Saham gorengan adalah istilah untuk menyebut saham-saham yang harganya bergerak melonjak dan turun secara ekstrem dalam waktu singkat. Biasanya terjadi karena manipulasi atau spekulasi.
Di dunia pasar modal, saham jenis ini kerap menggoda investor karena kenaikan harganya bisa terjadi secara cepat. Di balik potensi cuan yang menggiurkan, kalau tidak dipahami dengan baik saham gorengan juga menyimpan risiko yang bisa merugikan. Lalu, kenapa saham ini disebut "gorengan”? Simak penjelasannya di bawah ini.
Memahami Arti Saham Gorengan
Dikutip dari e-book Strategi yang Tepat Bagi Investor Pemula Saat IHSG drop 16% dalam 2 hari karya Buddy Setianto, secara definisi, saham gorengan adalah saham yang pergerakan harganya tidak mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar secara wajar.
Dalam hal ini, harga saham-sahamnya dipengaruhi oleh manipulasi pihak-pihak tertentu (bukan atas kinerja fundamental perusahaan yang sebenarnya). Dalam Bahasa Inggris, saham gorengan disebut pump and dump stocks. Merujuk pada saham yang harganya sengaja dinaikan oleh pihak tertentu lalu dijual saat harganya lagi naik.
Alasan Kenapa Disebut Saham Gorengan
William Hartanto dalam bukunya yang bertajuk Stock Trader`s Starter Kit, membeberkan alasan di balik adanya sebutan ‘saham gorengan’.
“Sejauh pengalaman saya, sebuah saham bisa disebut gorengan itu karena sifatnya yang mirip gorengan, renyah di awal dan lembek kalau sudah lama,” tulis Hartanto dalam bukunya.
Namun kalau saham tersebut disimpan dalam jangka panjang, kenaikan harganya umumnya tidak akan bertahan (justru jika memegangnya terlalu lama bisa mengecewakan investor tersebut).
“Jadi, saham gorengan itu bukan dikategorikan berdasarkan harga, melainkan dari sifat dan perubahan harganya,” jelas Hartanto.
Bagaimana Saham Gorengan Bekerja?
Dilansir laman Financial Conduct Authority, biasanya cara kerja saham gorengan dimulai dari skema pihak tertentu (promotor) yang menyebarkan informasi palsu/menyesatkan tentang suatu saham. Tujuannya supaya membuat banyak orang tertarik untuk membelinya.
Nah, semakin banyak orang percaya dan ikut membeli, maka harga saham pun ikut naik. Tahap ini disebut 'pump', alias "memompa atau menggembungkan" harga saham secara buatan.
Setelah harga naik cukup tinggi, para promotor tadi langsung menjual saham yang mereka punya untuk meraup untung besar. Aksi jual besar-besaran ini yang dinamakan 'dump'.
Ciri-ciri Saham Gorengan
Secara umum, berikut adalah beberapa karakteristik dari saham gorengan yang perlu diketahui:
Saham sulit diperjualbelikan karena jumlah transaksi dan minat investor relatif sedikit.
Pergerakan Harga Tidak Masuk Akal
Harga saham bisa naik atau turun secara drastis tanpa didukung oleh kinerja perusahaan yang jelas.
Volume Perdagangan Tiba-tiba meningkat
Aktivitas transaksi melonjak dengan tiba-tiba, meskipun tidak ada berita atau perubahan fundamental yang signifikan.
Sering Terkena Unusual Market Activity (UMA)
Bursa bisa memberikan peringatan karena terdapat pola perdagangan atau pergerakan harga yang tidak biasa.
Konsentrasi Kepemilikan Tinggi
Sebagian besar saham dikuasai oleh beberapa pihak tertentu sehingga lebih mudah dipengaruhi.
Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki mekanisme untuk mendeteksi dan menangani saham gorengan, yakni dengan UMA sebagai notifikasi resmi BEI saat suatu saham menunjukkan pergerakan harga atau volume tidak wajar. Cek daftar saham UMA di idx.co.id.
Kemudian auto-Rejection (ARA/ARB) sebagai mekanisme otomatis sistem JATS BEI yang menolak order kalau perubahan harga harian melampaui batas. Di mana, ARA (batas naik) 20–35% tergantung rentang harga, lalu ARB (batas turun) seragam 15%. Umumnya, perdagangan bisa tetap berjalan, cuma order di luar batas yang ditolak.
Penyebab Munculnya Saham Gorengan
Kenapa bisa ada saham gorengan? jawabannya karena adanya pihak yang sengaja bekerja sama untuk memanipulasi harga saham untuk tujuan keuntungan pribadi.
1. Ada Pihak yang Sengaja Menyebarkan Informasi Palsu
Dikutip dari Investopedia, skema saham gorengan muncul saat sekelompok orang bekerja sama untuk menipu investor agar percaya bahwa suatu saham bernilai lebih tinggi dari kondisi sebenarnya, biasanya dengan menyebarkan klaim yang berlebihan atau tidak berdasar. Informasi palsu ini menciptakan permintaan buatan yang mendorong harga saham naik secara tidak wajar.
2. Menyasar Saham dengan Volume Perdagangan Rendah
Menurut U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) atau menyebut skema semacam ini umumnya menargetkan saham-saham yang jarang diperdagangkan, seperti saham perusahaan berkapitalisasi mikro atau kecil di bursa over the counter (OTC).
Volume perdagangan yang rendah membuat harga saham tersebut jauh lebih mudah digerakkan naik-turun secara ekstrem oleh segelintir pihak saja. Maka dari itu, saham gorengan biasanya tidak muncul begitu saja di saham-saham besar yang likuid.
3. Adanya Niat dan Pola Transaksi yang Tidak Wajar
Biasanya, regulator pasar modal mengidentifikasi saham gorengan lewat pola perdagangan yang tidak biasa serta niat di balik transaksi tersebut. Contohnya, lonjakan volume transaksi yang tidak sebanding dengan kondisi fundamental perusahaan, atau ada bersamaan dengan gencarnya promosi di media sosial maupun grup investasi.
4. Kurangnya Kehati-hatian Investor
Selain faktor manipulasi dari pihak eksternal, saham gorengan juga bisa tumbuh subur karena minimnya literasi investor (terutama pemula). Biasanya mereka mudah tergiur dengan kenaikan harga cepat, tanpa mengecek terlebih dahulu kinerja fundamental perusahaan di baliknya.
Perbedaan Saham Gorengan vs Saham Fundamental
Bedanya saham gorengan dengan saham fundamental terlihat dari kondisi keuangan perusahaan serta penggerak harganya. Berikut merupakan poin-poin perbedaanya:
Aspek
Saham Gorengan
Saham Fundamental
Dasar pergerakan harga
Manipulasi/spekulasi pihak tertentu
Kinerja keuangan dan prospek bisnis perusahaan
Likuiditas
Rendah, cukup sulit diperjualbelikan
Tinggi, mudah diperjualbelikan
Pergerakan harga
Naik-turun dalam waktu singkat secara ekstrem
Cenderung stabil
Volume perdagangan
Bisa tiba-tiba naik pesat tanpa berita fundamental
Wajar dan konsisten yang sejalan dengan aktivitas pasar
Jangka pendek (kenaikan umumnya tidak bertahan lama)
Jangka panjang, cocok untuk strategi buy-and-hold
Risiko
Sangat tinggi (saat harga anjlok bisa rugi besar)
Lebih terukur (relevan dengan risiko pasar secara umum)
Tips Menghindari Saham Gorengan
Supaya kita tak menjadi korban skema saham gorengan ini, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) membagikan beberapa strategi yang bisa diterapkan investor. Berikut tips-tipsnya:
1. Waspada Kalau Ada Investasi yang Tidak Diminta
Kalau tiba-tiba ada yang menghubungi kamu soal "peluang investasi" tanpa diminta sebelumnya, sebaiknya langsung abaikan saja. Kamu bisa dikontak baik itu lewat email, media sosial, chat, telepon, maupun pesan suara. Menanggapi tawaran semacam ini justru berisiko mendatangkan kerugian besar, bukan keuntungan besar seperti yang dijanjikan.
2. Kenali Tanda-tanda Peringatan
Perhatikan baik-baik kalau ada penawaran investasi yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Misalnya menjanjikan keuntungan besar yang "dijamin" pasti cuan atau kamu ditekan untuk segera membeli sebelum harganya "keburu naik".
Nah, itu bisa jadi taktik klasik yang biasa dipakai promotor saham yang tidak jujur, jadi sebaiknya langsung jadikan sinyal bahaya.
3. Hati-hati dengan Penipuan Berbasis Kedekatan
Waspadai juga penipuan investasi yang menyasar kelompok tertentu atau disebut juga affinity fraud. Misalnya, ke kalangan usia, komunitas agama, etnis, atau kelompok profesi tertentu.
Tawaran investasi dari sesama anggota komunitas memang terkesan lebih bisa dipercaya. Padahal, orang tersebut bisa jadi juga ikut tertipu tanpa sadar dan tanpa sengaja menyebarkan informasi yang sebenarnya palsu.
4. Lakukan Riset
Sebelum menanamkan uang hasil kerja kerasmu ke suatu saham, luangkan waktu untuk riset mandiri terlebih dahulu. Cari tahu prospek bisnis, jajaran manajemen, hingga laporan keuangan perusahaan tersebut.
Kenapa penting? karena informasi ini biasanya mudah ditemukan secara daring untuk perusahaan yang memang legal dan terdaftar resmi. Kalau informasi semacam ini sulit ditemukan atau terkesan disembunyikan, jadikan itu sebagai tanda bahaya tersendiri.
Daripada kamu terjebak mengejar saham yang harganya bergerak liar hanya karena spekulasi atau ikut-ikutan tren, kamu bisa membangun portofolio investasi dengan lebih terarah lho. Caranya dengan memilih aset yang transparan dan memiliki fundamental yang jelas dan terukur.
Yuk, mulai investasi dengan lebih bijak sekarang juga. Download aplikasi Gotrade dan bangun portofoliomu dengan saham-saham yang lebih aman dan terpercaya.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.