Saham small cap merupakan saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar (market cap) global di bawah $2 miliar. Meski ukurannya lebih kecil dibanding perusahaan besar, saham ini sering jadi incaran investor lho.
Salah satu alasannya karena punya potensi pertumbuhan yang lebih besar (meski risikonya juga tak kalah tinggi). Tapi, sebelum memutuskan untuk berinvestasi, penting untuk memahami dulu apa yang membedakan saham small cap dari saham large cap. Berikut fakta-fakta seputar saham small cap yang perlu kamu ketahui.
1. Memahami Saham Small Cap
Dikutip dari e-book bertajuk Kiat Membangun Aset Kekayaan oleh Sapto Raharjo, definisi saham small cap adalah kelompok saham yang mempunyai nilai kapitalisasi pasar di bawah Rp1 triliun (versi pasar lokal). Saham ini juga sering disebut sebagai saham lapis ketiga.
Karakteristik small cap adalah harga saham yang relatif murah sehingga banyak diminati investor ritel dengan modal terbatas. Umumnya, perusahaan yang masuk kategori small cap punya nilai aset yang relatif kecil dengan tingkat keuntungan yang juga tidak sebesar perusahaan besar.
Tapi perlu diingat kalau potensi besar ini berjalan dua arah: saat harga saham turun, risiko kerugian yang dihadapi investor juga bisa sama besarnya. Jadi, meski tergolong "kecil" dari segi ukuran perusahaan, saham jenis ini justru punya daya tarik tersendiri di mata investor.
Dalam Studi klasik Banz (1981) di Journal of Financial Economics, pertama kali mendokumentasikan 'small-firm effect' kalau saham berkapitalisasi kecil secara historis mencatat imbal hasil disesuaikan risiko yang lebih tinggi, dibanding saham besar pada periode 1936–1975. Temuan ini sifatnya rata-rata historis alias bukan jaminan.
Menariknya, fenomena itulah yang kemudian mendasari mengapa banyak investor tertarik melirik saham small cap. Mereka berharap mendapat potensi keuntungan yang lebih besar dibanding saham-saham blue chip.
2. Kelebihan dan Kekurangan Saham Small Cap
Saham small cap menawarkan potensi keuntungan dan juga membawa risiko yang lebih tinggi dibanding saham mid atau large cap. Pahami rangkuman poin-poin kelebihan dan kekurangannya di bawah ini:
Kelebihan
Kekurangan
Potensi pertumbuhan lebih besar
Risiko dan volatilitas lebih tinggi
Harga saham lebih terjangkau
Minim liputan analis & informasi publik
Tidak mudah "digoreng" institusi besar
Likuiditas lebih rendah
Pilihan bisnis yang beragam (bukan cuma start-up)
Lebih rentan terhadap gejolak ekonomi
Sering undervalued, berpotensi cuan besar
Butuh riset mandiri lebih dalam
3. Contoh Saham Small Cap Indonesia di Indeks MSCI
Indeks resmi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dirancang untuk mengukur performa segmen saham berkapitalisasi kecil di pasar Indonesia. Indeks ini mencakup sekitar 14% dari keseluruhan universe saham Indonesia dengan rentang market cap konstituen mulai dari sekitar $161 juta hingga $1,53 miliar.
Berikut daftar grafik saham perusahaan Indonesia dengan bobot terbesar dalam indeks tersebut (data per Juli 2026):
Penting dicatat, saham-saham di atas dikategorikan sebagai small cap berdasarkan besaran kapitalisasi pasarnya menurut metodologi MSCI. Karena itu, daftar ini bisa berubah dari waktu ke waktu mengikuti pergerakan kapitalisasi pasar masing-masing perusahaan.
4. Perbedaan Small Cap, Mid, dan Large
Dalam The Journal of Finance bertajuk “The Cross-Section of Expected Stock Returns:oleh Fama dan French (1992), menunjukkan bahwa ukuran perusahaan (kapitalisasi pasar) dan rasio book-to-market bersama-sama menjelaskan perbedaan imbal hasil antar saham, di mana beta pasar saja tidak cukup.
Dirangkum dari Investopedia, lebih lanjut berikut adalah beberapa poin perbedaan antara small cap dan large cap berdasarkan aspeknya secara market global:
Aspek
Small Cap
Mid Cap
Large Cap
Market Cap
Di bawah $2 miliar
$2 miliar – $10 miliar
$10 miliar ke atas
Potensi Pertumbuhan
Tinggi
Sedang (kombinasi)
Rendah/lambat
Tingkat Risiko & Volatilitas
Tinggi
Sedang
Rendah
Stabilitas
Rendah
Cukup stabil
Sangat stabil
Dividen
Jarang
Kadang ada
Umumnya rutin
Contoh Karakter Perusahaan
Perusahaan baru berkembang, kurang terekspos analis
Perusahaan yang sudah mapan tapi masih tumbuh
Perusahaan besar mapan (mis. GE, Coca-Cola)
Minat Investor Institusi
Terbatas (ada aturan pembatasan reksa dana)
Sedang
Tinggi
Sebagai informasi untuk microcap merupakan kategori di bawah small cap dengan market cap kurang dari $250 juta. Sementara, penny stock ditentukan dari harga saham yang rendah (di bawah $5) dan likuiditas yang minim (bukan dari besaran market cap).
Secara umum, perbedaan small cap, mid cap, dan large cap terletak pada besaran market cap perusahaannya. Hal ini mempengaruhi karakteristik risiko dan potensi pertumbuhannya.
Small cap: cocok untuk investor yang berani mengambil risiko lebih tinggi demi mengejar potensi keuntungan besar. Pasalnya, perusahaannya masih dalam fase berkembang dan harga sahamnya cenderung lebih fluktuatif.
Mid cap: menjadi pilihan tengah yang menawarkan keseimbangaa. Alasannya karena cukup stabil namun masih menyimpan ruang pertumbuhan yang menarik.
Large cap: lebih cocok untuk investor yang mengutamakan stabilitas dan pendapatan pasif dari dividen. Meski pertumbuhan harga sahamnya cenderung melambat, karena perusahaan sudah berada di fase matang.
Pada dasarnya, tidak ada kategori yang secara mutlak "lebih baik". Semua kembali pada profil risiko dan tujuan investasi masing-masing investor. Bahkan, beberapa investor memilih mengombinasikan ketiganya dalam portofolio untuk menyeimbangkan potensi pertumbuhan serta stabilitas.
5. Tips Berinvestasi Saham Small Cap
Ada beberapa strategi untuk berinvestasi di saham small cap. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi ke saham small cap agar keputusan investasi bisa lebih terukur:
1. Perhatikan Pertumbuhan Pendapatan dan Laba
Meski perusahaan belum menghasilkan keuntungan, pastikan pendapatannya (revenue) menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dari waktu ke waktu. Pasalnya hal ini bisa jadi indikator awal bahwa bisnisnya sedang berkembang ke arah yang positif.
2. Cek Rasio Valuasinya
Kamu bisa pakai Price-to-Earnings Ratio (P/E) untuk menilai apakah harga saham wajar dibanding labanya. Kalau perusahaan belum punya laba per saham bisa pakai rice-to-Sales Ratio (P/S) sebagai pembanding dengan saham small cap lain di sektor sejenis.
3. Pertimbangkan Reksa Dana atau ETF Small Cap
Kalau riset saham satu per satu terasa memakan waktu atau berisiko, jadi sebagai alternatif pilih reksa dana atau ETF yang fokus pada saham small cap. Produk ini memberi diversifikasi otomatis tanpa harus menganalisis satu per satu perusahaan secara mendalam.
Kalau kamu tertarik eksplorasi saham small cap dengan potensi pertumbuhan tinggi, kamu bisa mulai lewat Gotrade, aplikasi investasi saham dan ETF Amerika Serikat mulai dari $1.
Gotrade adalah platform yang aman karena mengantongi izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Unduh aplikasi Gotrade sekarang dan mulai bangun portofolio saham kamu.
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Kholida Qothrunnada adalah konten strategis dan editor lulusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi Multimedia Jurnalistik. Memiliki pengalaman lebih dari 4 tahun bekerja di media nasional sebagai reporter di bidang ekonomi dan bisnis. Memiliki minat untuk mendalami konten seputar keuangan, fintech, saham, dan kripto.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.