Sebagai contoh, JPMorgan menjelaskan bahwa JEPI menghasilkan pendapatan melalui investasi pada saham perusahaan besar AS dan strategi penjualan opsi. Dengan kata lain, sebagian pembayaran yang diterima investor berasal dari premi opsi, bukan hanya dari dividen perusahaan.
Perbedaan ini sangat penting karena sumber pendapatan dapat memengaruhi biaya, kestabilan distribusi, potensi pertumbuhan harga, dan risiko ETF.
Pendekatan | Sumber Utama Pendapatan | Hal yang Perlu Diperiksa | Contoh |
High dividend yield | Saham dengan dividend yield relatif tinggi | Kualitas perusahaan dan risiko pemotongan dividen | VYM |
Dividend growth | Perusahaan yang rutin menaikkan dividen | Pertumbuhan dividen dan valuasi saham | VIG |
Quality dividend | Dividen yang digabungkan dengan penyaringan fundamental | Metodologi indeks dan konsentrasi holdings | SCHD |
Option income | Dividen saham serta premi penjualan opsi | Potensi kenaikan harga yang terbatas dan distribusi yang berubah | JEPI |
Vanguard menjelaskan bahwa VYM mengikuti indeks berisi perusahaan dengan dividend yield tinggi, sedangkan VIG berfokus pada perusahaan yang memiliki rekam jejak menaikkan dividen. SCHD mengikuti Dow Jones U.S. Dividend 100 Index, sementara JEPI menggunakan strategi saham dan opsi.
1. Baca Strategi dan Indeks yang Diikuti
ETF kadang-kadang memiliki ticker dan nama yang mirip, tetapi isi dan mekanismenya bisa sangat berbeda.
Sebelum melihat performanya, cari beberapa bagian berikut di halaman resmi penerbit ETF:
ETF yang mencari perusahaan dengan rekam jejak peningkatan dividen selama beberapa tahun akan memiliki karakter yang berbeda dari ETF yang memilih saham berdasarkan yield tertinggi.
Selain itu, perhatikan cara ETF memberikan bobot pada setiap saham. ETF berbobot kapitalisasi pasar akan menempatkan porsi lebih besar pada perusahaan berukuran besar. Sementara itu, ETF berbobot yield dapat lebih terkonsentrasi pada saham yang harganya sedang turun.
Nama ETF hanya memberikan gambaran awal. Penjelasan yang sebenarnya bisa kamu temukan di fact sheet dan prospektusnya.
2. Jangan Membandingkan Yield Secara Mentah
Tidak selalu metode yang sama digunakan untuk menghitung angka yield.
Di halaman data ETF, kamu dapat menemukan istilah seperti trailing 12-month yield, distribution yield, indicated yield, forward yield, dan 30-day SEC yield.
Pastikan kamu menggunakan metode dan periode yang sama saat membandingkan angka tersebut. Sebagai contoh, trailing 12-month yield menggunakan distribusi selama 12 bulan sebelumnya, sehingga belum tentu menunjukkan pembayaran yang akan diterima berikutnya.
Yield juga bisa naik ketika harga ETF turun. Misalnya, ETF yang membayar distribusi US$4 per tahun memiliki yield 4% ketika harganya US$100. Namun, jika harganya turun menjadi US$50 sementara jumlah distribusinya tidak berubah, yield yang terlihat menjadi 8%.
Angka tersebut tampak lebih menarik, meskipun nilai investasinya telah turun sebesar 50%. Oleh karena itu, perhatikan yield bersama total return, yaitu perubahan harga ETF ditambah distribusi yang diterima. Forbes dan Morningstar mengingatkan bahwa yield tinggi dapat menunjukkan risiko ketika ETF memegang perusahaan bermasalah atau tidak memiliki penyaringan kualitas yang memadai.
Selain itu, bandingkan kinerja ETF dengan benchmark selama periode yang sama. Jika tujuan investasimu berlangsung selama lima atau sepuluh tahun, jangan hanya menggunakan performa satu tahun sebagai acuan.
3. Periksa Holdings dan Konsentrasi Portofolio
Memiliki banyak saham tidak selalu berarti portofolionya benar-benar tersebar.
Mulailah dengan memperhatikan:
Sepuluh holdings terbesar.
Persentase aset pada holdings terbesar.
Jumlah perusahaan di dalam ETF.
Bobot masing-masing sektor.
Eksposur negara dan mata uang.
Perubahan komposisi dibandingkan tahun sebelumnya.
ETF dividen biasanya memiliki porsi yang cukup besar pada sektor keuangan, energi, utilitas, consumer staples, dan kesehatan. Konsentrasi tersebut tidak selalu menjadi masalah, tetapi kamu tetap perlu memahami risikonya.
Misalnya, ETF yang didominasi perusahaan energi dapat membagikan distribusi besar ketika harga komoditas sedang tinggi. Namun, pembayaran tersebut belum tentu bertahan ketika siklus komoditas berbalik.
Jangan hanya melihat reputasi perusahaan di dalamnya. Periksa juga apakah beberapa holdings terbesar menguasai sebagian besar portofolio dan apakah sumber pendapatannya terlalu bergantung pada satu industri.
4. Hitung Biaya dan Kemudahan Transaksinya
Persentase aset dana yang digunakan untuk membayar biaya operasional ETF setiap tahun dikenal sebagai expense ratio. Biaya ini mengurangi hasil investasi, meskipun tidak ditagihkan sebagai pembayaran terpisah dari rekeningmu.
Namun, tidak ada satu batas expense ratio yang berlaku untuk semua ETF.
ETF indeks pasif yang hanya mengikuti kumpulan saham biasanya memiliki biaya lebih rendah. Sementara itu, ETF aktif atau ETF yang menjalankan strategi opsi dapat memiliki biaya lebih tinggi karena pengelolaannya lebih kompleks.
Karena itu, bandingkan biaya dengan produk yang memiliki strategi serupa.
Selain expense ratio, periksa juga:
Bid-ask spread.
Volume perdagangan.
Aset kelolaan atau AUM.
Selisih harga terhadap NAV.
Lama ETF telah beroperasi.
Tracking difference terhadap benchmark.
Bid-ask spread yang lebar dapat membuat harga pembelian lebih tinggi dan harga penjualan lebih rendah. Investor.gov juga menyarankan investor untuk memeriksa NAV, premium atau discount, holdings, dan median bid-ask spread melalui situs resmi ETF.
5. Hitung Distribusi Bersih, Bukan Hanya Pembayaran Bruto
Frekuensi pembayaran bulanan tidak otomatis meningkatkan kualitas ETF.
ETF yang membayar setiap kuartal dapat memberikan total distribusi tahunan lebih besar daripada ETF bulanan. Sebaliknya, jumlah pembayaran ETF bulanan dapat berkurang dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Hal yang lebih penting untuk diperhatikan meliputi:
Riwayat distribusi.
Apakah jumlah pembayaran naik, tetap, atau turun.
Sumber distribusi.
Total return setelah distribusi.
Pemotongan pajak.
Dampak perubahan nilai dolar AS terhadap rupiah.
Pengguna Indonesia menerima 85% dari total dividen berdasarkan ketentuan P3B atau perjanjian pajak antara Indonesia dan Amerika Serikat. Sisa 15% dipotong sebagai pajak sebelum pembayaran ditambahkan ke saldo pengguna.
Contoh Menghitung Pendapatan ETF Dividen
Misalnya, kamu memiliki investasi sebesar US$1.000 pada ETF dengan distribution yield 3% per tahun.
Distribusi brutonya adalah:
US$1.000 × 3% = US$30 per tahun
Jika menggunakan asumsi pemotongan pajak sebesar 15%, distribusi bersih yang diterima menjadi:
US$30 × 85% = US$25,50 per tahun
Jika dirata-ratakan, nilainya setara dengan sekitar US$2,13 per bulan. Namun, ini tidak berarti ETF akan mengirimkan US$2,13 setiap bulan. Pembayaran dapat dilakukan setiap kuartal dan jumlahnya juga dapat berubah.
Dengan asumsi yang sama, modal yang diperlukan untuk mencapai target pendapatan bersih US$100 per bulan adalah sekitar US$47.100.
Perhitungannya:
US$1.200 ÷ 2,55% = sekitar US$47.100
Perhitungan tersebut belum memasukkan biaya transaksi, bid-ask spread, perubahan harga ETF, dan pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Distribution yield 3% juga bukan jaminan bahwa jumlah pembayaran yang sama akan diterima pada tahun berikutnya.
Tanda ETF Dividen Perlu Diperiksa Lebih Dalam
Berhati-hatilah ketika kamu menemukan salah satu kondisi berikut:
Yield melonjak tajam setelah harga ETF turun.
Harga atau NAV terus menurun meskipun distribusinya tinggi.
Sumber distribusi tidak dijelaskan dengan jelas.
Sebagian besar aset terkonsentrasi pada satu sektor atau wilayah.
ETF masih baru, tetapi dipromosikan menggunakan angka yield tahunan.
Expense ratio jauh lebih tinggi dibandingkan ETF dengan strategi serupa.
Volume perdagangan sangat rendah atau bid-ask spread terlalu lebar.
Distribusinya tinggi, tetapi total return jangka panjang masih jauh tertinggal dari benchmark.
Tidak semua kondisi tersebut otomatis membuat ETF menjadi buruk. Namun, sebelum memasukkannya ke dalam portofolio, kamu perlu melakukan pemeriksaan lebih dalam.
Apakah ETF Dividen Cocok untuk Passive Income?
Investor yang ingin mendapatkan distribusi berkala tanpa harus memilih banyak saham secara terpisah dapat mempertimbangkan ETF dividen. Produk ini juga dapat membantu menyebarkan risiko karena dana tidak hanya ditempatkan pada satu perusahaan.
Meskipun demikian, ETF dividen tetap merupakan aset pasar modal. Harga unit dapat turun, jumlah distribusi dapat berkurang, dan nilai investasi dalam rupiah dapat dipengaruhi oleh perubahan kurs dolar AS.
ETF dividen kurang tepat digunakan sebagai:
Dana darurat.
Sumber dana untuk membayar tagihan dalam waktu dekat.
Pengganti deposito dengan nilai pokok yang terjamin.
Strategi jangka pendek yang hanya bertujuan mengejar distribusi.
Reinvestasi distribusi juga patut dipertimbangkan oleh investor yang masih membangun aset. Jika tujuan utamanya masih pertumbuhan portofolio, dana yang diterima tidak harus langsung digunakan.
Mengakses ETF Dividen melalui Gotrade
Gotrade menawarkan akses ke sejumlah ETF AS secara fraksional mulai dari US$1. Minimum deposit Gotrade Indonesia saat ini adalah US$5.
Investor yang memiliki posisi fraksional tetap dapat menerima dividen. Namun, pembayaran di bawah US$0,01 mungkin tidak diterima karena nilainya terlalu kecil.
Sebelum memilih ETF, tetap ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Mulai dari ketersediaan produk, fact sheet penerbit, riwayat distribusi, pajak, hingga kesesuaiannya dengan tujuan keuanganmu.
Yang Perlu Diingat Sebelum Memilih
ETF dividen yang baik bukan hanya ETF dengan yield paling tinggi atau jadwal pembayaran paling sering.
Mulailah dengan memahami strategi dan sumber distribusinya. Setelah itu, pertimbangkan holdings, konsentrasi industri, total return, biaya, likuiditas, pajak, serta kebutuhan modal.
Pendekatan ini memang tidak memberikan jawaban instan. Namun, kamu akan memiliki gambaran yang lebih jelas tentang risiko yang perlu ditanggung dan pendapatan yang mungkin diterima.
Sebelum mengambil keputusan, lihat ETF AS yang tersedia di Gotrade, lalu bandingkan strategi, holdings, biaya, dan riwayat distribusinya.