunakan sebagai alat bantu. Tetapi, indikator sebaiknya digunakan untuk membaca konteks pasar bukan sebagai sinyal beli atau jual yang berdiri sendiri.
2. Analisis Fundamental
Analisis fundamental bisa digunakan oleh trader untuk menganalisa laporan keuangan, pertumbuhan pendapatan, margin, perubahan proyeksi hingga melihat valuasi yang mempengaruhi bagaimana pasar menilai sebuah saham.
Meski horizon trader lebih pendek daripada investor jangka panjang perubahan fundamental tetap bisa menjadi pemicu pergerakan harga.
3. Katalis
Katalis adalah peristiwa yang mampu meningkatkan perhatian pasar terhadap sebuah saham. Contohnya seperti laporan keuangan, perubahan proyeksi manajemen, peluncuran produk, akuisisi, regulasi baru, data ekonomi atau keputusan suku bunga.
Tetapi, katalis tidak menjamin harga akan bergerak ke arah tertentu. Berita positif sekalipun bisa saja direspons negatif jika hasilnya masih di bawah ekspektasi pasar.
Strategi Trading Saham yang Umum Digunakan Oleh Trader
Strategi trading pada dasarnya adalah seperangkat kondisi yang menentukan kapan trader mempertimbangkan masuk, kapan menunggu dan kapan keluar. Berikut ini beberapa pendekatan yang biasa ditemukan:
1. Trend Following
Strategi ini adalah strategi saat trader mencoba mengikuti arah tren yang sudah terbentuk. Jika harga terus membuat higher high dan higher low, trader bisa mencari kesempatan untuk masuk selama struktur tren tersebut belum berubah.
2. Breakout Trading
Strategi pendekatan ini mencari saham yang bergerak melewati area penting seperti resistance atau rentang konsolidasi. Trader biasanya tidak hanya melihat harga tetapi juga memperhatikan volume dan melihat apakah breakout mampu bertahan setelah level tersebut dilewati.
3. Pullback trading
Pada strategi ini alih-alih membeli ketika harga sedang melonjak, trader justru menunggu koreksi sementara dalam tren yang masih dianggap valid. Area seperti support, moving average atau bekas resistance bisa digunakan sebagai bagian dari analisis.
4. Mean reversion
Strategi ini berawal dari asumsi bahwa pergerakan harga yang terlalu jauh dari kondisi normalnya terkadang dapat kembali mendekati rata-rata. Tetapi, harga yang terlihat "terlalu murah" masih mampu untuk turun lebih jauh. Karena itu, mean reversion tetap membutuhkan level invalidasi.
Risiko Trading Saham
Trading saham memang memiliki potensi keuntungan tetapi tetap ada risiko kerugian didalamnya, seperti berikut ini:
1. Harga bergerak berlawanan
Analisis yang dilakukan bisa saja salah. Perusahaan yang terlihat kuat sekalipun bisa mengalami penurunan harga karena ekspektasi pasar berubah, berita baru muncul atau kondisi pasar secara keseluruhan memburuk.
2. Volatilitas
Harga saham bisa saja berubah dengan cepat. Semakin tinggi volatilitas maka semakin besar jarak pergerakan harga dalam waktu singkat. Sehingga kondisi ini bisa meningkatkan potensi pergerakan sekaligus memperbesar risiko.
3. Slippage
Slippage terjadi ketika transaksi dieksekusi pada harga yang berbeda dari harga yang diharapkan. Risiko ini cenderung lebih terasa ketika volatilitas tinggi atau likuiditas rendah.
4. Spread
Dalam perdagangan saham terdapat bid adalah harga tertinggi yang bersedia dibayar oleh pembeli,dan ask adalah harga terendah yang ditawarkan oleh penjual.
Selisih keduanya disebut bid-ask spread. Spread yang semakin lebar bisa membuat trader membutuhkan pergerakan harga yang lebih besar hanya untuk menutup selisih harga masuk dan keluar.
5. Overtrading
Kemudahan membuka aplikasi dan memasukkan order bisa membuat trader merasa harus selalu memiliki posisi. Padahal, semakin banyak transaksi belum tentu menghasilkan kinerja yang lebih baik.
Menurut FINRA, kemudahan online trading mampu mendorong sebagian orang melakukan overtrading aktivitas seperti ini mampu berdampak pada performa dan menambah biaya transaksi.
6. Margin dan leverage
Margin dan leverage memungkinkan kamu membuka eksposure yang lebih besar dengan modal yang lebih kecil.
Tetapi, efeknya juga berlaku dua arah. Potensi keuntungan bisa meningkat tetapi kerugian juga bisa membesar lebih cepat. Karena itu, leverage sebaiknya dipahami sebagai alat untuk memperbesar eksposure bukannya cheat untuk meningkatkan profit.
Cara Memulai Trading Saham untuk Pemula
Bagi investor pemula kamu tidak perlu langsung menggunakan strategi yang rumit. Lebih penting bagi kamu untuk membangun proses trading yang jelas dan bisa dievaluasi dari waktu ke waktu, perhatikan beberapa hal berikut ini:
1. Tentukan dana khusus trading
Pisahkan modal trading dari uang untuk kebutuhan sehari-hari dan dana darurat. Trading selalu memiliki risiko kerugian sehingga modal yang digunakan sebaiknya tidak bergantung pada kebutuhan keuangan jangka pendek.
2. Pilih Saham yang Kamu Pahami
Sebelum trading kamu perlu memperhatikan karakter saham seperti likuiditas, volume, volatilitas, spread dan katalis yang sedang berlangsung.
Saham yang bergerak cepat belum tentu lebih mudah ditradingkan. Pergerakan yang tajam juga bisa membuat harga masuk dan keluar berbeda dari rencana.
3. Buat trading plan
Sebelum membuka posisi kamu harus bisa menjawab beberapa pertanyaan berikut:
Kenapa saham ini menarik?
Di harga berapa kamu mempertimbangkan masuk?
Apa yang membuat analisis tersebut salah?
Berapa kerugian maksimal yang dapat diterima?
Di kondisi apa posisi akan ditutup?
Trading plan membantu kamu mengambil keputusan berdasarkan rencana, bukan sekadar bereaksi setelah harga bergerak.
4. Atur Ukuran Posisi
Jangan hanya menghitung potensi profit. Perkirakan juga kerugian jika harga mencapai level invalidasi lalu sesuaikan jumlah saham dengan batas risiko yang sudah ditentukan.
5. Pilih Jenis Order yang Sesuai
Pahami perbedaan market order, limit order dan jenis order lainnya. Setiap order memiliki karakter berbeda dalam hal kecepatan eksekusi dan kontrol terhadap harga.
6. Catat dan Evaluasi Hasil Trading
Gunakan trading journal untuk mencatat saham, harga masuk dan keluar, alasan membuka posisi, level invalidasi, hasil transaksi serta kesalahan apa saja yang terjadi.
Tujuannya bukan hanya untuk menghitung profit dan rugi tetapi untuk melihat apakah strategi dan proses yang kamu gunakan mampu dijalankan secara konsisten.
Jangan Lupakan Risiko Portofolio
Walaupun trading sering berfokus pada satu posisi risiko tetap perlu dilihat dari keseluruhan portofolio. Memiliki beberapa saham belum tentu risiko sudah tersebar jika semuanya berasal dari sektor yang sama atau dipengaruhi faktor yang serupa.
Investor.gov menjelaskan bahwa diversifikasi dilakukan dengan menyebarkan investasi untuk membantu mengurangi risiko. Namun, alokasi yang sesuai tetap bergantung pada horizon dan toleransi risikonya masing-masing.
Karena itu, jangan hanya menghitung risiko per transaksi. Perhatikan juga seberapa besar portofolio kamu terekspos pada satu saham, sektor atau tema tertentu.
Mulai Trading Saham dengan Rencana yang Jelas
Saat memulai trading saham kamu perlu mengetahui alasan masuk, menentukan batas risiko, memilih ukuran posisi dan memahami kapan sebuah posisi sebaiknya ditutup.
Karena kondisi pasar bisa berubah dengan cepat hindari mengambil keputusan hanya karena harga sedang bergerak atau saham tertentu sedang ramai dibicarakan.
Gunakan strategi yang kamu pahami dan evaluasi hasil trading secara berkala untuk melihat apakah proses yang digunakan sudah konsisten.
Kalau kamu ingin trading saham AS, kamu bisa melakukannya melalui Gotrade. Sebelum membuka posisi, tetap perhatikan kondisi pasar, jenis order yang digunakan serta risiko dari setiap transaksi yang kamu lakukan.
Pantau saham AS dan mulai susun trading plan kamu di Gotrade.