Salah satu alasan bagus untuk menjual saham yaitu untuk mengamankan keuntungan pada waktu yang tepat, sekaligus mencegah kerugian besar.
Menentukan waktu kapan sebaiknya menjual saham bagi sebagian investor tidaklah mudah, terutama para pemula. Banyak investor justru ragu melepas posisinya karena takut kehilangan potensi cuan lebih besar, maupun kebalikannya. Apalagi di tengah kondisi fluktuasi pasar yang tidak menentu.
Kapan Waktu Terbaik untuk Menjual Saham
1. Saat Nilainya Sedang Naik
Saat harga saham meningkat signifikan mungkin menandakan waktunya untuk mengambil keuntungan. Ini bisa jadi salah satu momen untuk menjual saham.
Dikutip Investopedia, tapi perlu diingat kalau momen ini tergantung pada apakah saham itu masih punya potensi pertumbuhan. Pertimbangkan apakah pendapatan perusahaan dan prospek masa depan membenarkan kenaikan harga tersebut.
2. Saat Fundamental Perusahaan Tengah Tidak Baik-baik Saja
Perubahan fundamental perusahaan bisa jadi alasan untuk mempertimbangkan penjualan saham. Contohnya saat laba terus melemah, perusahaan mengalami penurunan pendapatan, arus kas (cash flow)memburuk, atau prospek bisnis yang berubah signifikan.
Tapi dari sisi perpajakan, penting bagi investor untuk tetap menjual saham tersebut supaya kerugiannya bisa "dicatat" dengan resmi. Kerugian itu nantinya bisa dipakai untuk mengurangi pajak atas keuntungan investasi di masa mendatang.
Menjual saham setelah perusahaan bangkrut biasanya berarti menerima kerugian besar. Tapi, langkah ini tetap ada fungsinya karena selain berpotensi mendapatkan sisa nilai jual saham (meski kecil), kita juga bisa memanfaatkan kerugian tersebut untuk keperluan pajak.
3. Saat Di Penghujung Tahun
Director of Institutional Asset Management di Ritholtz Wealth Management, Ben Carlson, mengatakan bahwa salah satu waktu yang tepat untuk jual saham yaitu di penghujung tahun.
“Saya suka ide menjual di penghujung tahun karena hal itu memberikan potensi pertumbuhan yang lebih besar. Selain itu, satu penjualan merupakan strategi yang lebih sederhana daripada menjual berkali-kali dalam setahun,” jelas Carlson dikutip dari laman Ritholtz Wealth Management.
4. Saat Penurunan Peringkat Saham
Terkadang para analis (orang yang tugasnya menilai bagus-tidaknya suatu saham) menurunkan peringkat suatu saham. Biasanya ini jadi tanda kalau saham itu punya risiko lebih besar dari sebelumnya.
5. Setelah Perusahaan Diakuisisi
Saat perusahaan diakuisisi (marger), biasanya pemegang saham dibayar dengan harga premium atau lebih tinggi dari harga pasar). Kalau saham diakuisisi dengan premium besar, sebaiknya investor langsung jual untuk mengamankan untung.
Namun, kalau perusahaan hasil merger terlihat makin kuat dan unggul dari kompetitor, situasi ini juga boleh dipertimbangkan untuk bertahan. Perlu dicatat, karena setiap aksi akuisisi punya struktur yang berbeda, investor sebaiknya mempelajari informasi resmi mengenai transaksi sebelum mengambil keputusan.
Kalau saham diakuisisi dengan premium besar, sebaiknya investor langsung jual untuk mengamankan untung. Namun, kalau perusahaan hasil merger terlihat makin kuat dan unggul dari kompetitor, situasi ini juga boleh dipertimbangkan untuk bertahan.
6. Ada Kesempatan yang Lebih Menarik
Setiap kali kita pegang satu saham, itu artinya uang kita tidak dipakai untuk beli saham lain. Jika ternyata ada saham lain yang peluang untungnya lebih besar, berarti kamu mungkin "kehilangan" kesempatan itu selama uang kuta masih tertanam di saham yang sekarang.
Jadi sebelum beli saham, baiknya kita bandingkan dulu. Pertama, apakah ada pilihan lain yang lebih menjanjikan? Kalau iya, masuk akal untuk jual saham yang sekarang dan pindah ke saham tersebut.
Misalnya, ada saham pesaing di industri yang sama, dan prospek pertumbuhannya sama bagus, harganya lebih murah (berdasarkan rasio harga saham dibanding keuntungannya). Klaau momennya seperti ini, saham pesaing itu bisa jadi pilihan yang lebih menguntungkan.
7. Harga Saham Sudah Mencapai Target
Biasanya, Investor yang cerdas akan menetapkan target harga sejak awal beli saham. Harga ini adalah harga saat mereka akan mempertimbangkan untuk jual nanti.
Sebelum beli, sebaiknya kita juga memperkirakan dulu berapa nilai wajar saham tersebut. Biasnya, harga beli kita jauh lebih murah dari nilai wajar itu.
Misal, kalau kita menargetkan harga sahamnya bisa naik dua kali lipat, artinya kita percaya saham itu setelah ini masih undervalued (dihargai terlalu rendah) sekitar 50%.
Investor bisa menentukan target harga sebelum membeli saham. Misalnya, saham Apple (AAPL) saat ini berada di harga US$310,03 per saham.
Seorang investor yang membeli saham tersebut di harga US$250 dapat menetapkan target jual di US$310,03. Kalau harga mencapai target tersebut, potensi keuntungannya dapat dihitung sebagai berikut:
(US$310,03 - US$250) ÷ US$250 × 100% = 24,01%
Artinya, kalau investor membeli AAPL di US$250 dan menjualnya di US$310,03, potensi keuntungan dari kenaikan harga saham adalah sekitar 24,01%, sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan faktor lainnya.
Namun, mencapai target harga tidak selalu berarti saham harus langsung dijual. Investor tetap perlu mengevaluasi kondisi fundamental Apple, prospek pertumbuhan perusahaan, dan apakah masih terdapat potensi kenaikan harga sebelum memutuskan untuk mempertahankan atau menjual posisi.
Catatan: US$310,03 merupakan harga acuan dalam contoh dan dapat berubah mengikuti pergerakan pasar.
8. Bisnis Perusahaan Turun
Penting juga untuk investor memantau kondisi bisnis perusahaan yang ia tanami modal. Hal ini bisa menjadi alasan kuat untuk jual, kalau posisi kinerja bisnisnya mulai menurun.
Idealnya, kita bisa mengenali tanda-tanda pelemahan ini sebelum harga sahamnya ikut turun. Contohnya saat arus kas memburuk, penjualan mulai melambat, katau euntungan mengecil.
Apakah Kita Bisa Menjual Saham Kapan Saja?
Pada dasarnya kita bisa menjual saham kapan saja pada jam bursa berlangsung. Jadi, selama jam perdagangan berlangsung kita bisa membeli atau menjual sesuai dengan keinginan kita.
Namun, sejatinya memang tidak ada strategi khusus dalam menjual saham yang cocok untuk semua orang.
Waktunya bisa ditentukan berdasarkan pada strategi masing-masing, tujuan keuangan, toleransi risiko, hingga jangka waktu investasinya. Intinya, keputusan untuk menjual saham itu kombinasi antara seni dan ilmu pengetahuan terkait saham dan pasar.
Proses Menjual Saham
Dilansir laman Indonesia Stock Exchange (IDX), secara umum adapun hal-hal dalam proses menjual saham bisa dilihat dalam gambar di bawah ini:
Proses menjual saham dimulai saat investor menentukan harga jual yang diinginkan. Kemudian, investor menentukan berapa jumlah lot saham yang akan dijual.
Setelah itu, order penjualan saham itu menunggu di pasar sampai ada pembeli yang bersedia membeli di harga yang ditawarkan. Kalau ada pembeli yang cocok, maka transaksi pun terjadi dan saham pun dinyatakan berhasil terjual.
Mekanisme dan Jam Perdagangan Saham
Sebelum menjual saham, kita juga perlu tahu seputar jam perdagangan. Mulai dari kapan saham bisa mulai diperdagangkan, waktu pasar istirahat, sampai waktu penutup perdagangan.
Pergerakan harga dan likuiditas saham dipengaruhi langsung oleh jam bursa saham. Misalnya, saat jam perdagangan aktif (di awal dan akhir sesi) transaksi berjalan lebih cepat. Di momen ini pelaku pasar sedang aktif-aktifnya sehingga harga saham biasanya lebih stabil.
Sementara kalau kita bertransaksi di luar jam bursa atau di waktu yang kurang tepat, order atau penjualan bisa saja tidak langsung terlaksana (tertunda. Risikonya bisa membuat harga yang didapatkan bisa berbeda dari rencana awal.
Jam Perdagangan Bursa Saham Indonesia
Di Indonesia, kita mengikuti jam Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut jadwal pembukaan hingga penutupan perdagangan di BEI.
Selain jam pasar reguler, ada juga momen saat aktivitas perdagangan tidak dilakukan. Pasar bursa tidak dibuka di hari Sabtu dan Minggu, libur nasional, atau saat BEI menentukan cuti bersama (momen tertentu).
Jam Perdagangan Bursa Saham Amerika
Untuk market US, jam bursa sahamnya dimulai pada 09.30 pagi waktu New York. Waktu yang dipakai adalah Eastern Time (ET) alias zona waktu kota New York dan sekitarnya.
Dua bursa terbesar market US itu ada New York Stock Exchange (NYSE) dan national Association of Securities Dealers Automated Quotations (Nasdaq). Dilansir laman Nasdaq, berikut merupakan jadwal bursa saham Amerika dan waktu Indonesianya Senin-Jumat:
Nah, karena ada perbedaan waktu Indonesia dan New York, AS itu lebih cepat sekitar 11–12 jam dibanding Eastern Time. Jadi, saat bursa Amerika baru buka, di Indonesia biasanya sudah malam. Kalau investor Indonesia mau transaksi saham AS perlu memahami jadwal bursa AS tersebut.
Sudah tahu kapan waktu yang tepat untuk jual saham? Kamu bisa praktikkan jual beli saham di download aplikasi GoTrade dan nikmati kemudahan transaksi kapan saja dan di mana saja dengan aman.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.