Sebelum membeli saham atau aset investasi yang lain, penting untuk kamu tahu apakah keuntungan yang diperoleh sebanding dengan modal yang dikeluarkan. Cara paling sederhana untuk menilainya adalah dengan menggunakan Return on Investment (ROI).
Artikel ini akan membahas pengertian ROI, cara menghitungnya, hingga bagaimana menggunakannya sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi.
Apa Itu Return on Investment (ROI)?
Return on Investment (ROI) adalah metrik yang digunakan untuk mengukur seberapa besar keuntungan atau kerugian suatu investasi dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan. Menurut Investopedia, hasil ROI dinyatakan dalam bentuk persentase sehingga memudahkan investor membandingkan berbagai pilihan investasi.
Sederhananya, ROI membantu menjawab pertanyaan: "Apakah keuntungan yang diperoleh sudah sepadan dengan modal yang dikeluarkan?"
Misalnya, kamu memperoleh keuntungan Rp 2 juta dari investasi sebesar Rp 10 juta. Berarti ROI investasi tersebut adalah 20%. Angka ini kemudian dapat dibandingkan dengan investasi lain untuk melihat mana yang memberikan pengembalian lebih efisien. Karena dapat diterapkan pada berbagai instrumen, ROI tidak hanya digunakan untuk saham, tetapi juga ETF, obligasi, properti, bisnis, hingga proyek investasi.
Meski begitu, perlu dipahami bahwa ROI bukanlah satu-satunya indikator yang menentukan apakah sebuah investasi layak dipilih. Hasil perhitungan ini tetap perlu dilihat bersama faktor lain, seperti tingkat risiko, jangka waktu investasi, dan tujuan finansial yang ingin dicapai.
Kenapa ROI Penting bagi Investor?
ROI tidak hanya membantu menghitung keuntungan, tetapi juga memberikan gambaran apakah modal yang kamu keluarkan sudah digunakan secara efisien. Menurut DJKN Kementerian Keuangan, ROI merupakan salah satu ukuran atau rasio profitabilitas yang banyak digunakan untuk membantu investor mengevaluasi investasi dan mendukung pengambilan keputusan.
Berikut beberapa alasan mengapa ROI menjadi salah satu metrik yang paling sering digunakan investor.
1. Membandingkan beberapa pilihan investasi
ROI memudahkan kamu membandingkan beberapa investasi menggunakan persentase, sehingga lebih mudah melihat mana yang memberikan pengembalian paling efisien dibandingkan hanya melihat nominal keuntungan.
2. Mengukur efisiensi penggunaan modal
Selain menunjukkan besarnya keuntungan, ROI juga membantu menilai seberapa efektif modal yang kamu investasikan menghasilkan return. Semakin tinggi ROI, semakin efisien penggunaan modal tersebut.
3. Membantu mengambil keputusan investasi
ROI dapat menjadi salah satu pertimbangan saat memilih investasi yang sesuai dengan tujuanmu. Namun, hasilnya tetap perlu dikombinasikan dengan analisis risiko dan esensial agar keputusan lebih objektif.
4. Mengevaluasi strategi investasi
ROI dapat digunakan untuk menilai apakah strategi investasi yang kamu terapkan sudah memberikan hasil sesuai harapan atau masih perlu disesuaikan.
5. Memantau kinerja investasi dari waktu ke waktu
Dengan menghitung ROI secara berkala, kamu dapat mengevaluasi perkembangan investasi dan mengetahui apakah kinerjanya masih sesuai dengan target yang telah dirancang.
Kapan ROI Sebaiknya Digunakan?
ROI paling efektif digunakan untuk mengevaluasi keuntungan investasi yang memiliki tujuan atau periode yang relatif sama. Kamu bisa menggunakan ROI untuk:
Membandingkan beberapa pilihan investasi.
Mengevaluasi keuntungan dari saham, ETF, properti, atau bisnis.
Menilai apakah modal yang dikeluarkan sudah memberikan hasil yang sepadan.
Mengukur efektivitas suatu proyek atau strategi investasi.
Di sisi lain, ROI sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya tolak ukur dalam membandingkan investasi dengan jangka waktu berbeda atau ketika ingin mempertimbangkan faktor seperti inflasi dan risiko. Kamu juga bisa melengkapi analisis dengan metrik lain, misalnya dengan Internal Rate of Return (IRR) atau Compound Annual Growth Rate (CAGR).
Rumus Menghitung Return on Investment
Salah satu alasan ROI banyak digunakan adalah karena cara menghitungnya yang cukup mudah. Kamu cuma perlu tahu berapa besar modal yang sudah kamu keluarkan, dan berapa nilai investasi saat ini atau berapa nilai investasi tersebut saat nantinya dijual. Secara umum, rumus ROI adalah sebagai berikut.
*Semakin tinggi persentase hasil ROI, maka semakin besar keuntungan yang didapatkan dibandingkan dengan modal yang sudah dikeluarkan.
Langkah-Langkah Menghitung ROI
Meski rumusnya terlihat sederhana, menghitung ROI akan lebih mudah jika dilakukan secara bertahap.
1. Tentukan Total Biaya Investasi
Hitung seluruh dana yang dikeluarkan saat membeli aset, termasuk biaya transaksi apabila dikenakan oleh broker atau platform investasi.
Sebagai contoh:
Modal awal investasi: Rp 20.000.000
Biaya yang dikeluarkan: Rp 100.000
Jadi total biaya investasi, secara menyeluruh menjadi Rp20.100.000.
2. Hitung Nilai Investasi yang Ada Sekarang
Selanjutnya, lihat berapa nilai investasi ketika ingin dievaluasi. Misalnya, setelah satu tahun nilai investasi meningkat menjadi Rp 24.500.000.
3. Cari Keuntungan Bersih
Keuntungan bersih diperoleh dari selisih nilai investasi saat ini dengan total biaya investasi.
Rp 24.500.000 − Rp 20.100.000 = Rp 4.400.000
4. Masukkan ke Rumus ROI
ROI = (Rp 4.400.000 ÷ Rp 20.100.000) × 100%
ROI = 21,89%
Artinya, investasi tersebut memberikan tingkat pengembalian sekitar 21,89% dari modal yang telah dikeluarkan.
Contoh Menghitung ROI Saham
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana penggunaan ROI dalam investasi saham. Misalnya kamu membeli saham sebuah perusahaan melalui Gotrade dengan modal sebesar Rp 15.000.000. Selama 1 tahun, harga saham mengalami kenaikan sehingga nilai investasimu menjadi Rp 18.300.000. Selama proses pembelian hingga penjualan, total biaya transaksinya sebesar Rp 150.000.
Perhitungannya menjadi sebagai berikut.
Perlu diingat bahwa contoh di atas hanya menggunakan capital gain. Dalam praktiknya, jika investasi juga memberikan dividen, nilai tersebut dapat ikut diperhitungkan sebagai bagian dari keuntungan investasi sehingga hasil ROI menjadi lebih mencerminkan total pengembalian yang diterima investor.
Faktor yang Memengaruhi Besar dan Kecilnya ROI
Besarnya ROI tidak hanya dipengaruhi, oleh kenaikan harga investasi. Namun ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi perhitungannya, seperti:
Harga beli: Semakin rendah harga beli, semakin besar potensi ROI meningkat saat harga jual naik.
Harga jual atau nilai investasi: Kenaikan nilai investasi akan meningkatkan ROI, sedangkan penurunan nilai juga berefek pada penurunan ROI
Biaya transaksi: Biaya administrasi akan mengurangi keuntungan bersih, akhirnya berdampak pada hasil ROI.
Dividen: Dividen dapat menambah total keuntungan investasi dan meningkatkan ROI.
Pajak: Pajak atas dividen dapat mengurangi hasil investasi yang diterima.
Jangka waktu investasi: Semakin lama periode investasi, semakin banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Berapa ROI yang Dianggap Bagus?
Tidak ada angka pasti yang bisa dijadikan tolak ukur bahwa ROI tertentu pasti tergolong baik atau buruk. Hasil yang dikira memuaskan akan berbeda pada setiap investor karena dipengaruhi oleh tujuan investasi, profil risiko, serta jenis aset yang dipilih.
Menurut pembahasan pada laman Investopedia, beberapa faktor yang biasanya digunakan untuk menilai apakah ROI sudah sesuai harapan bisa dinilai dari tingkat risiko yang bersedia ditanggung, jangka waktu investasi, karakteristik industri, serta tujuan finansial para investor.
Sebagai gambaran umum, berikut kisaran ROI yang sering dijadikan referensi oleh investor.
Jenis Investasi
Kisaran ROI Tahunan*
Saham
7–15%
ETF
6–12%
Obligasi
3–6%
Properti
5–10%
Bisnis berisiko tinggi
>20%
*Angka di atas hanya ilustrasi umum dan bukan jaminan hasil investasi.
Perlu dipahami bahwa ROI yang tinggi belum tentu selalu lebih baik. Misalnya, sebuah investasi menawarkan ROI 25%, tetapi memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan investasi lain dengan ROI 12%. Pada kasus seperti ini, investor perlu memikirkan kembali apakah potensi keuntungan tersebut sebanding dengan risiko yang akan dihadapi dan diambil.
Kelebihan dan Keterbatasan Return on Investment (ROI)
ROI menjadi salah satu metrik investasi yang paling sering digunakan karena mudah dipahami dan dapat diterapkan pada berbagai jenis aset. Meski begitu, seperti indikator keuangan lainnya, ROI tetap memiliki kelebihan sekaligus keterbatasan yang perlu dipahami sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Kelebihan
Keterbatasan
Mudah dihitung dan dipahami, bahkan oleh investor pemula.
Tidak memperhitungkan jangka waktu investasi.
Dapat digunakan pada berbagai jenis investasi, seperti saham, ETF, properti, hingga bisnis.
Tidak mempertimbangkan tingkat risiko investasi.
Memudahkan membandingkan efisiensi beberapa investasi dalam bentuk persentase.
Tidak memperhitungkan inflasi maupun opportunity cost.
Cocok digunakan sebagai evaluasi awal sebelum analisis lebih lanjut.
Kurang tepat digunakan untuk membandingkan investasi dengan periode yang berbeda.
Meski memiliki beberapa keterbatasan, bukan berarti ROI tidak layak digunakan. Sebaliknya, metrik ini tetap sangat bermanfaat sebagai langkah awal untuk mengevaluasi sebuah investasi. Setelah itu, kamu bisa melengkapinya dengan indikator lain agar analisis yang dilakukan menjadi lebih komprehensif.
ROI vs IRR vs CAGR vs ROE vs ROA
Dalam dunia investasi, ROI bukan satu-satunya metrik yang digunakan untuk mengukur kinerja suatu investasi atau perusahaan. Masing-masing indikator memiliki fungsi yang berbeda sehingga sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan analisis.
Metrik
Digunakan untuk
Cocok digunakan ketika
ROI
Mengukur keuntungan dibandingkan modal investasi
Membandingkan efisiensi investasi secara umum
IRR
Mengukur estimasi tingkat pengembalian tahunan berdasarkan arus kas
Analisis proyek investasi atau capital budgeting
CAGR
Mengukur rata-rata pertumbuhan investasi per tahun
Banyak investor masih menganggap ROI dan Internal Rate of Return (IRR) memiliki fungsi yang sama. Padahal, keduanya mengukur hal yang berbeda.
Berdasarkan paparan dari laman website DJKN Kementerian Keuangan, ROI digunakan untuk melihat tingkat keuntungan investasi secara keseluruhan berdasarkan modal yang telah dikeluarkan. Namun, IRR dipakai untuk mengestimasi tingkat pengembalian tahunan dengan mempertimbangkan arus kas selama periode investasi.
Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat sebagai berikut.
ROI
IRR
Mengukur keuntungan investasi secara keseluruhan.
Mengukur estimasi tingkat pengembalian tahunan.
Perhitungannya relatif sederhana.
Menggunakan perhitungan yang lebih kompleks.
Tidak mempertimbangkan nilai waktu uang (time value of money).
Mempertimbangkan arus kas dan nilai waktu uang.
Cocok untuk evaluasi awal investasi.
Lebih sering digunakan dalam analisis proyek dan investasi jangka panjang.
Kalau tujuanmu cuma ingin mengetahui soal berapa besar keuntungan yang dihasilkan dari suatu investasi, ROI biasanya sudah cukup membantu. Tapi, jika kamu ingin membandingkan investasi dengan periode yang berbeda, IRR menjadi pilihan yang lebih tepat.
Kesalahan Umum Saat Menggunakan ROI
Meskipun ROI mudah digunakan dengan rumus yang sudah ada, terkadang hasilnya bisa saja menyesatkan jika digunakan tanpa konteks yang sesuai. Yuk, simak beberapa kesalahan yang seringkali dilakukan investor pada saat memakai ROI.
Hanya fokus pada ROI yang tinggi tanpa memikirkan tingkat risiko.
Abai terhadap biaya transaksi sehingga hasil ROI terlihat lebih besar.
Tidak memasukkan dividen sebagai bagian dari total keuntungan investasi.
Membandingkan investasi dengan jangka waktu yang berbeda secara langsung.
Tidak menganalisa inflasi dan kondisi pasar saat mengevaluasi hasil investasi.
Gunakan ROI sebagai Salah Satu Dasar Memilih Investasi
ROI dapat menjadi salah satu acuan untuk menilai potensi keuntungan investasi, tetapi sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator. Padukan ROI dengan analisis fundamental, tingkat risiko, dan prospek pertumbuhan perusahaan agar keputusan investasimu lebih matang. Siap mulai berinvestasi di saham global? Download aplikasi Gotrade dan terapkan analisis ROI untuk membangun portofolio yang lebih terukur.
Referensi:
Investopedia. “What Is Return on Investment (ROI) and How to Calculate It?”
Disclaimer: PT Valbury Asia Futures Pialang berjangka yang berizin dan diawasi OJK untuk produk derivatif keuangan dengan aset yang mendasari berupa Efek.
Gabriella dengan pengalaman 2+ tahun sebagai Content Writer yang telah menangani berbagai niche, mulai dari digital marketing, mental health, parenting, travel, furniture, teknologi, hingga finansial. Ia memiliki ketertarikan dalam menulis topik seputar finansial dan investasi. Berbekal latar belakang S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik, ia terbiasa melakukan riset, keyword research, menulis artikel yang mengikuti prinsip E-E-A-T, serta melakukan editing dan proofreading agar konten lebih akurat, relevan, dan nyaman dibaca.
Hendrie Saputra adalah lulusan Master of Business Administration (MBA) dengan konsentrasi Business Risk & Finance, serta memiliki latar belakang profesional di bidang finance, marketing, dan manajemen proyek. Ia memiliki izin Securities Broker-Dealer Representative (WPPE) yang di awasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan terbiasa menganalisis data pasar serta menyusun strategi bisnis berbasis riset.