Bubble Economy: Penyebab, Ciri, dan Dampaknya Bagi Ekonomi

Adelia VitaAdelia VitaHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Bubble Economy: Penyebab, Ciri, dan Dampaknya Bagi Ekonomi

Ringkasan Gotrade

  • Bubble economy adalah kondisi ketika harga aset naik jauh dari fundamentalnya dan kenaikan tersebut semakin didorong oleh ekspektasi bahwa harga akan terus meningkat.
  • Bubble bisa terbentuk dari kombinasi fundamental, ekspektasi, perilaku investor, dan kondisi finansial, termasuk penggunaan kredit dan leverage.
  • Tidak ada satu indikator yang bisa memastikan sebuah bubble. Investor perlu melihat valuasi, fundamental, leverage, aktivitas spekulatif, serta ekspektasi yang sudah tercermin dalam harga.

Harga saham naik 100% dalam setahun. Apakah berarti market sedang bubble?

Belum tentu. Kenaikan harga bisa didukung fundamental tetapi juga bisa terjadi karena investor terus membeli dengan harapan harga akan naik lebih tinggi.

Bubble economy adalah kondisi ketika harga aset naik jauh dari fundamental dan semakin didorong oleh ekspektasi kenaikan harga. Masalahnya, bubble biasanya lebih mudah dikenali setelah pecah.

Baca juga: Rumus Debt to Asset Ratio (DAR): Cara Hitung dan Contohnya

Apa Itu Bubble Economy?

Dalam literatur keuangan, istilah yang lebih umum digunakan adalah asset price bubble, yaitu kondisi ketika harga aset bergerak jauh dari fundamental dan kenaikannya semakin didorong oleh ekspektasi bahwa harga akan terus naik.

Menurut Bank for International Settlements bubble harga aset mempengaruhi stabilitas ekonomi dan sistem keuangan terutama ketika kenaikan harga berbalik menjadi sebuah penurunan tajam.

Sementara itu, bubble economy memiliki cakupan yang lebih luas karena melihat bagaimana bubble berinteraksi dengan kredit, konsumsi, investasi, utang, dan stabilitas sistem keuangan.

Baca juga: 7 Rekomendasi Investasi Jangka Panjang dan Cara Memilihnya

Jadi, asset bubble berfokus pada kenaikan harga aset sedangkan bubble economy lebih melihat dampaknya terhadap ekonomi secara lebih luas.

Kenapa Bubble Economy Bisa Terbentuk?

Bubble biasanya terbentuk dari kombinasi narasi fundamental, ekspektasi investor, perilaku market, dan kondisi finansial. Prosesnya sering berkembang secara bertahap, seperti:

1. Muncul Katalis yang Masuk Akal

Bubble tidak selalu dimulai dari narasi yang salah. Pemicu awal bisa berupa teknologi baru, suku bunga rendah, pertumbuhan ekonomi, deregulasi atau ekspansi kredit.

Masalah biasanya muncul ketika harga mulai mencerminkan ekspektasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fundamental yang realistis.

2. Harga Naik dan Memperkuat Narasi

Ketika harga naik, investor lain bisa melihat kenaikan tersebut sebagai bukti bahwa narasinya benar. Optimisme kemudian menarik permintaan baru dan kembali mendorong harga.

Menurut Robert Shiller dalam behavioral finance mekanisme seperti ini bisa membentuk feedback loop ketika kenaikan harga memperkuat ekspektasi investor dan ekspektasi tersebut kembali mendorong harga.

3. Investor Mulai Mengejar Harga

Pada tahap ini, alasan membeli bisa berubah dari yang tadinya melihat pertumbuhan bisnis menjadi karena harga terus naik.

Investor kemudian mulai menganggap tren kenaikan sebelumnya akan terus berlanjut sementara FOMO akan semakin mendorong permintaan terhadap aset tersebut.

4. Kredit dan Leverage Memperbesar Kenaikan

Penggunaan utang memungkinkan investor membeli aset dengan modal sendiri yang lebih kecil. Saat harga naik leverage bisa memperbesar return. Tetapi ketika harga turun, efeknya juga akan berbalik dan memperbesar kerugian serta tekanan untuk menjual aset.

5. Harga Bergantung pada Ekspektasi yang Sangat Optimistis

Pada tahap tertentu, valuasi hanya terlihat masuk akal jika berbagai asumsi benar-benar tercapai seperti, revenue terus tumbuh cepat, margin meningkat, dan kompetisi tetap rendah. Ketika salah satu asumsi berubah maka market bisa melakukan repricing dengan cepat.

6. Feedback Loop Berbalik

Ketika sentimen berubah maka mekanisme yang sebelumnya mendorong harga naik bisa berbalik. Harga yang mulai turun bisa memicu kekhawatiran, meningkatkan selling, dan memaksa investor mengurangi leverage.

Jika tekanan jual berlanjut maka harga bisa kembali turun lebih dalam terutama ketika penggunaan leverage cukup tinggi.

Apa Ciri-Ciri Bubble Economy?

Tidak ada satu indikator yang bisa memastikan sebuah bubble. Tetapi, beberapa kondisi berikut ini perlu diperhatikan jika muncul secara bersamaan:

1. Harga Naik Lebih Cepat daripada Fundamental

Harga aset bisa naik jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan revenue, laba atau cash flow. Kondisi ini bukan berarti bubble, sebagai investor kamu perlu melihat apakah ekspektasi yang tercermin dalam harga masih realistis atau tidak.

2. Valuasi Jauh di Atas Historical Range

Perhatikan indikator seperti P/E, P/S, EV/EBITDA, price-to-book atau free-cash-flow yield. Valuasi yang masih tinggi bisa masuk akal jika pertumbuhan fundamentalnya kuat. Risiko juga akan meningkat ketika valuation premium terus naik sementara fundamental tidak berkembang sebanding.

3. Narasi Mulai Menggantikan Fundamental

Narasi seperti “valuasi sudah tidak penting” atau “aset ini tidak mungkin turun” perlu dicermati lebih lanjut.

Sebagai Investor kamu tetap perlu menghubungkan ekspektasi tersebut dengan revenue, cash flow, margin, competitive position, dan potensi market.

4. FOMO Semakin Kuat

Ketika keputusan membeli lebih banyak didorong oleh rasa takut ketinggalan daripada analisis fundamental yang kuat maka unsur spekulatif dalam permintaan bisa semakin besar.

5. Leverage Meningkat

Bubble bisa semakin besar ketika kenaikan harga disertai dengan penggunaan margin debt, kredit, pinjaman atau leverage yang lebih agresif.

Leverage bisa memperbesar keuntungan saat harga naik tetapi juga akan memperbesar tekanan ketika harga turun.

6. Aktivitas Spekulatif Meningkat

Beberapa tanda yang bisa diperhatikan antara lain adalah turnover yang melonjak masuknya banyak investor baru, kenaikan aset dengan fundamental lemah, dan harga yang semakin bergantung pada momentum.

Kenapa Bubble Sulit Diketahui sebelum Pecah?

Bubble lebih mudah dikenali setelah harga jatuh daripada saat masih terbentuk. Masalahnya, nilai fundamental suatu aset tidak bisa diketahui dengan presisi terutama ketika market sedang mengalami perubahan besar.

Menurut Federal Reserve mengidentifikasi bubble secara real time sulit karena tidak semua faktor fundamental yang mempengaruhi harga aset bisa diamati secara langsung. Model yang berbeda bahkan bisa menghasilkan kesimpulan berbeda tentang apakah suatu aset sudah overvalued.

Karena itu, klaim bahwa “market pasti bubble” perlu digunakan dengan hati-hati. Teknologi atau perubahan bisnis baru bisa meningkatkan productivity, revenue, margin, dan ukuran market sehingga sebagian kenaikan harga yang terlihat ekstrem mungkin memang didukung oleh fundamental.

Bagaimana Bubble Bisa Mempengaruhi Ekonomi?

Bubble tidak hanya berdampak pada harga aset. Ketika ukurannya besar, efeknya bisa merambat ke hal lainnya. Beberapa jalur utama yang bisa menyalurkan dampak tersebut antara lain:

1. Wealth Effect

Ketika harga aset naik maka pemilik aset bisa merasa lebih kaya sehingga konsumsi dan pengeluaran meningkat. Saat harga turun, efek tersebut bisa berbalik dan mendorong rumah tangga lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.

2. Collateral Effect

Aset seperti properti bisa digunakan sebagai collateral. Ketika nilainya naik maka kemampuan memperoleh pinjaman bisa meningkat. Sebaliknya, ketika penurunan terjadi harga aset bisa mengurangi nilai jaminan dan membatasi akses terhadap kredit.

3. Balance-Sheet Effect

Penurunan harga aset juga bisa melemahkan balance sheet rumah tangga, perusahaan, bank, dan institusi keuangan. Jika nilai aset turun sementara utang tetap sama maka tingkat leverage juga bisa meningkat.

4. Credit Contraction

Ketika risiko dan kerugian meningkat maka lender akan memperketat penyaluran kredit. Akibatnya, rumah tangga dan perusahaan akan menjadi lebih sulit untuk memperoleh pembiayaan.

5. Investment Decline

Ketika harga aset, kredit, dan permintaan melemah maka perusahaan bisa mengurangi CAPEX, hiring, dan ekspansi. Pada tahap ini, bubble yang awalnya terjadi di financial market akan mulai mempengaruhi real economy.

Contoh Bubble Economy dalam Sejarah

Sejumlah bubble besar dalam sejarah menunjukkan bahwa penyebab dan dampaknya bisa berbeda tergantung jenis aset dan kondisi ekonomi saat itu. Beberapa contohnya antara lain:

1. Dot-Com Bubble

Pada akhir 1990-an, optimisme terhadap internet mendorong harga banyak saham teknologi naik sangat cepat. Teknologinya memang berkembang besar tetapi ekspektasi terhadap pertumbuhan sejumlah perusahaan akhirnya terlalu tinggi.

Ketika ekspektasi tersebut tidak tercapai maka market mengalami repricing tajam pada awal 2000-an. Kasus ini menunjukkan bahwa teknologi revolusioner dan valuasi berlebihan bisa terjadi bersamaan.

2. US Housing Bubble

Housing bubble AS menunjukkan bagaimana bubble dapat menjadi masalah sistemik ketika terhubung dengan mortgage, leverage, securitization, dan financial institutions.

Menurut Federal Reserve History penurunan harga rumah dan kerugian pada aset terkait mortgage ikut menekan financial market dan berkontribusi terhadap krisis 2007–2008. Kasus ini menunjukkan bahwa leverage dan keterkaitan dengan sistem keuangan sama pentingnya dengan kenaikan harga aset itu sendiri.

Bagaimana Investor Menghadapi Risiko Bubble?

Tujuannya bukan menebak kapan market akan crash melainkan untuk membangun proses investasi yang lebih disiplin. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

1. Cari Tahu Apa yang Mendorong Kenaikan Harga

Periksa apakah kenaikan harga didukung oleh revenue growth, earnings growth, margin expansion atau perubahan fundamental bukan hanya multiple expansion, momentum atau narasi.

2. Gunakan Scenario Analysis

Jangan hanya melihat bull case. Buat juga base case dan bear case untuk melihat apakah valuasi masih masuk akal jika pertumbuhan ternyata lebih rendah dari pada ekspektasi.

Coba gunakan checker berikut untuk melihat apakah kenaikan harga saham lebih banyak didorong oleh fundamental, valuasi, momentum, atau narasi pasar.

Cek Sumber Kenaikan Harga Saham

3. Perhatikan Konsentrasi Portofolio

Jika sebagian besar portofolio terkonsentrasi pada satu saham, sektor atau tema maka dampak repricing bisa lebih besar. Diversifikasi akan membantu mengurangi ketergantungan pada satu sumber risiko.

4. Hindari Leverage yang Tidak Dipahami

Leverage memang bisa memperbesar keuntungan tetapi hal ini juga memperbesar kerugian. Dalam kondisi tertentu, penurunan harga bahkan bisa memicu margin call dan memaksa investor menjual aset.

5. Bedakan Perusahaan Bagus dan Harga yang Bagus

Perusahaan dengan bisnis, manajemen, dan pertumbuhan yang baik tetap bisa memiliki saham yang terlalu mahal. Karena itu, perhatikan juga berapa harga yang dibayar dibandingkan dengan fundamentalnya.

6. Jangan Berasumsi Bisa Mengetahui Puncaknya

Market bisa terlihat mahal dalam waktu lama sebelum akhirnya terkoreksi. Karena itu, bubble thesis bukanlah market-timing system dan sebaiknya tidak digunakan untuk menebak waktu puncak secara pasti.

Pahami Bubble Tanpa Mencoba Menebak Puncak Market

Bubble economy menunjukkan bahwa kenaikan harga aset bisa berkembang menjadi risiko yang lebih luas ketika valuasi, ekspektasi, kredit, dan leverage saling memperkuat. Tetapi, menentukan apakah market sedang berada dalam bubble secara real time tidaklah mudah.

Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mencoba menebak kapan harga akan jatuh, tetapi tetap memperhatikan fundamental, valuasi, diversifikasi, penggunaan leverage, dan berbagai skenario yang mungkin terjadi.

Untuk mempelajari perusahaan dan valuasinya lebih lanjut, kamu bisa mengeksplorasi berbagai saham AS melalui Gotrade.

Download Gotrade untuk mulai mengeksplorasi saham AS dan mempelajari fundamental perusahaan di balik setiap ticker.

Referensi

Filardo, A. J., “Monetary Policy and Asset Price Bubbles: Calibrating the Monetary Policy Trade-Offs.”

Shiller, R. J., “From Efficient Markets Theory to Behavioral Finance. Journal of Economic Perspectives.”

Kohn, D. L., “Monetary Policy and Asset Prices Revisited.”

Weinberg, J., "The Great Recession and Its Aftermath."

Nagahata, T., & Sekine, T., "The Effects of Monetary Policy on Firm Investment after the Collapse of the Asset Price Bubble: An Investigation Using Japanese Micro Data."

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Adelia Vita
Ditulis oleh
Adelia Vita
Adelia adalah seorang penulis dengan pengalaman lebih dari satu tahun dalam membuat konten di bidang keuangan, akuntansi, bisnis, dan SaaS. Memiliki ketertarikan pada dunia keuangan dan bisnis, ia menggabungkan riset yang mendalam dengan praktik penulisan yang baik untuk menghasilkan konten yang akurat, informatif, dan mudah dipahami oleh pembaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1 juta+

Gotraders 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
Traders League IV

Total hadiah
lebih dari $4000

termasuk langganan
TradingView untuk
semua pemenang

Daftar sekarang

*Syarat dan ketentuan berlaku