Pengertian, Fase dan Strategi Siklus Ekonomi

Gabriella SabatiniGabriella SabatiniHendrie Saputra
Ditinjau oleh Hendrie Saputra

Bagikan artikel

Pengertian, Fase dan Strategi Siklus Ekonomi

Setiap perekonomian pasti mengalami sebuah fase dimana bisnis berkembang dengan baik, lapangan kerja bertambah dan daya beli hingga daya konsumsi masyarakat ikut meningkat. Tapi kondisi ini tidak akan terjadi selamanya, ada kalanya pertumbuhan ekonomi menurun dan lambat yang mengakibatkan perusahaan mengurangi ekspansi bisnisnya hingga aktivitas ekonomi juga menurun.

Perubahan yang terjadi secara inilah yang dikenal sebagai siklus ekonomi. Memahami siklus ini sangatlah penting, karena dapat membantu melihat bagaimana kondisi ekonomi secara aktual yang bisa mempengaruhi pasar saham, sektor industri hingga terkait keputusan investasi yang digunakan.

Kenapa Investor Perlu Mengetahui Siklus Ekonomi?

Banyak orang mengira pergerakan saham cuma dipengaruhi oleh kinerja perusahaan. Padahal, kondisi ekonomi juga berperan besar dalam menentukan arah pasar. Saat ekonomi mulai tumbuh, daya beli masyarakat biasanya ikut membaik sampai akhirnya pasar bisa lebih optimistis. Namun sebaliknya, saat ekonomi melambat, aktivitas bisnis dapat tertekan dan pasar juga ikut menurun.

Baca juga: Cara Analisis Teknikal Saham untuk Pemula: MA, RSI, dan MACD

Oleh karena itu, seorang investor harus benar-benar mengetahui siklus ekonomi. Dengan mengetahui keadaan ekonomi saat ini, investor bisa lebih bijak dalam membuat strategi investasi dan juga bisa menganalisa risiko yang akan diambil dan yang terjadi.

Apa Itu Siklus Ekonomi?

Menurut Investopedia, siklus ekonomi merupakan pergerakan ekonomi yang bergantian antara periode ekspansi dan kontraksi, dengan setiap fase memengaruhi aktivitas bisnis, pasar keuangan, serta keputusan investasi.

Walau digambarkan sebagai pola yang berulang, durasi setiap siklus tidak selalu sama. Ada siklus yang berlangsung hanya beberapa tahun, sementara yang lain bisa bertahan lebih lama. Keadaan ini dipengaruhi banyak hal, seperti kebijakan pemerintah, suku bunga yang diberlakukan, kondisi global, hingga perubahan perilaku konsumen itu sendiri.

Baca juga: Waspada Penipuan Mengatasnamakan Gotrade: Kenali Modusnya & Lindungi Dirimu
Siklus Ekonomi.

Mengapa Siklus Ekonomi Terjadi?

Ekonomi bergerak seperti roda yang terus berputar. Saat permintaan meningkat, perusahaan memperluas bisnis dan merekrut lebih banyak tenaga kerja. Namun, jika pertumbuhan terlalu cepat hingga memicu inflasi, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk meredamnya.Akibatnya, daya konsumsi dan investasi konsumen melambat sehingga ekonomi ikut melambat. Setelah kondisi kembali stabil, aktivitas ekonomi perlahan pulih dan siklus pun dimulai lagi.

Dilansir dari Focus Economics , perubahan suku bunga, pertumbuhan kredit, tingkat konsumsi, sentimen pelaku pasar, hingga peristiwa global seperti pandemi atau konflik geopolitik merupakan beberapa faktor yang dapat memengaruhi perubahan siklus ekonomi.

Tahap

Dampak terhadap Ekonomi

Permintaan meningkat

Produksi dan lapangan kerja bertambah

Aktivitas ekonomi menguat

Pendapatan masyarakat meningkat

Inflasi mulai naik

Bank sentral menaikkan suku bunga

Konsumsi dan investasi melambat

Pertumbuhan ekonomi melambat

Kebijakan mulai longgar

Aktivitas ekonomi kembali pulih

Fase-Fase Siklus Ekonomi

Secara umum, siklus ekonomi dibagi menjadi empat fase utama, yaitu ekspansi, puncak, kontraksi, dan titik terendah (trough). Masing-masing fase memiliki karakteristik yang berbeda serta memberikan dampak yang berbeda pula terhadap dunia usaha dan pasar saham.

1. Fase Ekspansi (Expansion)

Fase ekspansi adalah periode ketika aktivitas ekonomi terus tumbuh. Permintaan masyarakat meningkat sehingga perusahaan memperluas produksi, merekrut lebih banyak tenaga kerja, dan meningkatkan investasi.

Ciri-ciri fase ekspansi:

  • PDB tumbuh.

  • Tingkat pengangguran menurun.

  • Pendapatan masyarakat meningkat.

  • Kepercayaan konsumen dan pelaku usaha membaik.

  • Aktivitas investasi meningkat.

Bagi investor, fase ini umumnya diikuti pertumbuhan laba perusahaan sehingga pasar saham cenderung menguat. Tapi, tidak semua industri maupun saham akan bekerja sama, karena masing-masing memiliki respons yang berbeda terhadap kondisi ekonomi.

2. Fase Puncak (Peak)

Fase peak adalah titik ketika pertumbuhan ekonomi mencapai level tertinggi sebelum akhirnya perlahan melambat. Pada fase ini, keadaan ekonomi masih terlihat kuat sehingga banyak orang belum menyadari bahwa perlambatan mulai mendekat secara perlahan.

Beberapa karakteristik umum yang biasanya muncul meliputi:

  • Tingkat produksi berada pada level tinggi.

  • Permintaan masyarakat masih kuat.

  • Inflasi perlahan meningkat.

  • Suku bunga mulai naik.

  • Valuasi sebagian aset menjadi lebih mahal.

Fase peak umumnya baru dipahami, setelah data ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

3. Fase Kontraksi (Contraction)

Setelah fase peak, aktivitas ekonomi mulai melambat lalu permintaan menurun, perusahaan mengurangi ekspansi, dan masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam menggunakan uangnya untuk membeli sesuatu. Jika kondisi berlangsung dalam waktu yang lama, siklusnya bisa memasuki babak resesi.

Berikut beberapa ciri khas pada fase ini:

  • Pertumbuhan ekonomi mulai melemah.

  • Aktivitas bisnis dan investasi menurun.

  • Tingkat pengangguran cenderung meningkat.

  • Konsumsi masyarakat melambat.

  • Pasar saham lebih bergejolak dibanding fase sebelumnya.

Bagi para investor, fase ini bisa menjadi peluang yang menarik untuk mengakumulasi aset berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik.

4. Fase Titik Terendah (Trough)

Trough merupakan fase titik terendah dalam siklus ekonomi. Walaupun kondisi masih menantang, berbagai indikator biasanya mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Ciri-cirinya seperti:

  • Aktivitas ekonomi berada di titik terendah.

  • Inflasi mulai lebih terkendali.

  • Permintaan perlahan meningkat.

  • Kepercayaan konsumen mulai membaik.

  • Pasar saham sering mulai menunjukkan tanda pemulihan.

Fase ini biasanya baru dapat dirasakan, setelah data ekonomi menunjukkan bahwa pemulihan terhadap ekonomi benar-benar telah dimulai.

Perbandingan Empat Fase Siklus Ekonomi

Fase

Kondisi Ekonomi

Kondisi Pasar Saham

Hal yang Umumnya Dipertimbangkan Investor

Expansion

Pertumbuhan ekonomi meningkat

Cenderung menguat

Mencari peluang pada sektor yang sedang bertumbuh

Peak

Pertumbuhan mencapai titik tertinggi

Volatilitas mulai meningkat

Meninjau kembali alokasi portofolio dan risiko

Contraction

Aktivitas ekonomi melambat

Cenderung terkoreksi

Fokus pada kualitas aset dan investasi bertahap

Trough

Ekonomi berada di titik terendah sebelum pulih

Mulai menunjukkan tanda pemulihan

Menyiapkan strategi untuk fase pertumbuhan berikutnya

Cara Mengenali Posisi Siklus Ekonomi Melalui Indikator Makro

Tidak ada indikator yang dapat memastikan secara tepat kapan suatu fase dimulai atau berakhir. Namun, para investor biasanya memakai kombinasi dari beberapa indikator makro untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi aktual ekonomi saat ini. Simak beberapa indikator yang sering diperhatikan para investor, dibawah ini!

1. Produk Domestik Bruto (PDB)

PDB menunjukkan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam waktu tertentu. Saat PDB tumbuh secara konsisten, aktivitas ekonomi akan mulai berkembang. Tapi sebaliknya,perlambatan PDB dapat menjadi tanda bahwa ekonomi mulai kehilangan momentum.

2. Inflasi

Inflasi menjelaskan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Inflasi yang terkendali biasanya mencerminkan kondisi permintaan yang sehat. Namun, jika inflasi meningkat terlalu cepat, bank sentral dapat menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga. Kebijakan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

3. Suku Bunga

Suku bunga sangat memengaruhi biaya pinjaman bagi masyarakat maupun perusahaan dalam menjalankan sebuah bisnis. Ketika suku bunga rendah, aktivitas konsumsi dan investasi cenderung meningkat karena biaya pendanaan lebih murah. Namun, saat suku bunga meningkat akibatnya minat masyarakat untuk berbelanja ataupun berinvestasi juga ikut merosot, yang memicu ekonomi juga melambat.

4. Tingkat Pengangguran

Tingkat pengangguran juga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Saat perusahaan berkembang, kebutuhan tenaga kerja biasanya meningkat sehingga tingkat pengangguran menurun. Tapi, saat aktivitas perusahaan dan bisnis melemah, perekrutan karyawan melemah dan tingkat pengangguran juga ikut meningkat. Menurut National Bureau of Economic Research (NBER), penentuan fase siklus ekonomi tidak hanya didasarkan pada satu indikator, tetapi mempertimbangkan berbagai data seperti output ekonomi, lapangan kerja, pendapatan, dan aktivitas produksi secara keseluruhan

Apakah Siklus Ekonomi Bisa Memengaruhi Pasar Saham?

Perlu kamu ketahui, bahwa pasar saham sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, tetapi tidak selalu bergerak searah. Hal ini karena pasar bersifat forward-looking, yakni mencerminkan ekspektasi investor terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang daripada keadaan saat ini.. Karena itu, memahami siklus ekonomi lebih berguna untuk membaca arah pasar dibandingkan dengan menebak pergerakan harga saham dalam waktu pendek.

Sektor Saham yang Berpotensi Berkinerja Baik di Setiap Fase

Tanggapan tiap sektor industri pada perubahan ekonomi tidak selalu sama. Ada sektor industri yang bisa tumbuh ketika ekonomi berkembang, ada juga sektor lain yang relatif lebih stabil ketika ekonomi melambat.

Fase Siklus

Sektor yang Umumnya Diuntungkan

Expansion

Teknologi, industri, consumer discretionary

Peak

Energi dan komoditas tertentu, tergantung kondisi inflasi

Contraction

Consumer staples, utilitas, kesehatan

Trough

Keuangan, industri, dan sektor siklikal yang mulai pulih

Perlu diingat bahwa tabel di atas merupakan gambaran umum. Kinerja suatu sektor tetap dipengaruhi oleh kondisi perusahaan, valuasi, kebijakan pemerintah, hingga situasi ekonomi global.

Strategi dalam BerInvestasi Berdasarkan Siklus Ekonomi

Mengerti dengan benar siklus ekonomi, bukan berarti kamu bisa menebak kapan pasar akan mencapai titik tertinggi dan terendahnya. Namun, pemahamanmu ini bisa digunakan untuk merancang strategi investasi yang lebih baik dengan kondisi pasar.

Berikut gambaran strategi yang umumnya dipertimbangkan investor pada setiap fase.

Fase Siklus

Strategi yang Dapat Dipertimbangkan

Expansion

Fokus pada perusahaan yang berpotensi tumbuh seiring meningkatnya aktivitas ekonomi.

Peak

Evaluasi kembali alokasi portofolio dan hindari mengambil risiko berlebihan hanya karena pasar sedang optimistis.

Contraction

Prioritaskan perusahaan dengan fundamental yang kuat dan pertimbangkan investasi secara bertahap apabila sesuai dengan profil risiko.

Trough

Mulai mencermati peluang pada sektor yang berpotensi pulih ketika ekonomi memasuki fase berikutnya.

Tidak ada strategi investasi yang selalu benar untuk semua orang, karena keputusan investasi tetap perlu dipikirkan dan dikondisikan dengan tujuan keuangan, periode investasi dan juga mengenai risiko yang akan diambil .

Contoh Siklus Ekonomi di Dunia Nyata

Dengan melihat contoh nyata, kamu dapat memahami bahwa siklus ekonomi bukan sekadar teori panjang dan rumit, tapi benar-benar bisa mempengaruhi kondisi ekonomi global.

Krisis Keuangan Global 2008

Kejadian saat krisis keuangan global menjadi salah satu contoh paling dikenal oleh banyak orang. Perlambatan sektor properti dan krisis kredit di Amerika Serikat, membuat ekonomi memasuki fase kontraksi. Banyak indeks saham dunia mengalami kemerosotan yang tajam, sebelum akhirnya mulai pulih beberapa tahun setelahnya.

Pandemi COVID-19 pada 2020

Tragedi tersebar virus COVID beberapa tahun yang lalu, menyebabkan aktivitas ekonomi di berbagai negara melambat secara drastis bahkan efeknya banyak perusahaan yang merumahkan karyawan hingga pengurangan karyawan secara massal. Namun, ketika kebijakan stimulus mulai dijalankan dan ekonomi bisa kembali berjalan baik bahkan berkembang, pasar saham justru pulih lebih cepat dibandingkan kondisi ekonomi yang lain.

Kesalahan Investor Menghadapi Siklus Ekonomi

Setiap fase siklus ekonomi membawa tantangan yang berbeda. Namun, banyak investor justru mengambil keputusan berdasarkan emosi atau kondisi pasar sesaat. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi:

  • Panik saat pasar turun. Penurunan harga saham sering membuat investor terburu-buru menjual aset, padahal koreksi merupakan bagian yang wajar dalam siklus ekonomi.

  • Terlalu percaya diri saat pasar naik. Ketika pasar sedang bullish, sebagian investor cenderung mengabaikan risiko dan membeli saham tanpa mempertimbangkan valuasinya.

  • Berusaha menebak titik terendah pasar. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan pasar mencapai titik terendah secara konsisten. Karena itu, strategi investasi bertahap sering menjadi pilihan yang lebih bijak.

  • Tidak melakukan diversifikasi. Menempatkan seluruh dana pada satu saham atau satu sektor dapat meningkatkan risiko ketika kondisi ekonomi berubah.

Mulai Bangun Strategi Investasi Sesuai Siklus Ekonomi

Memang benar, kalau siklus ekonomi memang tidak bisa diprediksi secara pasti, tetapi dengan memahaminya kamu bisa mengambil keputusan investasi yang cocok dengan kondisi keuanganmu dan kamu lebih percaya diri pada risiko yang ada. Kamu bisa coba berinvestasi pada saham Amerika, melalui aplikasi Gotrade yang memiliki akses untuk berbagai saham dan ETF global.

Referensi

Tambahkan sebagai sumber pilihan di Google

Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.


Gabriella Sabatini
Ditulis oleh
Gabriella Sabatini
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Baca lebih lanjut
Hendrie Saputra
Ditinjau oleh
Hendrie Saputra
Expert Reviewer
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.
Baca lebih lanjut
Welcome Rewards

Artikel terkait

Dipercaya

lebih dari

1M+

Trader di Indonesia 🌏

Keamananmu adalah prioritas kami 🔒

Gotrade terdaftar & diawasi

KominfoOJKSOCFintech Indonesia

Penghargaan atas kinerja dan inovasi terdepan!🏅

 

Benzinga Global Fintech Awards 2024
Five Star Award 2024
Highest Trading Volume in Indonesia, 2024
Highest Combined 2022
Mockup Two Phones

Trading Lebih Cepat. Lebih Mudah. Lebih Cerdas.

#ReadyGoTrade

Gotrade Green Logo Top Left
AppLogo

Gotrade