Harga Minyak Tinggi Tembus US$103, Rupiah Melemah ke Rp17.921

Ringkasan
-
Brent kontrak November ditutup naik 0,9% ke US$103,50 per barel pada 30 September 2026, hari terakhir kontrak tersebut diperdagangkan.
-
Sepanjang September, Brent menguat sekitar 14% dan WTI sekitar 5%.
-
Perundingan damai AS-Iran soal Selat Hormuz belum menunjukkan kemajuan, sehingga ketidakpastian pasokan tetap membayangi pasar.
-
Pasokan bahan bakar AS makin ketat, stok distilat turun 2,3 juta barel dan stok bensin turun 1,7 juta barel.
Gotrade News - Harga minyak mentah Brent kontrak November ditutup naik 0,9% ke US$103,50 per barel pada Rabu (30/9/2026), hari terakhir kontrak tersebut diperdagangkan, menurut BigGo Finance. Kenaikan ini terjadi di tengah mandeknya perundingan damai AS-Iran dan makin ketatnya persediaan bahan bakar di Amerika Serikat.
Tekanan dari minyak dan dolar AS yang kuat ikut membebani mata uang Asia. Melansir Investortrust, rupiah melemah 0,15% ke Rp17.921 per dolar AS pada Kamis (1/10/2026) pagi, sementara mayoritas mata uang Asia juga terdepresiasi terhadap dolar AS.
Brent Naik 14% Sepanjang September
Kontrak Brent Desember, yang kini menjadi kontrak paling aktif, naik 1,9% ke US$98,03 per barel, sedangkan minyak WTI naik 1,2% ke US$90,42 per barel, menurut BigGo Finance. Sepanjang September, Brent menguat sekitar 14% dan WTI sekitar 5%.
Kontrak | Harga penutupan 30 September | Perubahan harian |
|---|---|---|
Brent November (hari terakhir) | US$103,50 | +0,9% |
Brent Desember (paling aktif) | US$98,03 | +1,9% |
WTI | US$90,42 | +1,2% |
Dilansir Bloomberg Technoz, September menjadi bulan ketiga berturut-turut kenaikan harga minyak, di tengah ketidakpastian diplomatik soal Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran penting bagi pasokan minyak dunia.
Perundingan AS-Iran Mandek, Selat Hormuz Jadi Taruhan
Menurut Bloomberg Technoz, Washington dan Teheran belum mencapai kemajuan dalam perundingan perjanjian damai jangka panjang yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Presiden AS Donald Trump menyatakan AS menguasai jalur air tersebut sepenuhnya dan akan segera memberikan respons kepada Iran.
BigGo Finance mencatat Qatar menjadi mediator antara kedua negara tanpa kesepakatan yang tercapai. Trump juga membantah laporan bahwa pemerintahannya menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalan konsesi atas program nuklir Iran.
Dari sisi pasokan, aliran minyak mentah dari Timur Tengah disebut hampir kembali ke level sebelum perang, tetapi pasokan bahan bakar belum pulih secepat itu, menurut Bloomberg Technoz. Rebecca Babin dari CIBC Private Wealth Group menilai pasar mendapat kelegaan dari membaiknya pasokan, namun tanpa jalan yang jelas menuju kesepakatan, kelegaan itu bisa bersifat sementara.
Stok Distilat AS Turun 2,3 Juta Barel
Ketatnya pasar bahan bakar AS terlihat dari data persediaan mingguan. Menurut BigGo Finance yang mengutip data EIA, persediaan distilat turun 2,3 juta barel ke 105,2 juta barel dan persediaan bensin turun 1,7 juta barel ke 204,4 juta barel, sementara persediaan minyak mentah naik 922.000 barel.
Pergerakan harga minyak menjadi perhatian bagi saham sektor energi AS seperti Exxon Mobil (XOM), Chevron (CVX), dan ConocoPhillips (COP), yang pendapatannya berkaitan dengan harga minyak mentah.
Rupiah Tertekan Yield Treasury 5,29%
Selain minyak, rupiah juga tertekan oleh dolar AS yang ditopang imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi. Menurut Investortrust, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,29% dan tenor 2 tahun di sekitar 4,89%, sementara pertumbuhan PDB AS kuartal II 2026 direvisi naik menjadi 2,2% secara tahunan dari sebelumnya 1,5%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro, seperti dikutip Investortrust, menyebut indeks dolar AS (DXY) masih berada di level tinggi sekitar 101,47, didukung yield AS yang tinggi dan aktivitas ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Data ketenagakerjaan sektor swasta AS juga menunjukkan penambahan 90.000 pekerjaan pada September, di atas konsensus 70.000.
Sumber
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.














